Kenali Penyebab Impotensi, Masalah Seksual yang Dialami Pria

Impotensi

Impotensi merupakan salah satu masalah seksual yang kerap dialami pria. Impotensi sering juga disebut sebagai disfungsi ereksi. Meski tidak berbahaya, impotensi dapat menyebabkan gangguan pada hubungan Anda dengan pasangan. Lantas, apa itu impotensi?

Apa Itu Impotensi?

Impotensi adalah kondisi ketika pria tidak mencapai ereksi atau mempertahankan ereksi sehingga tidak mencapai gairah seksual. Biasanya, kondisi ini dialami oleh pria berusia 40 tahun atau lebih. Impotensi bisa disebabkan oleh beberapa faktor.

Menurut Urology Care Foundation, sebanyak 30 juta orang Amerika mengalami impotensi atau disfungsi ereksi. Risiko impotensi meningkat seiring bertambahnya usia. Disfungsi ereksi bisa menjadi tanda sebuah masalah kesehatan lain, seperti risiko penyakit jantung dan pembuluh darah.

Masalah disfungsi ereksi tidak berbahaya namun jika kondisi ini berlanjut terus menerus maka dapat mengganggu hubungan Anda dengan pasangan, risiko suatu penyakit, atau mengurangi rasa percaya diri.

Penyebab Impotensi

Gairah seksual seorang pria adalah proses kompleks yang melibatkan otak, hormon, emosi, saraf, otot, dan pembuluh darah. Disfungsi ereksi dapat terjadi akibat masalah dari salah satu tersebut. Kondisi stres juga dapat menyebabkan dan memperburuk disfungsi ereksi. Selain itu, disfungsi ereksi bisa juga disebabkan oleh faktor fisik dan psikologis.

Untuk mencapai ereksi, Anda harus terlebih dahulu melalui apa yang dikenal sebagai fase kegembiraan. Fase ini dapat berupa respon emosional. Jika Anda memiliki gangguan emosional, itu akan memengaruhi kemampuan Anda untuk menjadi bersemangat secara seksual.

Berikut beberapa penyebab impotensi yang mungkin Anda alami.

1. Faktor fisik

Risiko impotensi bisa disebabkan oleh beberapa faktor penyakit fisik berikut ini:

  • Penyakit jantung
  • Pembuluh darah tersumbat (aterosklerosis)
  • Kolesterol Tinggi
  • Tekanan darah tinggi
  • Diabetes
  • Kelebihan berat badan/obesitas
  • Sindrom metabolik
  • Penyakit Parkinson
  • Sklerosis ganda
  • Kelainan struktural pada penis, seperti penyakit peyronie
  • Perawatan untuk penyakit prostat
  • Operasi atau cedera yang memengaruhi area panggul atau sumsum tulang belakang

2. Faktor psikologis

Selain faktor fisik, disfungsi ereksi juga bisa disebabkan oleh faktor psikologis. Berikut beberapa faktor psikologis impotensi.

Otak memiliki peran dalam mekanisme ereksi yang ditandai dengan gairah seksual. Namun jika perasaan seksual terganggu, bisa menyebabkan impotensi. Beberapa hal yang menjadi penyebab faktor psikologis terjadinya impotensi.

  • Perasaan bersalah
  • Stres
  • Depresi
  • Kecemasan berat
  • Masalah hubungan dengan pasangan

Apa Saja yang Menjadi Faktor Risiko Impotensi?

Seiring bertambahnya usia, ereksi menjadi sulit dilakukan dan membutuhkan waktu yang lebih lama. Risiko faktor mengalami impotensi adalah pria yang memiliki penyakit bawaan (komorbid). Menurut sebuah penelitian, risiko impotensi dialami oleh pria yang mengalami riwayat penyakit jantung atau kardiovaskular.

