Kenali Penyebab Kista Ovarium pada Remaja

Penyebab kista ovarium pada remaja

Tahukah Anda jika kista ovarium bisa dialami para remaja? Penyakit kista ovarium nyatanya bisa dialami semua wanita termasuk remaja. Biasanya, kista ovarium bisa hilang dengan sendirinya. Lantas, apa saja penyebab kista ovarium pada remaja?

Apa Itu Kista Ovarium?

Setiap wanita memiliki dua indung telur (ovarium), satu di bagian kanan dan satu di bagian kiri rahim. Ovarium akan melepaskan sel telur secara bergantian setiap bulannya. Kista merupakan kantung berisi cairan di ovarium. Penyakit ini merupakan salah satu masalah kesehatan reproduksi wanita yang sering ditemukan tanpa gejala.

Namun terdapat dua kista ovarium yang perlu Anda ketahui:

Kista ovarium fungsional

Kista yang berkembang karena bagian dari siklus menstruasi. Jenis kista ini tidak berbahaya dan mudah untuk hilang dengan sendirinya. Ini merupakan jenis kista yang paling umum.

Kista ovarium patologis

Kista ini berkembang karena pertumbuhan sel yang tidak normal. Biasanya kista ini menimbulkan gejala dan perlu perawatan khusus untuk menanganinya. Kista jenis ini bisa jinak atau ganas (kanker).

kista ovarium

Penyebab Kista Ovarium Pada Remaja

Kista ovarium merupakan terbentuknya benjolan berisi cairan gas atau semi padat dengan ukuran yang beragam. Biasanya, kista ovarium bersifat jinak, sedang, hingga ganas.

Pada dasarnya, semua wanita memiliki risiko mengidap kista ovarium. Beberapa faktor bisa memicu kista ovarium. Berikut beberapa penyebab kista ovarium pada remaja.

1. Siklus menstruasi tidak teratur

Siklus menstruasi tidak teratur terkadang merupakan hal yang wajar namun ini bisa menjadi salah satu penyebab kista ovarium pada remaja. Normalnya, siklus menstruasi adalah 28 hari namun jika Anda mengalami siklus hingga di atas 45 hari, ini bisa jadi penyebab kista ovarium. Kista akan lebih mudah menyerang remaja perempuan yang mengalami periode menstruasi pertama pada usia dibawah 11 tahun. Selain itu, menstruasi terlalu dini juga akan meningkatkan peluang kista pada remaja.

2. Ketidakmampuan folikel dalam ovulasi

Umumnya, wanita akan mengalami siklus menstruasi di mana pada saat itu kantung telur atau folikel yang akan berovulasi. Folikel yang mengalami ovulasi ini akan melakukan degenerasi dan hilang karena diserap tubuh. Namun ketika folikel gagal melakukan ovulasi maka meningkatkan peluang terbentuknya kista.

3. Gangguan hormon

Penyebab kista ovarium pada remaja lainnya bisa disebabkan karena gangguan hormon. Masalah hormon sendiri bisa timbul akibat obat-obatan pemicu ovulasi.

4. Faktor genetik

Penyebab kista ovarium yang bisa dialami oleh remaja adalah faktor genetik atau faktor keturunan. Jika salah anggota keluarga Anda ada yang memiliki riwayat penyakit kista ovarium maka peluang terjadinya kista pada keturunannya cukup tinggi. Pola hidup yang tidak sehat juga dapat meningkatkan risiko kista ovarium.

5. Pola makan tidak sehat

Gaya hidup dan pola makan yang tidak sehat dapat menyebabkan risiko kista ovarium. Maka dari itu, Anda disarankan untuk mengonsumsi makanan sehat agar kista ovarium tidak berkembang menjadi penyakit yang lebih parah.

Berikut makanan penyebab kista ovarium:

  • Makanan cepat saji
  • Daging merah
  • Makanan laut
  • Minuman soda dan alkohol
  • Minuman yang mengandung kafein

Faktor Risiko Kista Ovarium

Selain beberapa penyebab di atas, seorang wanita akan memiliki risiko lebih tinggi mengalami kista ovarium. Berikut beberapa faktor risiko yang dapat menyebabkan kista ovarium.

Kehamilan

Terkadang, kista yang terbentuk saat Anda berovulasi tetap berada di ovarium selama kehamilan.

Endometriosis

Kondisi ini menyebabkan sel-sel endometrium rahim tumbuh di luar rahim Anda. Beberapa jaringan dapat menempel pada ovarium Anda dan membentuk pertumbuhan.

Infeksi pelvis

Jika infeksi terjadi cukup parah, maka dapat menyebar ke ovarium dan menimbulkan kista.

Pernah memiliki riwayat kista ovarium sebelumnya

Jika Anda pernah mengalami kista ovarium, ada kemungkinan besar Anda akan mengalaminya lagi dan bisa berkembang lebih banyak.

Gejala kista ovarium

Kista ovarium merupakan salah satu penyakit yang jarang menimbulkan gejala bahkan pada beberapa kasus kista ovarium tidak menimbulkan gejala. Berikut beberapa gejala kista ovarium yang bisa dialami remaja.

