Waspada Gejala, Penyebab, dan Cara Mengobati PCOS

PCOS Cover

PCOS adalah salah satu penyebab tersering gangguan haid pada wanita. Bila dibiarkan, kondisi ini dapat membuat seorang wanita menjadi sulit hamil.

Kerap mengalami haid yang tidak teratur atau jarang-jarang? Waspadalah, mungkin Anda mengalami polycystic ovary syndrome (PCOS) atau sindrom ovarium polikistik. Ini adalah kelainan hormon yang banyak ditemukan pada wanita usia subur (15-44 tahun). 

Secara statistik, kondisi yang juga disebut sebagai sindrom Stein-Leventhal ini dialami oleh 5 sampai 10 dari 100 wanita. Yang betul-betul mencari pengobatan, hanya sekitar 30 persen. Padahal, PCOS dapat memengaruhi kesuburan dan kemampuan untuk memiliki keturunan dalam jangka panjang.

Baca Juga: Kista Penyebab Bunda Sulit Hamil

Mengapa wanita dengan PCOS menjadi sulit hamil?

Normalnya, ovarium mengandung folikel-folikel sel telur yang berkembang mengikuti siklus haid. Ada empat hormon utama yang berperdan di sini. Dua hormon, yakni follicle-stimulating hormone (FSH) dan luteinizing hormone (LH), diproduksi oleh kelenjar pituitari di otak. Dua hormon lainnya, yakni progesteron dan estrogen, diproduksi di dalam ovarium.

Pada paruh pertama siklus haid, peningkatan kadar FSH akan memicu ovarium untuk mematangkan sel telur di dalam salah satu folikel. Selanjutnya, folikel akan memproduksi sejumlah estrogen yang menyebabkan dinding rahim menebal dan memicu kelenjar pituitari melepaskan hormon LH. Hormon LH yang meningkat drastis akan memicu pelepasan sel telur dari folikel sehingga dapat dibuahi oleh sel sperma. Inilah masa yang dikenal sebagai ‘masa subur’.

Pada wanita dengan PCOS, kadar hormon-hormon ini tidak seimbang sehingga folikel-folikel sel telur tidak dapat berkembang dan menjadi matang. Folikel sel telur tampak sebagai kista-kista kecil berdiameter 4-9mm. Tanpa sel telur yang matang, ovulasi tidak akan terjadi. Dengan demikian, tidak ada sel telur yang dapat dibuahi. 

Kalaupun terjadi ovulasi, kadar hormon yang tidak seimbang membuat siklus haid menjadi tidak teratur. Siklus haid yang sulit diprediksi tentunya akan menyulitkan proses kehamilan.

Ciri khas dari PCOS yakni ditemukannya peningkatan kadar hormon testosteron atau hormon pria (androgen). Secara alami, wanita juga memilikinya dalam jumlah yang sedikit. Peningkatan kadar hormon ini membuat pematangan folikel dan proses ovulasi terganggu.

Baca Juga: Polip Rahim dan Polip Serviks

Gambar PCOS

Penyebab PCOS

Hingga kini, penyebab PCOS masih belum diketahui dengan pasti. Namun, para pakar meyakini bahwa tingginya kadar hormon pria pada wanita dengan PCOS merupakan akar masalah utama. 

Beberapa faktor yang diketahui meningkatkan produksi hormon pria pada wanita dengan PCOS, yaitu: 

  • Faktor genetik atau keturunan. Hasil studi menyebutkan bahwa PCOS diturunkan di dalam keluarga. PCOS umumnya ditemukan pada wanita dengan ibu atau saudara kandung yang juga mengalami PCOS. Gen-gen tertentu juga ditemukan berhubungan dengan kejadian PCOS. 
  • Resistensi insulin. Insulin adalah hormon yang diproduksi oleh pankreas untuk mengendalikan kadar gula darah. Bila sel-sel tubuh tidak respon atau resisten terhadap insulin, maka kadar gula darah akan meningkat. Konsekuensinya, tubuh akan menghasilkan lebih banyak lagi insulin sehingga kadarnya berlebihan di dalam darah (hiperinsulinemia). Kondisi ini akan memicu ovarium untuk memproduksi lebih banyak hormon pria. 
  • Peradangan. Peradangan sistemik derajat rendah (low-grade inflammatory state) kerap ditemukan pada wanita dengan PCOS. Kondisi peradangan yang berlebihan ini ditemukan berhubungan dengan kadar hormon pria yang meningkat. 

