Obat Antidepresan, Betulkah Pengaruhi Kesuburan?

Katanya, obat antidepresan bisa semakin memperburuk infertilitas atau gangguan kesuburan yang dialami. Simak fakta selengkapnya di sini.

Masalah pada kesehatan mental dapat membuat pasangan sulit hamil. Gangguan seperti depresi atau kecemasan, diketahui dapat meningkatkan risiko infertilitas secara bermakna. Bagi banyak orang, obat antidepresan dan anticemas merupakan cara yang baik untuk memperbaiki kesehatan mental mereka. 

Namun, meski ada banyak faktor untuk memutuskan apakah seseorang perlu obat-obatan tersebut, ada lebih banyak lagi hal yang perlu dipertimbangkan ketika pasangan mencoba untuk hamil atau menjalani program hamil.

Apa itu obat antidepresan?

Antidepresan merupakan obat yang digunakan untuk mengatasi depresi dan gangguan suasana hati lainnya, seperti kecemasan, gangguan obsesif-kompulsif, dan fobia. Obat-obat ini bekerja dengan meningkatkan kadar zat kimia otak tertentu (neurotransmiter), yang berperan dalam mengatur suasana hati dan emosi.

Dalam sejumlah uji klinis, antidepresan diketahui lebih efektif ketimbang plasebo dalam mengatasi depresi pada orang dewasa. Sebuah tinjauan di tahun 2020 menunjukkan bahwa efektivitas bergantung pada tingkat keparahan depresi; semakin berat depresi, maka semakin besar manfaatnya.

Obat antidepresi tidak bekerja secara instan. Butuh waktu sekitar beberapa minggu hingga manfaatnya terasa. Ketika sudah bekerja, obat-obatan ini dapat sangat memperbaiki kualitas hidup, khususnya dalam hal kualitas tidur, produktivitas, fokus dan pembelajaran, dan hubungan sosial.

Secara umum, obat antidepresi tergolong aman. Efek samping yang umum dirasakan, mencakup mual, berat badan bertambah, rasa lelah, mulut kering, hingga disfungsi seksual.

Jenis-jenis obat antidepresan

Ada beberapa kelas antidepresan, yakni:

  • Selective serotonin reuptake inhibitors (SSRI), contohnya fluoxetine, escitalopram, sertraline, dan paroxetine.
  • Serotonin and norepinephrine reuptake inhibitors (SNRI), contohnya duloxetine, venlafaxine.
  • Antidepresan atipikal, seperti bupropion dan mirtazapine.

Masing-masing obat ini memiliki target neurotransmiter yang berbeda—seperti serotonin, dopamin, dan norepinefrin. Namun hasil akhirnya sama, yakni suasana hati yang lebih positif dan seimbang.

Di antara berbagai jenis obat-obatan ini, obat dari golongan SSRI adalah yang tersering diresepkan untuk depresi. Dokter pun kerap mengombinasikan penggunaannya dengan obat anticemas golongan benzodiazepine seperti alprazolam, diazepam, dan lorazepam. Oleh sebab itu, kedua golongan obat ini (SSRI dan benzodiazepine) juga paling banyak diteliti hubungannya dengan reproduksi dan kesuburan.

jenis obat antidepresan

Obat antidepresan dan kesuburan wanita

Oleh karena belum ada studi yang betul-betul memenuhi syarat, efek obat antidepresan terhadap kesuburan wanita belum terkonfirmasi benar. Akan tetapi, beberapa studi yang lebih kecil telah memberikan pencerahan soal ini. 

Di tahun 2019, para dokter dari University of Pittsburgh Medical Center meninjau 20 studi dan mempublikasikan kajiannya dalam jurnal Harvard Review of Psychiatry. Beberapa hasil analisisnya, yakni:

  • Prevalensi penggunaan antidepresan berkisar antara 3,5-10 persen pada wanita usia reproduksi. Prevalensi penggunannya lebih sedikit pada populasi dengan infertilitas.
  • Dua studi yang memeriksa efek SSRI pada wanita usia subur menunjukkan hasil yang berlawanan.
  • Enam dari tujuh studi pada pasien infertil tidak menemukan hubungan bermakna antara SSRI dengan angka kesuksesan program bayi tabung. 
  • Tiga studi menunjukkan kecenderungan turunnya peluang hamil saat menggunakan SSRI dan bahwa obat-obatan ini berefek negatif pada parameter-parameter kesuburan.
  • Satu studi menemukan angka kehamilan yang meningkat pada pengguna SSRI.

