Miom, Tumor Jinak Penyebab Sulit Hamil

Penyebab Miom

Mioma atau biasa disingkat miom adalah pertumbuhan jinak yang berasal dari jaringan otot rahim. Ukuran, bentuk, dan lokasi mioma dapat sangat bervariasi. Mioma bisa berada di dalam, permukaan luar, atau di dalam dinding rahim, atau menempel ke rahim melalui struktur yang menyerupai tangkai atau batang. 

Kondisi ini paling banyak ditemukan pada wanita usia 30-40 tahun, namun sebetulnya bisa terjadi pada usia berapapun. Seorang wanita dapat memiliki satu atau lebih mioma dengan berbagai ukuran. Mioma dapat tetap berukuran kecil untuk waktu yang lama dan tiba-tiba membesar secara cepat ataupun tumbuh perlahan dalam waktu bertahun-tahun.

Miom rahim bukanlah kanker dan tidak akan menjadi kanker. Meski demikian, kadang-kadang sulit untuk menentukan apakah benjolan di dalam rahim itu miom atau kanker.

Baca Juga: Apa Perbedaan Miom dan Kista, Mana Yang Lebih Berbahaya?

Gambar Miom Rahim
Designed by brgfx / Freepik

Jenis-jenis miom rahim

Mioma digolongkan berdasarkan lokasi pertumbuhannya, yakni:

  • Mioma intramural, yang tumbuh di dalam dinding otot rahim.
  • Mioma submukosal, yang tumbuh persis di bawah dinding rahim dan dapat menonjol ke arah rongga rahim.
  • Mioma subserosal, yang tumbuh di permukaan luar rahim. Miom jenis ini dapat menyebabkan nyeri ketika semakin membesar atau menekan organ di sekitarnya.
  • Mioma bertangkai (pedunculated), merupakan miom submukosal atau subserosal yang bertangkai.

Penyebab Miom

Hingga kini, belum diketahui penyebab miom yang pasti. Namun, diketahui bahwa pertumbuhannya dipengaruhi oleh hormon estrogen dan progesteron. Beberapa faktor risiko yang diketahui memengaruhi kemunculan mioma, yakni:

  • Wanita dalam usia reproduksi.
  • Ras. Wanita kulit hitam keturunan Afro-Amerika lebih berisiko mengalami miom ketimbang ras lainnya. Pada kelompok ini, miom dialami pada usia yang lebih muda, dengan ukuran yang lebih besar, dan dengan gejala yang lebih berat.
  • Faktor genetik. Sebagian wanita memiliki gen-gen spesifik yang membuat dirinya, saudara kandung perempuan, atau keturunannya lebih berisiko mengalami miom.
  • Faktor lain seperti mengalami haid di usia yang relatif muda, obesitas, kekurangan vitamin D, pola makan yang kurang sehat seperti lebih banyak mengonsumsi daging, kurang sayuran hijau dan buah-buahan, serta kebiasaan mengonsumsi alkohol.

Gejala Miom

Gejala yang timbul akibat miom tergantung pada ukuran dan lokasinya. Ukuran miom sangat bervariasi, ada yang sangat kecil bahkan tak kasat mata (mikroskopik), ada pula yang sebesar jeruk bali atau lebih. Miom yang berukuran kecil umumnya tidak menyebabkan gejala apapun dan rata-rata ditemukan secara kebetulan saat pemeriksaan rutin atau pemeriksaan untuk masalah lain. Sedangkan miom yang besar dapat menimbulkan gejala yang mengganggu dan menghambat aktivitas sehari-hari.

Gejala miom dapat berupa:

  • Perubahan pola haid. Haid dapat lebih lama, lebih sering, atau perdarahannya lebih hebat. Wanita dengan perdarahan hebat saat haid berisiko mengalami anemia. 
  • Nyeri atau kram perut saat haid
  • Tekanan dan nyeri di area perut atau punggung bawah. Sensasi tekanan atau rasa penuh di dalam perut mirip seperti ketika sedang hamil. Sedangkan nyeri umumnya bersifat tumpul, berat dan konstan, tetapi bisa juga tajam seperti ditusuk-tusuk.
  • Nyeri saat berhubungan intim.
  • Sering atau sebaliknya sulit buang air kecil apabila miom menekan kandung kemih.
  • Konstipasi apabila mioma menekan rektum.
  • Gangguan kesuburan dan sulit hamil. Sebetulnya, sebagian besar wanita dengan miom bisa hamil tanpa masalah. Namun, miom submukosal, yang mengganggu bagian dalam rahim, dapat menyulitkan kehamilan. Miom yang berada di bagian luar rahim baisanya tidak mengganggu atau hanya sedikit berefek pada kesuburan.

Gejala miom cenderung membaik ketika seorang wanita sudah tidak lagi haid, yakni pada waktu menopause.