Gejala PCOS

Kelainan hormonal pada PCOS mendasari kemunculan berbagai gejala dan tanda yang khas. Gejala dan tanda berikut biasanya mulai muncul saat pubertas, meski sebagian wanita baru mengalaminya di akhir masa remaja atau di awal masa dewasa. 

  • Haid tidak teratur. Ini dapat berupa tidak haid selama beberapa bulan, haid jarang atau terlalu sering, hingga perdarahan haid yang berlebihan.
  • Infertilitas atau sulit hamil.
  • Obesitas. Kurang lebih 80 persen wanita dengan PCOS mengalami obesitas.
  • Hirsutisme, yakni pertumbuhan rambut wajah, dada, perut atau paha atas yang berlebihan. Gejala ini dialami oleh 70 persen wanita dengan PCOS.
  • Jerawat yang berlebihan dan terjadi setelah masa remaja serta tidak respon dengan terapi pada umumnya.
  • Kulit berminyak.
  • Kebotakan rambut dengan pola seperti kebotakan pada pria.
  • Kulit menebal, menghitam, dengan tekstur seperti beludru, utamanya di area-area lipatan kulit. Kondisi ini disebut dengan acanthosis nigricans.

Gejala dan tanda PCOS umumnya lebih berat pada wanita yang obes.

Diagnosis PCOS

Gejala PCOS bervariasi antarindividu. Seorang wanita dinyatakan PCOS bila memenuhi dua dari tiga kriteria berikut, yakni:

  • Haid tidak teratur, jarang-jarang atau memanjang.
  • Bukti adanya peningkatan kadar hormon pria berdasarkan tanda fisik seperti pertumbuhan rambut wajah dan tubuh yang berlebihan, jerawat berlebihan, dan kebotakan rambut dengan pola seperti kebotakan pada pria. Atau, hasil pemeriksaan darah menunjukkan kadar hormon pria yang tinggi dan bukan disebabkan oleh penyebab lain.
  • Ditemukannya ovarium polikistik pada pemeriksaan ultrasonografi (USG) kandungan. Ukuran ovarium rata-rata lebih besar daripada wanita normal dan mengandung banyak folikel yang mengitari sel telur.

Di samping itu, umumnya diperlukan pemeriksaan hormon berikut untuk menentukan apakah ada kondisi lain yang menyebabkan kemunculan gejala-gejala di atas.

  • Kadar hormon beta-HCG untuk memastikan ada tidaknya kehamilan
  • Kadar hormon prolaktin
  • Kadar thyroid-stimulating hormone (TSH)
  • Kadar follicle-stimulating hormone (FSH)

Komplikasi PCOS

Sesungguhnya, PCOS memengaruhi seluruh bagian tubuh, tidak hanya sistem reproduksi. Oleh sebab itu, bila kondisi ini dibiarkan atau tidak terdiagnosis, seorang wanita berisiko tinggi mengalami komplikasi-komplikasi berikut akibat PCOS. 

  • Resistensi insulin meningkatkan risiko sindrom metabolik yang dapat berujung pada hipertensi, diabetes, penyakit jantung, dan stroke.
  • Penebalan dinding rahim atau hiperplasia endometrium, di mana ini meningkatkan risiko terjadinya kanker dinding rahim.
  • Henti nafas saat tidur atau sleep apnea. Pada kondisi ini, ada periode dimana nafas berhenti (apnea) saat sedang tidur. Individu dengan kondisi ini kerap mengalami kelelahan dan mengantuk di siang hari.
  • Depresi dan gangguan cemas.
  • Disfungsi seksual. Wanita dengan PCOS umumnya memiliki kepuasan seksual yang lebih rendah daripada wanita normal.

Semua komplikasi ini memiliki dampak terhadap kualitas hidup seorang wanita. Untuk itu, pada wanita yang sudah terdiagnosa PCOS, dokter akan menganjurkan beberapa pemeriksaan tambahan untuk melihat ada tidaknya komplikasi. Pemeriksaan mencakup:

  • Pemeriksaan tekanan darah, gula darah, kolesterol, dan trigliserida secara berkala.
  • Skrining depresi dan gangguan cemas
  • Skrining untuk henti nafas saat tidur

Cara mengobati PCOS

Meski PCOS tak sepenuhnya bisa dikoreksi, pengobatan dapat mengendalikan gejala dan memperbaiki kesuburan wanita. Tujuannya agar wanita dengan PCOS tetap bisa memiliki hidup yang normal tanpa komplikasi yang bermakna. 

