Penetasan Cangkang Embrio Pada Program Bayi Tabung

Embrio Juga Perlu Ditetaskan

Program bayi tabung merupakan satu dari sejumlah inovasi paling spektakuler dalam khazanah program kehamilan berbantu. Kian banyak pasutri yang berhasil menggapai impan indah mereka, yakni menjadi ayah dan bunda, berkat kegigihan mereka mengikuti program bayi tabung. Hingga kini sudah berjuta-juta bayi yang dilahirkan lewat metode ini, sejak bayi tabung pertama lahir ke muka bumi sekitar empat puluh tahun lalu.

Teknologi bayi tabung juga disusul dengan penemuan tentang kesulitan sekaligus pemecahan untuk mengatasinya. Salah satu masalah yang bisa dihadapi calon bunda adalah ketika embrio mengalami kesulitan untuk tertanam di rahimnya. Ini memang bisa merisaukan; sel telur dan sperma sudah berkembang menjadi embrio, namun si bakal bayi seolah enggan untuk mendiami ‘rumah baru’-nya. Persoalan ini diatasi dengan prosedur penetasan cangkang embrio.

Penetasan Cangkang Embrio

Setelah sel telur dijodohkan dengan sperma di cawan laboratorium, mereka akan bersatu dan tumbuh menjadi embrio. Embrio itu lantas akan ditanam dokter di rahim calon bunda. Setiap embrio sesungguhnya memiliki cangkang sebagai pelindung. Sayangnya, pada embrio tertentu dijumpai adanya pengerasan pada bagian cangkang yang disebut zona pellucida. Pengerasan pada cangkang embrio berisiko mempersulit proses menempelnya embrio tadi, dan itu merupakan kendala bagi kehamilan.

Saat menjumpai kondisi sedemikian rupa, dokter akan berupaya melembutkan cangkang embrio tersebut. Dulu, cara yang digunakan untuk tujuan itu adalah menggunakan zat-zat kimia tertentu. Ada pula prosedur penetasan dengan pengeboran mekanis pada cangkang embrio. Baru kemudian berkembang teknologi yang lebih andal, yakni memakai laser, untuk menetaskan cangkang embrio yang mengalami penebalan. Teknologi modern inilah, diistilah laser-assisted hatching (LAH), yang diterapkan di Bocah Indonesia. LAH dapat dikenakan baik pada embrio beku maupun embrio segar. Dengan cara yang lebih canggih ini, sentuhan instrumen dengan embrio dapat diminimalkan bahkan ditiadakan. Cara ini lebih efisien, lebih tepat sasaran, bebas zat kimia, dan lebih aman.

Tentu saja, LAH bukan menjadi satu-satunya penentu keberhasilan program bayi tabung. Keberhasilan kehamilan melalui program bayi tabung ditentukan oleh banyak faktor. Namun riset menyimpulkan, LAH merupakan salah satu prosedur penting yang dapat dokter lakukan untuk meningkatkan peluang kehamilan lewat program bayi tabung.

Perkembangan Embrio
Designed by macrovector / Freepik

Metode Laser-assisted Hatching (LAH)

Salah satu riset tentang kemanfaatan LAH dilakukan oleh Yao-Yuan Hsieh, Researcher, Department of Obstetrics and Gynecology, China Medical College Hospital, Taiwan. Bersama koleganya, Hsieh menemukan, penetasan embrio dengan menggunakan laser lebih efektif daripada penetasan dengan memakai zat kimia. Efektivitas itu tampak pada tiga parameter, yakni meningginya peluang tertanamnya (implantasi) embrio di rahim, peluang kehamilan, dan tingkat kelahiran bayi dalam keadaan hidup. Dari penelitian Hsieh bisa dipahami, LAH tidak sebatas berdampak positif bagi kehamilan, tapi juga menurunkan risiko calon bunda mengalami keguguran. Dengan kata lain, tidak hanya kehamilannya yang berjalan sesuai harapan, bayi pun lahir dengan selamat.

LAH berefek positif bagi wanita hamil berusia di bawah tiga puluh lima tahun. LAH juga terbukti ampuh untuk mendukung program IVF pada calon bunda berusia di atas itu. Demikian simpul Alireza Ghannadi, Faculty of Nursing and Midwifery, Islamic Azad University, Larestan, Iran. Begitu nyatanya manfaat LAH, sehingga ilmuwan semisal Katalin Kanyo dari St. John University, Budapest, bahkan menyatakan LAH patut dijadikan sebagai prosedur rutin sebelum dilakukannya transfer embrio pada wanita yang sudah berusia cukup lanjut.

Baca Juga : Peluang Kesuksesan Bayi Tabung Melalui Prosedur LAH

Kapan penetasan cangkang embrio dengan teknologi laser sebaiknya dilakukan?

Secara mendasar, dokter akan mencermati kondisi masing-masing embrio. Hasil cermatan itulah yang akan melandasi dokter untuk memutuskan waktu yang paling baik bagi dilakukannya prosedur LAH. Sebagai gambaran, studi Cai-Yun Wan, Researcher, Sun Yat-Sen University, Guangzhou, merekomendasikan bahwa LAH memberikan efek paling positif jika diselenggarakan pada hari keenam embrio berada pada fase blastocysts.

Tembak!

Untuk melakukan prosedur penetasan embrio dengan menggunakan laser, Ayah Bunda sebetulnya cukup membayangkan cara membuat telur ceplok. Dimulai dari memilih telur yang terbaik. Lalu menumpahkan isinya ke wajan. Tapi, agar kuning telur dan putih telur dapat dituang ke wajan, Ayah Bunda akan mengetuk-ngetuk cangkang telur itu terlebih dahulu. Dari retakan atau pecahan kecil di cangkang itulah isi telur akan mengalir keluar. Sederhana, bukan?