Diagnosis

Diagnosis miom dilakukan melalui wawancara mendalam dan pemeriksaan fisik terlebih dulu. Dokter akan menanyakan riwayat dan pola haid secara mendetail beserta dengan gejala-gejala lainnya yang mungkin ada. Untuk mengonfirmasi ada tidaknya mioma, dapat dilakukan pemeriksaan-pemeriksaan berikut:

  • Ultrasonografi (USG) kandungan.
  • Histeroskopi untuk melihat bagian dalam rahim.
  • Histerosalpingografi untuk melihat perubahan abnormal pada ukuran dan bentuk rahim serta tuba falopii (saluran telur).
  • Sonohisterografi di mana dimasukkan sejumlah cairan dimasukkan ke dalam rahim lalu dilihat melaui USG. Pemeriksaan ini dapat memberikan gambaran dinding rahim dengan jelas.
  • Laparoskopi untuk melihat bagian dalam perut melalui teropong khusus.
  • Pemeriksaan radiologi lain seperti magnetic resonance imaging (MRI) dan CT scan bila diperlukan.

Baca Juga: Polip Rahim dan Polip Serviks

Pengobatan

Pada prinsipnya, mioma yang tidak bergejala, berukuran kecil, dan terjadi pada wanita yang mendekati masa menopause tidak memerlukan pengobatan. Miom yang perlu diobati adalah yang:

  • Menyebabkan perdarahan haid berlebihan yang menyebabkan anemia atau nyeri haid yang hebat sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari.
  • Menyebabkan perdarahan di antara dua siklus haid.
  • Tidak jelas apakah pertumbuhan jaringan merupakan mioma atau bentuk lain tumor seperti tumor ovarium atau kanker.
  • Mengalami pembesaran secara tiba-tiba.
  • Menyebabkan infertilitas atau sulit hamil.
  • Menyebabkan nyeri panggul.

Pada yang bergejala, mioma dapat diatasi dengan obat-obatan atau pembedahan. Pilihan jenis pengobatan bergantung pada gejala mana yang paling mengganggu, kuran, jumlah, dan lokasi mioma serta keinginan untuk hamil di masa depan.

Obat-obatan

Obat-obatan dapat mengurangi perdarahan dan nyeri haid yang hebat akibat mioma namun tidak dapat mencegah pertumbuhan miom. Jenis obat-obatan dapat mencakup:

  • Zat besi dan vitamin apabila terbukti mengalami anemia.
  • Obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS), seperti ibuprofen atau asam mefenamat untuk mengurangi nyeri dan perdarahan haid.
  • Pil KB dan bentuk lain KB hormonal, untuk mengontrol perdarahan hebat dan nyeri haid. Efek pengobatan baru terasa setelah paling sedikit 3 bulan menggunakan metode KB hormonal.
  • Obat antifibrinolitik, seperti asam traneksamat untuk memperlambat perdarahan. Obat dari golongan ini bekerja dengan cara membuat darah lebih cepat membeku. 
  • Analog gonadotropin-releasing hormone (GnRH), yang membuat ovarium berhenti memproduksi estrogen dan progesteron secara sementara serta dapat mengurangi perdarahan haid yang hebat. Obat ini akan menghentikan siklus haid dan memperkecil ukuran miom. Akan tetapi, efek sampingnya cukup signifikan sehingga hanya digunakan dalam jangka waktu pendek (< 6 bulan). Setelah obat dihentikan, miom biasanya kembali ke ukuran semula.
  • Alat kontrasepsi dalam rahim yang melepaskan hormon (progestin–releasing intrauterine device. Opsi ini dipilih bila mioma tidak mengganggu bagian dalam rahim. 
  • Modulator reseptor progesteron, yang dapat dengan cepat menghentikan pendarahan haid dan memperkecil ukuran mioma. Obat ini digunakan selama beberapa bulan dengan periode “bebas obat” di antara dua siklus pengobatan agar dinding rahim bisa meluruh. Fungsi hati perlu dimonitor sebelum, selama, dan setelah pengobatan. 

Pengobatan miom dengan obat-obatan kerap direkomendasikan sebelum pembedahan, yang pada akhirnya perlu dilakukan untuk mengatasi mioma secara permanen. 

Pembedahan

Pembedahan biasanya direkomendasikan apabila mioma:

  • Menyebabkan perdarahan dan nyeri haid yang hebat serta tidak membaik dengan obat-obatan
  • Menyebabkan sulit hamil
  • Berukuran besar dan menyebabkan gejala yang mengganggu

Jenis pembedahan yang dilakukan, yakni:

  • Miomektomi. Tindakan ini hanya mengangkat miom. Sebagian besar wanita dengan infertilitas akibat miom bisa hamil setelah miomektomi. Namun, karena miom bisa kambuh kembali, miomektomi bukan pilihan terbaik untuk wanita yang sudah tidak ingin punya anak.
  • Histerektomi. Ini adalah operasi pengangkatan rahim. Tindakan ini merupakan pengobatan permanen untuk menghilangkan berbagai gejala miom. Oleh karena ini adalah pembedahan besar, pemulihan memakan waktu hingga 6 minggu pasca operasi.

