Mengenal Operasi Miom, Apa Tujuan dan Risikonya?

Miom adalah salah satu permasalahan penyebab infertilitas yang sering dialami wanita. Operasi miom dilakukan untuk mencegah risiko komplikasi maupun masalah kesehatan lainnya akibat miom.

Pernahkah Anda mengalami gejala miom? Miom adalah pertumbuhan sel abnormal di dalam rahim. Biasanya ditemukan pada wanita berusia 30 – 40 tahun dan biasanya dapat menyebabkan masalah infertilitas. Meski begitu, miom bisa terjadi pada wanita dengan rentang usia berapapun. Banyak yang menganggap ukuran miom dapat mengecil pada saat wanita memasuki masa menopause namun nyatanya hal ini belum pasti terjadi.

Mengapa Harus Dilakukan Operasi Miom?

Salah satu pengobatan miom yang dapat dilakukan adalah dengan prosedur pembedahan. Menurut dr. Riyan Hari Kurniawan, Sp.OG – KFER, dokter spesialis kandungan dari Pusat Fertilitas Bocah Indonesia, mengatakan jika terdapat beberapa tatalaksana miom dimulai dari obat-obatan, bedah minimal invasif, hingga operasi pengangkatan rahim.

“Pilihannya bisa macam-macam, mulai dari obat-obatan, operasi misalnya pengangkatan miom, atau yang lebih ekstrem kalau misalnya usianya lanjut, tidak perlu lagi fungsi kesuburan maka bisa dilakukan tindakan pengangkatan rahimnya sendiri,” tambah dr. Riyan.

Lebih lanjut, dr. Riyan menambahkan jika prosedur operasi dilakukan berdasarkan jenis, ukuran, dan tergantung lokasi miom itu sendiri sehingga Anda tidak perlu khawatir saat melakukan pemeriksaan diri ke dokter kandungan.

“Tidak perlu ragu dan takut untuk memeriksakan ke dokter kandungan. Seandainya pun ditemukan ada kelainan miom atau kista, itu juga tidak akan langsung disarankan untuk dioperasi tergantung jenis, ukuran, dan lokasi,” jelas dr. Riyan.

Meski miom bisa menjadi penyebab infertilitas namun menurut dr. Riyan, hal ini belum tentu menjadi penyebab mutlak seseorang sulit hamil. Nantinya, dokter akan menyarankan beberapa pilihan terapi untuk perawatan miom tersebut.

“Belum tentu yang menjadi penyebab masalah kesuburan itu mutlak dari mioma dan kista itu saja. Pasti dokter akan menyarankan beberapa pilihan terapi dan keputusan akan dibicarakan bersama mana yang lebih baik untuk Ayah Bunda,” tambahnya.

Umumnya, prosedur pembedahan yang dapat dilakukan untuk mengatasi miom adalah laparoskopi, histeroskopi, miomektomi, dan histerektomi.

  • Laparoskopi. Prosedur ini merupakan bedah invasif minimal yang dilakukan ketika ditemukan adanya gangguan medis di area perut dan panggul, salah satunya miom. Melalui prosedur invasif minimal ini maka pendarahan dapat dikendalikan.
  • Histeroskopi. Sama seperti dengan laparoskopi, histeroskopi adalah salah satu bedah invasif minimal yang mana merupakan teknik mengangkat miom yang menonjol ke dalam rongga rahim. Cara ini tidak dapat mengangkat miom yang berada di dalam dinding rahim.
  • Miomektomi. Miomektomi adalah salah satu prosedur mengangkat miom. Meskipun wanita dengan infertilitas dapat hamil setelah miomektomi namun karena miom memiliki risiko kambuh kembali maka tidak disarankan untuk memilih prosedur ini.
  • Histerektomi. Histerektomi adalah operasi pengangkatan rahim. Tindakan ini dilakukan apabila ditemukan kasus yang ekstrem. Namun, prosedur histerektomi tidak disarankan bagi wanita yang masih berencana untuk memiliki keturunan.
gambar animasi miom

Apakah Ada Efek Samping Pasca Operasi Miom?

Setiap tindakan medis yang dilakukan tentu memiliki risiko efek samping. Meski begitu, jarang terjadi komplikasi serius hingga membutuhkan penanganan lebih lanjut. Pembedahan miom sendiri terdapat beberapa jenis, mulai dari non-invasif hingga invasif. Biasanya, metode pembedahan non-invasif jarang sekali memiliki risiko komplikasi.

Namun, beberapa jenis risiko operasi miom yang mungkin terjadi di antaranya pendarahan yang berlebihan, pembentukan jaringan parut yang bisa menyebabkan perlengketan, hingga komplikasi kehamilan dan persalinan (misalnya peningkatan risiko melahirkan secara caesar, risiko persalinan prematur, posisi plasenta abnormal, hingga risiko keguguran).