Beberapa studi menemukan bahwa SSRI meningkatkan kadar hormon prolaktin. Secara teori, kadar hormon prolaktin yang sangat tinggi akan menekan ovulasi sehingga peluang untuk hamil berkurang. Meski demikian, kadar prolaktin pada studi-studi tersebut belum mencapai kadar yang cukup tinggi untuk memengaruhi ovulasi.

Dari sini bisa disimpulkan bahwa belum ada bukti ilmiah yang cukup kuat untuk mengatakan bahwa obat-obat antidepresan ini (dan anticemas) memengaruhi fungsi ovarium atau peluang hamil secara langsung dan bermakna. Meski demikian, obat-obatan ini dapat memengaruhi peluang hamil secara tidak langsung, yaitu dengan menurunkan libido atau gairah seksual wanita. Dalam konteks kehamilan alami, peluang hamil lebih rendah bila frekuensi hubungan intim kurang dari 2-3 kali per minggu.

Obat antidepresan dan kesuburan pria

Pada pria, efek antidepresan terhadap kesuburan tampaknya lebih nyata ketimbang pada wanita. Ada bukti bahwa penggunaan SSRI berhubungan dengan hitung sperma yang lebih rendah, gerak sperma yang lebih lambat, dan fragmentasi (kerusakan) DNA sperma yang lebih tinggi. Studi juga menemukan efek negatif antidepresan terhadap hormon-hormon kesuburan pria, seperti hormon testosteron, luteinizing hormone, dan follicle-stimulating hormone) dan keseimbangan radikal bebas di dalam testis. Akan tetapi, efek-efek ini bersifat sementara dan kesehatan sperma bisa pulih dengan penghentian konsumsi obat antidepresan.

Secara mendetil, berikut efek antidepresan terhadap kesuburan pria:

Efek antidepresan terhadap hitung sperma

Sebuah tinjauan ilmiah di tahun 2019 menemukan bahwa semua jenis SSRI berdampak negatif pada hitung sperma (jumlah total sperma di dalam sampel cairan sperma) dan konsentrasinya (jumlah sperma per mL cairan sperma). Studi pendahulunya di tahun 2015 juga menemukan hal yang sama, bahwa SSRI berhubungan dengan penurunan konsentrasi sel sperma.

Efek antidepresan terhadap motilitas sperma

Motilitas sperma merujuk kepada kemampuan sel sperma untuk bergerak atau berenang menuju sel telur. Studi di tahun 2015 dan 2019 menemukan bahwa SSRI berhubungan dengan berkurangnya motilitas sperma. Meski demikian, ada antidepresan yang tidak berefek pada motilitas sperma. Studi terkini di tahun 2021 pada 68 pria sehat berusia 18-65 tahun menemukan bahwa konsumsi obat antidepresan duloxetine 60mg (dari golongan SNRI) tidak memiliki efek yang bermakna pada fragmentasi DNA, kualitas sperma, maupun kadar hormon pria. 

Efek antidepresan terhadap fragmentasi/kerusakan DNA sperma

Fragmentasi DNA merupakan patahnya atau terpisahnya salah satu atau kedua rantai DNA di dalam sperma. Ini dapat memengaruhi kemampuan sperma untuk membuahi sel telur, serta memengaruhi kualitas embrio yang terbentuk bila sel telur berhasil dibuahi. Menurut studi di tahun 2010, pasien yang mengonsumsi SSRI paroxetine mengalami peningkatan fragmentasi DNA. Sebelum mengonsumsi obat ini, derajat fragmentasi adalah 13,8 persen. Setelah 4 minggu diterapi, derajat fragmentasi meningkat hingga 30,3 persen, lebih dari dua kali lipatnya. 

