Usia Pria dan Kualitas Embrio, Adakah Hubungannya?

Usia Pria dan Kualitas Embrio, Adakah Hubungannya

Infertilitas sama-sama bisa dialami oleh pria dan wanita. Akan tetapi apakah usia memengaruhi kesuburan pria sama seperti pada wanita?

Sudah menjadi rahasia umum bahwa kualitas sel telur dan angka infertilitas meningkat seiring dengan bertambahnya usia wanita. Fakta juga menunjukkan bahwa angka kesuksesan program bayi tabung didapat lebih rendah pada wanita yang lebih tua. Salah satunya karena kualitas embrio yang menurun. Yang menjadi pertanyaan, apakah hal yang sama berlaku pada pria? Apakah ada hubungan antara usia pria dengan kualitas embrio?

Usia yang menua dan kesuburan pria

Sampai batas tertentu, pria—seperti halnya wanita—juga memiliki jam biologis. Pria juga mengalami dampak dari penuaan, yakni menurunnya kesuburan seiring dengan waktu. Namun, penurunan kesuburan pada pria tampaknya baru terjadi di usia yang jauh lebih lanjut ketimbang pada wanita.

The Centers for Disease Control and Prevention (CDC) di Amerika Serikat melaporkan bahwa kebanyakan pria mengalami penurunan kesuburan yang bermakna setelah mencapai usia 40 tahun. Sebuah studi menunjukkan bahwa kemungkinan hamil bagi dalam 1 tahun adalah 30 persen lebih kecil bagi pria yang berusia lebih dari 40 tahun dibandingkan dengan pria yang berusia di bawah 30 tahun. Studi lain pada yang menjalani inseminasi buatan menemukan bahwa setelah 6 siklus, pria berusia 35 tahun ke bawah memiliki tingkat kesuburan sebesar 52 persen, sedangkan pria di atas usia 35 tahun memiliki tingkat kesuburan sebesar 25 persen.

Dari berbagai studi ini disimpulkan bahwa penurunan kesuburan pada pria biasanya dimulai pada usia 35 tahun. Di usia ini, kualitas sperma dapat mengalami penurunan yang bermakna. Selanjutnya, ini akan memengaruhi:

Tanya Ferly tentang Promil?

New CTA WA

  • Angka kehamilan. Angka kehamilan menurun seiring dengan bertambahnya usia pria. Pria umumnya akan mengalami penurunan tingkat kesuburan sebesar 52 persen di awal usia 30-an hingga akhir 30-an.
  • Waktu hingga terjadinya pembuahan. Dibandingkan pria berusia 25 tahun atau lebih muda, pria berusia 45 tahun ke atas berpeluang 12,5 kali lipat lebih besar untuk membutuhkan waktu lebih lama dalam mencapai kehamilan (>2 tahun).
  • Risiko keguguran. Keguguran pada usia kehamilan <20 minggu) meningkat sebesar 27 persen bila pria berusia 35 tahun atau lebih. Risiko tersebut meningkat 2 kali lipat bila pria berusia 50 tahun.
  • Komplikasi pada kehamilan. Kehamilan yang melibatkan pria di atas usia 45 tahun mengalami peningkatan risiko komplikasi persalinan. 
  • Risiko kesehatan pada keturunan. Beberapa studi menunjukkan peningkatkan risiko kelahiran prematur atau berat badan lahir rendah pada bayi yang lahir dari pria berusia 35 tahun atau lebih. Akan tetapi, temuan ini tidak sepenuhnya jelas. Studi lain menemukan hubungan usia pria, khususnya di atas usia 50 tahun, dengan sedikit peningkatan risiko autisme dan skizofrenia pada keturunannya. 

