Bukan Sekadar Tradisi, Ini Manfaat Sunat Bagi Kesehatan Pria

manfaat sunat

Mungkin Anda sudah tidak asing lagi dengan tradisi sunat atau khitan bagi pria. Bukan hanya perintah agama, nyatanya sunat dari segi medis memberikan dampak yang positif bagi kesehatan. Apa saja manfaat sunat bagi kesehatan pria?

Apa Itu Sunat?

Sunat adalah proses pengangkatan kulup atau kulit yang menutupi kepala penis. Di Indonesia, umumnya anak laki-laki yang disunat menginjak usia sekolah dasar. Prosesnya pun dilakukan pada saat liburan sekolah sehingga tidak mengganggu aktivitas belajar mengajar.

Namun, apakah khitan hanya dilakukan oleh anak laki-laki yang masih belia? Faktanya, kini bayi yang belum genap usia satu tahun pun telah menjalani khitan. Selain itu, laki-laki berusia dewasa pun masih bisa melakukan khitan atau sunat. Hal ini lantaran alasan kesehatan.

Lantas, apa saja manfaat sunat bagi kesehatan pria?

Manfaat Sunat Bagi Kesehatan

Selain perintah agama, juga terdapat beberapa manfaat sunat dari sisi medis khususnya bagi kesehatan pria. Menurut American Academy of Pediatrics (AAP), penis yang dikhitan memiliki lebih banyak manfaat dibandingkan risikonya.

Sebaliknya, penis yang tidak disunat memiliki sejumlah risiko bagi kesehatan. Salah satunya, rentan terhadap perkembangan bakteri. Hal ini lantaran kulit kulup yang tidak diangkat dapat membuat kotoran menumpuk, jika dibiarkan terus menerus hal ini dapat mengancam risiko kesehatan bagi organ reproduksi pria.

Berikut manfaat khitan bagi pria yang perlu Anda ketahui.

1. Mengurangi risiko infeksi saluran kemih

Salah satu manfaat sunat bagi pria adalah mengurangi risiko penyakit infeksi saluran kemih. Penelitian yang diterbitkan dalam Canadian Medical Association Journal menerangkan jika anak laki-laki yang dikhitan memiliki risiko yang lebih sedikit mengalami infeksi saluran kemih dibandingkan anak laki-laki yang tidak dikhitan.

Selain itu, sebuah penelitian dari sumber yang sama mengungkapkan jika risiko infeksi sekitar 88 persen lebih rendah pada anak laki-laki yang disunat.

2. Menurunkan risiko penyakit menular seksual

Salah satu manfaat sunat khitan untuk menjaga kesehatan alat reproduksi adalah dapat menurunkan risiko penyakit menular seksual. Pria yang tidak melakukan khitan memiliki risiko lebih tinggi mengalami penyakit menular seksual, seperti HIV/AIDS, HPV, sifilis, herpes.

3. Mencegah risiko kanker prostat

Sebuah penelitian yang diterbitkan BJU International mengungkapkan bahwa sunat memiliki efek perlindungan terhadap risiko kanker prostat. Studi tersebut menemukan bahwa pria yang dikhitan ketika menginjak usia dari 35 tahun dapat menurunkan risiko kanker prostat sebesar 45%.

Bagi pria atau anak laki-laki yang dikhitan pada usia 1 tahun pasca lahir dapat menurunkan risiko kanker prostat sebesar 14%. Hal ini tentu sangat berdampak bagi kesehatan organ reproduksi pria.

4. Mencegah penyakit balanitis

Balanitis merupakan penyakit kelamin yang menyerang organ reproduksi pria. Balanitis adalah radang pada ujung kepala penis dan balanoposthitis yang merupakan radang pada kepala penis dan kulup.

kapan harus sunat

Apakah Pria yang Dikhitan Memengaruhi Kesuburan?

Sunat memang memiliki sejumlah manfaat bagi kesehatan organ reproduksi pria. Meski begitu, belum ada bukti ilmiah mengenai penis yang dikhitan dengan tingkat kesuburan pria. Hal utama yang menentukan kesuburan pria adalah bagaimana seorang pria memproduksi sperma dengan kualitas yang baik.

Kualitas sperma yang baik meliputi 3 aspek penting, yakni jumlah atau kualitas, pergerakan atau motilitas, serta bentuk sperma. Faktor yang membuat seorang pria dinyatakan memiliki tingkat kesuburan yang menurun jika terdapat gangguan atau kelainan pada 3 aspek tersebut. Jika kelainan sperma terjadi pada pria, hal ini tentu akan memengaruhi pasangan menjadi sulit hamil.

Berapa Usia yang Tepat Melakukan Sunat?