Antidepresan, turunnya libido, dan disfungsi ereksi

Beberapa antidepresan—khususnya SSRI dan SNRI—memiliki efek samping yang umum dialami, seperti turunnya libido, orgasme dan ejakulasi yang tertunda, serta disfungsi ereksi. Para peneliti berpendapat bahwa ini terjadi karena peningkatan kadar serotonin di otak—neurotransmiter yang mengatur mood atau suasana hati—dapat memengaruhi kadar zat kimia dan hormon lain, sehingga secara tidak langsung menurunkan libido dan fungsi seksual. 

Bagaimana dengan obat anticemas? Apakah juga memengaruhi kesuburan pria? Sama seperti pada wanita, belum ada bukti bahwa obat-obat anticemas, seperti dari golongan benzodiazepine, memengaruhi kualitas sperma atau hormon pria. Akan tetapi, obat-obatan ini dapat menurunkan gairah dan fungsi seksual pria.

efek obat antidepresan pada kesuburan pria

Kalau sedang promil, apakah perlu berhenti menggunakan obat antidepresan?

Ketika sedang mencoba untuk hamil atau sedang dalam kondisi hamil, penting untuk betul-betul mempertimbangkan potensi risiko dan manfaat dari melanjutkan atau menghentikan penggunaan obat antidepresan. Fakta berkata demikian:

  • Sebuah studi di Swedia menemukan bahwa penggunaan antidepresan pada wanita sebelum memulai siklus bayi tabung sedikit mengurangi peluang hamil dan kelahiran hidup ketimbang yang tidak memakainya. Namun ternyata, peluang hamil jauh lebih berkurang pada wanita dengan depresi dan/atau gangguan cemas yang sama sekali tidak diobati.
  • Hasil yang sama juga ditemukan pada pria. Ada bukti bahwa stres atau gangguan cemas kronis berhubungan dengan menurunnya produksi sperma, menurunnya motilitas sperma, dan meningkatnya fragmentasi DNA sperma.

Oleh sebab itu, keputusan untuk berhenti menggunakan obat antidepresan betul-betul harus didiskusikan dengan dokter yang meresepkannya. Dokter akan mempertimbangkan jenis dan dosis obat antidepresan yang dikonsumsi, riwayat kesuburan sebelumnya, dan tingkat keparahan depresi yang dialami. Bila memang antidepresan bermanfaat dan membuat kualitas hidup dan kondisi fisik jauh lebih baik, sebaiknya tetap dilanjutkan. Apalagi, saat pasangan sedang memikirkan untuk memiliki keturunan. Adalah fakta bahwa kondisi stres atau depresi itu sendiri tidak mendukung kesuburan dan tumbuh kembang janin.

Ada baiknya juga untuk melakukan evaluasi kesuburan, baik pria maupun wanita, sebelum berpikir untuk menghentikan penggunaan obat antidepresan. Pria bisa memulai dengan melaukan analisis sperma dan wanita dengan melakukan USG kandungan/transvaginal atau pengecekan kadar hormon penanda kesuburan (AMH/FSH). Pemeriksaan-pemeriksaan ini dapat memberi petunjuk apakah obat antidepresan betul menyebabkan gangguan kesuburan.

Seringkali, dokter tidak perlu menghentikan penggunaan obat antidepresan sepenuhnya, hanya perlu untuk mengurangi dosisnya.

Jangan lupa konsultasikan masalah depresi Anda dengan ahlinya!

Untuk mendapatkan penanganan depresi yang tepat, seseorang dapat berkonsultasi dengan psikolog (Psi) atau psikiater (dokter ahli kesehatan jiwa/SpKJ). Idealnya, proses ini dilakukan sejak merencanakan kehamilan. Bila depresi bersifat ringan, dokter atau psikolog mungkin menyarankan untuk berhenti minum obat dan menggantinya dengan perawatan seperti psikoterapi (konseling), yoga dan terapi meditasi lainnya, atau akupunktur. Terapi-terapi ini diketahui sama efektifnya dengan obat antidepresan dalam kasus depresi ringan.

Penutup

Pada dasarnya, hubungan antara antidepresan dengan penurunan kesuburan harus dilihat secara hati-hati karena depresi itu sendiri dapat menjadi faktor penyebabnya. Individu dengan depresi cenderung merokok lebih banyak, obes atau sebaliknya gizi buruk, libido menurun, dan memiliki kadar hormon stres (kortisol) yang lebih tinggi, yang mana akan mengganggu proses reproduksi.

