5 Kista yang Sering Terjadi di Dalam Organ Reproduksi Wanita

Kista Penyebab Sulit Hami;

Ada lima macam kista yang paling sering ditemukan pada wanita. Sebagian bahkan dapat memengaruhi kesuburan dan membuat wanita sulit hamil.

Penyakit kista identik dengan jenis kelamin wanita. Ini karena sebagian besar kista pada wanita terjadi di dalam ovarium atau indung telur. Ovarium adalah bagian dari sistem reproduksi wanita yang posisinya di perut bawah, tepatnya di sisi kanan dan kiri rahim. Setiap wanita memiliki dua ovarium, yang menghasilkan sel telur dan juga hormon estrogen serta progesteron.

Ada kalanya kista, yakni sebuah kantong berisi cairan, berkembang di salah satu ovarium. Secara umum, kondisi ini disebut dengan kista ovarium. Ukurannya bervariasi, yakni kurang dari 1 cm hingga lebih dari 10 cm. Kabar baiknya, sebagian besar kista ovarium bersifat jinak, yakni tidak menyebabkan kanker, dan tidak membutuhkan pembedahan. 

Baca Juga: Polip Rahim dan Polip Serviks

Jenis-jenis kista ovarium

Dari sekian banyak jenis kista ovarium, sebagian diantaranya dapat memengaruhi kesuburan seorang wanita. Berikut adalah beberapa jenis kista ovarium yang paling sering ditemukan.

Gambar Kista ovarium

Kista Fungsional

Kista ovarium fungsional adalah jenis yang paling sering muncul dan terjadi pada sebagian besar wanita yang masih memiliki ovarium. Kondisi ini terjadi ketika kantung folikel yang mengandung sel telur membesar, namun tidak “pecah” dan melepaskan sel telur. Atau, sel telur telah dilepaskan namun kantung folikel yang seharusnya hilang justru menutup kembali. Kantong ini kemudian terisi cairan dan membengkak.

Ada dua macam kista fungsional, yakni kista korpus luteum dan kista folikular. Kista korpus luteum terjadi setelah proses ovulasi atau pelepasan sel telur. Sedangkan kista folikular terjadi ketika folikel gagal melepaskan sel telur dan terus membesar. Jenis ini tidak menimbulkan gejala dan menghilang dengan sendirinya dalam waktu 6-8 minggu.

Kista Dermoid

Kista dermoid paling banyak ditemukan pada wanita berusia 20-40 tahun. Jenis ini disebut juga teratoma matur (matang) yang terbentuk dari sel-sel germinal ovarium. Sel-sel germinal merupakan bakal dari sel telur dan dapat mengandung gigi, kulit, rambut, atau jaringan lemak. Sebagian besar kista dermoid bersifat jinak, meski pada kasus yang jarang dapat menjadi kanker (disebut dengan teratoma imatur).

Wanita dengan kista dermoid ovarium umumnya tidak bergejala. Bila pun ada, kemunculan gejala tergantung pada ukurannya. Gejala dapat berupa nyeri tumpul atau tajam di bagian perut bawah sisi kiri atau kanan, rasa penuh pada perut, hingga perut kembung.

Kista dermoid hanya bisa ditangani melalui pembedahan. Namun, karena banyak terjadi pada wanita usia subur, jenis pembedahan sangat bergantung pada ukuran kista. Pengangkatan kista saja (kistektomi) bisa dilakukan bila masih berukuran kecil. Sedangkan pengangkatan ovarium (ooforektomi) diperlukan pada kista yang berukuran besar. Selain ukurannya, rencana pengobatan yang dipilih sangat bergantung pada ciri yang tampak ada pemeriksaan ultrasonografi, keterlibatan struktur-struktur yang berdekatan, risiko keganasan (kanker), dan yang terpenting, gejala yang timbul dan keinginan untuk mempertahankan fertilitas (kesuburan).

Perlu diketahui bahwa penyakit jenis ini yang berukuran besar dapat mengalami komplikasi seperti pecah, terpuntir (torsio), hingga terinfeksi. Tanda-tandanya, yakni nyeri perut yang sangat hebat dan bersifat tiba-tiba atau nyeri disertai demam dan muntah-muntah. Yang seperti ini membutuhkan pembedahan segera untuk mencegah komplikasi lebih lanjut.

