Penanganan Azoospermia dan Oligospermia, Kelainan Sperma pada Pria

Penanganan Azoospermia dan Oligospermia, Kelainan Sperma pada Pria

Azoospermia dan oligospermia merupakan salah satu penyebab gangguan kesuburan yang bisa membuat pasangan suami istri sulit mendapatkan kehamilan.

Tahukah Ayah tentang azoospermia dan oligospermia? Keduanya merupakan kelainan sperma yang bisa dialami pria.

Azoospermia adalah kondisi ketika tidak adanya sperma yang terkandung dalam air mani saat pria melakukan ejakulasi. Azoospermia bisa terjadi karena adanya kelainan genetik, gangguan hormon, atau penyumbatan pada saluran testis.

Jumlah sperma yang normal pada seorang pria minimal 15 juta sel per milimeter air mani. Jika jumlahnya di bawah angka tersebut maka jumlah sperma dikatakan rendah.

Sedangkan oligospermia adalah kondisi ketika jumlah sperma yang terkandung dalam air mani kurang dari 15 juta per milimeter.

Tanya Ferly tentang Promil?

New CTA WA

Meski sama-sama kelainan sperma yang terjadi pada pria namun keduanya merupakan kondisi yang berbeda. Jika oligospermia masih mengandung sperma namun dalam jumlah yang sedikit sedangkan azoospermia tidak ada sel sperma sama sekali yang terkandung pada air mani.

Baca juga: 5 Kelainan Sperma pada Pria yang Dapat Memengaruhi Kesuburan

Penyebab Azoospermia

Penyebab azoospermia terbagi menjadi dua jenis, yaitu azoospermia obstruktif dan azoospermia non-obstruktif.

Azoospermia obstruktif

Kondisi ini terjadi akibat adanya penyumbatan pada saluran organ reproduksi pria, seperti saluran sperma (vas deferens) atau epididimis. Beberapa kondisi yang bisa menyebabkan terjadinya penyumbatan, yaitu:

  • Infeksi atau peradangan
  • Cedera
  • Riwayat operasi pada bagian panggul
  • Prosedur vasektomi
  • Cystic fibrosis. Kondisi ini mana adanya penyumbatan yang disebabkan lendir dari vas deferens.
  • Ejakulasi retrograde. Kondisi dimana air mani yang seharusnya keluar dari penis justru masuk ke saluran kemih.

Azoospermia non-obstruktif

Azoospermia ini disebabkan akibat adanya gangguan hormon atau kelainan genetik sehingga tidak dapat menghasilkan sperma sama sekali. Gangguan hormon yang mungkin dialami, seperti hipogonadisme atau hiperprolaktinemia. Sedangkan kelainan genetik atau kromosom, seperti sindrom Klinefelter, sindrom Kallmann, dan Y-chromosomal microdeletions.

Selain gangguan hormon dan kelainan genetik, fungsi testis yang terganggu juga bisa menyebabkan beberapa kondisi, seperti:

  • Torsio testis
  • Testis gagal memproduksi sperma
  • Adanya peradangan pada testis (orchitis)
  • Tumor atau kanker testis
  • Varikokel
  • Efek samping obat-obatan

Cara Menangani Azoospermia

Menurut dr. Androniko Setiawan, Sp.And, dokter spesialis andrologi Bocah Indonesia, menyebutkan jika sebelum mencari metode pengobatan untuk penderita azoospermia maka perlu mencari tahu penyebabnya terlebih dahulu.

“Ketika seorang pria mendapat kasus azoospermia, jangan langsung bersedih hati dan sebagainya. Jadi, yang pertama dipikir yaitu didiagnostik dulu, dicari sebabnya kenapa. Jadi, bukan langsung mikir terapi. Paling simple dibagi dua, satunya obstruktif yang di mana jalannya buntu dan satunya non-obstruktif yaitu gangguan pada produksi spermanya. Jadi tentukan dulu di mana penyebabnya. Setelah itu baru kita tentuin terapinya,” ujar dr. Androniko.

dr. Androniko juga menyebutkan jika penanganan azoospermia akan dilakukan terapi terlebih dahulu namun bukan tidak mungkin jika tindakan invasif akan diperlukan.

“Jadi, selama kita sudah mendiagnosis, terapi biasanya 3-6 bulan tapi tergantung juga sesuai usia Ayah dan Bunda juga untuk mengejar targetnya. Biasanya kita melakukan tindakan yang lebih invasif jika diperlukan, yaitu sperm retrieval technique. Prinsipnya adalah langsung mengambil sperma dari gudangnya atau dari pabriknya,” ujar dr. Androniko.

Baca juga: Teratozoospermia, Kenali Penyebab dan Cara Mengatasinya 

Cara Mengatasi Oligospermia

Sama seperti azoospermia, penanganan oligospermia juga disesuaikan penyebab yang mendasarinya. Beberapa cara penanganan oligospermia yang perlu Ayah ketahui, seperti:

Jika oligospermia disebabkan akibat adanya infeksi pada organ reproduksi maka dokter akan meresepkan antibiotik untuk mengatasi infeksi tersebut. Namun, antibiotik ini tidak dapat meningkatkan kesuburan jika kerusakannya disebabkan infeksi yang sudah permanen.

Oligospermia yang disebabkan akibat adanya disfungsi seksual atau ejakulasi dini maka harus dilakukan pengobatan, konseling, maupun kombinasi keduanya.

Selain itu, terapi hormon juga mungkin dilakukan jika oligospermia disebabkan akibat adanya ketidakseimbangan kadar hormon.

Jika oligospermia disebabkan akibat varikokel atau saluran yang dilewati sperma buntu maka akan dilakukan tindakan invasif.

Itu dia Ayah penjelasan terkait cara penanganan azoospermia dan oligospermia. Meski begitu, Ayah tetap perlu melakukan konsultasi dan pemeriksaan terlebih dahulu untuk mendapat penanganan yang tepat. Yuk, segera periksakan diri ke klinik fertilitas terdekat!

Artikel ini ditinjau secara medis oleh dr. Chitra Fatimah

cheer

Jadwalkan Konsultasi

Jika Anda belum hamil setelah satu tahun usia pernikahan, kami menyarankan Anda untuk melakukan pemeriksaan kesuburan dengan spesialis fertilitas kami.

Buat janji konsultasi dengan menghubungi kami di (021) 50200800 atau chat melalui Whatsapp melalui tombol di bawah.

Referensi
  • Cioppi, F., et al. (2021). Genetics of Azoospermia. Int J Mol Sci. 2021 Mar; 22(6): 3264. 
  • Chiu, YH., et al. (2017). What Does a Single Semen Sample Tell You? Implications for Male Factor Infertility Research. Am J Epidemiol. 2017 Oct 15; 186(8): 918–926. 
  • Kumar, N., Singh, AK. (2015). Trends of male factor infertility, an important cause of infertility: A review of literature. J Hum Reprod Sci. 2015 Oct-Dec; 8(4): 191–196.
Avatar photo
Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

doctors
Buat Janji