Apa Hubungannya Kesuburan dengan Tes AMH (Anti-Mullerian Hormone)?

Tes anti-mullerian hormone (AMH) dipakai untuk mengetahui jumlah sel telur tersisa yang dimiliki seorang wanita.

Pada wanita yang sulit hamil, dokter kerap menyarankan tes anti-Mullerian hormone (AMH). Terdengar asing? Ya, memang hormon ini tidak sepopuler estrogen, progesteron, atau beta-hCG (human chorionic gonadotropin). Namun, hormon ini dapat memberikan informasi penting terkait kesuburan seorang wanita, khususnya yang sedang menantikan atau merencanakan kehamilan di masa depan.

Apa Itu Anti-Mullerian Hormone?

Anti-Mullerian Hormone atau AMH adalah hormon yang diproduksi oleh sel-sel granulosa di dalam folikel ovarium. Kadarnya tertinggi dalam folikel-folikel kecil berukuran kurang dari 8 mm. Menurut American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), produksi AMH menggambarkan cadangan ovarium (ovarian reserve) seorang wanita.

Untuk lebih memahaminya, mari simak penjelasan berikut.

Cadangan ovarium bisa diibaratkan sebagai sekeranjang telur, di mana saat lahir isinya penuh. Faktanya, wanita terlahir dengan kurang lebih 1-2 juta sel telur dalam ovariumnya. Sel-sel telur ini kemudian akan terpakai selama hidup dimulai saat pertama kali menstruasi.

Pada setiap siklus menstruasi, akan terdapat sekelompok folikel kecil yang imatur—yang di dalamnya mengandung sel telur—yang berkembang dengan berespon terhadap hormon reproduksi wanita (estrogen dan progesteron). Ketika folikel telah membesar dan matang, wanita akan mengalami ovulasi dan melepaskan sebuah sel telur yang berpotensi untuk dibuahi. Sel-sel telur yang tidak ‘terpilih’ untuk ovulasi akan diserap kembali. Proses ini akan berulang kembali bila pembuahan tidak terjadi—dengan kata lain, tidak terjadi kehamilan—di bulan itu.

Sederhananya, kadar AMH di dalam darah menunjukkan jumlah folikel yang belum matang dan berpotensi melepaskan sel telur. Secara tidak langsung, kadar hormon ini menggambarkan jumlah sel telur yang tersisa di dalam ovarium wanita.

Kadar AMH & Kesuburan Wanita

Secara alami, kesuburan wanita menurun seiring dengan bertambahnya usia. Ini karena jumlah folikel dan sel telur yang tersisa semakin sedikit dengan bertambahnya usia. Alhasil, kadar AMH di dalam darah pun akan menurun dan tidak lagi terdeteksi kala menopause.

Kadar AMH sesuai usia
Jumlah sel telur sesuai usia

Hormon ini kerap dijadikan sebagai indikator kesuburan oleh karena kadarnya yang rendah menunjukkan berkurangnya cadangan ovarium (low atau diminished ovarian reserve) atau jumlah sel telur yang sedikit. Secara logis, peluang kehamilan menjadi lebih kecil bila jumlah sel telur sedikit.

Namun sebetulnya, kadar AMH yang rendah tak selalu didapat pada wanita yang mengalami infertilitas atau sulit hamil. Sebaliknya, studi menemukan bahwa banyak juga wanita tanpa gangguan kesuburan memiliki kadar AMH yang rendah. Oleh sebab itu, ACOG menyampaikan bahwa tes AMH tidak boleh digunakan untuk memprediksi status kesuburan—subur atau tidak subur—seorang wanita. Hormon ini lebih merupakan penanda dari jumlah atau kuantitas sel telur yang tersisa dan bukan kualitasnya.

Kapan Tes AMH Dilakukan dan Apa Manfaatnya?

Tes AMH biasanya dianjurkan oleh dokter ahli fertilitas pada populasi wanita yang sulit hamil atau memiliki kondisi kesehatan yang memengaruhi kemampuan untuk hamil. Tes ini juga kerap direkomendasikan untuk:

  • Mencari alasan mengapa menopause terjadi lebih awal dari yang seharusnya (<51 tahun).
  • Mengevaluasi penyebab tidak terjadinya menstruasi.
  • Mendiagnosis polycystic ovary syndrome (PCOS), salah satu satu penyebab tersering sulit hamil.
  • Memonitor kesehatan dan proses pemulihan pada kasus kanker ovarium tertentu atau cedera ovarium pasca terapi radiasi atau pembedahan.

Pada kasus infertilitas, tes AMH bermanfaat untuk:

  • Menunjukkan potensi seorang wanita untuk mencapai suatu kehamilan secara alami.
  • Memprediksi respon ovarium terhadap proses stimulasi pada program bayi tabung.
  • Menentukan ekspektasi yang realistis pada jumlah sel telur yang dapat diambil setelah stimulasi pada program bayi tabung.

Tes AMH bisa dilakukan kapan saja karena kadarnya relatif stabil serta tidak bergantung pada siklus menstruasi.