Berikut beberapa faktor risiko pria yang dapat mengalami disfungsi ereksi:

  • Kondisi medis, terutama diabetes atau penyakit jantung
  • Kebiasaan merokok yang dapat membatasi aliran darah ke pembuluh darah atau arteri. Hal ini bisa menyebabkan kondisi kesehatan kronis yang menyebabkan ereksi.
  • Kelebihan berat badan
  • Perawatan medis, seperti operasi prostat atau pengobatan radiasi untuk kanker
  • Cedera yang merusak saraf atau arteri yang mengontrol ereksi
  • Mengonsumsi alkohol berlebihan

Ciri-Ciri Impotensi

Ciri-ciri impotensi bisa Anda ketahui jika Anda mengalami hal-hal berikut:  

  • Penis tidak bisa ereksi
  • Penis tidak bisa mempertahankan ereksi saat berhubungan seks
  • Berkurangnya gairah seksual

Jika Anda mengalami ciri-ciri tersebut terus berulang selama tiga bulan atau lebih maka Anda dinyatakan mengalami impotensi. Kondisi ini bukan masalah serius namun jika tidak ditangani, Anda mungkin akan mengalami gejala penyerta impotensi, seperti:

  • Ejakulasi dini
  • Ejakulasi tertunda
  • Anorgasmia, yaitu ketika Anda tidak mampu mencapai orgasme meski sudah mendapat banyak stimulasi.
obat impotensi

Cara Diagnosis Impotensi

Jika Anda ingin mengetahui kondisi yang dialami maka Anda dapat melakukan pemeriksaan ke dokter. Dokter akan memeriksa riwayat kesehatan Anda, kemudian Anda akan menjalani pemeriksaan fisik.

Untuk mendiagnosis impotensi, pemeriksaan fisik yang dilakukan berupa:

  • Tes darah: dilakukan untuk memeriksa kadar testosteron rendah, gejala diabetes, dan kondisi lainnya.
  • USG (ultrasonografi): dilakukan untuk mencari masalah pada pembuluh darah.
  • Tes urine: pemeriksaan ini dilakukan dengan sampel urine untuk mencari tanda-tanda diabetes dan kondisi lain.
  • Uji ereksi semalam: pemeriksaan ini dilakukan untuk mengukur jumlah dan kekuatan ereksi yang dicapai dalam semalam dengan perangkat khusus saat Anda tertidur.
  • Uji psikologis: pemeriksaan melalui sejumlah pertanyaan untuk mendeteksi depresi dan faktor psikologis lainnya yang menyebabkan disfungsi ereksi.

Apakah Impotensi Bisa Sembuh?

Impotensi dialami oleh pria dengan berbagai ras dan negara dengan rentang usia 40 tahun atau lebih. Sebuah studi pada tahun 2019 menyebutkan jika risiko impotensi meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Kondisi medis tertentu, seperti hipertensi, stroke, diabetes, penyakit ginjal, riwayat operasi prostat, dan stres juga secara signifikan terkait dengan disfungsi ereksi.

Lantas, apakah impotensi bisa sembuh? Impotensi bukanlah kondisi yang tidak bisa diobati. Impotensi bisa sembuh jika penyebab dasarnya diatasi terlebih dahulu. Namun, jika Anda mengalami kondisi berkelanjutan, segera periksakan diri ke dokter.

Apakah Pria dengan Disfungsi Ereksi Dapat Menghamili Pasangan?

Pria yang mengalami disfungsi seksual tetap bisa menghamili pasangan dengan catatan harus menjalani pengobatan terlebih dahulu. Apabila kualitas sperma bagus maka program hamil bisa dilakukan secara alami. Namun, jika kualitas sperma Anda kurang baik maka program hamil yang dapat dilakukan berupa teknologi berbantu, seperti inseminasi intrauterine (IUI) dan bayi tabung (IVF).

Pengobatan Impotensi

Impotensi tidak memiliki perawatan atau pengobatan khusus. Pengobatan akan dilakukan oleh dokter berdasarkan penyebabnya.

Beberapa cara pengobatan impotensi yang bisa Anda lakukan:

Konsumsi obat

Jika Anda memerlukan pengobatan, dokter akan meresepkan obat minum, seperti sildenafil (Viagra), tadalafil (cialis), avanafil (stendra, dan vardenafil (Levitra). Jika ingin mengonsumsi obat tersebut harus berdasarkan resep dokter.

