Menorrhagia, Ketika Perdarahan Menstruasi Berlebihan

menorrhagia perdarahan menstruasi yang berlebihan

Menorrhagia adalah sebutan untuk keluarnya perdarahan yang berlebihan dan tidak biasa pada menstruasi normal.

Menorrhagia merupakan istilah medis untuk perdarahan haid berlebihan atau berkepanjangan. Pada umumnya, wanita dengan menoragia sulit beraktivitas saat haid karena terlalu banyak darah yang keluar serta mengalami kram perut berat (dismenore).

Apa itu menorrhagia?

Sebagian besar siklus haid normal terjadi setiap 21-35 hari, yang dihitung dari hari pertama haid ke hari pertama haid berikutnya, dengan rata-rata 28 hari. Pada siklus haid yang normal, total darah yang keluar rata-rata 2-3 sendok makan (35-40 mL) dalam 4-8 hari. Namun, sebagian wanita kehilangan jauh lebih banyak daripada itu. 

Secara objektif, wanita disebut mengalami menorrhagia apabila kehilangan darah lebih dari 5-6 sendok makan (+80 mL) selama haid. Kondisi ini bisa berujung pada anemia atau kurang darah, yang menyebabkan kelelahan, kelemahan, dan keluhan lainnya.

Gejala menorrhagia

Wanita dengan perdarahan yang berat atau berkepanjangan umumnya memiliki salah satu atau lebih gejala berikut:

  • Harus mengganti pembalut setiap 1-3 jam sekali di hari-hari pertama haid.
  • Perdarahan haid berlangsung lebih dari 7 hari.=
  • Harus menggunakan lebih dari satu pembalut di waktu yang sama karena perdarahan sangat banyak.
  • Harus mengganti pembalut di malam hari saat istirahat.
  • Keluar gumpalan darah berukuran lebih dari 2,5 cm.
  • Membatasi aktivitas sehari-hari karena perdarahan yang berat.
  • Menunjukkan gejala anemia seperti kelelahan, lemas atau sesak napas.

Penyebab menorrhagia

Menorrhagia dipicu oleh banyak hal, di antaranya:

  • Ketidakseimbangan hormonal. Keseimbangan hormon estrogen dan progesteron diperlukan untuk mengatur tebal tipisnya dinding rahim (endometrium), yang keluar sebagai darah haid. Bila kadar kedua hormon ini tidak seimbang, penebalan dinding rahim menjadi berlebihan dan meluruh sebagai darah haid yang berlebihan pula. Kondisi-kondisi yang memicu ketidakseimbangan hormonal, antara lain sindrom ovarium polikistik (PCOS), obesitas, resistensi insulin, dan gangguan tiroid.
  • Ovulasi yang tidak teratur. Bila pelepasan sel telur (ovulasi) tidak selalu terjadi, dinding rahim dapat menjadi terlalu tebal. Kondisi ini sebetulnya wajar dialami oleh remaja putri di masa pubertas dan wanita yang memasuki masa menopause. Kondisi ini juga bisa dialami oleh wanita dengan PCOS atau hipotiroidisme.
  • Mioma dan polip rahim.  Tumor jinak di dalam rahim ini kerap ditemukan pada wanita usia reproduksi. Kelainan ini dapat menyebabkan perdarahan haid yang berlebihan atau berkepanjangan. 
  • Adenomiosis. Kondisi ini terjadi ketika kelenjar di dalam dinding rahim tumbuh di dalam jaringan otot rahim. Adenomiosis kerap memicu perdarahan dan nyeri haid yang berat. 
  • Kelainan pembekuan darah. Beberapa kelainan pembekuan darah, seperti penyakit von Willebrand, dapat menyebabkan perdarahan haid yang abnormal.
  • Obat-obatan. Obat anti radang, pengencer darah, serta terapi hormon yang mengandung estrogen dan progestin, dapat menyebabkan menorrhagia. Penggunaan alat kontrasepsi dalam rahim (IUD) tipe copper T juga dapat memicu menoragia, khususnya di tahun pertama penggunaan.
  • Kanker. Menorrhagia dapat menjadi tanda awal kanker rahim. Kanker serviks juga dapat menyebabkan perdarahan haid yang berlebihan.
  • Penyebab lainnya. Endometriosis, keguguran, kehamilan ektopik, dan penyakit radang panggul juga dapat menyebabkan menorrhagia. Kadang-kadang, penyebabnya tidak diketahui.
menstruasi berlebihan