Kadar AMH yang Normal

Hingga kini, belum ada standar internasional tertentu tentang nilai normal AMH. Interpretasi kadar AMH berbeda pada setiap laboratorium, tergantung alat dan standar yang digunakan. Pada umumnya, kadar AMH di atas ambang batas bawah laboratorium menunjukkan cadangan ovarium yang cukup. Sebaliknya, kadar AMH di bawah ambang batas bawah laboratorium menunjukkan berkurangnya cadangan ovarium.

Sebagai pedoman umum, digunakan cut-off nilai ambang batas AMH berikut:

  • Sangat rendah (<0,5 ng/mL). Pada yang menjalani siklus bayi tabung, jumlah folikel (sel telur) kurang dari 3 dan respon stimulasi ovarium buruk.
  • Rendah (0,5-1,0 ng/mL). Pada yang menjalani siklus bayi tabung, jumlah sel telur lebih dari 3 namun terbatas.
  • Normal (1-3,5 ng/mL). Pada yang menjalani siklus bayi tabung, mengindikasikan respon yang baik terhadap stimulasi ovarium.
  • Tinggi (>3,5 ng/mL). Pada yang menjalani siklus bayi tabung, dapat terjadi respon yang berlebihan saat dilakukan stimulasi ovarium.

Namun demikian, interpretasi hasil tes AMH tetap harus hati-hati oleh karena hormon ini dipengaruhi oleh banyak faktor eksternal, seperti:

  • Riwayat keluarga dengan atau terdiagnosis PCOS.
  • Riwayat operasi pada ovarium.
  • Pernah menjalani kemoterapi.
  • Sedang menggunakan pil KB.
  • Mengalami obesitas.
  • Memiliki kelainan genetik yang meningkatkan risiko kanker payudara atau ovarium.
  • Mengalami defisiensi (kekurangan) vitamin D3
Tes darah

Apakah AMH Rendah Bisa Hamil?

Kadar AMH yang rendah tak berarti wanita tidak dapat hamil di kemudian hari, baik secara alami maupun berbantu. Memiliki kadar AMH yang rendah berarti wanita memiliki jumlah sel telur yang sedikit sehingga kehamilan lebih sulit dicapai. Pada dasarnya, hanya diperlukan satu sel telur sehat untuk bisa hamil. Namun, tentu perlu waktu lebih untuk mencapai kehamilan secara alami bila jumlah sel telur yang ada hanya sedikit. 

Pada wanita yang jelas mengalami infertilitas, satu-satunya cara mencapai kehamilan dengan kadar AMH rendah adalah melalui fertilisasi in vitro atau program bayi tabung. Meski demikian, tingkat kesuksesan program ini juga tergantung pada seberapa rendah kadar hormon tersebut.

Wanita dengan kadar AMH yang lebih tinggi umumnya memiliki respon yang lebih baik terhadap stimulasi ovarium pada program bayi tabung sehingga lebih banyak sel telur yang bisa diambil. 

Pada siklus bayi tabung, kadar AMH rendah (<1 ng/mL) berhubungan dengan:

  • Lebih sedikit sel telur yang matang dan bisa diambil.
  • Lebih berisiko mengalami penundaan siklus bayi tabung.
  • Lebih tinggi angka pembuahan yang abnormal.

Namun demikian, perlu diingat bahwa tes AMH tidak dapat menentukan kualitas sel telur. Meski banyak sel telur yang diambil, embrio yang terbentuk tidak berarti menjadi lebih banyak. Kualitas sel telur berperan penting pada pembuahan dan perkembangan embrio normal, yang layak ditanam kembali ke dalam rahim.

Apakah Kadar AMH Bisa Naik?

Sayangnya, hingga kini belum ada cara untuk meningkatkan kadar AMH dan jumlah sel telur. Tetapi, kualitas sel telur dapat dipertahankan dengan tidak merokok, mempertahankan berat badan yang sehat, serta rutin mengonsumsi suplemen vitamin D3. Meski jumlah sel telur sedikit, wanita tetap bisa memiliki sel telur yang sehat, dan ini tentu akan meningkatkan peluang terjadinya suatu kehamilan yang sukses.

Penutup

Tes AMH memberi informasi soal cadangan ovarium atau jumlah sel telur yang dimiliki pada waktu pemeriksaan. Seiring bertambahnya usia, kadar hormon ini akan menurun. Tes ini umumnya direkomendasikan pada wanita yang mengalami gangguan kesuburan. Meski demikian, tes AMH tidak ditujukan untuk menentukan seorang wanita subur atau tidak subur. Melainkan, untuk memberi gambaran seberapa besar peluang wanita untuk mencapai kehamilan secara alami.

  1. Tal R, Seifer DB. Ovarian reserve testing: a user’s guide. Am J Obstet Gynecol. 2017 Aug;217(2):129-140. doi: 10.1016/j.ajog.2017.02.027. Epub 2017 Feb 21. PMID: 28235465.
  2. Grynnerup AG, Lindhard A, Sørensen S. The role of anti‐Müllerian hormone in female fertility and infertility–an overview. Acta obstetricia et gynecologica Scandinavica. 2012 Nov;91(11):1252-60.
  3. American College of Obstetrician and Gynecologists. (Juni 2019). Infertility Workup for the Women’s Health Specialist. Committee Opinion Number 781. 
  4. Dewailly D, Laven J. AMH as the primary marker for fertility. European journal of endocrinology. 2019 Dec 1;181(6):D45-51.
Share:

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Reservasi