Rangkaian Tes Kesuburan Pria yang Harus Kamu Ketahui Untuk Mulai Program Hamil

tes kesuburan pria

Bagi pasangan suami istri yang mengalami masalah infertilitas, tes kesuburan pria perlu dilakukan. Perlu diingat, infertilitas tidak hanya disebabkan oleh wanita tetapi juga oleh pria. Bagaimana cara melakukan tes kesuburan pada pria?

Jenis Tes Kesuburan Pria

Sama seperti wanita, pria juga bisa mengalami masalah infertilitas yang menyebabkan pasangan sulit hamil. Salah satu cara mengetahui kondisi kesuburan adalah dengan melakukan tes kesuburan pria. Terdapat beberapa jenis tes kesuburan pria yang dapat Anda lakukan.

1. Tes Pemeriksaan Fisik

Salah satu cara tes kesuburan pria dilakukan melalui tes fisik dan riwayat penyakit oleh dokter spesialis urologi. Pada tes ini, dokter akan mencari tahu mengenai segala kondisi yang berpotensi mengganggu kesuburan Anda.

Melalui tes pemeriksaan fisik, dokter akan menanyakan mengenai riwayat kesehatan Anda secara keseluruhan. Setelah itu, dokter akan mencari tahu segala kondisi yang berpotensi mengganggu kesuburan.

Pada pemeriksaan fisik, dokter juga akan menanyakan apakah Anda pernah memiliki riwayat penyakit yang cukup parah sebelumnya atau tengah mengonsumsi obat-obatan yang dapat menyebabkan masalah kesuburan.

Tes ini dilakukan untuk mengetahui apakah Anda menderita varikokel. Varikokel merupakan pembesaran pembuluh darah pada skrotum atau kantung testis yang dapat menghambat aliran darah dan mengganggu fungsi sistem reproduksi.

2. Analisa Sperma

Analisa sperma merupakan salah satu prosedur yang harus dilakukan. Prosedur ini dilakukan untuk mengetahui gangguan sperma yang bisa menyebabkan pria sulit memiliki anak. Analisa sperma merupakan salah satu prosedur yang wajib dilakukan.

Sperma merupakan salah satu yang paling dibutuhkan dalam proses pembuahan sehingga apabila sperma mengalami gangguan dapat menyebabkan pasangan sulit hamil. Kelainan yang memengaruhi kualitas sperma, seperti jumlah, bentuk, dan motilitas/pergerakan sperma.

Kondisi ini tidak hanya melakukan analisa sperma namun juga dapat dilakukan untuk pemeriksaan kondisi air mani sehingga pemeriksaan ini kerap disebut analisa semen atau analisa air mani.

Metode pengambilan sperma dilakukan dengan masturbasi. Pria akan diminta untuk mengeluarkan cairan ejakulat secara mandiri ke dalam wadah steril. Cairan tersebut kemudian dianalisis Andrologi di laboratorium khusus.

Namun apabila tidak bisa ejakulasi, tidak ditemukan sperma pada cairan ejakulat, atau pada saat pemeriksaan fisik diketahui adanya sumbatan yang dapat menghalangi jalannya sperma, maka dilakukan tindakan tingkat lanjut. Hal ini dilakukan untuk mengambil sampel pria yang akan dianalisis.

3. Tes Hormon

Cara cek kesuburan pria selanjutnya adalah tes hormon. Meski jarang terjadi namun bukan tidak mungkin hormon menjadi penyebab infertilitas. Terdapat hormon yang diproduksi kelenjar pituitari adalah hormon Follicle Stimulating Hormone (FSH) dan Luteinizing Hormone (LH) yang memiliki peran penting dalam pembentukan sperma.

Jika kedua hormon tersebut tidak seimbang maka dapat mengganggu produksi sperma. Tes hormon dapat dilakukan dengan cara pengambilan sampel darah. Setelah itu, darah akan dikirim ke laboratorium untuk diperiksa.

4. Tes Genetik

Tes genetik bisa dilakukan sebagai salah satu bagaimana cara tes kesuburan pria. Tes yang dilakukan pada DNA ini dapat membantu menyingkirkan kelainan kromosom, terutama pada pria dengan azoospermia (tidak ada sperma dalam air mani) atau oligozoospermia (jumlah sperma rendah).

5. Biopsi testis

Biopsi testis dilakukan untuk mengetahui penyebab masalah pada produksi sperma, misal kanker atau tumor testis. Pemeriksaan ini dilakukan dengan cara sampel dikeluarkan dari testis, baik dengan jarum atau melalui sayatan kecil.

Biopsi testis merupakan prosedur tingkat lanjut, yang mana prosedur pengambilan sperma dilakukan langsung dari saluran reproduksi. Baik dari epididimis (saluran penyimpanan dan pematangan sperma) maupun dari testis. Prosedur tersebut dilakukan bila sperma dari cairan ejakulat atau air mani terlalu sedikit atau bahkan kosong (azoospermia dan cryptozoospermia). Beberapa prosedur tingkat lanjut yang dapat dilakukan adalah Percutaneous Epididymal Sperm Extraction (PESA), Testicular Sperm Aspiration (TESA), dan MicroTESE.

