Mengetahui Bagaimana Cara Kerja Protokol Stimulasi Ovarium

Bagaimana Cara Kerja Protokol Stimulasi Ovarium

Stimulasi ovarium bertujuan untuk meningkatkan peluang seorang wanita dalam mencapai kehamilan.

Stimulasi ovarium adalah tahap kedua dari rangkaian proses program bayi tabung. Tujuannya untuk “memanen” sebanyak mungkin sel telur matang dari ovarium wanita. Semakin banyak sel telur matang yang didapat, tentu akan memaksimalkan peluang salah satu sel telur tersebut dapat dibuahi, ditanamkan kembali ke dalam rahim, dan menjadi bayi yang sehat. 

Oleh karena siklus alami reproduksi wanita sangatlah kompleks, stimulasi ovarium pun merupakan proses yang rumit. Untuk lebih memahami prosesnya, mari simak terlebih dulu bagaimana cara kerja ovarium.

Bagaimana cara kerja ovarium?

Folikel adalah sebuah struktur di dalam ovarium, yang di dalamnya terkandung sel telur. Dalam setiap siklus menstruasi, akan terjadi rekrutmen folikel yang bergantung pada kadar hormon gonadotropin, khususnya hormon FSH atau Follicle Stimulating Hormone.

Efeknya, dalam setiap siklus ovarium, hanya akan ada satu folikel yang mampu berkembang sepenuhnya dan menjadi folikel praovulasi. Folikel lainnya akan mengalami degenerasi dan sel telur di dalamnya hilang. 

Tanya Ferly tentang Promil?

New CTA WA

Baca juga: Folikel – Fungsinya Pada Sistem Reproduksi Wanita (bocahindonesia.com)

Di pertengahan siklus menstruasi, sekitar hari ke-14, terjadi lonjakan hormon gonadotropin lain, yakni hormon LH atau Luteinizing Hormone. Lonjakan hormon ini akan memicu ovulasi. Dengan demikian, folikel pravoulasi akan pecah dan sel telur dilepaskan ke dalam tuba falopii. Selanjutnya, sel telur dapat mengalami pembuahan bila ada sel sperma.

Apa bedanya dengan ovarium yang distimulasi?

Stimulasi ovarium bertujuan untuk meniru siklus ovulasi alami tubuh, namun dalam skala yang lebih besar. Untuk mencapai hal ini, dilakukan stimulasi ovarium terkontrol, yakni melalui obat-obatan atau suntikan hormon agar pematangan beberapa folikel dapat berlangsung secara bersama-sama. Dengan cara ini, jumlah sel telur yang dapat dibuahi akan meningkat. Demikian pula dengan jumlah embrio yang didapat dan peluang tercapainya kehamilan. Perlu diketahui bahwa stimulasi ovarium bersifat bilateral, yakni proses pematangan folikel berlangsung di kedua ovarium.

Secara umum, ada tiga fase dalam stimulasi ovarium, yang ditandai dengan pemberian obat yang berbeda. Masing-masing obat memiliki tujuannya tersendiri:

  • Penekanan hipofisis (pituitari). Di tahap ini, obat analog GnRH diberikan dengan tujuan menghambat aliran hormon di antara kelenjar pituitari dan ovarium. Fungsi kelenjar pituitari diminimalkan sehingga tidak ada produksi gonadotropin internal, yakni hormon FSH dan LH. Dengan demikian, ovarium tetap dalam status istirahat sehingga bisa distimulasi dari luar menggunakan hormon eksternal.
  • Perkembangan multipel dari folikel. Setelah kelenjar pituitari diblokir, perlu diberikan gonadotropin eksternal. Obat ini mengandung hormon FSH, dan terkadang LH. Pemberiannya bertujuan untuk mensinkronisasi perkembangan folikel sehingga banyak yang matang secara bersamaan.
  • Pematangan akhir dan induksi ovulasi. Fase terakhir ini mencakup pemberian suntikan obat yang mengandung hormon hCG (human chorionic gonadotropin). Obat ini akan membuat sel telur di dalam folikel mencapai tahap pematangan akhir dan menginduksi proses ovulasi.

Add Your Heading Text Here

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Ut elit tellus, luctus nec ullamcorper mattis, pulvinar dapibus leo.

analog Gnrh
analog Gnrh

Protokol Stimulasi Ovarium pada IVF

Saat ini, dikenal dua jenis utama protokol stimulasi ovarium, yakni protokol panjang dan protokol pendek. 