Pantangan Setelah Operasi Miom

Bagi wanita yang pernah mengalami operasi miom sebaiknya hindari beberapa hal yang menjadi pantangan setelah operasi miom, seperti:

1. Melakukan aktivitas berat

Salah satu yang perlu Anda hindari setelah melakukan operasi miom adalah melakukan aktivitas berat. Namun bukan berarti Anda tidak boleh beraktivitas, disarankan untuk memulai aktivitas ringan terlebih dahulu dan melakukan aktivitas secara bertahap agar proses pemulihan Anda pasca operasi berlangsung cepat.

2. Mengonsumsi makanan pemicu miom

Pemicu miom sering dikaitkan dengan gaya hidup, salah satunya makanan. Pasalnya, tidak semua jenis makanan dapat Anda konsumsi, ada beberapa jenis makanan yang perlu Anda hindari, seperti:

  • Makanan yang mengandung gula
  • Daging merah
  • Makanan yang mengandung kadar estrogen

Jenis makanan tersebut dapat memicu pertumbuhan miom. Sebaiknya perbanyak konsumsi sayur dan buah-buahan, serta makanan yang mengandung gizi seimbang untuk membantu proses penyembuhan pasca operasi.

3. Mengonsumsi obat hormon tanpa resep dokter

Miom disebabkan akibat kadar hormon estrogen pada tubuh wanita berlebihan. Sehingga salah satu cara mengatasinya adalah menghindari mengonsumsi obat hormon sembarangan. Cukup mengonsumsi obat-obatan yang telah diresepkan dokter untuk proses pemulihan Anda.

Cara Pengobatan Miom Lainnya

Selain metode operasi, terdapat cara pengobatan miom lainnya seperti mengonsumsi obat-obatan. Obat-obatan diberikan jika miom menimbulkan gejala-gejala tertentu. Hal ini lantaran pertumbuhan miom yang melambat sehingga hanya diperlukan pemantauan.

1. Obat-obatan

Menurut dr. Riyan Hari Kurniawan, Sp.OG – KFER, jika miom yang tidak menimbulkan gejala, maka penanganannya cukup dipantau mengingat pertumbuhannya yang lambat. Namun, proses pengobatan akan dilakukan apabila miom menimbulkan sejumlah gejala tertentu.

“Jadi untuk miom sebenarnya kalau tidak ada gejala, kita memantau perkembangannya karena dia progresnya cukup lambat. Tapi kalau dia mengganggu, misalnya menyebabkan pendarahan haidnya sangat banyak sampai mengalami anemia, atau misalnya ternyata miomnya menjadi penyebab gangguan kesuburan maka sebaiknya miomnya ditatalaksana,” ujar dr. Riyan Hari Kurniawan, Sp. OG – KFER.

Salah satu cara penanganan miom dapat dilakukan dengan obat-obatan. Pemberian obat-obatan bukan untuk menghilangkan miom tetapi mencegah nyeri haid yang berlebihan. Jenis obat-obatan yang diberikan biasanya mencakup:

Vitamin dan zat besi apabila miom menyebabkan Anda mengalami anemia.

  • Obat antiinflamasi non steroid (OAINS).
  • Obat antifibrinolitik.
  • Pil KB
  • Alat kontrasepsi dalam rahim.

2. Embolisasi arteri uterina

Partikel kecil yang ukurannya kurang lebih seperti butiran pasir akan disuntikkan ke dalam pembuluh darah yang mengaliri rahim. Nantinya, partikel ini akan menyumbat aliran darah ke miom yang dapat menyebabkan ukurannya mengecil. 

Penutup

Meski miom telah diangkat melalui prosedur operasi dan tidak akan kambuh kembali namun masih ada kemungkinan tumbuhnya miom baru. Pastikan untuk selalu menjaga gaya hidup sehat, mengonsumsi makanan dengan gizi seimbang, menjaga berat badan ideal, dan hindari mengonsumsi obat hormon sembarangan.

cheer

Jika Anda mencari solusi untuk mengatasi miom, kami menyediakan layanan penunjang untuk Anda. Silakan isi formulir di bawah. Tim kami akan segera menghubungi Anda!

Miom sering muncul tanpa gejala. Namun, jika Anda merasakan gejala-gejala di atas, jangan dianggap sepele. Segera periksakan diri Anda untuk mendapatkan penanganan yang tepat!

  1. Farris, M., et al. Uterine fibroids: an update on current and emerging medical treatment options. Ther Clin Risk Manag. 2019; 15: 157–178. 
  2. Tinelli, A., et al. Submucous Fibroids, Fertility, and Possible Correlation to Pseudocapsule Thickness in Reproductive Surgery. Biomed Res Int. 2018 Sep 3; 2018: 2804830. 
  3. Brewer, Nick Dalton. The Role of Complementary and Alternative Medicine for the Management of Fibroids and Associated Symptomatology. Curr Obstet Gynecol Rep (2016) 5:110–118. 
  4. Shen, Yang; Wu, Yanting; Lu, Qing; Ren, Mulan. Vegetarian diet and reduced uterine fibroids risk: A case–control study in Nanjing, China. J. Obstet. Gynaecol. Res. Vol. 42, No. 1: 87–94, January 2016. 
  5. UCLA Health. Open Surgery: Myomectomy & Hysterectomy.
Share:

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Reservasi