Nah, mekanisme LAH mirip seperti itu. Bayangkan embrio itu yang kini akan ditanam ke rahim. Embrio ditempatkan sedemikian rupa di bawah mikroskop. Bagian cangkang yang mengeras lalu “diketuk-ketuk”, yaitu diposisikan tepat di arah tembakan laser. Laser kemudian dinyalakan dan ditembakkan untuk membuat retakan atau lubang kecil di bagian tersebut. Pada sisi di lubang kecil itulah terdapat titik menempelnya embrio ke rahim.

Di atas memang tertulis “ketuk-ketuk”, “tembak”, “penetasan”, “pecahan”, “lubang”. Kata-kata itu mungkin bikin ngilu, ya. Tapi jangan khawatir. Peralatan laser yang digunakan Bocah Indonesia tidak berukuran kecil, tapi amat sangat kecil sekali. Satuannya bukan centimeter bahkan bukan pula milimeter, melainkan mikrometer (um). Satu mikrometer, sebagai misal, setara dengan 0.0001 centimeter. Ukuran itu sangat sulit bahkan tidak bisa ditangkap mata telanjang.

bayi tabung kembar

Peluang Bayi Kembar dengan Prosedur LAH

Ada penelitian yang menemukan bahwa LAH dapat mengakibatkan kehamilan bayi kembar. Bahkan kembar identik, yaitu sepasang bayi yang berasal dari satu sperma dan satu sel telur. Pada dasarnya, kemungkinan terjadinya bayi kembar juga terdapat pada program-program kehamilan berbantu lainnya. Aniket D. Kulkarni, Epidemiologist, Center for Disease Control, misalnya, memperhitungkan bahwa pada akhir tahun 2011 di Amerika Serikat saja terdapat 36 persen bayi kembar dua dan 77 bayi kembar tiga atau lebih dari total kehamilan lewat program pengobatan kesuburan. Para pasutri yang menjalani kehamilan dengan cara alami pun bisa saja memiliki putra-putri kembar.

Kemungkinan bayi kembar pasca embrio dikenakan LAH terhitung rendah, yakni hanya satu persen dari keseluruhan LAH. Begitu temuan Laura A. Schieve, Ph.D., Division of Reproductive Health, National Center for Chronic Disease Prevention and Health Promotion, Centers for Disease Control and Prevention, Atlanta, Georgia. Jadi, walau kemungkinan pasutri mendapatkan bayi kembar pasca mengikuti program bayi tabung (termasuk menjalani penetasan cangkang embrio dengan menggunakan laser) selalu ada, dokter Bocah Indonesia akan terus memaksimalkan upaya mendukung pasutri agar dapat menempuh masa kehamilan hingga persalinan dengan senyaman mungkin.

Baca Juga : Berkah Program Bayi Tabung di Bulan Ramadhan

Referensi:

Ghannadi A, Kazerooni M, Jamalzadeh F, Amiri S, Rostami P, Absalan F. The effects of laser assisted hatching on pregnancy rates. Iran J Reprod Med. 2011 Spring;9(2):95-8. PMID: 25587254; PMCID: PMC4216442.

Kanyo K, Zeke J, Kriston R, Szücs Z, Cseh S, Somoskoi B, Konc J. The impact of laser-assisted hatching on the outcome of frozen human embryo transfer cycles. Zygote. 2016 Oct;24(5):742-7. doi: 10.1017/S0967199416000058. Epub 2016 Mar 9. PMID: 26957232.

Wan CY, Song C, Diao LH, Li GG, Bao ZJ, Hu XD, Zhang HZ, Zeng Y. Laser-assisted hatching improves clinical outcomes of vitrified-warmed blastocysts developed from low-grade cleavage-stage embryos: a prospective randomized study. Reprod Biomed Online. 2014 May;28(5):582-9. doi: 10.1016/j.rbmo.2014.01.006. Epub 2014 Jan 27. PMID: 24631166.

Hsieh, Y-Y., Huang, C-C., Cheng, T-C, Chang, C-C., Tsai, H-D., Lee, M-S. Laser-assisted hatching of embryo is better than the chemical method for enhancing the pregnancy rate in women with advanced age. Techniques and Instrumentation. 2002 July; 78(1): 179-182. DOI: Source

Laura A. Schieve, Ph.D., Susan F. Meikle, M.D.,a Herbert B. Peterson, M.D., Gary Jeng, Ph.D., Nancy M. Burnett, B.S., and Lynne S. Wilcox, M.D. Does assisted hatching pose a risk for monozygotic twinning in pregnancies conceived through in vitro fertilization? Fertility and Sterility. 2000 August: 74(2): 288-294.

Kulkarni AD, Jamieson DJ, Jones HW Jr, Kissin DM, Gallo MF, Macaluso M, Adashi EY. Fertility treatments and multiple births in the United States. N Engl J Med. 2013 Dec 5;369(23):2218-25. doi: 10.1056/NEJMoa1301467. PMID: 24304051.

Mantoudis, E., Podsiadly, B.T., Gorgy, A., Venkat, G., Craft, I.L. A comparison between quarter, partial and total laser assisted hatching in selected infertility patients. Human Reproduction. 2001 October, 16(1): 2182–2186. DOI: Source

Share:
  • 176
    Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

doctors
Reservasi