Umumnya, anak laki-laki melakukan sunat atau khitan pada saat usia sekolah dasar atau sekitar 6 – 10 tahun. Biasanya, tradisi sunat akan dilaksanakan pada masa liburan sekolah sehingga meminimalisir aktivitas yang dilakukan termasuk kegiatan belajar mengajar.

Seperti yang diketahui, pasca prosesi sunat berlangsung, membutuhkan beberapa waktu untuk proses pemulihan. Terlebih, pasca dikhitan, maka dianjurkan bagi para anak laki-laki menggunakan celana yang longgar untuk menghindari luka pada area penis yang disunat.

Apakah Sunat Bagi Pria Dewasa Dianjurkan?

Hingga kini, belum ada anjuran khusus untuk pria dewasa agar melakukan sunat. Namun, tidak ada larangan juga untuk pria yang ingin melakukan khitan, hal ini tentu akan memberikan dampak yang baik.

Namun, terdapat beberapa poin penting yang perlu diperhatikan bagi pria dewasa yang akan menjalani proses sunat. 

  • Pasalnya, proses pemulihan pria dewasa, membutuhkan waktu lebih untuk keadaan membaik, yakni sekitar 7 – 10 hari.
  • Pasca melakukan proses sunat, tidak perlu khawatir jika terdapat tanda-tanda kemerahan, membengkak, atau memar yang diiringi nyeri di ujung penis. Namun, seiring berjalannya waktu, keadaan tersebut akan membaik dengan sendirinya.
  • Mengonsumsi obat-obatan dan antibiotik sesuai petunjuk yang diberikan dokter.
  • Jika Anda telah mengalami masa pemulihan selama 2 – 3 minggu, Anda disarankan untuk menggunakan celana yang lebih longgar dan menghindari aktivitas berat yang dapat memicu rasa nyeri.
  • Bersihkan penis dengan bahan yang lembut tanpa menggunakan sabun pembersih.
  • Hindari berendam air hangat tanpa persetujuan dari dokter.
  • Pasca melakukan sunat, Anda dianjurkan untuk tidak melakukan hubungan intim selama beberapa waktu. Hal ini penting agar penis benar-benar berada dalam masa pemulihan.

Risiko Sunat

Meski aman dijalani, proses khitan khususnya pada pria dewasa tetap memiliki beberapa risiko  yang terjadi, seperti:

  • Kulit kulup mungkin terpotong terlalu pendek atau terlalu panjang
  • Infeksi
  • Pendarahan, hal ini bisa terjadi pada pria yang memiliki gangguan pembekuan darah
  • Gangguan saluran kemih
  • Sisa kulup dapat menempel kembali ke ujung penis

Meski begitu, Anda perlu mengambil tindakan untuk ke dokter apabila mengalami beberapa hal ini, yaitu:

  • Perdarahan sulit berhenti
  • Keluar cairan bernanah atau berbau busuk dari ujung penis
  • Proses buang air kecil masih terganggu hingga beberapa minggu setelah disunat
  • Penis masih terlihat bengkak 2 minggu setelah disunat
  • Demam
cheer

Jadwalkan Konsultasi

Kami dengan senang hati akan mendiskusikan opsi finansial yang ada dan membantu menjawab pertanyaan Anda.

Jadwalkan konsultasi dengan menghubungi kami di (021) 50200800 atau dengan mengisi formulir melalui tombol dibawah.

  1. Rebbeck, Timothy R. Global patterns of prostate cancer incidence, aggressiveness, and mortality in men of african descent. Prostate Cancer. 2013; 2013: 560857.
  2. Bailey, Robert C. Male circumcision for HIV prevention in young men in Kisumu, Kenya: a randomised controlled trial. Randomized Controlled Trial Lancet. 2007 Feb 24;369(9562):643-56. 
  3. Dubrovsky, Alexander Sasha; Foster, Bethany J; Jednak, Roman; Mok, Elise; McGillivray, David. Visibility of the urethral meatus and risk of urinary tract infections in uncircumcised boys. CMAJ October 16, 2012 184 (15) E796-E803. 
  4. Tobian, Aaron AR; Gray, Ronald H. The Medical Benefits of Male Circumcision. JAMA. Author manuscript; available in PMC 2013 Jun 18. Published in final edited form as: JAMA. 2011 Oct 5; 306(13): 1479–1480. 
  5. Eisenberg, Michael L; Galusha, Deron; Kennedy, William A; Cullen, Mark R. The Relationship between Neonatal Circumcision, Urinary Tract Infection, and Health. World J Mens Health. 2018 Sep; 36(3): 176–182. Published online 2018 Mar 22. 
  6. Freedman, Andrew L. The Circumcision Debate: Beyond Benefits and Risks. The Circumcision Debate: Beyond Benefits and Risks. Pediatrics. 2016;137(5): e20160594.
Share:

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Reservasi