Plasenta Previa, Kala Ari-ari Menutupi Jalan Lahir

plasenta-previa

Plasenta previa merujuk kepada posisi plasenta yang dekat dengan atau menutupi mulut leher rahim bagian dalam. Kondisi ini merupakan penyebab umum dari perdarahan vagina di paruh  kedua kehamilan. 

Plasenta previa berasal dari bahasa Latin ‘prae’ yang berarti sebelum, dan ‘via’ yang berarti jalan. Secara utuh, plasenta previa adalah kelainan di mana plasenta menutupi sebagian atau seluruh mulut serviks bagian dalam.

Kelainan ini memiliki insidens 1 dari 200 kehamilan. Sebagian besar kasus dapat terdiagnosis dini pemeriksaan ultrasonografi (USG) kehamilan. 

Sedangkan sebagian lagi baru terdiagnosis saat ibu hamil mengalami perdarahan vagina di trimester kedua atau ketiga kehamilan dan melakukan kunjungan ke unit gawat darurat rumah sakit. 

Apa Itu Plasenta Previa?

Plasenta adalah organ yang berkembang di dalam rahim selama kehamilan. Organ ini berfungsi menyediakan oksigen dan zat gizi pada janin, serta mengeluarkan zat-zat sisa metabolisme. Plasenta terhubung dengan janin melalui tali pusat dan umumnya menempel di bagian atas atau samping dinding dalam rahim.

Pada plasenta previa, plasenta menempel di bagian bawah rahim sehingga sebagian jaringannya menutupi mulut serviks. Akibatnya, dapat terjadi perdarahan selama kehamilan atau setelah persalinan, yang meningkatkan risiko kecacatan dan kematian baik pada ibu maupun janin. Perdarahan pada plasenta previa umumnya tidak disertai nyeri.

Sebagian tipe plasenta previa bisa hilang dengan sendirinya di minggu ke-32 hingga ke-35 kehamilan, seiring dengan meregang dan menipisnya bagian bawah rahim. Bila demikian, ibu dapat melahirkan secara normal. Tetapi bila tidak, bayi harus dilahirkan melalui operasi caesar.

Klasifikasi Plasenta Previa

Istilah plasenta previa mencakup spektrum kelainan yang dikelompokkan menjadi empat derajat, bergantung pada hubungannya dengan mulut serviks bagian dalam. Dalam hal ini, apakah plasenta tidak menutupi, menutupi sebagian atau seluruh mulut serviks bagian dalam.

  • Derajat I atau plasenta letak rendah. Plasenta terletak di segmen bawah rahim namun tepi bawahnya tidak mengenai mulut serviks bagian dalam. Tepi bawah berjarak sekitar 0,5-2 cm dari mulut serviks bagian dalam.
  • Derajat II atau plasenta previa marginalis. Jaringan plasenta mencapai pinggir mulut serviks bagian bawah namun tidak menutupi lubangnya.
  • Derajat III atau plasenta previa parsialis. Plasenta menutupi sebagian mulut serviks bagian dalam.

Derajat IV atau plasenta previa totalis. Plasenta menutupi seluruh mulut serviks bagian dalam.

klasifikasi-plasenta-previa

Kadang-kadang, derajat I dan II disebut juga sebagai plasenta previa minor, sedangkan derajat III dan IV disebut sebagai plasenta previa mayor.

Penyebab dan Faktor Risiko Plasenta Previa

Penyebab pasti plasenta previa tidak diketahui. Studi menemukan bahwa faktor risiko utama kelainan ini, adalah:

  • Adanya riwayat plasenta previa di kehamilan sebelumnya. Ini merupakan faktor risiko tersendiri untuk kekambuhan, yang terjadi pada 4-8 persen kehamilan berikutnya.
  • Adanya riwayat operasi caesar. Di dua tinjauan sistematis, riwayat operasi sesar meningkatkan risiko plasenta previa sebanyak 47 dan 60 persen. Risiko semakin meningkat dengan bertambahnya jumlah persalinan melalui operasi caesar.
  • Risiko plasenta previa di kehamilan berikutnya juga lebih besar bila operasi caesar dilakukan sebelum waktunya, dibandingkan dengan operasi caesar di waktu bersalin yang sesungguhnya. 
  • Hamil kembar. Dibandingkan kehamilan tunggal, prevalensi plasenta previa mencapai dua kali lipatnya pada kehamilan kembar.