Komplikasi menorrhagia

Komplikasi tersering dari menoragia adalah anemia. Perdarahan yang berlebihan menyebabkan berkurangnya jumlah sel darah merah di dalam aliran darah. Dalam jangka panjang, menoragia juga dapat menurunkan kadar zat besi sehingga terjadi anemia defisiensi besi.

Diagnosis dan evaluasi menorrhagia

Untuk mendiagnosis menoragia, diperlukan wawancara medis yang mendalam dan pemeriksaan fisik. Pemeriksaan penunjang berikut juga diperlukan untuk mengonfirmasi diagnosis:

  • Tes kehamilan
  • Tes untuk mendeteksi infeksi menular seksual
  • Pemeriksaan darah untuk menilai anemia, kadar zat besi, penyakit tiroid, atau kelainan pembekuan darah.
  • Ultrasonografi (USG) kandungan untuk mendeteksi mioma dan polip. 
  • Sonohisterogram atau saline infusion sonogram (SIS). Ini merupakan USG sembari memasukkan sejumlah cairan untuk melebarkan rahim. Cara ini memungkinkan visualisasi polip atau mioma menjadi lebih jelas.
  • Pap smear untuk mendeteksi infeksi, peradangan atau perubahan sel yang mengarah kepada kanker. 
  • Biopsi endometrium.
  • Histeroskopi atau teropong rahim.

Cara mengobati menorrhagia

Obat-obatan merupakan lini pertama dalam mengatasi menorrhagia:

  • Menorrhagia yang disebabkan oleh gangguan ovulasi, endometriosis, PCOS, dan mioma dapat diatasi dengan metode kontrasepsi hormonal tertentu. Metode ini dapat meringankan perdarahan haid, membuat haid lebih teratur, atau bahkan menghentikan perdarahan.
  • Terapi hormon dapat mengatasi menorrhagia yang terjadi di masa perimenopause. Akan tetapi, perlu ditimbang manfaat dan efek sampingnya, oleh karena meningkatkan risiko terjadinya serangan jantung, stroke, dan kanker. 
  • Agonis gonadotropin-releasing hormone (GnRH) dapat menghentikan siklus haid dan mengecilkan ukuran mioma. Obat dari golongan ini hanya digunakan dalam waktu singkat (kurang dari 6 bulan) namun efeknya hanya bersifat sementara. Bila dihentikan, mioma biasanya kembali ke ukuran awal. 
  • Asam traneksamat untuk mengatasi perdarahan. Obat ini diminum setiap bulan di awal periode haid.
  • Obat anti inflamasi nonsteroid (OAINS) seperti ibuprofen untuk mengatasi perdarahan dan mengurangi kram perut saat haid. 
  • Obat antifibrinolitik untuk mengatasi gangguan pembekuan darah.

Bila obat-obatan di atas tidak dapat mengurangi perdarahan, maka diperlukan salah satu operasi berikut:

  • Ablasi endometrium untuk menghancurkan dinding rahim. Prosedur ini akan menghentikan perdarahan haid. Kehamilan bisa tetap terjadi namun sangat berisiko. Wanita yang telah menjalani ablasi endometrium disarankan untuk menggunakan kontrasepsi hingga menopause. Prosedur ini perlu dipertimbangkan hanya bila obat-obatan atau terapi lain tidak berhasil.
  • Embolisase arteri uterina (UAE) untuk mengatasi mioma. Pada prosedur ini, pembuluh darah yang menuju rahim diblokir dengan tujuan menghentikan aliran darah yang memungkinkan mioma bertumbuh.
  • Miomektomi, yakni pembedahan untuk menghilangkan mioma tanpa mengangkat rahim. Pada kasus mioma tertentu, dapat dilakukan pembedahan melalui prosedur histeroskopi.
  • Histerektomi, yakni operasi pengangkatan rahim. Operasi ini dilakukan untuk mengatasi mioma dan adenomiosis ketika cara lain tidak berhasil atau tidak ada pilihan lain. Histerektomi juga dilakukan untuk mengatasi kanker rahim. Pasca histerektomi, wanita tidak akan mengalami haid dan tidak bisa hamil.