Kistadenoma ovarium

Kista jenis ini terbentuk di permukaan luar ovarium. Ukurannya bisa sangat besar, yakni mencapai 5-20 cm, namun umumnya jinak. Dindingnya tipis dan dapat bersekat-sekat.

Ada dua macam kistadenoma ovarium, yakni kistadenoma serosa dan kistadenoma musinosa. Dibandingkan dengan kistadenoma serosa, kistadenoma musinosa lebih jarang ditemukan, lebih bersekat-sekat, lebih besar, dan lebih sedikit yang terjadi di kedua ovarium.

Pada sebagian besar kasus, kondisi ini tidak menimbulkan gejala. Kebanyakan ditemukan secara kebetulan pada pemeriksaan kandungan rutin atau melalui ultrasonografi perut untuk alasan lain. Sebagian kista dapat menyebabkan nyeri tajam atau tumpul pada perut dan nyeri saat aktivitas tertentu.

Secara bertahap, kista yang semakin membesar dapat menyebabkan penekanan pada organ sekitarnya sehingga timbul nyeri, perut kembung, dan gangguan berkemih. Kista yang lebih besar dapat menyebabkan torsio ovarium (terpuntir), yang menyebabkan nyeri hilang timbul atau nyeri tiba-tiba pada salah satu sisi perut bawah. Kista yang berdarah atau pecah juga bisa menimbulkan nyeri hebat yang mendadak. 

Pengobatan kistadenoma mencakup menunggu dengan waspada (watchful waiting) dan pembedahan bila kista berukuran besar atau menyebabkan gejala.

Baca Juga: Nyeri Haid, Penyebab dan Cara Mengatasinya

Endometrioma (kista endometriosis)

Endometrioma adalah endometriosis yang terdapat pada ovarium. Nama lainnya kista coklat karena di dalamnya terkandung darah lama. Endometriosis sendiri merupakan kondisi di mana jaringan dinding rahim tumbuh di luar rahim. Sekitar 1 dari 10 wanita usia reproduksi mengalaminya, khususnya pada kelompok usia 30-40 tahun. Selain ovarium, endometriosis juga bisa terjadi di tuba falopii (saluran telur), usus besar, dan bagian permukaan depan, belakang, dan sisi rahim.

Jaringan endometriosis berespon terhadap perubahan kadar hormon estrogen dan karenanya dapat tumbuh dan meluruh layaknya dinding rahim mengikuti siklus haid. Area di sekitar endometriosis dapat mengalami iritasi, peradangan, dan pembengkakan. Penguraian dan peluruhan jaringan endometriosis setiap bulannya juga memicu pembentukan jaringan parut, yang disebut adhesi. Kadang-kadang, adhesi menyebabkan dua organ saling menempel. Hal-hal inilah yang kemudian membuat endometriosis menimbulkan gejala seperti:

  • Nyeri perut bawah.
  • Dismenorea (nyeri sebelum dan selama haid).
  • Dispareunia (nyeri saat berhubungan intim).
  • Nyeri saat buang air besar (bila endometriosis mengenai usus).
  • Nyeri saat berkemih (bila endometriosis mengenai kandung kemih).
  • Perdarahan haid yang hebat.

Meski demikian, banyak wanita dengan endometriosis tidak bergejala. Pada yang seperti ini, satu-satunya ‘gejala’ yakni sulit hamil atau ditemukan secara kebetulan saat menjalani operasi untuk indikasi lainnya. 

Secara statistik, sulit hamil atau infertilitas terjadi pada 4 dari 10 wanita dengan endometriosis. Diperkirakan ini terjadi akibat peradangan yang merusak sel sperma dan sel telur secara langsung atau menghambat pergerakan dan pembuahan di tuba falopii. Pada kasus yang berat, tuba falopii dapat tersumbat oleh adhesi atau jaringan parut. 

Pengobatan endometriosis bergantung pada beratnya penyakit, gejala, dan apakah seorang wanita menginginkan keturunan. Pengobatan mencakup obat-obatan, pembedahan atau kombinasi keduanya.