Faktor risiko lain, di mana beberapa di antaranya saling berkaitan, meliputi:

  • Riwayat prosedur pembedahan pada rahim.
  • Melahirkan lebih dari satu kali.
  • Bertambahnya usia ibu.
  • Menjalani terapi infertilitas atau menggunakan teknologi reproduksi berbantu.
  • Ibu merokok atau menggunakan narkoba (kokain).
  • Janin berjenis kelamin laki-laki.
  • Pernah menjalani embolisasi arteri uterina.

Gejala Plasenta Previa

Gejala tersering dari plasenta previa adalah perdarahan vagina yang tidak nyeri di paruh kedua kehamilan, yakni usia kehamilan di atas 20 minggu. Kejadian perdarahan paling banyak ditemukan di usia kehamilan 34-38 minggu dan bisa didahului dengan perdarahan bercak (spotting). Kontraksi rahim yang memicu rasa sakit juga bisa menyertai. Meski demikian, sebagian wanita tidak mengalami gejala apapun.

Perdarahan pada plasenta previa dapat dipicu oleh hubungan intim atau selama pemeriksaan medis. 

Komplikasi Plasenta Previa

Plasenta previa yang tidak ditangani dapat menyebabkan komplikasi-komplikasi serius berikut:

  • Perdarahan hebat yang mengancam nyawa. Ini bisa terjadi selama hamil, proses persalinan, atau beberapa jam pertama pasca persalinan.
  • Bayi lahir prematur. Operasi caesar darurat sebelum bayi cukup bulan bisa diperlukan bila timbul perdarahan hebat.
  • Plasenta akreta di kehamilan berikutnya. Kondisi ini menyebabkan plasenta tumbuh terlalu ke dalam dinding rahim, meningkatkan risiko perdarahan selama hamil, serta selama dan setelah persalinan.

Baca Juga : Plasenta Akreta

Diagnosis dan Evaluasi Plasenta Previa

Sejatinya, plasenta previa merupakan kondisi yang berpotensi mengancam nyawa ibu dan bayi. Oleh sebab itu, diagnosis perlu dilakukan sejak masih hamil, agar proses persalinan bisa dipersiapkan dengan baik. 

Plasenta previa didiagnosa melalui pemeriksaan USG, baik saat kontrol rutin atau setelah terjadi perdarahan vagina. Sebagian besar kasus plasenta previa terdiagnosis di trimester kedua kehamilan. Diagnosis awal mungkin didapat saat menjalani pemeriksaan USG perut. Namun, USG transvaginal sebaiknya juga dilakukan agar hasilnya lebih akurat.

Standar emas untuk mendiagnosis plasenta previa adalah melalui pemeriksaan Magnetic Resonance Imaging (MRI) oleh karena mampu melihat posisi plasenta terhadap serviks. MRI potongan sagital paling baik dalam menunjukkan posisi plasenta terhadap mulut serviks bagian dalam.

Cara Mengobati Plasenta previa

Pengobatan plasenta previa bergantung pada gejala dan usia kehamilan ibu. Bila plasenta previa tidak menyebabkan perdarahan, wanita akan diminta untuk menjalani USG secara berkala sesuai anjuran dokter. Kadangkala, plasenta berpindah ke posisi normal seiring dengan pembesaran rahim. Dan bila plasenta previa benar-benar hilang, pada akhirnya wanita bisa melahirkan secara normal. 