Efek usia pria terhadap kualitas embrio

Kualitas embrio bergantung pada banyak faktor. Utamanya faktor intrinsik, yakni sel telur dan sel sperma, dan faktor ekstrinsik seperti kondisi kultur embrio di laboratorium bila menjalani program bayi tabung. Di sisi pria, diketahui bahwa bertambahnya usia dikaitkan dengan penurunan bermakna pada beberapa parameter kualitas sperma, seperti volume, jumlah, pergerakan, bentuk dan viabilitas (kemampuan bertahan hidup) sperma. 

Penyebab langsung dari hubungan ini memang belum jelas diketahui, namun ada beberapa mekanisme potensial yang diketahui berubah seiring bertambahnya usia, yakni:

  • Berkurangnya kapasitas sel dan jaringan untuk memperbaiki diri dari kerusakan
  • Menurunnya jumlah sel germinal (prekursor sel sperma) dan kadar hormon pria
  • Adanya perubahan struktur pada saluran reproduksi pria, seperti penyempitan saluran sperma
  • Aliran darah yang kurang lancar
  • Adanya penyakit yang berhubungan dengan penuaan dan memengaruhi proses reproduksi 

Secara spesifik, produksi cairan dari kelenjar aksesori seperti kelenjar Cowper dan prostat, berkurang pada pria yang lebih tua. Komposisi air dan protein juga berbeda dari pria yang lebih muda, di mana ini akan memengaruhi pergerakan sperma. Spermatogenesis atau proses pembentukan sperma juga bisa terganggu seiring bertambahnya usia mengakibatkan bentuk sperma yang abnormal pada pria yang lebih tua.

Seiring dengan berkurangnya kualitas sperma akibat penuaan, integritas atau keutuhan DNA sperma juga menurun. Masalah ini kemungkinan besar memiliki penyebab yang sama dengan yang memengaruhi karakteristik sperma, namun utamanya terkait dengan proses perbaikan DNA dan pembelahan sel yang terganggu seiring bertambahnya usia pria. Selain itu, risiko akumulasi kerusakan dan radikal bebas akibat infeksi, konsumsi alkohol, rokok, dan racun lainnya meningkat seiring bertambahnya usia. Semua hal ini sangat besar kemungkinannya dalam merusak keutuhan DNA.

Baca juga: Antioksidan, Benarkah Meningkatkan Kesuburan Pria? (bocahindonesia.com)

DNA sperma yang tidak utuh atau mengalami fragmentasi diketahui berhubungan dengan berkurangnya angka kehamilan—melalui proses pembuahan alami maupun berbantu seperti inseminasi buatan atau program bayi tabung—dan meningkatnya angka keguguran. 

Keutuhan DNA sperma bisa dilihat dari pemeriksaan indeks fragmentasi DNA sperma (DFI). DFI menunjukkan jumlah materi genetik atau DNA yang rusak/abnormal di dalam sel sperma. Semakin baik kualitas sperma maka semakin rendah angka DFI-nya. Studi menunjukkan bahwa fragmentasi DNA sperma meningkat sebesar 0,3 persen per tahun.

Baca juga: DNA Fragmentation Index (DFI) – Pengertian & Fungsinya (bocahindonesia.com).

Usia pria dan angka keberhasilan program bayi tabung

Bisa disimpulkan bahwa usia pria yang menua menurunkan angka keberhasilan kehamilan secara alami oleh karena jumlah dan kualitas sperma yang menurun, khususnya setelah usia 40 tahun. Namun apakah ini juga memengaruhi angka keberhasilan program bayi tabung?

Studi terkini di tahun 2023 mencoba melihat pengaruh usia pria dengan parameter sperma normal terhadap angka keberhasilan program bayi tabung. Dalam studi ini, terdapat total 381 siklus bayi tabung, dan dikelompokkan berdasarkan usia ayah (<35 tahun, 35-39 tahun, atau 40 tahun ke atas). Usia ibu dibatasi sampai di bawah usia 35 tahun. Analisis mencakup data tentang kualitas embrio dan luaran klinis seperti angka keberhasilan kehamilan, kelahiran hidup, dan keguguran.

