Mengenal Penebalan Dinding Rahim, Bahaya Nggak Sih?

penebalan dinding rahim

Salah satu kelainan sistem reproduksi yang dialami oleh wanita adalah hiperplasia endometrium atau penebalan dinding rahim. Kondisi ini biasanya ditandai dengan pendarahan pendarahan hebat pada saat menstruasi. Bagi wanita yang mengalami penebalan dinding rahim terkadang tidak menyadari kondisi ini karena gejala-gejalanya yang cukup umum. Namun, apakah kondisi ini bisa menjadi berbahaya?

Apa Itu Penebalan Dinding Rahim?

Penebalan dinding rahim juga disebut hiperplasia endometrium. Penebalan dinding rahim adalah kondisi yang terjadi ketika terdapat penambahan lapisan dinding rahim karena adanya pertumbuhan sel secara tidak normal. Sel yang tumbuh terus menerus menyebabkan lapisan dinding rahim (endometrium) menjadi tebal.  Kondisi ini yang menyebabkan pendarahan hebat pada saat menstruasi.

Endometrium sendiri dapat terus berubah selama siklus menstruasi sebagai respons terhadap hormon. Pada siklus pertama menstruasi, hormon estrogen akan membantu endometrium menebal untuk mempersiapkan kehamilan. Kelebihan hormon estrogen inilah yang bisa menyebabkan terjadinya penebalan dinding rahim.

Pasalnya, pada saat ovulasi tidak terjadi, progesteron tidak akan diproduksi dan lapisannya tidak terlepas. Sementara itu, endometrium terus berkembang sebagai bentuk respon terhadap estrogen. Sel-sel yang menumpuk inilah yang menyebabkan hiperplasia hingga meningkatkan risiko kanker.

Namun, dinding rahim yang menebal bisa menjadi tanda kehamilan. Kondisi ini terjadi ketika sel telur yang dibuahi oleh sperma akan menanamkan diri di dinding rahim. Nantinya, dinding rahim akan terus berkembang menebal dan membesar seiring pertambahan usia kehamilan.

Seberapa umum kondisi hiperplasia endometrium terjadi? Kondisi penebalan rahim merupakan salah satu kelainan yang jarang terjadi pada wanita. Dilansir dari Cleveland Clinic, hiperplasia endometrium terjadi pada 133 wanita dari 100.000 wanita.

Jenis Hiperplasia Endometrium

Penebalan dinding rahim (hiperplasia endometrium) terbagi menjadi dua jenis berdasarkan perubahan sel pada lapisan rahim.

Hiperplasia endometrium simple

Kondisi hiperplasia endometrium pada jenis ini memiliki sel-sel yang tampak normal namun dan tidak menimbulkan risiko kanker.

Hiperplasia endometrium kompleks

Jenis hiperplasia endometrium kompleks disebabkan adanya genetika yang tidak normal. risiko kanker.

pengobatan rahim

Apa Penyebab Hiperplasia Endometrium?

Penyebab penebalan dinding rahim dipengaruhi oleh hormon estrogen yang meningkat secara berlebihan sementara kadar hormon progesteron rendah. Sel-sel endometrium tersebut dapat terus berkembang sebagai bentuk respon terhadap peningkatan kadar estrogen.

Ada beberapa faktor dapat memicu risiko seorang wanita mengalami penebalan dinding rahim, seperti;

  • Usia di atas 35 tahun.
  • Belum pernah hamil.
  • Haid di usia dini.
  • Memiliki riwayat medis, seperti PCOS, penyakit kandung empedu, atau diabetes mellitus.
  • Memiliki riwayat keluarga dengan kanker ovarium, usus besar, atau rahim.

Gejala Penebalan Dinding Rahim

Gejala hiperplasia endometrium mirip dengan endometriosis. Endometriosis adalah tumbuhnya jaringan endometrium yang bukan pada tempatnya atau di luar rahim. Sebelum Anda mencari cara untuk mengatasi hal tersebut, Anda harus mengetahui gejala penebalan dinding rahim terlebih dahulu. Berikut gejala hiperplasia endometrium.

  • Pendarahan berlebihan.
  • Nyeri haid berlebihan.
  • Siklus menstruasi tidak teratur.
  • Periode menstruasi lebih lama dari biasanya.

Kapan Saya Harus Melakukan Pemeriksaan ke Dokter?

