Benarkah Konsumsi Produk Olahan Susu Bisa Mempengaruhi Kesuburan?

Benarkah Konsumsi Produk Olahan Susu Bisa Mempengaruhi Kesuburan

Lezat dan kaya gizi, produk olahan susu jadi favorit banyak orang. Tapi, benarkah ada kaitannya dengan kesuburan Bunda? Yuk, cari tahu di sini!

Bunda mungkin sering mendengar saran untuk mengatur pola makan saat sedang program hamil. Tapi, bagaimana dengan konsumsi produk olahan susu? Apakah susu, yogurt, atau keju benar-benar bisa memengaruhi kesuburan Bunda?

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa jenis produk susu, baik yang rendah lemak maupun tinggi lemak, dapat berdampak berbeda pada kesuburan. Nah, sebelum Bunda bingung memilih mana yang terbaik, yuk kita kupas tuntas fakta dan mitos seputar susu dan kesuburan dalam artikel ini!

Baca juga: Cara Melihat Kesuburan Wanita Melalui Telapak Tangan Apakah Bisa?

Apakah Produk Susu Mempengaruhi Kesuburan?

Infertilitas atau kesulitan memiliki keturunan merupakan kondisi yang umum dan bisa menjadi beban secara fisik maupun mental. Bahkan menurut American Urological Association, sekitar sekitar 12–15 pasangan dari setiap 100 pasangan belum juga berhasil hamil meski sudah berhubungan intim tanpa pengaman selama satu tahun. Bahkan setelah mencoba selama 2 tahun, sekitar 10 pasangan di antaranya masih belum juga memiliki momongan.


Tanya Mincah tentang Promil?

New CTA WA

Tantangan ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor, dan tidak selalu jelas kenapa sebagian Bunda lebih sulit hamil dibandingkan yang lain.

Salah satu studi yang cukup terkenal adalah studi prospektif oleh Chavarro dan tim, yang dimuat dalam jurnal Human Reproduction tahun 2007. Studi ini meneliti hubungan antara konsumsi produk susu dan risiko infertilitas, khususnya infertilitas karena tidak terjadi ovulasi (anovulasi). 

Infertilitas anovulasi adalah jenis infertilitas yang terjadi karena tidak adanya proses ovulasi yang normal, yakni ketika sel telur tidak dilepaskan secara rutin oleh ovarium. Ini adalah salah satu penyebab umum dari kesulitan hamil pada wanita.

Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa Bunda yang mengonsumsi produk susu rendah lemak lebih dari dua porsi per hari justru memiliki risiko infertilitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan Bunda yang hampir tidak mengonsumsi produk susu rendah lemak.

Sebaliknya, konsumsi produk susu tinggi lemak justru dikaitkan dapat menekan risiko infertilitas. Tapi perlu dicatat, temuan ini tidak terlalu signifikan. Jadi, belum tentu susu tinggi lemak langsung bisa membantu kesuburan.

Namun, sebelum Bunda terburu-buru mengganti pola makan, penting untuk memahami bahwa:

  • Studi ini merupakan studi observasional prospektif, bukan uji coba terkontrol secara acak (randomized controlled trial), sehingga tidak dapat membuktikan hubungan sebab-akibat secara langsung.
  • Data dikumpulkan lewat kuesioner yang diisi sendiri oleh peserta, dan hanya dua kali selama 8 tahun.
  • Produk susu rendah lemak yang diteliti mencakup beragam jenis seperti susu, yogurt, es krim, dan keju.
  • Studi ini tidak melibatkan wanita dengan diabetes, dan pesertanya bukan dari kelompok yang secara aktif sedang menjalani promil.

Temuan ini bersifat asosiasi, bukan bukti sebab-akibat. Jadi, belum bisa disimpulkan bahwa mengonsumsi produk olahan susu dapat menyebabkan infertilitas.

Bagaimana dengan Penelitian Lain?

Penelitian dari tim EARTH Study yang juga dimuat dalam jurnal Human Reproduction tahun 2016, memberikan temuan lain. Studi ini melibatkan lebih dari 200 wanita yang sedang menjalani program bayi tabung atau in vitro fertilization (IVF) dan mempertimbangkan faktor-faktor seperti usia, pola makan, merokok, BMI, ras, dan diagnosis infertilitas sebelumnya.

Hasilnya, konsumsi produk susu secara keseluruhan, baik rendah lemak maupun tinggi lemak (termasuk keju dan yogurt), justru berhubungan dengan angka kelahiran hidup yang lebih tinggi.

