Program Bayi Tabung Saat Puasa? Bermanfaat Atau Tidak?

Program Hamil Puasa

Di Indonesia, in vitro fertilization (IVF) dikenal sebagai program bayi tabung. IVF merupakan teknologi terdepan bagi pasangan suami istri (pasutri) yang ingin memiliki anak. IVF dilakukan dengan memadukan obat-obatan dan pembedahan untuk membantu sperma suami membuahi sel telur dan dilanjutkan dengan menanam sel telur tersebut ke dalam rahim istri.

Pertanyaannya, apakah impian untuk punya anak harus diendapkan selama bulan suci Ramadhan? Tentu tidak. Justru pada bulan ini, ketika doa-doa sampai lebih cepat ke singgasana Allah Swt., pasutri perlu lebih kencang lagi mendekatkan diri sekaligus memanjatkan harapan-harapan mereka kepada Zat yang Maha Mencipta. Kedahsyatan doa pada bulan Ramadhan dikukuhkan lewat sekian banyak hadis Nabi Muhammad SAW. Antara lain, “Ada tiga orang beriman yang doanya tidak akan tertolak: orang yang berpuasa dengan ikhlas sampai ia berbuka, pemimpin yang adil, dan doa orang yang dizalimi.” (HR. Ahmad).

Bagaimana dengan program kehamilan berbantu semisal IVF di bulan puasa? Perlukah ditunda ke masa setelah Ramadhan? Anggaplah program bayi tabung berlangsung sesuai harapan, yakni embrio tertanam dengan baik di rahim calon bunda. Dengan kondisi seperti itu, pertanyaan pentingnya adalah bagaimana pengaruh puasa terhadap kehamilan?

Pertama, mari kita pahami terlebih dahulu bahwa puasa adalah ibadah yang sudah semestinya menyehatkan. Banyak sudah kajian ilmiah yang memperlihatkan bagaimana puasa meningkatkan kualitas kesehatan fisik dan psikis orang-orang yang melakukannya. Itu sebabnya, kaum pintar mengatakan, berpuasalah maka kalian akan sehat.

Puasa pun dipraktikkan sebagai ritual oleh sekian banyak agama. Di samping agama Islam, di kalangan Kristen juga dikenal puasa prapaskah. Yahudi juga melakukan puasa Yom Kippur. Dari perspektif non-relijius, diet ala puasa puasa intermittent juga terbukti memberikan faedah positif bagi siapa pun yang mempraktikkannys secara teratur. Para penganut Budha menjalankan puasa sebagai salah satu bagian dari delapan aturan moral yang Budha ajarkan. Hindu pun mengenal puasa dengan istilah upawasa atau mendekatkan diri kepada Tuhan.

>Baca Juga: Peluang Kesuksesan Bayi Tabung Melalui Prosedur LAH

Secara khusus, Islam memberlakukan ketentuan istimewa ketika puasa dikaitkan dengan kehamilan. Salah satu hadis Nabi Muhammad SAW., misalnya, menyebutkan bahwa ibu hamil dan ibu menyusui, jika dikhawatirkan berdampak buruk bagi kesehatan anak-anak mereka, boleh tidak berpuasa. Sebagai gantinya, mereka dapat memberikan makanan kepada fakir miskin. Puasa Ramadhan, pada dasarnya, merupakan kewajiban. Tapi hukumnya dapat berubah menjadi boleh (mubah), jika dirasakan memberatkan sebagaimana pada ibu hamil dan ibu menyusui. Karena sebatas boleh, maka Islam memberikan ruang bagi pasutri untuk mempertimbangkan masak-masak rencana mereka untuk berpuasa ketika diperkirakan kehamilan itu justru melemahkan vitalitas si calon bunda atau membahayakan kondisi janin.

