Polusi Udara dan Kesuburan: Adakah Hubungannya?

Polusi Udara dan Kesuburan

Tak banyak yang tahu kalau ternyata polusi udara ada hubungannya dengan kesuburan pria maupun wanita.

Tren penurunan tingkat kesuburan (total fertility rate/TFR) terjadi di seluruh dunia. Di tahun 2020, para pakar dari University of Washington’s Institute for Health Metrics mempublikasikan sebuah studi di jurnal The Lancet yang menemukan bahwa tingkat kesuburan di berbagai belahan dunia hampir menjadi setengahnya, dari 4,7 pada tahun 1950 menjadi 2,4 pada tahun 2017. 

Di Indonesia, angka ini berada di angka 3,1 pada tahun 1990. Artinya, rata-rata setiap satu orang wanita melahirkan tiga anak sepanjang masa reproduksinya. Di tahun-tahun berikutnya, tingkat kesuburan ini bergerak turun hingga mencapai 2,1 di tahun 2022. Dengan demikian, angka kelahiran di Indonesia sudah berkurang 31 persen dalam 30 tahun (1990-2022).

Salah satu hal yang menyebabkan tingkat kesuburan menurun, yakni usia wanita. Dengan lebih banyaknya wanita yang berpendidikan tinggi dan berkarir, ada kecenderungan wanita memilih untuk memiliki lebih sedikit anak atau menunda untuk hamil di kemudian hari.

Namun, tren penurunan ini tampaknya tidak murni karena faktor usia wanita. Faktanya, studi menunjukkan bahwa tingkat kesuburan masih cenderung menurun meski faktor usia sudah dikontrol. Sebuah studi di tahun 2017 menemukan bahwa jumlah hitung sperma di antara pria-pria di Amerika Utara, dan Selandia Baru turun lebih dari 53 persen sejak tahun 1973. Walau belum ada satu alasan yang pasti di balik fakta ini, para pakar merujuk kepada sejumlah faktor lingkungan.

Profesor Audrey Gaskins, pakar fertilitas di Emory University, Atlanta, Amerika Serikat mengatakan bahwa ada berbagai macam bahan kimia yang ditemukan berpotensi membahayakan kesuburan. Seperti misalnya, paraben dalam produk kosmetik dan farmasi, flame retardant (penghambat api) dalam produk furnitor, atau bisphenol-A (BPA) dalam produk plastik tertentu. Tetapi, yang paling berbahaya dari semuanya adalah polusi udara. Hasil studi yang sudah ada mendukung fakta bahwa polusi udara sepertinya betul berdampak negatif pada kesuburan pria dan wanita.

Fakta polusi udara di Jakarta

Pada bulan Juni 2022, provinsi DKI Jakarta dinobatkan sebagai daerah dengan kualitas udara terburuk pertama di dunia. Hasil ini dipublikasikan oleh situs IQ Air yang mengoperasikan informasi kualitas udara real-time gratis terbesar di dunia. Indeks kualitas udara di DKI Jakarta mencapai angka 185 AQI US pada pukul 10.00 WIB sehingga masuk ke dalam kategori merah atau tidak sehat. Indeks tersebut mulai menurun ke angka 165 AQI US pada pukul 12.00 WIB dan terus menurun ke kategori sedang di angka 65 AQI US pukul 17.00 WIB.

Menurut  Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), konsentrasi PM2.5 dalam kualitas udara di Jakarta saat itu mengalami peningkatan dan mencapai puncaknya pada level 148 µg/m3 (mikrogram per meter kubik). PM2.5 adalah partikel udara—termasuk debu, jelaga, kotoran, asap, dan tetesan cairan—yang berdiameter lebih kecil dari 2.5 mikron (mikrometer) sehingga hanya bisa dilihat dengan mikroskop elektron. Dari semua jenis polutan udara, partikel ini paling berdampak negatif pada kesehatan. Nilai Ambang Batas (NAB) PM2.5 yang diperbolehkan berada di angka 65 µg/m3. Kualitas udara baru dikatakan baik bila kadarnya berada di rentang 0-15,5 µg/m3

Beberapa sumber PM2.5 buatan manusia yang paling umum antara lain pembakaran kendaraan bermotor, pembakaran pembangkit listrik, proses industri, kompor, perapian, dan pembakaran kayu rumah, asap dari kembang api, dan asap rokok. Sedangkan sumber alami PM2.5, dapat mencakup debu, jelaga, kotoran, garam yang tertiup angin, spora tumbuhan, serbuk sari, dan asap dari kebakaran hutan.

