Hamil saat haid memang kecil kemungkinannya, tapi bukan berarti tidak mungkin sama sekali. Untuk Ayah dan Bunda yang sedang menjalani promil simak artikel ini.
Masih banyak Ayah dan Bunda yang mengira bahwa haid berarti tidak mungkin hamil. Padahal, anggapan tersebut adalah mitos. Meski peluangnya memang lebih kecil, kehamilan tetap bisa terjadi saat haid, terutama jika Bunda memiliki siklus haid yang pendek atau tidak teratur.
Bagi Ayah dan Bunda yang sedang menjalani promil atau program hamil, memahami cara kerja siklus menstruasi dan masa subur sangat penting. Dengan pengetahuan yang tepat, peluang cepat hamil bisa lebih optimal dan terencana.
Kehamilan terjadi ketika sperma bertemu dengan sel telur (ovum). Sel telur hanya bertahan sekitar 12–24 jam setelah dilepaskan saat ovulasi. Sementara itu, sperma dapat bertahan hidup di dalam tubuh wanita hingga 3 hari, bahkan dalam kondisi tertentu bisa lebih lama.
Tanya Mincah tentang Promil?
Artinya, jika sperma sudah berada di saluran reproduksi sebelum ovulasi terjadi, kehamilan tetap bisa terjadi.
Memahami Siklus Haid dan Ovulasi
Rata-rata siklus menstruasi berlangsung selama 28 hari, dengan:
Hari pertama haid sebagai hari ke-1 siklus
Ovulasi biasanya terjadi di sekitar hari ke-14
Namun, tidak semua wanita memiliki siklus 28 hari:
Siklus pendek (21 hari): ovulasi bisa terjadi sekitar hari ke-7
Siklus panjang (35 hari): ovulasi bisa terjadi sekitar hari ke-21
Inilah alasan mengapa setiap Bunda bisa memiliki masa subur yang berbeda-beda.
Mengapa Bisa Hamil Saat Haid?
Ada beberapa kondisi yang membuat kehamilan tetap mungkin terjadi meski sedang haid:
1. Siklus Haid Pendek
Pada wanita dengan Siklus Haid Normal (28–35 hari), ovulasi umumnya terjadi di sekitar hari ke-14 setelah hari pertama haid. Jika hubungan intim dilakukan saat masih haid, jaraknya biasanya masih cukup jauh dari masa ovulasi. Dalam kondisi ini, sperma yang masuk umumnya tidak dapat bertahan hingga waktu pelepasan sel telur, sehingga peluang terjadinya kehamilan tergolong kecil.
Namun, pada beberapa Bunda, ovulasi bisa terjadi lebih cepat, misalnya di hari ke-11 atau ke-13. Jika berhubungan intim tanpa kontrasepsi di hari ke-7 atau di akhir masa haid, sementara ovulasi datang lebih awal, maka kemungkinan hamil tetap ada. Hal ini karena sperma masih bisa bertahan hidup di saluran reproduksi dan membuahi sel telur saat ovulasi terjadi.
2. Salah Mengira Flek sebagai Haid
Tidak sedikit Bunda yang mengira perdarahan ringan sebagai tanda haid, padahal bisa jadi itu adalah flek ovulasi. Flek ini biasanya muncul dalam jumlah sedikit, berwarna merah muda atau kecokelatan, dan terjadi di sekitar masa subur. Karena terlihat seperti haid ringan, banyak yang menganggap tubuh sedang berada di fase “aman” untuk berhubungan intim.
Padahal, jika flek tersebut terjadi saat ovulasi, justru itu adalah masa paling subur. Bila Bunda dan pasangan berhubungan intim tanpa pengaman di waktu ini, peluang terjadinya pembuahan menjadi jauh lebih besar karena sel telur sedang dilepaskan dan siap dibuahi. Inilah alasan mengapa sebagian pasangan bisa hamil meski merasa sedang “haid”.
3. Daya Tahan Sperma
Hal lain yang sering tidak disadari adalah sperma tidak langsung mati setelah masuk ke dalam tubuh. Sperma dapat bertahan hidup di saluran reproduksi wanita selama 3 hingga 5 hari, bahkan pada kondisi tertentu bisa lebih lama.
Artinya, jika Bunda berhubungan intim tanpa pengaman menjelang akhir masa haid, sperma masih bisa bertahan hingga ovulasi terjadi. Ketika sel telur dilepaskan beberapa hari kemudian, sperma yang masih hidup dapat langsung membuahi sel telur tersebut dan terjadilah kehamilan.
Karena itu, meskipun peluang hamil saat haid tergolong lebih kecil, risikonya tetap ada, terutama pada Bunda dengan siklus menstruasi pendek atau ovulasi yang datang lebih cepat dari perkiraan.
Seberapa Besar Peluang Hamil Saat Haid?
Peluang hamil:
Sangat kecil di 1–2 hari pertama haid
Meningkat secara bertahap pada hari-hari berikutnya, terutama menjelang haid berakhir.
Dengan kata lain, tidak ada waktu yang benar-benar 100% aman dari kehamilan, termasuk saat haid.
Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa berhubungan intim saat haid tanpa pengaman tetap berisiko menyebabkan kehamilan, meskipun peluangnya tidak sebesar saat masa subur. Karena itu, bila Bunda sedang menunda atau tidak menginginkan kehamilan, sebaiknya menghindari hubungan intim selama haid.
Selain itu, berhubungan intim saat haid juga berisiko meningkatkan kemungkinan terjadinya beberapa gangguan kesehatan, seperti:
Penyakit menular seksual, seperti HIV dan hepatitis B
Risiko ini meningkat karena karena darah menstruasi dapat menjadi media penularan virus dan bakteri.
Waktu yang Lebih Aman
Untuk mengurangi risiko kehamilan dan masalah kesehatan, Bunda dan pasangan dapat memilih waktu berhubungan intim di luar masa haid, misalnya:
2–3 hari setelah masa subur berlalu
Mendekati waktu haid berikutnya
Periode tersebut umumnya dianggap lebih aman karena sudah melewati masa ovulasi, sehingga peluang terjadinya pembuahan lebih kecil.
Tips untuk Ayah & Bunda yang Sedang Promil
Jika Ayah dan Bunda sedang menjalani program hamil, berikut yang bisa dilakukan:
Catat siklus haid secara rutin
Kenali pola ovulasi Bunda
Lakukan hubungan intim secara teratur, terutama mendekati masa subur
Jaga gaya hidup sehat (pola makan, olahraga, tidur cukup)
Sebaliknya, jika belum ingin hamil, kontrasepsi tetap diperlukan meski sedang haid.
Haid tidak sepenuhnya menutup peluang kehamilan. Meski risikonya kecil, kehamilan tetap bisa terjadi tergantung siklus haid dan waktu ovulasi. Oleh karena itu, memahami tubuh sendiri menjadi kunci penting, terutama bagi Ayah dan Bunda yang sedang promil dan berharap cepat hamil.
Jika Ayah dan Bunda sudah menjalani program hamil cukup lama namun belum mendapatkan hasil, sebaiknya segera konsultasi ke dokter. Klinik Bocah Indonesia siap membantu Ayah dan Bunda dengan pendampingan promil yang tepat, aman, dan sesuai kondisi masing-masing.
FAQ: Apakah Saat Haid Bisa Hamil?
1. Apakah saat haid bisa hamil?
Ya, saat haid tetap bisa hamil meski peluangnya lebih kecil. Kehamilan dapat terjadi jika sperma masih bertahan di saluran reproduksi hingga ovulasi terjadi, terutama pada wanita dengan siklus haid pendek atau tidak teratur.
2. Mengapa hamil bisa terjadi saat haid?
Kehamilan bisa terjadi karena sperma mampu bertahan hidup di dalam tubuh wanita selama 3–5 hari. Jika ovulasi terjadi lebih cepat dari perkiraan dan berhubungan intim dilakukan di akhir masa haid, pembuahan tetap mungkin terjadi.
3. Apakah hari pertama haid aman dari kehamilan?
Peluang hamil pada 1–2 hari pertama haid sangat kecil. Namun, tidak ada waktu yang benar-benar 100% aman dari risiko kehamilan tanpa kontrasepsi.
4. Apakah flek bisa disalahartikan sebagai haid?
Ya, flek ovulasi sering disangka sebagai haid ringan. Padahal, flek tersebut bisa muncul saat masa subur. Jika berhubungan intim tanpa pengaman pada waktu itu, peluang hamil justru lebih besar.
5. Apakah siklus haid memengaruhi kemungkinan hamil saat haid?
Ya. Pada wanita dengan siklus haid pendek (misalnya 21 hari), ovulasi bisa terjadi lebih cepat. Jika berhubungan intim di akhir haid, sperma masih dapat bertahan hingga masa subur.
6. Apakah berhubungan intim saat haid berisiko bagi kesehatan?
Selain risiko kehamilan, berhubungan intim saat haid juga dapat meningkatkan risiko infeksi saluran kemih, infeksi vagina, serta penyakit menular seksual karena darah menstruasi dapat menjadi media penularan.
7. Jika sedang promil, kapan waktu terbaik untuk berhubungan intim?
Waktu terbaik adalah menjelang dan saat masa ovulasi. Ayah dan Bunda disarankan mencatat siklus haid secara rutin untuk mengetahui masa subur dengan lebih akurat.
Jadwalkan Konsultasi
Jika Anda belum hamil setelah satu tahun usia pernikahan, kami menyarankan Anda untuk melakukan pemeriksaan kesuburan dengan spesialis fertilitas kami.
Buat janji konsultasi dengan menghubungi kami di Whatsapp melalui tombol di bawah.
Bocah Indonesia adalah klinik kesuburan yang melayani konsultasi hingga tindakan operatif. Bocah Indonesia berada di bawah naungan PT Ibu Daya Lestari. Berada di Lantai 7 Rumah Sakit Primaya, Jl. MH Thamrin No.3, Cikokol, Tangerang, Banten, Indonesia.
Latest posts by Team Content Medis Bocah Indonesia (see all)