  • Protokol panjang. Protokol ini dianggap sebagai proses yang konvensional. Proses stimulasi dimulai kira-kira 1 minggu sebelum menstruasi berikutnya dimulai. Pada wanita dengan siklus menstruasi 28 hari, suntikan dimulai di sekitar hari ke-21 dari siklus menstruasi. Analog GnRH diberikan terlebih dulu untuk menghentikan fungsi alami ovarium. Setelah siklus menstruasi dimulai, wanita akan memulai suntikan hormon gonadotropin setiap hari, dan dipantau selama dua minggu berikutnya, yakni saat sel telur dipanen. 
  • Protokol pendek. Protokol ini disebut juga protokol antagonis. Prosesnya bermula ketika siklus menstruasi dimulai dengan penambahan suntikan hormon untuk meningkatkan kematangan sel telur sehingga lebih banyak sel telur yang bisa dipanen nantinya. Protokol ini banyak digunakan ketika protokol panjang tidak berhasil, pada wanita dengan sindrom ovarium polikistik, atau yang cadangan ovariumnya berkurang. Obat yang digunakan untuk menekan fungsi kelenjar pituitari, yakni antagonis GnRH, mempunyai efek langsung setelah diberikan. Oleh sebab itu, jumlah suntikan yang dibutuhkan lebih sedikit.

Durasi stimulasi ovarium bergantung pada banyak faktor, terutama pada bagaimana wanita merespon obat-obatan hormonal dan apakah folikel berkembang dengan baik. Secara umum, fase perkembangan folikel multipel berlangsung kurang lebih selama 10 hari. Namun, total durasi stimulasi akan bergantung pada jenis protokol yang ditentukan oleh dokter.

Proses dan pemantauan stimulasi ovarium

Pengobatan hormonal untuk merangsang ovarium, yaitu gonadotropin, sebaiknya dimulai di hari-hari pertama menstruasi (antara hari 1-3 siklus). Sebelumnya, dilakukan ultrasonografi (USG) transvaginal untuk memastikan bahwa ovarium dalam keadaan istirahat, dan bila memang demikian, stimulasi dapat dimulai. 

Obat-obatan untuk stimulasi ovarium biasanya diberikan setiap hari, melalui suntikan subkutan (di bawah kulit) di daerah perut. Setelah beberapa hari penggunaan, wanita harus kontrol ke dokter untuk dievaluasi perkembangan folikelnya. Kunjungan ulang untuk mengevaluasi perkembangan folikel ini dilakukan sekitar dua hari sekali. Setiap kali berkunjung, dokter akan memeriksa folikel yang berkembang dan diameternya diukur melalui USG. Dari hasil pemeriksaan ini, bila perlu dokter akan menyesuaikan dosis pengobatan untuk mencapai respon ovarium yang optimal.

Ukuran diameter folikel yang dianggap “matang” adalah antara 18-25 mm. Selain itu, diperlukan pula pemantauan kadar hormon estradiol melalui pemeriksaan darah, yang biasanya berkisar antara 200-300 pg/mL per folikel matang.

Pada program bayi tabung, setelah pematangan folikel tercapai, wanita akan diberitahu tentang waktu yang tepat untuk mendapatkan suntikan hormon hCG. Hormon ini akan menginduksi ovulasi atau pelepasan sel telur, yang berlangsung antara 24-48 jam setelahnya—dengan waktu rata-rata 36 jam. Selanjutnya, dijadwalkan pengambilan sel telur (ovum pick up) untuk “memanen” folikel-folikel yang sudah matang. Sedangkan pada proses inseminasi buatan, proses pengambilan sel telur diganti oleh proses penyemprotan sperma yang sudah diseleksi ke dalam rahim.

Respon ovarium terhadap stimulasi

Setiap wanita dapat menunjukkan respon yang berbeda terhadap obat-obatan hormonal untuk stimulasi ovarium. Oleh sebab itu, adalah umum bila didapat hasil yang berbeda meski protokol stimulasi sama. Bila wanita baru pertama kali menjalani program bayi tabung atau teknik reproduksi berbantu lainnya, sulit untuk mengetahui bagaimana respon ovarium terhadap stimulasi. Hal ini akan bergantung pada beberapa faktor, seperti usia, cadangan ovariumnya, dosis hormon yang diberikan, dan lain sebagainya.

Sebisa mungkin, dokter pasti akan berusaha untuk menyesuaikan protokol stimulasi agar respon ovarium optimal. Namun, baik dokter dan pasangan harus waspada terhadap dua situasi tak diinginkan yang dapat terjadi dan harus diperhatikan, yakni low responder dan high responder.

Wanita tergolong low responder apabila sel telur yang didapat setelah stimulasi ovarium sangat sedikit, yakni kurang dari 4. Sebaliknya, wanita tergolong high responder bila sel telur matang >15 dan disertai dengan tanda-tanda respon berlebih ovarium terhadap obat stimulasi. Salah satu risiko yang harus betul-betul diantisipasi adalah sindrom hiperstimulasi ovarium atau ovarian hyperstimulation syndrome (OHSS).