Pengobatan lain

Selain obat-obatan dan pembedahan, ada beberapa pilihan pengobatan lain untuk mengatasi miom rahim.

  • Histeroskopi. Ini adalah teknik untuk mengangkat miom yang menonjol ke dalam rongga rahim. Cara ini tidak dapat mengangkat miom yang berada di dalam dinding rahim, namun dapat mengendalikan perdarahan yang terjadi. Prosedur ini dapat dilakukan di poliklinik sehingga tidak memerlukan rawat inap.
  • Embolisasi arteri uterina. Partikel kecil, kurang lebih seperti butiran pasir, disuntikkan ke dalam pembuluh darah yang mengaliri rahim. Selanjutnya, partikel ini akan menyumbat aliran darah ke miom sehingga ukurannya mengecil. Prosedur ini juga bisa dilakukan secara rawat jalan.
  • Pembedahan ultrasonik dengan bantuan magnetic resonance imaging (MRI). Ini merupakan teknik baru di mana mioma dihancurkan dengan gelombang ultrasonik. Gelombang diarahkan ke mioma dari permukaan kulit dengan bantuan MRI. Studi masih terus dilakukan apakah pilihan pengobatan ini dapat mengatasi mioma dalam jangka panjang.

Baca Juga: 5 Jenis Makanan untuk Menghancurkan Miom, Pernah Coba?

Komplikasi

Mioma yang bertangkai dapat terpuntir dan menyebabkan nyeri, mual hingga muntah, dan demam. Mioma yang tumbuh cepat, atau mulai terurai, juga dapat menyebabkan nyeri. Mioma yang sangat besar dapat menyebabkan pembengkakan perut, yang selanjutnya dapat menyulitkan pemeriksaan organ kandungan.

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, mioma juga dapat menyebabkan infertilitas pada wanita. Bila memang demikian, banyak wanita pada akhirnya bisa hamil setelah mioma diobati.

Pada kehamilan, mioma dapat meningkatkan risiko terjadinya komplikasi seperti terhambatnya pertumbuhan janin dan persalinan prematur, terutama bila mioma berukuran besar (lebih dari 5-6 cm). Meski demikian, sebagian besar wanita dengan mioma dapat melalui kehamilan normal tanpa kompikasi.

Kapan harus waspada?

Segera kunjungi dokter apabila:

  • Nyeri perut bawah tak kunjung menghilang atau munculnya mendadak dan seperti ditusuk-tusuk
  • Haid berlangsung lama dan sangat banyak atau sangat nyeri
  • Terdapat perdarahan di antara dua siklus haid
  • Sering buang air kecil atau anyang-anyangan
  • Terdapat anemia (kurangnya sel darah merah)

Miom yang sudah diangkat tidak akan kambuh kembali, tetapi bisa muncul miom yang baru. Faktanya, sekitar 10-25 persen wanita yang telah menjalani miomektomi memerlukan operasi kedua. Meski belum ada cara untuk mencegah miom, risikonya dapat diturunkan dengan mempertahankan berat badan yang sehat dan mengonsumsi makanan bergizi seimbang.

cheer

Jadwalkan Konsultasi

Kami dengan senang hati akan mendiskusikan opsi finansial yang ada dan membantu menjawab pertanyaan Anda.

Jadwalkan konsultasi dengan menghubungi kami di (021) 50200800 atau dengan mengisi formulir melalui tombol dibawah.

  1. Stewart EA, Laughlin-Tommaso SK. Patient education: uterine fibroids (beyond the basics). In: UpToDate, Post, TW (Ed), UpToDate, Waltham, MA, 2021.
  2. Stewart EA, et al. Uterine leiomyomas (fibroids): Epidemiology, clinical features, diagnosis and natural history. In: UpToDate, Post, TW (Ed), UpToDate, Waltham, MA, 2021.
  3. Stewart EA. Overview of treatment of uterine leiomyomas (fibroids). In: UpToDate, Post, TW (Ed), UpToDate, Waltham, MA, 2021.
  4. American College of Obstetrician and Gynecologists. (June 2020). Uterine fibroids. FAQ074.
  5. American Society for Reproductive Medicine. (Revised 2012). Treatment of uterine fibroids
  6. Mayo Clinic. (10 December 2019). Uterine fibroids.
Share:
  • 176
    Shares

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

doctors
Reservasi