Kanker Ovarium dan Pengaruhnya pada Kesuburan

Kanker ovarium tergolong kanker yang jarang, namun sebagian besar penderitanya adalah wanita muda berusia subur.

Kanker ovarium adalah kanker yang mengenai salah satu atau kedua ovarium. Kanker ini tidak banyak ditemui namun cukup mematikan karena jarang terdeteksi pada stadium dini. Padahal, kanker ovarium yang terdeteksi dini memiliki angka kesintasan 5 tahun di atas 90 persen.

Meski bisa dialami wanita usia berapapun, kanker ovarium paling sering mengenai wanita usia tua, yakni 50-65 tahun. Kanker ini juga bisa diturunkan dalam keluarga.

Jenis-jenis kanker ovarium

Ovarium adalah kelenjar kelamin wanita, yang menghasilkan sel telur untuk bereproduksi. Organ ini juga memproduksi hormon wanita, yakni estrogen dan progesteron. Di dalam tubuh wanita, terdapat dua ovarium yang masing-masing terletak pada kedua sisi rahim.

Ovarium dibentuk oleh tiga jenis sel. Masing-masing sel dapat berkembang menjadi jenis tumor yang berbeda.

  • Tumor sel epitel, bermula pada sel yang meliputi permukaan luar ovarium atau tuba falopi. Ini merupakan tipe kanker ovarium yang paling banyak (90%). Subtipenya mencakup karsinoma serosa dan karsinoma musinosa.
  • Tumor sel germinal, bermula pada sel-sel yang memproduksi sel telur. Kanker ovarium ini tergolong jarang dan cenderung mengenai remaja putri dan wanita usia muda di bawah 30 tahun. Jenis yang paling banyak ditemukan disebut dengan teratoma ovarium.
  • Tumor stromal, bermula pada sel-sel penyokong ovarium yang memproduksi hormon estrogen serta progesteron. Jenis ini juga termasuk jarang dan biasanya terdiagnosis pada stadium yang lebih dini ketimbang jenis kanker ovarium lainnya.

Beberapa tumor ini bersifat jinak dan tidak pernah menyebar keluar ovarium. Sedangkan tumor ovarium yang ganas (kanker) atau borderline (potensi kanker rendah) dapat menyebar (metastasis) ke bagian tubuh lain, serta dapat bersifat fatal.

kanker ovarium

Gejala kanker ovarium

Saat kanker ovarium pertama kali berkembang, gejala bisa tidak muncul. Dan ketika mulai muncul, gejala umumnya mirip dengan penyakit lain yang lebih umum. Gejala dapat berupa:

  • Perut kembung atau membesar
  • Rasa cepat kenyang
  • Nyeri panggul atau nyeri perut
  • Rasa lemas atau lelah
  • Nyeri punggung
  • Konstipasi
  • Kehilangan berat badan
  • Frekuensi berkemih meningkat, anyang-anyangan
  • Perdarahan vagina, khususnya setelah menopause

Bila mengalami gejala-gejala di atas, khususnya bila telah dialami selama lebih dari 2 minggu, segera periksakan diri ke dokter kandungan.

Penyebab dan faktor risiko

Hingga kini, belum diketahui apa penyebab pasti kanker ovarium. Akan tetapi, ada beberapa faktor yang meningkatkan risiko seorang wanita mengalaminya:

  • Berusia lebih dari 55 tahun.
  • Mengalami infertilitas atau sulit hamil.
  • Mengalami endometriosis.
  • Belum pernah hamil.
  • Memulai haid di usia yang lebih muda (sebelum usia 12 tahun) atau mengalami menopause lebih lambat (setelah usia 52 tahun).
  • Memiliki riwayat kanker payudara.
  • Memiliki riwayat keluarga dengan kanker ovarium, payudara, usus besar, atau rahim. Khususnya, bila individu mewariskan kelainan genetik, yaitu mutasi pada gen BRCA1 atau BRCA2. 
  • Memiliki riwayat keluarga dengan sindrom Lynch.