Memilih jenis pengobatan yang sesuai

Banyaknya alternatif pengobatan dapat menyulitkan untuk menentukan pilihan yang tepat. Terutama, bila wanita masih menginginkan keturunan. Untuk memudahkan, ikuti dua langkah berikut.

Langkah pertama. Pada sebagian besar kasus, pengobatan menoragia diawali dengan pemberian obat-obatan.

  • Bila wanita ingin hamil dalam beberapa bulan selanjutnya, OAINS atau obat antifibrinolitik merupakan pilihan yang baik. Akan tetapi, obat-obatan ini tidak seefektif terapi hormon dalam mengatasi menorrhagia.
  • Bila wanita ingin hamil, namun tidak dalam waktu segera, metode kontrasepsi hormonal merupakan pilihan yang baik. Metode kontrasepsi yang dimaksud, yakni pil KB yang mengandung progestin, suntikan progestin, dan alat kontrasepsi dalam rahim (IUD) yang mengandung hormon (Mirena®). 
  • Bila wanita sudah tidak ingin hamil, terapi hormonal dan obat antifibrinolitik adalah kombinasi yang paling efektif.

Langkah kedua. Bila masih mengalami menoragia meski sudah menggunakan salah satu atau lebih obat-obatan di atas, konsultasikan dengan dokter. Pada kasus ini, operasi mungkin menjadi pilihan terbaik.

Kapan harus waspada?

Segera cari pertolongan medis bila Anda telah menggunakan 2 pembalut dalam waktu 1-2 jam berturut-turut. Perdarahan yang sebanyak ini dapat sangat serius atau bahkan mengancam nyawa. 

Anda juga perlu mencari pertolongan medis bila mengalami:

  • Perdarahan hebat disertai dengan nyeri atau kram perut bawah yang intens
  • Perdarahan di antara dua siklus haid atau haid tidak teratur
  • Keluar darah dari vagina setelah menopause
  • Mengalami gejala menoragia yang disertai tanda-tanda anemia defisiensi besi, seperti rasa lemas dan lelah, sakit kepala, sesak napas atau detak jantung sangat cepat saat berolahraga
cheer

Jadwalkan Konsultasi

Jika Anda belum juga hamil setelah berupaya selama dua belas bulan atau lebih (atau enam bulan jika usia perempuan di atas 35 tahun), kami menyarankan Anda untuk melakukan penilaian kesuburan dengan spesialis fertilitas kami.

Jadwalkan konsultasi dengan menghubungi kami di (021) 50200800 atau dengan mengisi formulir melalui tombol dibawah.

  1. Kaunitz AM. Patient education: heavy or prolonged menstrual bleeding (menorrhagia) (beyond the basics). In: UpToDate, Post, TW (Ed), UpToDate, Waltham, MA, 2022.
  2. Patient education: heavy periods (the basics). In: UpToDate, Post, TW (Ed), UpToDate, Waltham, MA, 2022.
  3. Mayo Clinic. [Last reviewed 2020 Jul 1]. Menorrhagia (heavy menstrual bleeding). URL: https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/menorrhagia/symptoms-causes/syc-20352829.
  4. American College of Obstetricians and Gynecologists. [Last updated 2021 May]. FAQ193. Heavy menstrual bleeding.
  5. Walker MH, Coffey W, Borger J. Menorrhagia. [Updated 2022 Feb 5]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL). StatPearls Publishing.
Share:

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Reservasi