Manfaat Puasa Pada Kehamilan

Dari tinjauan agama, ayo selanjutnya kita cermati pandangan medis. Penelitian di bidang kedokteran tentang efek puasa terhadap kesehatan, termasuk spesifik kehamilan, pun sudah dimuat pada banyak publikasi ilmiah. Pastinya, setiap pasutri, khususnya setiap calon bunda, memiliki kondisi khas satu sama lain. Demikian pula, masing-masing calon bunda mempunyai tingkat kesiapan yang berlainan untuk menjalani masa kehamilan. Karena itu, langkah terbaik untuk memastikan pengaruh puasa terhadap kehamilan, sekaligus menakar kesiapan pasutri untuk menjalani program bayi tabung, adalah dengan berkonsultasi langsung ke dokter.

Sebagian ilmuwan memandang puasa bisa mendatangkan efek kurang positif bagi kesuburan wanita. Agar bisa mengalami ovulasi secara teratur, wanita perlu memperoleh pasokan energi (kalori) yang memadai dan memiliki lemak tubuh yang cukup. Ketika wanita tidak mengendalikan asupan makanan mereka, berolahraga secara berlebihan, atau juga mengalami penurunan berat badan yang signifikan, otaknya akan mengira bahwa tubuh yang bersangkutan dalam kondisi riskan. Untuk mengatasinya, tubuh secara alami akan menghemat energi dengan mengurangi estrogen dan progesteron. Hipotalamus-hipofisis-ovarium pun seketika akan masuk ke mode idle. Kondisi idle mengakibatkan ovulasi tidak berlangsung, sehingga menstruasi menjadi tidak teratur atau bahkan hilang sama sekali.

Puasa, yang ditandai diet ketat secara berkesinambungan, dapat memantik proses sedemikian rupa. Studi terhadap olahragawan yang sering mengikuti diet ketat memperlihatkan bahwa siklus bulanan mereka terganggu sebagai akibat lebih banyaknya kalori yang dibakar daripada yang dikonsumsi. Berkat diet, tubuh mereka memang unggul sebagai atlet. Tapi sebagai wanita, diet yang sama justru berisiko menjauhkan mereka dari impian menjadi seorang ibu. Begitu kata Ida Lysdahl Fahrenholtz, Researcher, Department of Public Health, Sport and Nutrition, Universitetet I Agder, Norway.

Pada sisi lain, ada juga sekian banyak ilmuwan yang justru menemukan bahwa puasa dapat membantu penderita polycistic ovarium syndrome (PCOS) sehingga memiliki peluang lebih baik untuk hamil. Mereka menemukan wanita dengan PCOS bisa memiliki periode menstruasi lebih teratur seiring penurunan berat badan mereka. Puasa bermanfaat karena dapat meningkatkan resistensi insulin dan menurunkan berat badan para wanita dengan PCOS. Begitu simpulan Benito Chiofalo, Ginecologia Oncologica, Istituto Regina Elena, Istituti Fisioterapici Ospitalieri.

Dari situ bisa dibayangkan bahwa puasa punya dampak beragam bagi wanita hamil dan wanita yang berencana hamil. Pengaruh puasa terhadap kesiapan untuk hamil tidak terlepas dari kondisi-kondisi lainnya di seputar kesehatan reproduksi calon bunda.

Tambahan lagi, puasa tidak semata-mata berefek terhadap fisik wanita. Puasa juga memiliki pengaruh ke kondisi psikis calon bunda. Demikian temuan Karim A. Wahba, Department of Obstetrics and Gynecology, Ain Shams University. Dr. Wahba memilah pasien-pasien yang menjalani IVF dan ICSI ke dalam dua kelompok. Kelompok pertama adalah pasien yang berpuasa, sedangkan kelompok kedua berisikan pasien yang tidak berpuasa. Beberapa temuan dari penelitian itu adalah pasien pada kelompok mengalami gejolak psikis, semisal kecemasan dan depresi, jauh lebih rendah daripada kelompok kedua. Tingkat kelahiran bayi dalam keadaan hidup (live birth rate) pada kelompok pertama juga lebih tinggi. Dr. Wahba simpulkan, menjalani ibadah puasa selama bulan Ramadhan tampak tidak berdampak signifikan terhadap IVF dan ICSI. Tapi karena puasa berakibat positif bagi stabilitas emosi para pasien yang menjalani program bayi tabung, maka dapat dikatakan bahwa puasa membantu terciptanya kondisi hati yang mendukung ibu hamil untuk menjalani program bayi tabung dan melalui proses kehamilan secara lebih nyaman.