Efek samping yang mungkin Anda rasakan setelah mengonsumsi obat-obatan tersebut, seperti sakit kepala, gangguan pencernaan, dan pusing. Mengonsumsi obat-obatan tidak membuat Anda langsung ereksi, Anda tetap memerlukan rangsangan untuk meningkatkan gairah seksual.

Suntikan hormon testosteron

Pria yang mengalami impotensi karena kadar hormon testosterone rendah dapat melakukan cara pengobatan ini. Suntikan ini diberikan untuk meningkatkan hormon testosteron di dalam tubuh.

Alat pompa khusus

Cara pengobatan ini menggunakan alat pompa khusus yang berfungsi membantu mengalirkan darah ke penis. Namun car aini dapat menimbulkan efek penis nyeri hingga memar.

Prosedur bedah

Prosedur bedah atau operasi akan dilakukan jika impotensi tidak dapat ditangani dengan cara lain.

Cara Mengatasi Impotensi

Impotensi jika tidak diatasi dapat memengaruhi kondisi psikologis, seperti kurangnya rasa percaya diri dan mengganggu hubungan Anda dengan pasangan. Namun, terdapat beberapa cara yang bisa Anda lakukan untuk mengatasi impotensi.

Olahraga secara rutin

Olahraga merupakan aktivitas fisik yang memberikan banyak manfaat bagi tubuh dan kesehatan, salah satunya dapat mengatasi impotensi. Olahraga merupakan salah satu cara yang efektif untuk mengatasi disfungsi ereksi yang disebabkan oleh obesitas, penyakit kardiovaskular, atau kondisi lainnya.

Aktivitas fisik membantu juga dapat meningkatkan kesehatan pembuluh darah, menurunkan stres, dan meningkatkan kadar testosteron, yang semuanya dapat membantu disfungsi ereksi.

Ubah gaya hidup

Kurangi mengonsumsi alkohol dapat menurunkan risiko disfungsi ereksi. Meski belum ada hubungannya secara langsung antara alkohol dan disfungsi ereksi namun sebuah penelitian menunjukkan jika pria yang mengalami disfungsi ereksi merupakan pria dengan sindrom ketergantungan alkohol

Anda juga disarankan untuk berhenti merokok. Hal ini karena merokok dapat merusak pembuluh darah dan mencegahnya mencapai penis untuk ereksi.

Merokok juga dapat mengurangi kadar oksida nitrat dalam tubuh, yang diperlukan untuk menyebabkan relaksasi otot yang berperan dalam ereksi.

  1. Deepak Koyilerian Prabhakaran, A. Nisha, P. Joseph Varghese. Prevalence and correlates of sexual dysfunction in male patients with alcohol dependence syndrome: A cross-sectional study. Indian J Psychiatry. 2018 Jan-Mar; 60(1): 71–77. URL.
  2. J.R. Kovac. Effects of cigarette smoking on erectile dysfunction. Andrologia. Author manuscript; available in PMC 2016 Dec 1. Published in final edited form as: Andrologia. 2015 Dec; 47(10): 1087–1092. URL.
  3. Ponco Birowo. Epidemiology of erectile dysfunction: A cross-sectional web-based survey conducted in an Indonesian national referral hospital. First published: 07 Jun 2019, 8:817. URL.
  4. Francesco Lotti, Mario Maggi. Sexual dysfunction and male infertility. Nature Reviews Urology volume 15, pages287–307 (2018). URL.
  5. H Awad. Erectile function in men with diabetes type 2: correlation with glycemic control. International Journal of Impotence Research volume 22, pages36–39 (2010). URL.
  6. Xiao-Ming Wang. Alcohol intake and risk of erectile dysfunction: a dose–response meta-analysis of observational studies. International Journal of Impotence Research volume 30, pages342–351 (2018). URL.
  7. André B Silva, Nelson Sousa. Physical activity and exercise for erectile dysfunction: systematic review and meta-analysis. Br J Sports Med. 2017 Oct;51(19):1419-1424. doi: 10.1136/bjsports-2016-096418. Epub 2016 Oct 5. URL.
  8. S Savonitto, D Ardissino. Selection of drug therapy in stable angina pectoris. Cardiovasc Drugs Ther. 1998 May;12(2):197-210. URL.
Share:

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Reservasi