Studi menunjukkan bahwa di level populasi, belum ditemukan bukti yang kuat bahwa penggunaan obat antidepresan maupun anticemas menurunkan kemampuan seseorang untuk bisa hamil. Memang sebisa mungkin, penggunannya dihentikan sebelum mulai hamil. Namun pada akhirnya, seseorang harus mempertimbangkan risiko pengobatan terhadap risiko penyakit yang tidak diobati. Biasanya, risiko pengobatan tidak lebih besar daripada gangguan jiwa yang tidak diobati.

cheer

Jika Anda membutuhkan penanganan mengenai kesehatan mental, kami menyediakan layanan konsultasi psikolog untuk Anda. Silakan isi formulir di bawah ini. Tim kami akan menghubungi Anda.

Memiliki gangguan kesehatan mental dapat menjadi salah satu faktor menurunnya peluang kehamilan. Jika Anda mengalami gangguan kecemasan dan membutuhkan penanganan, segera lakukan konsultasi psikolog!

  1. Beeder LA, Samplaski MK. Effect of antidepressant medications on semen parameters and male fertility. International Journal of Urology. 2020 Jan;27(1):39-46.
  2. Casilla-Lennon MM, Meltzer-Brody S, Steiner AZ. The effect of antidepressants on fertility. American journal of obstetrics and gynecology. 2016 Sep 1;215(3):314-e1.
  3. Cesta CE, Viktorin A, Olsson H, Johansson V, Sjölander A, Bergh C, Skalkidou A, Nygren KG, Cnattingius S, Iliadou AN. Depression, anxiety, and antidepressant treatment in women: association with in vitro fertilization outcome. Fertility and sterility. 2016 Jun 1;105(6):1594-602.
  4. Evans-Hoeker EA, Eisenberg E, Diamond MP, Legro RS, Alvero R, Coutifaris C, Casson PR, Christman GM, Hansen KR, Zhang H, Santoro N. Major depression, antidepressant use, and male and female fertility. Fertility and sterility. 2018 May 1;109(5):879-87.
  5. Klock SC, Sheinin S, Kazer R, Zhang X. A pilot study of the relationship between selective serotonin reuptake inhibitors and in vitro fertilization outcome. Fertility and sterility. 2004 Oct 1;82(4):968-9.
  6. Montejo AL, Prieto N, de Alarcón R, Casado-Espada N, de la Iglesia J, Montejo L. Management strategies for antidepressant-related sexual dysfunction: A clinical approach. Journal of clinical medicine. 2019 Oct 7;8(10):1640.
  7. Punjani N, Kang C, Flannigan R, Bach P, Altemus M, Kocsis JH, Wu A, Pierce H, Schlegel PN. Impact of duloxetine on male fertility: A randomised controlled clinical trial. Andrologia. 2021 Nov;53(10):e14207.
  8. Reeves KW, Okereke OI, Qian J, Tworoger SS, Rice MS, Hankinson SE. Antidepressant use and circulating prolactin levels. Cancer Causes & Control. 2016 Jul;27(7):853-61.
  9. Riggin L, Koren G. Effects of selective serotonin reuptake inhibitors on sperm and male fertility. Canadian Family Physician. 2015 Jun 1;61(6):529-30.
  10. Sylvester C, Menke M, Gopalan P. Selective serotonin reuptake inhibitors and fertility: considerations for couples trying to conceive. Harvard Review of Psychiatry. 2019 Mar 1;27(2):108-18.
  11. Tanrikut C, Feldman AS, Altemus M, Paduch DA, Schlegel PN. Adverse effect of paroxetine on sperm. Fertility and sterility. 2010 Aug 1;94(3):1021-6.
  12. Viktorin A, Levine SZ, Altemus M, Reichenberg A, Sandin S. Paternal use of antidepressants and offspring outcomes in Sweden: nationwide prospective cohort study. bmj. 2018 Jun 8;361.
Share:
  • 176
    Shares

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

doctors
Reservasi