>Baca Juga: Berkah Program Bayi Tabung di Bulan Ramadhan

Pengaruh puasa terhadap kesuburan tidak hanya dilakukan para cerdik cendekia terhadap kaum Hawa. Kaum Adam juga ikut dipelajari secara ilmiah. Artikel berjudul Effects of Ramadhan Fast on Male Fertility (ditulis oleh sekumpulan peneliti yang dipimpin S.M.A. Abbas dari King Abdulaziz University Hospital, Jeddah, Saudi Arabia), misalnya, memuat sejumlah manfaat puasa pada para pria subur. Yaitu, meningkatnya jumlah total sperma, hormon gonadotrophic, dan testosteron. Pada pria yang sudah mengalami kondisi tanpa sperma (azoospermic), puasa tidak menaikkan dan juga tidak menurunkan kuantitas sperma mereka. Riset ini sekaligus mengirim pesan penting bahwa, di samping dengan berpuasa, dibutuhkan program-program pengobatan lainnya untuk memperbaiki kondisi kesehatan reproduksi para calon ayah.

Nah Ayah Bunda, ternyata puasa memang penting bagi kesehatan. Terlebih bagi para pasutri yang ingin punya momongan, baik buruknya puasa tidak hanya mempertimbangkan kondisi ibu tapi juga kondisi janin. Mendengarkan suara hati memang penting. Tapi agar ibadah puasa dan rencana kehamilan bisa berjalan harmonis, sungguh baik apabila Ayah Bunda bertukar pikiran secara lebih utuh dengan para dokter spesialis di Pusat Fertilitas Bocah Indonesia (PFBI). Keluarga besar PFBI menjadikan Ramadhan sebagai hunian untuk sebuah harapan. Di bulan suci penuh keberkahan ini, PFBI sepenuh hati mendukung ikhtiar Ayah Bunda untuk merealisasikan “kemuliaan di hadapan Illahi” dan “kesukacitaan menimang bayi”.

Referensi:

Abbas SM, Basalamah AH. Effects of Ramadhan fast on male fertility. Arch Androl. 1986;16(2):161-6. doi: 10.3109/01485018608986937. PMID: 3090956.

Chiofalo B, Laganà AS, Palmara V, Granese R, Corrado G, Mancini E, Vitale SG, Ban Frangež H, Vrtačnik-Bokal E, Triolo O. Fasting as possible complementary approach for polycystic ovary syndrome: Hope or hype? Med Hypotheses. 2017 Aug;105:1-3. doi: 10.1016/j.mehy.2017.06.013. Epub 2017 Jun 23. PMID: 28735644.

Fahrenholtz IL, Sjödin A, Benardot D, Tornberg ÅB, Skouby S, Faber J, Sundgot-Borgen JK, Melin AK. Within-day energy deficiency and reproductive function in female endurance athletes. Scand J Med Sci Sports. 2018 Mar;28(3):1139-1146. doi: 10.1111/sms.13030. Epub 2018 Feb 5. PMID: 29205517.

Kresna, M. Cara Buddha, Hindu, dan Konghucu Mengajarkan Puasa. Tirto.id. 2021 April 6.

Wahba, KA. Effect of Fasting of Ramadan on Infertile Women Undergoing In-Vitro Fertilization/Intracytoplasmic Sperm Injection Cycles: A Prospective Cohort Study. Journal of Obstetrics and Gynecology. 2016; 6(3), 171-9. doi: 10.4236/ojog.2016.63022.

Share:
  • 176
    Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

doctors
Reservasi