Sindrom ovarium polikistik (Polycystic ovary syndrome/PCOS)

Sindrom ovarium polikistik atau PCOS terjadi pada 5-10 persen wanita. Pada kondisi ini, kista-kista kecil terbentuk di dalam ovarium akibat tidak adanya ovulasi (pelepasan sel telur). Akibatnya, sel telur tidak bisa dibuahi. Inilah yang menjadi dasar mengapa PCOS adalah penyebab tersering sulit hamil pada wanita.

Ciri wanita dengan PCOS umumnya mencakup:

  • Haid tidak teratur, yang dapat berupa tidak haid selama beberapa bulan, haid jarang-jarang atau terlalu sering, atau perdarahan haid yang berlebihan.
  • Infertilitas atau sulit hamil.
  • Obesitas. Kurang lebih 4 dari 5 wanita dengan PCOS mengalami obesitas.
  • Hirsutisme, yakni pertumbuhan rambut wajah, dada, perut atau paha atas yang berlebihan. Kondisi ini dialami oleh 7 dari 10 wanita dengan PCOS. Ini terjadi karena terdapat peningkatan kadar hormon androgen (pria) di dalam darah.
  • Jerawat yang berlebihan dan terjadi setelah masa remaja serta tidak respon dengan terapi pada umumnya.
  • Kulit berminyak.
  • Mengalami acanthosis nigricans di mana kulit menebal, menghitam, dengan tekstur seperti beludru.

Wanita dengan PCOS juga lebih berisiko mengalami diabetes serta henti nafas saat tidur (obstructive sleep apnea).

Umumnya, PCOS diobati dengan pil KB. Akan tetapi, ada pula pilihan pengobatan lain yang disesuaikan dengan gejala yang timbul (seperti haid yang tidak teratur, infertilitas, resistensi insulin, obesitas, dan hirsutisme), adanya masalah kesehatan lain, dan apakah menginginkan keturunan. Kista di dalam ovariumnya sendiri tidak perlu diangkat maupun obati.

Baca Juga: Miom, Tumor Jinak Penyebab Sulit Hamil

Itulah lima jenis kista yang paling banyak ditemukan pada wanita. Pada dasarnya, sebagian besar penyakit ini yang terjadi pada wanita usia subur bersifat jinak dan dapat menghilang dengan sendirinya. 

Sebagian kista perlu diobati karena dapat mengganggu kesuburan, seperti misalnya pada endometrioma dan PCOS. Kistadenoma dan kista dermoid tidak memengaruhi kesuburan namun bila ukurannya cukup besar dapat menimbulkan komplikasi yang cukup berbahaya. Pada umumnya dokter menganjurkan pengangkatan kista bila ukurannya telah mencapai 5 cm atau lebih, atau telah menimbulkan gejala. Kista-kista ini juga dapat kambuh meski telah hilang dan diobati, terutama pada wanita dengan gangguan hormonal.

  1. Hochberg L, Hoffman MS. Differential diagnosis of the adnexal mass. In: UpToDate, Post, TW (Ed), UpToDate, Waltham, MA, 2021.
  2. Schenken RS. Patient education: endometriosis (beyond the basics). In: UpToDate, Post, TW (Ed), UpToDate, Waltham, MA, 2021.
  3. Baribieri RL, Ehrmann DA. Patient education: polycystic ovary syndrome (PCOS) (beyond the basics). In: UpToDate, Post, TW (Ed), UpToDate, Waltham, MA, 2021.
  4. Muto MG. Patient education: ovarian cysts (beyond the basics). In: UpToDate, Post, TW (Ed), UpToDate, Waltham, MA, 2021.
  5. Ahmed A, Lotfollahzadeh S. Cystic Teratoma. (1 December 2020). In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2021. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK564325.
  6. American College of Obstetrician and Gynecologists. (February 2020). Ovarian Cysts. FAQ075. https://www.acog.org/womens-health/faqs/ovarian-cysts.
  7. American College of Obstetrician and Gynecologists. (June 2020). Endometriosis. FAQ013. https://www.acog.org/womens-health/faqs/endometriosis
  8. Americal College of Obstetrician and Gynecologists. (June 2020). Polycystic ovary syndrome (PCOS). FAQ121. https://www.acog.org/womens-health/faqs/polycystic-ovary-syndrome-pcos.
Share:

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Reservasi