Antara Vaksin Corona dan Kesuburan, Adakah Hubungannya?

vaksin covid-19 dan kesuburan

Sebagian orang menolak vaksin corona karena katanya dapat memengaruhi kesuburan. Bagaimana fakta sebenarnya?

Di tengah-tengah pandemi ini, kehadiran vaksin covid-19 bagaikan air di padang gurun. Setidaknya, cukup melegakan banyak pihak dan mengurangi ketakutan yang berlebihan. Akan tetapi, yang enggan divaksin pun tidak sedikit. Salah satu alasannya karena dianggap dapat mengganggu fertilitas atau kesuburan seseorang. Benarkah demikian?

Perdebatan soal vaksin corona dan kesuburan

Di awal Desember 2020, seorang dokter dan epidemiolog Jerman bernama Wolfgang Wodarg bersama seorang mantan staf Pfizer meminta European Medicines Agency (semacam BPOM-nya Indonesia) untuk menunda studi dan mengeluarkan izin penggunaan vaksin corona buatan Pfizer/BioNTech. Sang dokter memang selama ini diketahui cenderung skeptis terhadap vaksinasi untuk berbagai pandemi sebelumnya.

Terkait dengan vaksin corona, salah satu hal yang dikhawatirkannya adalah keberadaan  protein syncytin-1 di dalam plasenta mamalia, yang kode genetiknya sama dengan protein spike virus corona. Protein spike ini diketahui memicu respon antibodi terhadap virus corona di dalam tubuh. Bila betul demikian, antibodi yang terbentuk akibat vaksin corona juga akan membuat tubuh menyerang dan menolak protein syncytin-1 di dalam plasenta. Akibatnya, wanita menjadi infertil atau tidak subur.

Klaim ini mendapat sanggahan dari banyak pakar lain. Protein spike virus corona dan syncytin-1 memang berbagi kode genetik yang sama, namun belum cukup untuk dikatakan matched atau bersesuaian. Analoginya, seperti dua orang yang sama-sama memiliki nomor telepon diawali angka 8. Tentunya, Anda tidak akan tersambung dengan orang lain bila angka-angka lainnya berbeda atau susunan angkanya berbeda, meski nomornya mengandung digit yang sama. Dengan kata lain, persamaannya sangat sedikit. 

Hasil studi vaksin corona dan kesuburan

Untuk membuktikannya, dalam uji vaksin Pfizer yang melibatkan lebih dari 37.000 orang, semua partisipan wanita diminta tes kehamilan terlebih dulu. Bila terbukti hamil, otomatis tidak ikut uji. Selama pengujian vaksin berlangsung, 23 wanita diketahui hamil secara kebetulan. Dua belas diantaranya berasal dari kelompok vaksinasi, dan 11 sisanya dari kelompok plasebo (vaksin kosong). Semua wanita yang hamil ini tetap mengikuti studi sampai selesai.

Pada pria, hasil studi terkini yang dipublikasikan dalam Journal of American Medical Association, 17 Juni 2021, juga menunjukkan hasil yang positif. Studi yang dilakukan di University of Miami ini melibatkan 45 pria sehat berusia 18-50 tahun dan bertujuan untuk melihat kualitas sperma sebelum dan setelah vaksinasi corona dengan vaksin m-RNA dari Pfizer atau Moderna.

Semua pria yang terlibat sudah diskrining untuk memastikan mereka tidak memiliki masalah kesuburan. Sebelum mendapatkan dosis pertama vaksin corona, partisipan diminta untuk mengumpulkan sampel cairan sperma setelah 2-7 hari tidak berhubungan intim. Sampel cairan sperma juga dikumpulkan kembali kurang lebih 70 hari setelah dosis kedua vaksin corona.

Ditemukan bahwa pada kedua kelompok, baik yang mendapatkan vaksin Pfizer maupun Moderna, tidak ditemukan penurunan parameter kualitas sperma setelah dua dosis vaksin corona. Begitupun pada pria yang sudah mengalami oligospermia (jumlah sperma kurang dari normal), tidak ditemukan penurunan lebih lanjut akibat vaksinasi corona.

Hasil-hasil studi ini menjadi salah satu acuan mengapa organisasi kesehatan terkait di luar negeri—seperti American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), American Society of Reproductive Medicine (ASRM), The British Fertility Society, dan Centers for Disease Control and Prevention (CDC)— menyatakan bahwa vaksin corona tidak menyebabkan gangguan kesuburan pada wanita maupun pria. Wanita yang menjalani vaksinasi corona tidak akan menjadi sulit hamil dan pria pun tetap bisa memberikan keturunan.

Di Indonesia, meski menggunakan teknologi vaksin yang berbeda, yakni Sinovac dan Astra-Zeneca, rekomendasinya tetap sama. Meski studi yang dilakukan masih terbatas, Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) menyatakan bahwa wanita yang telah mendapatkan vaksinasi corona jenis apapun tidak perlu menunda bila menginginkan kehamilan. Program hamil yang sedang berjalan juga dapat diteruskan. Bahkan, POGI bersama Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah menyetujui penggunaan vaksin Sinovac pada ibu hamil yang memenuhi syarat.