Baca juga: OHSS – Ovarian Hyperstimulation Syndrome – Bocah Indonesia

Hal-hal lain yang perlu diantisipasi selama menjalani stimulasi ovarium

Proses stimulasi ovarium membutuhkan waktu yang tepat dan kehati-hatian. Adanya masalah dapat membuat proses untuk diulang kembali. Pengalaman ini tentu dapat memicu frustasi dan pesimisme pada pasangan yang menjalaninya. Di saat yang sama, fase ini bisa menjadi masa-masa yang penuh harapan. Oleh sebab itu, pasangan perlu memperhatikan beberapa hal berikut:

  • Mengelola pengobatan

Obat-obatan untuk program bayi tabung biasanya kompleks. Sebagai pihak yang mengandung, wanita mendapatkan “beban” lebih berat seperti harus menyuntik diri sendiri, serta menggunakan patch atau pil hormonal. Di bawah tekanan ini, risiko lupa untuk minum atau menyuntikkan obat tentu ada. Bila ini terjadi, tak perlu malu atau khawatir, segeralah cari bantuan dan nasihat.

Setelah mulai menggunakan obat-obatan untuk menstimulasi ovarium, wanita perlu menjalani pemeriksaan darah serial untuk mengukur kadar hormon di dalam tubuh. Karena respon setiap wanita terhadap pengobatan ini bisa berbeda, pemberian hormon harus disesuaikan setiap hari untuk memastikan cukup banyak folikel yang terstimulasi, dan di saat yang sama, untuk mengurangi risiko OHSS.

  • Perlunya pemeriksaan dan kunjungan ulang secara rutin

Pemeriksaan darah dan kunjungan ulang ke dokter perlu dilakukan secara rutin sesuai jadwal. Karena itu, penting untuk memilih tim medis yang terpercaya, komunikatif dan bisa memberikan reminder tepat waktu.

  • Stres dan perubahan suasana hati

Mengingat banyaknya “tuntutan dan tekanan” dari proses stimulasi ovarium, adalah wajar bila wanita kerap mengalami stres dan perubahan hati. Perubahan suasana hati bisa merupakan kombinasi dari perubahan hormonal dalam tubuh dan stres akibat proses pengobatannya, di mana keduanya sulit dipisahkan.

  • Komplikasi dan efek samping

Selain stres dan khawatir, proses stimulasi ovarium dapat menimbulkan efek samping fisik akibat pengobatan dan suntikan hormon. Efek samping yang ringan dapat berupa ruam atau bengkak pada lokasi bekas suntikan. Sebagian wanita dapat mengalami nyeri di sekitar area payudara, perut kembung, dan sakit perut. Oleh karena stimulasi ovarium menyebabkan banyak sel telur berkembang di saat yang sama, ada kemungkinan lebih dari satu sel telur yang dibuahi. Alhasil, dapat terjadi kehamilan kembar yang memiliki risikonya tersendiri. Masalah lain, yakni lahir prematur atau bahkan keguguran. Akan tetapi, efek samping yang paling harus diantisipasi adalah sindrom hiperstimulasi ovarium. Pada kondisi ini, ovarium membesar, perut membengkak dan nyeri, hingga bisa terjadi kerusakan ginjal, nyeri dada, dan sesak napas.

Penutup

Stimulasi ovarium adalah salah satu bagian tersulit dalam program bayi tabung. Jadi, bila Anda mempertimbangkan untuk menjalaninya, pastikan untuk memilih tim medis yang terpercaya dan dapat diandalkan. Bila Anda tidak yakin tentang banyak hal, jangan ragu untuk bertanya dan terus pantau pengobatan agar hasilnya optimal. Yang terakhir, ingat bahwa rangkaian proses ini dapat membuat Anda stres. Oleh sebab itu, banyaklah berdoa dan berkomunikasi dengan pasangan tentang segala hal. Tak lupa, bersikaplah lembut terhadap diri sendiri dan jangan terlalu memaksakan diri.

Artikel ini ditinjau secara medis oleh Dr. Fiona Amelia, MPH

cheer

Jadwalkan Konsultasi

Jika Anda belum hamil setelah satu tahun usia pernikahan, kami menyarankan Anda untuk melakukan pemeriksaan kesuburan dengan spesialis fertilitas kami.

Buat janji konsultasi dengan menghubungi kami di (021) 50200800 atau chat melalui Whatsapp melalui tombol di bawah.

Referensi
  • American Society of Reproductive Medicine. (Revisi 2014). Ovarian hyperstimulation syndrome (OHSS). URL: https://www.reproductivefacts.org/news-and-publications/patient-fact-sheets-and-booklets/documents/fact-sheets-and-info-booklets/ovarian-hyperstimulation-syndrome-ohss/
  • ESHRE Guideline Group on Ovarian Stimulation, Bosch E, Broer S, Griesinger G, Grynberg M, Humaidan P, Kolibianakis E, Kunicki M, La Marca A, Lainas G, Le Clef N. ESHRE guideline: ovarian stimulation for IVF/ICSI. Human reproduction open. 2020;2020(2):hoaa009.
  • Fauser B. Patient education: Infertility treatment with gonadotropins (beyond the basics). In: UpToDate, Post, TW (Ed), UpToDate, Waltham, MA, 2024.
  • Ho J. In vitro fertilization: procedure. In: UpToDate, Post, TW (Ed), UpToDate, Waltham, MA, 2024.
Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

doctors
[caldera_form id="CF6195e2bd61123"]
Buat Janji