Banyak wanita yang tidak menyadari jika dirinya mengalami penebalan dinding rahim lantaran gejalanya yang cukup umum. Namun, Anda lekas melakukan pemeriksaan diri ke dokter jika mengalami beberapa hal, seperti:

  • Dismenore atau kram perut yang menyakitkan.
  • Nyeri pada saat buang air kecil.
  • Nyeri pada saat berhubungan seksual.
  • Keputihan abnormal.

Bagaimana Cara Diagnosis Penebalan Dinding Rahim?

Ada banyak penyebab pendarahan yang terjadi pada wanita. Jika Anda mengalami sejumlah gejala di atas maka segera periksakan diri ke dokter. Ada beberapa cara diagnosis penebalan dinding rahim.

Dokter akan melakukan sejumlah tanya jawab mengenai keluhan atas gejala yang Anda alami. Kemudian, dokter akan melakukan pemeriksaan penunjang seperti USG transvaginal untuk mengetahui penyebab dari pendarahan, seperti polip di dalam rahim atau kista ovarium.

Cara diagnosis lain yang diperlukan adalah histeroskopi. Prosedur ini dilakukan dengan memasukan alat bernama histeroskop, yakni alat berupa selang lentur yang tipis disertai kamera pada ujungnya. Prosedur ini dilakukan untuk mengetahui kondisi di dalam rahim. Dokter juga akan melakukan prosedur biopsi untuk mengambil sampel jaringan rahim jika diperlukan.

Bagaimana Cara Pengobatan Penebalan Dinding Rahim?

Dilansir dari The American College of Obstetricians and Gynecologists, hiperplasia endometrium bisa diatasi dengan terapi hormon progestin. Terapi ini dilakukan dengan pemberian obat progestin dalam bentuk pil KB progestin, suntikan hormon, hingga alat kontrasepsi (IUD) yang mengandung progestin.

Pada kasus yang parah, maka prosedur histerektomi (pengangkatan rahim) diperlukan untuk mengatasi penebalan dinding rahim untuk mencegah risiko kanker rahim. Mengingat prosedur ini dapat membuat wanita tidak dapat hamil lagi maka histerektomi menjadi pilihan terakhir. Metode ini bisa dilakukan bagi wanita yang telah memasuki masa menopause.

Penutup

Penebalan dinding rahim bukanlah kondisi yang berbahaya dan umumnya bisa disembuhkan. Namun, pada kasus tertentu kondisi bisa meningkatkan risiko kanker endometrium. Gejalanya yang cukup umum dan mirip dengan beberapa kondisi medis lainnya bisa membuat masalah yang cukup serius. Anda bisa mencegah risiko hiperplasia endometrium dengan melakukan perawatan hormon progesteron dan estrogen setelah memasuki masa menopause, menjaga berat badan normal, dan tetap menjalani pola hidup yang sehat.

cheer

Jadwalkan Konsultasi

Jika Anda belum juga hamil setelah berupaya selama dua belas bulan atau lebih (atau enam bulan jika usia perempuan di atas 35 tahun), kami menyarankan Anda untuk melakukan penilaian kesuburan dengan spesialis fertilitas kami.

Jadwalkan konsultasi dengan menghubungi kami di (021) 50200800 atau dengan mengisi formulir melalui tombol dibawah.

  1. Chandra, V., Kim, J. J., Benbrook, D. M., Dwivedi, A., & Rai, R. (2016). Therapeutic options for management of endometrial hyperplasia. Journal of Gynecologic Oncology, 27(1). 
  2. Endometrial Hyperplasia. The American College of Obstetrics and Gynecologists. (2021).
  3. Deligdisch, L. (2000). Hormonal Pathology of the Endometrium. Modern Pathology, 13(3), 285–294. 
  4. Armstrong, A. J., Hurd, W. W., Elguero, S., Barker, N. M., & Zanotti, K. M. (2012). Diagnosis and Management of Endometrial Hyperplasia. Journal of Minimally Invasive Gynecology, 19(5), 562–571. 
  5. Reed, S. D., Newton, K. M., Clinton, W. L., Epplein, M., Garcia, R., Allison, K., Weiss, N. S. (2009). Incidence of endometrial hyperplasia. American Journal of Obstetrics and Gynecology, 200(6), 678.e1–678.e6. 
  6. Endometrial Hyperplasia. Cleveland Clinic.
Share:

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Reservasi