Hal ini membuat wanita yang mengonsumsi produk susu cenderung memiliki peluang keberhasilan IVF yang lebih baik. Dan menariknya, tidak ditemukan perbedaan signifikan antara konsumsi susu rendah lemak maupun tinggi lemak.

Meski penelitian awal memicu kekhawatiran bahwa susu rendah lemak bisa memperburuk kesuburan, studi lain justru menunjukkan manfaat dari konsumsi produk susu secara umum. Bahkan, tinjauan ilmiah berskala besar (meta-analisis) pun masih menunjukkan hasil yang bercampur dan belum konsisten.

Masih diperlukan banyak penelitian untuk benar-benar memahami hubungan antara produk susu dan kesuburan Bunda.

Baca juga: 9 Makanan yang Meningkatkan Kesuburan

Makanan Apa yang Perlu Dihindari Saat Program Hamil?

Beberapa jenis makanan diketahui dapat memengaruhi kesuburan dan bahkan membahayakan calon janin jika dikonsumsi secara berlebihan. Oleh karena itu, penting bagi Bunda untuk mengetahui makanan apa saja yang sebaiknya dihindari selama masa persiapan kehamilan.

1. Makanan tinggi gula dan karbohidrat olahan

Makanan seperti kue manis, permen, minuman bersoda, dan roti putih mengandung kadar gula dan karbohidrat olahan yang tinggi. Konsumsi berlebihan dapat menyebabkan lonjakan insulin yang berdampak pada ketidakseimbangan hormon reproduksi, sehingga berisiko mengganggu ovulasi.

2. Makanan cepat saji (fast food)

Makanan cepat saji, seperti kentang goreng, ayam goreng tepung, dan burger, umumnya mengandung lemak jenuh yang tinggi serta lemak trans. Jenis lemak ini diketahui dapat menurunkan kualitas ovulasi dan berdampak negatif terhadap kesuburan secara keseluruhan.

3. Daging olahan

Daging yang telah diproses seperti sosis, ham, nugget, atau daging kalengan mengandung bahan pengawet dan zat aditif yang dapat memengaruhi keseimbangan hormon dalam tubuh. Konsumsi daging olahan secara rutin juga dikaitkan dengan penurunan kualitas sperma pada pasangan pria.

4. Ikan dengan kandungan merkuri tinggi

Beberapa jenis ikan seperti makarel raja, hiu, dan tuna sirip kuning mengandung kadar merkuri yang tinggi. Paparan merkuri dalam jumlah besar atau berlebihan bisa sangat berisiko terhadap sistem saraf calon janin serta menurunkan kesuburan.

5. Produk susu yang tidak dipasteurisasi

Susu mentah atau keju lunak dari susu yang tidak dipasteurisasi berisiko mengandung bakteri seperti Listeria, yang dapat menyebabkan infeksi serius selama kehamilan. Oleh sebab itu, pastikan Bunda memilih produk susu yang telah melalui proses pasteurisasi / sterilisasi.

6. Konsumsi kafein berlebihan

Meskipun kafein dalam jumlah moderat masih diperbolehkan, konsumsi melebihi 200 mg per hari dapat berdampak negatif terhadap peluang kehamilan. Kafein juga dapat meningkatkan risiko keguguran pada tahap awal kehamilan.

7. Alkohol

Mengonsumsi alkohol selama promil sangat tidak disarankan karena dapat mengganggu keseimbangan hormon reproduksi dan berdampak buruk terhadap kualitas sel telur maupun sperma. Selain itu, alkohol juga dapat meningkatkan risiko cacat lahir apabila dikonsumsi saat kehamilan belum terdeteksi.

8. Makanan tinggi lemak trans

Lemak trans umumnya ditemukan dalam makanan kemasan, makanan cepat saji, dan margarin padat. Jenis lemak ini dapat memengaruhi sensitivitas insulin dan menyebabkan gangguan hormonal yang berdampak pada kesuburan.

Menjaga pola makan merupakan langkah awal yang penting dalam mendukung keberhasilan program hamil. Bunda sebaiknya menghindari makanan yang dapat mengganggu sistem reproduksi dan menggantinya dengan pilihan makanan sehat dan bergizi seimbang. 

Jika Bunda merencanakan program hamil dan ingin memaksimalkan peluang kehamilan, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter untuk memeriksakan kondisi kesuburan agar lebih optimal.

cheer

Jadwalkan Konsultasi

Jika Anda belum hamil setelah satu tahun usia pernikahan, kami menyarankan Anda untuk melakukan pemeriksaan kesuburan dengan spesialis fertilitas kami.

Buat janji konsultasi dengan menghubungi kami di Whatsapp melalui tombol di bawah.

Referensi
Team Content Medis Bocah Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

doctors
Buat Janji