Percutaneous Epididymal Sperm Extraction (PESA)

Prosedur Percutaneous Epididymal Sperm Extraction (PESA) dilakukan untuk mengambil sperma dengan menggunakan jarum kecil menembus epididimis dan tidak memerlukan pembedahan. Teknik ini dapat digunakan sebagai pendekatan pertama yang paling efektif untuk mengumpulkan sperma ketika terdapat sumbatan pada saluran sperma. hasil sperma yang didapatkan dari tindakan PESA dapat digunakan dalam proses bayi tabung.

Testicular Sperm Aspiration (TESA)

Testicular Sperm Aspiration (TESA) dilakukan bila tidak ditemukan sperma dari tindakan PESA. Prosedur ini dilakukan dengan anestesi lokal dilanjutkan penyuntikan jarum secara langsung ke jaringan testis. Setelah prosedur TESA, sperma yang didapatkan dapat disimpan untuk persiapan program bayi tabung.

Microdissection Testicular Sperm Extraction (MicroTESE)

Microdissection Testicular Sperm Extraction (MicroTESE) dilakukan pada kasus pria yang memiliki masalah produksi sperma dan hasil analisis semen menunjukkan kondisi azoospermia. Prosedur ini dilakukan dengan bius umum dan tindakan operasi menggunakan mikroskop. Saat tindakan, sayatan kecil akan dibuat di testis untuk mengevaluasi tubulus yang mengandung sperma. Apabila dari hasil microTESE hanya didapatkan sperma muda, maka dapat dilakukan ROSI (round spermatid injection) saat program bayi tabung.

pemeriksaan testis

Faktor yang Memengaruhi Kesuburan

Masalah kesuburan tidak hanya dialami oleh wanita tetapi juga pada pria. Kondisi kesuburan pria juga bisa disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya:

Usia

Secara umum, semakin bertambahnya usia maka tingkat kesuburan pria menurun secara signifikan ketika menginjak usia di atas 35 tahun. Kualitas sperma di atas usia 35 tahun mengalami penurunan sehingga potensi berhasil kehamilan tidak begitu tinggi.

Gaya hidup

Gaya hidup yang tidak sehat bisa memengaruhi kesuburan pria, di antaranya obesitas, kebiasaan merokok, dan minum alkohol. Pria yang mengalami obesitas memiliki risiko untuk memiliki jumlah sperma yang lebih sedikit dan pergerakan sperma yang buruk.

Begitu pun jika pria memiliki kebiasaan merokok dapat mengganggu kualitas sperma. Pasalnya, zat-zat berbahaya yang terkandung di dalam rokok dapat menyebabkan kelainan sperma (kerusakan genetik pada DNA sperma) dan mengurangi jumlah sperma.

Pria yang mengonsumsi alkohol secara rutin juga bisa menyebabkan masalah infertilitas. Pasalnya, alkohol diketahui dapat menurunkan hormone testosterone yang diperlukan dalam memproduksi sperma. Selain itu, alkohol juga daoat menyebabkan masalah ejakulasi dini, gangguan ereksi, dan mengurangi motilitas sperma.

Paparan zat berbahaya

Pria yang terlalu sering terpapar zat berbahaya seperti pestisida, merkuri logam berat, benzena, dan barium dapat memengaruhi kesuburan.

Tanpa sebab tertentu

Ini merupakan kondisi infertilitas yang penyebabnya tidak dapat diketahui. Hal ini biasanya terjadi ketika pasangan yang mengalami kesulitan hamil namun tidak dapat diketahui penyebabnya.

Cara Meningkatkan Kualitas Sperma

Kriteria sperma yang normal ditentukan oleh kualitas sperma termasuk jumlah total sperma bergerak, motilitas, bentuk normal, dan volume cairan ejakulasi.

Oleh sebab itu, terdapat beberapa cara yang dapat meningkatkan kualitas sperma sehingga bisa mencegah risiko infertilitas, seperti:

  • Melakukan olahraga teratur
  • Mengonsumsi makanan sehat
  • Melakukan hubungan seks secara rutin
  • Menghindari penggunaan celana ketat
  • Menghindari stres berlebihan
  • Jaga berat badan ideal
  • Konsumsi suplemen tambahan
  • Hindari paparan zat berbahaya
  1. Trevor G. Cooper. World Health Organization reference values for human semen characteristics. Human Reproduction Update, Volume 16, Issue 3, May-June 2010, Pages 231–245. URL.
  2. Naina Kumar and Amit Kant Singh. Trends of male factor infertility, an important cause of infertility: A review of literature. J Hum Reprod Sci. 2015 Oct-Dec; 8(4): 191–196. URL.
  3. Roelof Menkveld. Clinical significance of the low normal sperm morphology value as proposed in the fifth edition of the WHO Laboratory Manual for the Examination and Processing of Human Semen. Asian J Androl. 2010 Jan; 12(1): 47–58. Published online 2010 Jan 29. URL.
  4. S. Vasan. Semen analysis and sperm function tests: How much to test? Indian J Urol. 2011 Jan-Mar; 27(1): 41–48. URL.
  5. David F Yao, Jesse N Mills. Male infertility: lifestyle factors and holistic, complementary, and alternative therapies. Asian J Androl. 2016 May-Jun; 18(3): 410–418. Published online 2016 Mar 4. URL.
  6. Richard M Sharpe. Sperm counts and fertility in men: a rocky road ahead. EMBO Rep. 2012 May; 13(5): 398–403. Published online 2012 Apr 10. URL.
Share:

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Reservasi