Bila plasenta previa tidak menghilang, proses persalinan dilakukan dengan cara operasi caesar. Ini pun berlaku meski tidak ada perdarahan sama sekali selama hamil. Pada kasus ini, operasi caesar biasanya dijadwalkan sekitar 2-4 minggu sebelum hari perkiraan lahir (antara minggu ke-36 dan ke-37 kehamilan). Alasannya, karena proses persalinan normal dengan plasenta previa akan menyebabkan perdarahan hebat yang dapat membahayakan ibu dan bayi.

Bila memang persalinan direncanakan sebelum usia kehamilan 37 minggu, dokter akan memberikan suntikan kortikosteroid untuk mematangkan paru bayi.

  • Bila terjadi perdarahan

Perdarahan vagina setelah 20 minggu diatasi sebagai kegawatdaruratan medis. Meski pendarahan hanya sedikit, ibu hamil harus segera mendapatkan perawatan di rumah sakit. Kondisi ini dianggap sebagai kegawatdaruratan medis. Perawatan umumnya mencakup:

  • Pemeriksaan detak jantung dan tekanan darah ibu, serta detak jantung janin.
  • Memeriksa jumlah perdarahan.
  • Memberikan infus cairan agar aliran dan tekanan darah tetap normal.

Bila perdarahan berat dan tak kunjung berkurang, ibu akan diberikan transfusi darah dan bayi dilahirkan melalui operasi caesar darurat. Ini berarti bayi akan lahir secara prematur.

Pengobatan lain yang mungkin diperlukan, meliputi:

  • Pemberian suplemen zat besi, bila kehilangan banyak darah.
  • Pemberian suntikan kortikosteroid untuk mematangkan paru bayi.
  • Pemberian suntikan imunoglobulin Rh bila ibu Rh negatif. Ini untuk menghindari reaksi penolakan dari tubuh ibu bila bayi Rh positif.
  • Bila tidak ada perdarahan

Bila tidak ada perdarahan, tujuan pengobatan untuk mengurangi risiko kemungkinan perdarahan dan mempertahankan kehamilan sedekat mungkin dengan hari perkiraan lahir. Untuk itu, ibu disarankan untuk:

  • Menghindari hubungan intim atau aktivitas seksual yang memicu orgasme.
  • Istirahat. Hindari berdiri dalam waktu lama, aktivitas fisik maupun mengangkat benda-benda berat. Hal-hal ini dapat meningkatkan risiko ibu mengalami persalinan prematur.

Bila ibu dipulangkan setelah episode perdarahan yang pertama, rekomendasi-rekomendasi di atas juga berlaku untuk menurunkan risiko terjadinya episode perdarahan yang kedua.

Kapan Harus Waspada?

Pada dasarnya, ibu hamil perlu waspada dan segera mencari pertolongan medis apabila:

  • Mengalami perdarahan vagina sesedikit apapun setelah usia kehamilan 20 minggu.
  • Mengalami kontraksi atau rasa kencang-kencang di perut.

Penutup

Adanya riwayat plasenta previa di kehamilan sebelumnya tidak mempengaruhi kesuburan atau kemampuan wanita untuk mencapai suatu kehamilan. Akan tetapi, sebanyak 2 dari 100 wanita berpeluang mengalami plasenta previa kembali di kehamilan berikutnya. Bila kemudian betul hamil, beritahu dokter soal riwayat kehamilan sebelumnya secara mendetail agar bisa direncanakan langkah terbaik untuk meminimalisasi risiko pada ibu dan janin. Selanjutnya, ingat untuk melakukan kunjungan rutin kehamilan dan selalu mengikuti saran pengobatan dari dokter.

cheer

Ketahui Plasenta Previa dan Cara Mengobatinya, agar Bunda lebih dengan mudah mengatasinya.

Jika Anda ingin konsultasi lebih lanjut, Anda bisa isi form di samping ini. Tim kami akan segera menghubungi Anda.

Share:
  • 176
    Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

doctors

Silahkan isi data berikut untuk mengetahui Paket/Layanan yang cocok untuk Ayah/Bunda.

Buat Janji?