Diagnosis kanker ovarium

Bila terdapat kecurigaan terhadap kanker ovarium, dokter akan terlebih dulu melakukan pemeriksaan fisik, termasuk pemeriksaan panggul. Untuk mengonfirmasi temuan, dokter akan menyarankan satu atau lebih pemeriksaan berikut:

  • Ultrasonografi transvaginal untuk melihat kondisi ovarium dan organ kandungan lainnya.
  • Pemeriksaan darah untuk mengukur kadar penanda tumor CA 125. Kadarnya dapat meningkat bila terdapat kanker ovarium maupun pada kondisi lain yang bukan kanker ovarium. Pemeriksaan ini paling bermanfaat pada wanita yang telah mengalami menopause. 
  • Pembedahan. Ini merupakan satu-satunya cara untuk memastikan ada tidaknya kanker ovarium. Pada sebagian besar kasus, dilakukan histerektomi total dengan salpingo-ooforektomi, yakni pengangkatan rahim, serviks, ovarium, dan tuba falopi sekaligus. Organ atau jaringan lain yang berdekatan mungkin ikut diangkat bila kanker telah menyebar ke luar ovarium.

Pengobatan kanker ovarium

Wanita dengan kanker ovarium umumnya perlu menjalani pembedahan untuk mengangkat rahim, ovarium, dan tuba falopi. Kelenjar getah bening dan jaringan dalam rongga panggul dan perut juga perlu diangkat bila kanker telah menyebar ke area ini. Pada sebagian kasus, pengangkatan hanya dilakukan pada ovarium yang mengandung kanker. Pasca pembedahan, sebagian besar kasus kanker ini memerlukan kemoterapi tambahan untuk mematikan sel-sel kanker yang tidak terangkat. 

Setelah pengobatan, wanita perlu melakukan kunjungan rutin untuk memastikan kanker tidak kambuh kembali. Pemeriksaan pasca pengobatan ini mencakup evaluasi gejala dan pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan CA 125. Bila diperlukan, dilakukan pemeriksaan radiologi seperti ultrasonografi, rontgen dada, magnetic resonance imaging (MRI), atau CT scan.

Efek kanker ovarium pada kesuburan wanita

Kanker ovarium itu sendiri dan pengobatannya dapat memengaruhi kesuburan seorang wanita. Hal-hal yang memengaruhi risiko hilangnya kesuburan akibat perawatan kanker, antara lain usia, status kesuburan saat ini (telah mengalami pubertas atau menopause), jenis pengobatan kanker, serta dosis dan durasi pengobatan.

Berikut ini dijelaskan secara mendetil efek masing-masing pengobatan terhadap kesuburan wanita:

  • Pembedahan seperti histerektomi atau ooforektomi, keduanya menyebabkan infertilitas. Bila kanker ovarium terdiagnosis pada stadium dini atau bila jenis kanker adalah tumor sel germinal, kemungkinan pembedahan hanya dilakukan pada satu ovarium. Rahim pun tidak perlu diangkat. Dengan demikian, wanita masih bisa hamil. Pembedahan untuk mengangkat tumor lain yang berada dekat organ reproduksi juga dapat menyebabkan pembentukan jaringan parut yang menyumbat saluran tuba sehingga sel telur sulit dibuahi. 
  • Kemoterapi. Beberapa obat kemoterapi dapat membuat ovarium berhenti menghasilkan estrogen atau melepaskan sel telur. Kondisi ini, yang disebut dengan insufisiensi ovarium primer, bisa bersifat sementara atau permanen. 
  • Radioterapi. Radiasi untuk kanker di area rongga panggul atau perut bawah dapat merusak sel telur yang tersimpan di ovarium. Radiasi juga bisa merusak jaringan rahim sehingga embrio sulit berimplantasi atau mengalami keguguran saat hamil.
  • Terapi hormon. Beberapa jenis terapi hormon dapat menyebabkan hilangnya kesuburan secara permanen. Salah satu terapi hormon, yakni tamoxifen, dapat menyebabkan cacat bawaan lahir sehingga wanita tidak boleh hamil selama sedang mengonsumsi obat ini. 
  • Imunoterapi dan obat-obat kanker khusus (targeted cancer drugs) dapat menyebabkan cacat bawaan berat bila wanita hamil selama menjalani pengobatan.
  • Transplantasi sumsum tulang atau sel punca. Pengobatan ini melibatkan kemoterapi dan radioterapi dosis tinggi sehingga bisa merusak ovarium secara permanen.

Bila wanita ingin memiliki keturunan suatu hari, beritahu dokter sebelum menjalani pengobatan kanker ovarium. Wanita bisa merencanakan untuk mengikuti preservasi fertilitas sebelum memulai pengobatan.

Pilihan preservasi fertilitas bagi wanita usia subur, antara lain:

  • Membekukan sel telur atau kriopreservasi. Melalui cara ini sel telur diambil dari ovarium, dibekukan, dan diawetkan untuk digunakan kemudian hari. 
  • Membekukan embrio. Pada cara ini, sel telur diangkat dan dibuahi dengan sel sperma di laboratorium untuk memproduksi embrio yang kemudian dibekukan.