Menurunnya kualitas udara bisa disebabkan oleh kombinasi antara emisi dari berbagai sumber dan dan faktor-faktor cuaca yang memungkinkan terakumulasinya konsentrasi PM2.5.

Pengaruh polusi udara terhadap kesehatan

Berpuluh-puluh tahun, telah diduga hubungan sebab akibat antara polusi udara dan masalah kesehatan pada manusia. Particulate matter (PM) dan ozon permukaan tanah (O3) adalah polutan yang paling berbahaya bagi kesehatan manusia, diikuti oleh benzo(a)pyrene (BaP) (sebuah indikator bagi hidrokarbon aromatik polisiklik/PAH) dan nitrogen dioksida (NO2). Sumber utama polutan-polutan ini adalah emisi alat transportasi serta limbah industri. 

Sejak lama, telah diketahui bahwa polusi udara dapat memicu penyakit jantung dan pembuluh darah, stroke, kanker paru, asma, dan dermatitis atopik. Selain itu, paparan PAH, NO2, dan PM di masa perinatal (sejak usia kehamilan 20 minggu hingga 4 minggu setelah bersalin), telah ditemukan berdampak negatif pada perkembangan neuropsikologis anak-anak. 

Berikut adalah beberapa mekanisme polusi udara menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan:

  • Sebagai pendisrupsi aktivitas endokrin/hormonal. PAH dan logam berat (tembaga, timbal, seng, dll.) terkandung di dalam PM, terutama dari knalpot solar. Partikel-partikel di dalam knalpot solar ini mengandung zat-zat yang memiliki aktivitas estrogenik, anti estrogenic dan antiandrogenic, yang dapat memengaruhi proses pembentukan sel telur, sel sperma, dan hormon-hormon steroid.
  • Memicu stres oksidatif. NO2, O3 atau PM dapat menghasilkan spesies oksigen reaktif (ROS), yang memicu proses stres oksidatif dan respon peradangan. Selanjutnya, ini dapat menyebabkan perubahan pada materi genetik (DNA), protein dan lipid sel.
  • Modifikasi DNA. Polusi udara yang membentukan DNA adduct—sepotong DNA yang berikatan dengan bahan kimia—dapat menyebabkan perubahan ekspresi gen dan/atau munculnya mutasi epigenetik yang diwariskan ke generasi berikutnya.

Ini adalah mekanisme-mekanisme umum yang dapat memengaruhi semua fungsi tubuh, termasuk fungsi reproduksi.

Bahaya polusi udara terhadap kesehatan

Pengaruh polusi udara terhadap kesuburan Pria dan Wanita

Pada organ reproduksi, studi-studi mendapati bahwa polutan lingkungan berperan dalam kejadian infertilitas. 

Baca Juga : Magnetic Activated Cell Sorting Sperm (MACS) pada Teknologi Reproduksi Berbantu

Sebuah studi pada 18.000 pasangan di Cina telah menunjukkan kemungkinan hubungan antara tingkat polusi udara dan infertilitas, yang diartikan sebagai belum hamil setelah mencoba selama satu tahun. Ditemukan bahwa risiko masalah kesuburan meningkat sebesar 20 persen pada mereka yang tinggal di daerah dengan kadar polutan sedikit lebih tinggi.

Di tahun 2019, Profesor Audrey Gaskins bersama timnya telah mengidentifikasi hubungan antara polusi udara dan jumlah sel telur yang lebih sedikit matang di ovarium. Meski studi ini belum bisa menunjukkan polutan spesifik penyebab masalah, studi ini memberi kemungkinan penyebab dari 30 persen pasangan yang terdiagnosis infertilitas idiopatik (tidak diketahui penyebabnya).

Bersama timnya, ia juga meneliti efek polusi udara pada wanita yang menjalani program bayi tabung. Oleh karena timeline kehamilan dengan bayi tabung sangat dimonitor dan diatur, peneliti bisa menentukan kapan polusi udara menunjukkan efek terkuat selama kehamilan. Hal ini tidak akan bisa diketahui pada proses kehamilan alami.