Hasil studi menunjukkan bahwa tingkat pembuahan dan kualitas embrio tidak berbeda bermakna pada ketiga kelompok usia. Sedangkan untuk angka keberhasilan kehamilan, didapat 40,3 persen pada kelompok usia <35 tahun. Angka ini tidak berbeda bermakna pada kelompok usia 35-39 tahun yang sebesar 42 persen. Namun, terdapat penurunan yang signifikan, yakni 26,1 persen pada kelompok usia 40 tahun ke atas. 

Angka kelahiran hidup tidak berbeda bermakna antarkelompok usia, yakni 30,6 persen pada kelompok usia <35 tahun, 21,7 persen pada kelompok usia 35-39 tahun, dan 19,6 persen pada kelompok usia 40 tahun ke atas. Namun, bisa dilihat bahwa trennya menurun seiring bertambahnya usia.

Angka keguguran meningkat secara bermakna pada kelompok usia 35-39 tahun (44,8 persen) dibandingkan dengan kelompok usia <35 tahun (21 persen). Namun, perbedaan ini tidak bermakna pada kelompok usia 40 tahun ke atas (25 persen), meski persentasenya tetap lebih besar. Hasil studi tidak menunjukkan adanya perbedaan pada angka persalinan prematur maupun berat bayi baru lahir di semua kelompok usia. 

Dari seluruh hasil ini dapat disimpulkan bahwa usia pria di atas 40 tahun merupakan faktor tersendiri yang memengaruhi tingkat keberhasilan program bayi tabung meski parameter kualitas sperma baik dan tidak berefek pada perkembangan embrio.

Penutup

Hampir semua parameter kualitas sperma dan kesuburan pria akan menurun seiring dengan bertambahnya usia, sehingga berkontribusi terhadap berkurangnya angka keberhasilan kehamilan. Dari berbagai hasil studi, bisa dikatakan bahwa secara umum, usia ideal untuk menjadi ayah adalah di bawah 40 tahun. Namun, bukan berarti pria di atas 40 tahun tidak bisa menjadi orang tua. Adanya teknologi reproduksi berbantu dapat mengompensasi penurunan kesuburan seiring penuaan dan meminimalisasi risiko yang mungkin terjadi.

Satu hal yang perlu diingat, usia bukanlah satu-satunya faktor yang berperan dalam infertilitas pria. Ada banyak penyebab lain yang penting untuk dievaluasi, seperti masalah struktural pada saluran reproduksi, kelainan genetik, gangguan hormon, dan gaya hidup yang dijalani.

cheer

Jadwalkan Konsultasi

Jika Anda belum hamil setelah satu tahun usia pernikahan, kami menyarankan Anda untuk melakukan pemeriksaan kesuburan dengan spesialis fertilitas kami.

Buat janji konsultasi dengan menghubungi kami di (021) 50200800 atau chat melalui Whatsapp melalui tombol di bawah.

Referensi
  • Colaco S, Sakkas D. Paternal factors contributing to embryo quality. Journal of Assisted Reproduction and Genetics. 2018 Nov;35:1953-68.
  • Halvaei I, Litzky J, Esfandiari N. Advanced paternal age: effects on sperm parameters, assisted reproduction outcomes and offspring health. Reproductive Biology and Endocrinology. 2020 Dec;18(1):1-2.
  • Jimbo M, Kunisaki J, Ghaed M, Yu V, Flores HA, Hotaling JM. Fertility in the aging male: A systematic review. Fertility and Sterility. 2022 Dec 1;118(6):1022-34.
  • Lu XM, Liu YB, Zhang DD, Cao X, Zhang TC, Liu M, Shi HJ, Dong X, Liu SY. Effect of advanced paternal age on reproductive outcomes in IVF cycles of non-male-factor infertility: a retrospective cohort study. Asian Journal of Andrology. 2023 Mar;25(2):245.
Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

doctors
Buat Janji