Di kemudian hari, wanita bisa hamil dengan sel telur atau embrio yang sudah dibekukan ini melalui prosedur bayi tabung. Pembekuan sel telur dan embrio memakan waktu sekitar 2 minggu. Wanita perlu mendapatkan suntikan hormon setiap hari untuk menstimulasi ovarium memproduksi sel telur. Kemudian, menjalani prosedur pengambilan sel telur untuk dibekukan atau dibuahi terlebih dulu sebelum dibekukan.

Untuk menjaga kesuburan anak perempuan yang belum melalui masa pubertas, dapat dilakukan pembekuan jaringan ovarium. Dokter akan mengangkat sebagian atau seluruh ovarium dan membekukannya. Di kemudian hari, ovarium ini dapat dicairkan dan ditanam kembali saat individu sudah siap untuk hamil.

Bisakah kanker ovarium dicegah?

Risiko kanker ovarium dapat dikurangi melalui cara-cara berikut:

  • Pada wanita yang berisiko tinggi, yakni yang mengalami mutasi gen BRCA1 atau BRCA2, dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan ultrasonografi transvaginal dan CA 125 secara berkala.
  • Mengonsumsi pil KB kombinasi, yakni yang mengandung estrogen dan progestin. Semakin lama durasi penggunaannya, semakin besar risiko dapat dikurangi. Studi menemukan bahwa risiko kanker ovarium berkurang sebesar 20 persen pada wanita yang menggunakan pil ini selama 5 tahun. Meski aman bagi sebagian besar wanita, penggunaan pil KB kombinasi sedikit meningkatkan risiko terjadinya trombosis vena dalam, serangan jantung, dan stroke. 
  • Saat ini, beredar teori bahwa kanker ovarium bermula di tuba falopi. Oleh sebab itu pengangkatan tuba falopi (salpingektomi) disarankan apabila wanita telah memilih untuk menjalani pengangkatan uterus atau metode kontrasepsi permanen melalui sterilisasi. Pada prosedur ini, ovarium tidak ikut diangkat.
  • Menjalani salpingo-ooforektomi, atau pengangkatan tuba falopi dan ovarium pada wanita yang tidak memiliki kanker. Prosedur ini dianjurkan pada wanita dengan mutasi gen BRCA1 dan BRCA2, telah berusia 40 tahun atau sudah tidak ingin memiliki keturunan. Cara ini juga dianjurkan untuk wanita dengan sindrom Lynch.

Statistik menunjukkan bahwa hanya 15 persen kasus kanker ovarium yang terdeteksi dini. Karenanya, bila mengalami gejala-gejala yang mengarah pada kanker ini, jangan menunda untuk memeriksakan diri ke dokter. Semakin lama dibiarkan, kanker akan semakin menyebar dan dapat memengaruhi kesuburan.

cheer

Jadwalkan Konsultasi

Jika Anda belum juga hamil setelah berupaya selama dua belas bulan atau lebih (atau enam bulan jika usia perempuan di atas 35 tahun), kami menyarankan Anda untuk melakukan penilaian kesuburan dengan spesialis fertilitas kami.

Jadwalkan konsultasi dengan menghubungi kami di (021) 50200800 atau dengan mengisi formulir melalui tombol dibawah.

  1. Patient education: ovarian cancer (the basics). In: UpToDate, Post, TW (Ed), UpToDate, Waltham, MA, 2022.
  2. Carlson KJ. Patient education: ovarian cancer screening (beyond the basics). In: UpToDate, Post, TW (Ed), UpToDate, Waltham, MA, 2022.
  3. Chen L, Berek JS. Patient education: ovarian cancer diagnosis and staging (beyond the basics). In: UpToDate, Post, TW (Ed), UpToDate, Waltham, MA, 2021.
  4. Arora T, Mullangi S, Lekkala MR. Ovarian Cancer. [Updated 2022 Jan 4]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2022 Jan-. 
  5. Mayo Clinic. (31 Aug 2021). Ovarian Cancer. 
  6. American College of Obstetricians and Gynecologists. (Jul 2020). Ovarian cancer. FAQ096. 
  7. American Cancer Society. Ovarian cancer.
  8. Cancer Research UK. (25 Nov 2021). Ovarian cancer.
Share:

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Reservasi