Hasil studi menemukan bahwa wanita yang menjalani program bayi tabung dan tinggal dekat jalan raya utama—dan karenanya, lebih banyak terpapar polusi udara lalu lintas—memiliki angka keberhasilan implantasi dan kelahiran hidup yang lebih rendah. Sebelumnya, sebuah studi di tahun 2010 menunjukkan hasil yang sama, peluang hamil pada wanita yang menjalani program bayi tabung lebih rendah kala mereka lebih banyak terpapar polusi udara, khususnya NO2 yang diproduksi oleh mobil dan truk.

Studi lain di Barcelona tahun 2014 menemukan bahwa setiap peningkatan 3,5 mikrogram PM per meter kubik menyebabkan penurunan kesuburan sebesar 13 persen.

Fakta soal polusi udara dan kesuburan tak berhenti pada wanita dan sistem reproduksinya. Sel sperma pria juga dipengaruhi oleh kualitas udara yang buruk. Dalam sebuah studi di Taiwan, setiap 5 mikrogram PM per meter kubik berhubungan dengan berkurangnya jumlah sperma dengan bentuk dan ukuran yang normal. Studi lain di Amerika Serikat menemukan bahwa paparan polusi udara mengurangi kemampuan sperma untuk bergerak secara normal. Polusi udara juga meningkatkan fragmentasi DNA sperma, yang dapat menyebabkan infertilitas dan keguguran.

Secara ringkas, polusi udara dapat meningkatkan risiko infertilitas melalui cara-cara berikut:

  • Pada wanita, memengaruhi kualitas sel telur dan mengurangi cadangan ovraium. Polusi udara juga berhubungan dengan meningkatnya risiko gangguan menstruasi dan menstruasi yang tidak teratur.
  • Pada pria, menurunkan jumlah hitung sperma. Kualitas sperma juga menurun, dan ini pun dapat mengurangi kualitas embrio.
  • Pada wanita hamil, paparan polusi udara berdampak serius pada perkembangan janin, seperti berat lahir rendah, terjadinya kelainan bawaan lahir, keguguran, lahir mati, dan persalinan prematur.
  • Pada keturunan yang dihasilkan. Ketika seorang wanita hamil terpapar polusi udara, gamet (sel kelamin—sel sperma atau folikel ovarium) janin yang sedang berkembang juga bisa terdampak. Artinya, perubahan ini pun selanjutnya bisa diwariskan ke keturunan berikutnya.

Jadi, apa yang bisa dilakukan agar polusi udara tidak mengganggu kesuburan?

Salah satu alasan mengapa polusi udara patut diwaspadai adalah karena tidak ada satu pun orang yang sepenuhnya kebal terhadap efek ini. Di tingkat personal, tiap individu hanya memiliki sedikit kendali terhadap paparan polusi udara. Akan tetapi, bila dilakukan bersama-sama, dampak polusi udara bisa dikurangi dengan cukup bermakna. 

Untuk mengurangi paparan terhadap polusi udara, berikut yang bisa dilakukan: 

  • Menghindari sumber-sumber utama polusi udara luar ruang, seperti:
    • Mengurangi waktu yang dihabiskan di jalanan dengan lalu lintas padat
    • Membatasi waktu di luar ruang dengan kualitas udara yang buruk.
    • Mengurangi waktu olahraga intensitas berat di luar ruang.
    • Menjauh dari jalan utama dan persimpangan dengan lalu lintas padat. Pilihlah jalanan yang sepi untuk berjalan, berlari atau bersepeda.
    • Saat bepergian, hindari jam sibuk sebisa mungkin, sebelum polusi menumpuk.
    • Berjalan di bagian dalam trotoar.
    • Bila tinggal di dekat jalan yang ramai, tutup jendela selama jam sibuk.
  • Hindari sumber utama polusi udara dalam ruang, seperti tidak merokok di dalam ruangan, menggunakan kipas angin saat memasak, mengganti filter udara secara rutin. 
  • Memasang pembersih udara yang menggunakan filter HEPA. Filter ini memang tidak bisa menghilangkan semua polutan dan harus diganti secara teratur, namun alat ini akan sangat membantu ketika paparan polusi udara sedang tinggi dan sulit dihindari.
  • Jaga diri tetap sehat. Ada bukti yang sugestif bahwa mengonsumsi makanan sehat kaya antioksidan dan asam lemak omega 3 rantai panjang (misalnya dari makanan laut), serta mengonsumsi suplemen asam folat dosis tinggi dapat menangkal beberapa efek berbahaya dari polutan udara.