Ciri-Ciri Kista Ovarium

Kista ovarium tidak menimbulkan ciri-ciri yang signifikan namun saat kita mulai tumbuh besar dan pecah maka akan menimbulkan rasa tidak nyaman dengan ciri-ciri seperti:

  • Perut kembung atau bengkak
  • Kesulitan buang air besar
  • Nyeri panggul sebelum atau selama siklus menstruasi
  • Nyeri di punggung bawah atau paha
  • Mual dan muntah
  • Lebih sering buang air kecil karena kandung kemih tertekan

Gejala Kista Ovarium

Meski tidak ada tanda gejala awal namun kista ovarium bisa menyebabkan adanya tindakan darurat. Segera lakukan pemeriksaan ke dokter, jika Anda mengalami beberapa gejala, seperti:

  • Nyeri disertai demam dan muntah
  • Lemas, pusing, hingga pingsan
  • Sakit perut parah secara tiba-tiba
  • Pernapasan cepat

Diagnosis Kista Ovarium

Untuk mengetahui apakah ada kista ovarium di dalam tubuh dapat dilakukan pemeriksaan oleh dokter. Terdapat beberapa pemeriksaan penunjang untuk mendeteksi kista ovarium.

Ultrasonography (USG)

Salah satu cara diagnosis kista ovarium melalui pemeriksaan USG. Melalui USG, dokter dapat melihat bentuk, ukuran, lokasi dan meninjau kista berisi jaringan padat atau cairan. Pemeriksaan ini juga dilakukan untuk melihat perkembangan kista serta acuan dokter saat harus melakukan biopsi.

Biopsi

Selain USG, cara deteksi kista ovarium melalui tindakan biopsi. Biopsi adalah prosedur pengambilan sampel jaringan ovarium untuk diperiksa di laboratorium. Hal ini guna menentukan apakah kista bersifat jinak atau berpotensi menjadi ganas.

Tes Darah

Tes darah merupakan prosedur lanjutan yang diambil dokter jika hasil biopsi ditemukan bahwa kista berpotensi menjadi ganas atau memiliki ciri kanker ovarium. Salah satu metode pemeriksaan dilakukan dengan protein CA-125. Zat ini akan meningkat atau terdeteksi pada wanita yang memiliki penyakit tertentu, seperti kanker ovarium, penyakit radang panggul, endometriosis, atau fibroid rahim.

Pengobatan kista ovarium

Pengobatan kista ovarium dilakukan berdasarkan ukuran, bentuk, dan usia pasien. Namun jika Anda merasakan kista ovarium semakin membesar maka dapat dilakukan melalui prosedur pembedahan. Terdapat dua prosedur operasi untuk penanganan kista ovarium.

Laparoskopi

Prosedur ini dilakukan dokter dengan membuat sayatan kecil yang akan dimasukkan alat laparoskop, yaitu selang yang ujungnya dilengkapi lampu dan kamera. Kemudian, gas akan dimasukkan ke perut untuk memudahkan dokter melakukan tindakan operasi. Setelah itu, kista akan dihilangkan dan sayatan diperut akan ditutup dengan jahitan yang larut.

Laparotomi

Laparotomi merupakan prosedur yang dilakukan jika ukuran kista makin besar yang kemungkinan berkembang menjadi kanker. Melalui prosedur ini, dokter akan membuat sayatan tunggal pada perut untuk pengambilan kista dan akan menutupnya kembali dengan jahitan.

Namun, tidak semua kista ovarium memerlukan penanganan medis. Jenis kista fungsional yang berkaitan dengan siklus menstruasi umumnya tidak berbahaya. Kista ini dapat hilang dengan sendirinya dalam 2–3 siklus menstruasi.

  1. Committee Opinion No. 477: the role of the obstetrician-gynecologist in the early detection of epithelial ovarian cancer. Obstet Gynecol. 2011 Mar;117(3):742-746. URL.
  2. Luca Minelli. PLENARY SESSION 6-1 — OPERATIVE LAPAROSCOPY. PELVIC MASSES AND ENDOSCOPIC SURGERY. VOLUME 65, ISSUE 1, P81-89, MARCH 01, 1996. URL.
  3. Sachintha Senarath. Ovarian cysts in pregnancy: a narrative review. Pages 169-175 | Published online: 29 Apr 2020. URL.
  4. Hassan S. Abduljabbar, MD, FRCSC. Review of 244 cases of ovarian cysts. Saudi Med J. 2015 Jul; 36(7): 834–838. URL.
  5. Cassandra M Kelleher. Adnexal masses in children and adolescents. Clin Obstet Gynecol. 2015 Mar;58(1):76-92. URL.
  6. Victoria L Holt. Oral contraceptives, tubal sterilization, and functional ovarian cyst risk. Obstet Gynecol. 2003 Aug;102(2):252-8. URL.
  7. Farr Nezhat. Malignant transformation of endometriosis and its clinical significance. ertil Steril. 2014 Aug;102(2):342-4. URL.
  8. Cecilia Bottomley. Diagnosis and management of ovarian cyst accidents. Best Pract Res Clin Obstet Gynaecol. 2009 Oct;23(5):711-24. URL.
Share:

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Reservasi