Pengobatan PCOS merupakan kombinasi dari perubahan gaya hidup serta pemberian obat-obatan untuk mengurangi gejala dan memperbaiki kesuburan. 

Perubahan gaya hidup

Perubahan gaya hidup bertujuan untuk menurunkan berat badan melalui pola diet rendah kalori (rendah karbohidrat, tinggi serat) dan rutin beraktivitas fisik intensitas sedang selama 30 menit sehari sebanyak 5 hari dalam seminggu. 

Studi menunjukkan bahwa penurunan berat badan sebanyak 5-10 persen saja sudah dapat menurunkan kadar hormon insulin dan androgen, serta mengembalikan proses ovulasi. Dengan kata lain, siklus haid menjadi lebih teratur dan gejala lainnya pun dapat dikendalikan.

Obat-obatan

Wanita dengan PCOS dapat diberikan obat-obatan berikut sesuai dengan gejala yang muncul.

  • Obat-obatan untuk memperbaiki siklus haid:
    • Pil KB kombinasi yang mengandung estrogen dan progestin.
    • Pil progestin, umumnya yang mengandung medroxyprogesterone atau jenis progesteron alami.
  • Obat-obatan untuk memicu ovulasi:
    • Clomiphene.
    • Letrozole.
    • Metformin. Ini merupakan obat diabetes yang berfungsi memperbaiki resistensi insulin dan hiperinsulinemia. Obat ini juga bisa membantu menurunkan berat badan sehingga siklus haid lebih teratur.
    • Gonadotropin. Obat hormonal ini diberikan melalui injeksi.
  • Obat-obatan untuk mengurangi pertumbuhan rambut yang berlebihan:
    • Pil KB, dapat menurunkan produksi hormon androgen yang memicu pertumbuhan rambut berlebihan.
    • Spironolactone. Obat ini menghambat efek hormon androgen pada kulit. Akan tetapi, obat ini dapat menyebabkan cacat bawaan lahir sehingga wanita yang memakainya harus menunda kehamilan. 
    • Terapi laser dan elektrolisis untuk mematikan folikel rambut.
  • Krim yang mengandung obat-obatan atau antibiotik untuk mengatasi jerawat.

Bila Anda kerap mengalami siklus haid yang tidak teratur, jangan anggap remeh dan menunda-nunda untuk memeriksakan diri ke dokter kandungan. Bisa saja, Anda mengalami PCOS. Prinsipnya, semakin cepat PCOS terdiagnosis dan terobati, gangguan kesuburan yang menyebabkan sulit hamil dan berbagai komplikasi lainnya dapat diminimalkan atau bahkan dihindari.

cheer

Jadwalkan Konsultasi

Kami dengan senang hati akan mendiskusikan opsi finansial yang ada dan membantu menjawab pertanyaan Anda.

Jadwalkan konsultasi dengan menghubungi kami di (021) 50200800 atau dengan mengisi formulir melalui tombol dibawah.

  1. Azziz R. Epidemiology, phenotype, and genetics of the polycystic ovary syndrome in adults. In: UpToDate, Post, TW (Ed), UpToDate, Waltham, MA, 2021.
  2. Barbieri RL. Clinical manifestations of polycystic ovary syndrome in adults. In: UpToDate, Post, TW (Ed), UpToDate, Waltham, MA, 2021.
  3. Barbieri RL, Ehrmann DA. Diagnosis of polycystic ovary syndrome in adults. In: UpToDate, Post, TW (Ed), UpToDate, Waltham, MA, 2021.
  4. Barbieri RL, Ehrmann DA. Treatment of polycystic ovary syndrome in adults. In: UpToDate, Post, TW (Ed), UpToDate, Waltham, MA, 2021.
  5. Baribieri RL, Ehrmann DA. Patient education: polycystic ovary syndrome (beyond the basics). In: UpToDate, Post, TW (Ed), UpToDate, Waltham, MA, 2021.
  6. American College of Obstetrician and Gynecologists. (Juni 2020). Polycystic ovary syndrome. FAQ121. Source.   
  7. National Institutes of Health. URL: Source.  
  8. Mayo Clinic. (3 Oktober 2020). Polycystic ovary syndrome. URL: Source.
Share:
  • 176
    Shares

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

doctors
Reservasi