Untuk membantu mengurangi polusi udara yang dihasilkan, berikut yang bisa dilakukan:

  • Sebisa mungkin bepergian menggunakan kendaraan umum, berjalan kaki, atau bersepda. Emisi kendaraan bermotor masih menjadi sumber polusi udara yang paling signifikan.
  • Pilih kendaraan yang hemat bahan bakar atau kendaraan listrik bila memungkinkan. 
  • Menghemat energi, dengan mematikan televisi maupun peralatan listrik lainnya saat tidak digunakan. Selain menghemat biaya listrik, cara ini dapat mengurangi emisi dari pembangkit listrik tenaga batu bara.
  • Menggunakan peralatan rumah tangga yang hemat energi. Saat membeli peralatan listrik, periksa label peringkat energi pada kemasan. Semakin banyak bintangnya, semakin rendah emisinya. 
  • Menggunakan produk pembersih yang ramah lingkungan. Kandungan fosfor di dalam deterjen dapat meningkatkan pertumbuhan alga yang berlebihan di sungai. Selain itu, hindari menuangkan bahan kimia atau pupuk ke saluran pembuangan karena akan terbawa ke saluran air, yang selanjutnya mengalir ke sungai hingga laut.

Penutup

Tak bisa dipungkiri bahwa polusi udara harus diwaspadai semua orang. Itulah mengapa, hal ini juga menjadi prioritas bagi pemerintah di seluruh dunia. Di tingkat individu, setiap orang harus sadar untuk melakukan upaya-upaya untuk mengatasinya, baik ini berdampak langsung pada kesuburan maupun tidak. Terkait dengan hal ini, individu yang tinggal atau terpapar di area dengan kadar polutan tinggi, disarankan untuk setidaknya menjalani analisis cairan sperma atau evaluasi cadangan ovarium satu kali agar tahu status kesuburannya. Dengan demikian, tanda-tanda infertilitas bisa diketahui dan ditangani sejak dini.

cheer

Jadwalkan Konsultasi

Jika Anda belum juga hamil setelah berupaya selama dua belas bulan atau lebih (atau enam bulan jika usia perempuan di atas 35 tahun), kami menyarankan Anda untuk melakukan penilaian kesuburan dengan spesialis fertilitas kami.

Jadwalkan konsultasi dengan menghubungi kami di (021) 50200800 atau dengan mengisi formulir melalui tombol dibawah.

  • Carré J, Gatimel N, Moreau J, Parinaud J, Léandri R. Does air pollution play a role in infertility?: a systematic review. Environmental Health. 2017 Dec;16:1-6.
  • Conforti A, Mascia M, Cioffi G, De Angelis C, Coppola G, De Rosa P, Pivonello R, Alviggi C, De Placido G. Air pollution and female fertility: a systematic review of literature. Reprod Biol Endocrinol. 2018 Dec 30;16(1):117. doi: 10.1186/s12958-018-0433-z. PMID: 30594197; PMCID: PMC6311303.
  • Gaskins AJ, Hart JE, Mínguez-Alarcón L, Chavarro JE, Laden F, Coull BA, Ford JB, Souter I, Hauser R. Residential proximity to major roadways and traffic in relation to outcomes of in vitro fertilization. Environment international. 2018 Jun 1;115:239-46.
  • Gaskins AJ, Mínguez-Alarcón L, Fong KC, Abdelmessih S, Coull BA, Chavarro JE, Schwartz J, Kloog I, Souter I, Hauser R, Laden F. Exposure to Fine Particulate Matter and Ovarian Reserve Among Women from a Fertility Clinic. Epidemiology. 2019 Jul;30(4):486-491. doi: 10.1097/EDE.0000000000001029. PMID: 31162281; PMCID: PMC6550330.
  • Kumar N, Singh AK. Impact of environmental factors on human semen quality and male fertility: a narrative review. Environmental Sciences Europe. 2022 Dec;34:1-3.
  • Li Q, Zheng D, Wang Y, Li R, Wu H, Xu S, Kang Y, Cao Y, Chen X, Zhu Y, Xu S. Association between exposure to airborne particulate matter less than 2.5 μm and human fecundity in China. Environment International. 2021 Jan 1;146:106231.
Share:
  • 176
    Shares

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

doctors

Silahkan isi data berikut untuk mengetahui Paket/Layanan yang cocok untuk Ayah Bunda.

Reservasi