Vaksinasi dapat dilakukan meski sedang menjalani program hamil atau fertility treatment

The British Fertility Society menyatakan bahwa pasangan yang sedang menjalani program hamil atau fertility treatment, seperti induksi ovulasi, inseminasi intrauteri, frozen embryo transfer, bayi tabung, maupun pembekuan sel telur, dapat divaksinasi. 

Namun, waktu pemberiannya perlu disesuaikan mengingat adanya beberapa efek samping hingga beberapa hari setelah vaksinasi. Sebelum menentukan jadwal vaksinasi, sebaiknya diskusikan terlebih dulu dengan dokter Anda kapan waktu terbaik untuk vaksin selama menjalani program hamil.

Sedangkan bagi Anda yang masih merencanakan kehamilan, program hamil dianjurkan untuk dimulai 4 minggu setelah vaksinasi dosis kedua. Hal ini sesuai dengan rekomendasi dari Himpunan Endokrinologi Reproduksi dan Fertilitas Indonesia (HIFERI). Salah satu tujuannya, agar kekebalan terhadap virus corona dapat terbentuk dengan optimal sebelum kehamilan dimulai.

Tidak divaksin justru dapat memengaruhi kesuburan dan program hamil

Wanita yang sedang menjalani fertility treatment kemudian terinfeksi virus corona, pasti akan mengalami penundaan siklus pengobatan. Sedangkan pria yang terinfeksi virus corona, dapat mengalami penurunan kualitas sperma dalam 3-6 bulan setelahnya. Setelah 6 bulan, jumlah sperma baru normal kembali. Hal ini tentu bukan kabar baik bila pasangan sudah ingin segera memiliki keturunan, apalagi bila usia wanita sudah di ambang batas.

Oleh sebab itu, mendapatkan vaksinasi merupakan salah satu cara untuk melindungi diri sendiri dan memastikan Anda tetap bisa menjalani program hamil sesuai jadwal.

Vaksin corona itu sendiri tidak mengandung virus hidup sehingga tidak akan memengaruhi sel telur, sel sperma, embrio maupun plasenta. Faktanya, lembaga-lembaga kesehatan yang bergerak di bidang kesehatan reproduksi, baik di Indonesia maupun luar negeri, sangat mendorong setiap pasangan yang menjalani program hamil apapun untuk segera mendapatkan vaksinasi bila memenuhi syarat. Vaksinasi tidak akan menunda inisiasi program hamil maupun mengganggu jadwal fertility treatment yang sedang berjalan.

Penutup

Sejak awal, pandemi ini tidak menyebabkan perubahan pada pola fertilitas atau kesuburan pada pria maupun wanita. Sehingga, bisa disimpulkan bahwa vaksin, yang notabene tidak mengandung virus hidup, juga tidak akan berpengaruh terhadap fertilitas keduanya. 

Vaksin corona, seperti juga vaksin lainnya, bekerja dengan cara ‘melatih’ tubuh menghasilkan antibodi untuk melawan virus penyebab. Dengan demikian, dapat mencegah sakit di masa depan. Hingga kini, belum ada bukti-bukti yang menunjukkan bahwa antibodi yang dibentuk oleh vaksinasi corona menyebabkan masalah-masalah yang berkaitan dengan kehamilan, termasuk pembentukan plasenta. Belum ada pula bukti-bukti yang menyebutkan gangguan kesuburan sebagai efek samping vaksinasi.

Oleh sebab itu, Anda yang sedang mencoba untuk hamil sekarang ataupun nanti, dapat menerima vaksinasi corona selama memenuhi syarat. Semakin banyak jumlah orang yang divaksin, semakin cepat pandemi ini bisa berakhir. Tentu, dengan tetap menaati protokol kesehatan 5M.

  1. Association of Reproductive and Clinical Scientists, British Fertility Society. Covid-19 vaccines and fertility. 2021. Source.
  2. Gonzalez DC, Nassau DE, Khodamoradi K, et al. Sperm Parameters Before and After COVID-19 mRNA Vaccination. JAMA. Published online June 17, 2021. doi:10.1001/jama.2021.9976
  3. Iacobucci G. Covid-19: No evidence that vaccines can affect fertility, says new guidance BMJ 2021; 372 :n509 doi:10.1136/bmj.n509
  4. Centers for Disease Control and Prevention. Covid-19 vaccine in pregnancy or breastfeeding. Updated June 29, 2021. Source 
  5. The American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG). Covid-19 vaccination considerations for obstetric-gynecologic care. Updated June 9, 2021. Source
  6. American Society of Reproductive Medicine (ASRM). Joint statement regarding COVID-19 vaccine in men desiring fertility from the Society for Male Reproduction and Urology (SMRU) and the Society for the Study of Male Reproduction (SSMR). Source
  7. WebMD Health News. Why covid vaccines are falsely linked to infertility. January 12, 2021. Source
Share:

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Reservasi