Mengenal Oligospermia, Salah Satu Penyebab Susah Punya Anak

oligospermia

Penyebab pasangan sulit hamil dikarenakan adanya masalah infertilitas. Masalah infertilitas tidak hanya disebabkan oleh wanita namun juga pria. Sekitar 30 – 50% kasus infertilitas disebabkan akibat faktor pria. Salah satu masalah infertilitas pada pria adalah oligospermia.

Definisi oligospermia

Oligospermia adalah kondisi air mani yang dikeluarkan pada saat ejakulasi mengandung sperma dengan konsentrasi yang sedikit. Seorang pria dikatakan mengalami oligospermia ketika jumlah sperma yang ditemukan kurang dari 15 juta per mililiter air mani.

Berdasarkan jumlah sperma, oligospermia dibagi menjadi tiga kategori:

  • Oligospermia ringan: jika jumlah sperma yang ditemukan mencapai 10 – 15 juta per milimeter air mani.
  • Oligospermia sedang: jika jumlah sperma yang ditemukan 5 – 10 juta per milimeter air mani.
  • Oligospermia parah: jika jumlah sperma yang ditemukan 0 – 5 juta per milimeter air mani.

Jumlah sperma yang terlalu sedikit akan menurunkan peluang kehamilan bagi pasangan.

Penyebab Oligospermia

Umumnya, produksi sperma yang sedikit dapat disebabkan oleh gangguan hormonal, kerusakan pada testis dan epididimis, serta saluran sperma yang tersumbat. Berikut beberapa faktor yang menjadi penyebab oligospermia:

1. Gangguan hormon

Bagian hipotalamus dan hipofisis dari otak memproduksi hormon yang memberi sinyal kepada testis untuk memproduksi sperma dan hormon testosteron. Ketidakseimbangan hormon dapat mempengaruhi jumlah sperma yang diproduksi.

2. Varikokel

Varikokel merupakan pelebaran pembuluh darah yang terjadi di area testis. Gangguan aliran darah di plexus pampiniformis ini dapat menyebabkan suhu testis meningkat. Setiap derajat peningkatan suhu akan memberikan dampak negatif bagi produksi sperma.

3. Kerusakan pada testis dan epididimis

Penyebab lain yang menyebabkan oligospermia adalah kerusakan pada testis dan epididimis. Kondisi ini merupakan infeksi akut yang sedang terjadi atau riwayat penuh mengalami infeksi pada testis atau organ disekitarnya yang dapat mengganggu produksi sperma. Radang epididimis akibat penyakit gondongan juga menyebabkan kerusakan pada jaringan testis.

Kondisi lain yang dapat menyebabkan oligospermia adalah infeksi menular seksual. Infeksi menular seksual dapat mengurangi jumlah sperma dalam air mani.

4. Gangguan ejakulasi

Ejakulasi merupakan proses keluarnya sperma dari penis. Adanya gangguan ejakulasi dapat menyebabkan jumlah sperma yang keluar hanya sedikit, seperti ejakulasi retrograde. Ejakulasi retrograde merupakan kondisi di mana air mani memasuki kandung kemih alih-alih keluar dari ujung penis.

5. Riwayat pengobatan

Beberapa Jenis antibiotik dan obat tekanan darah tinggi dapat mempengaruhi kualitas sperma. Suplemen yang mengandung steroid anabolik menyebabkan testis mengecil dan produksi sperma menurun. Riwayat pembedahan, radiasi, dan kemoterapi juga dapat mempengaruhi kesuburan.

6. Gaya hidup dan lingkungan

Selain beberapa kondisi yang disebutkan di atas, terdapat faktor gaya hidup, seperti:

Mengonsumsi alkohol

Minum alkohol dapat menurunkan kadar testosteron dan menyebabkan penurunan produksi sperma.

Merokok

Pria yang merokok mungkin memiliki jumlah sperma yang lebih rendah daripada mereka yang tidak merokok.

Stres emosional

Stres emosional yang berlebihan dapat mengganggu hormon yang dibutuhkan untuk memproduksi sperma.

Depresi

Selain depresi, stres juga bisa memengaruhi konsentrasi sperma secara negatif.

Obesitas

Berat badan berlebihan dapat mengganggu kesuburan baik pada pria maupun wanita. Hal ini juga termasuk berdampak langsung pada sperma dan dengan menyebabkan perubahan hormon yang dapat mengurangi kesuburan pria.

Bahan kimia industri

Paparan yang terlalu lama terhadap benzene, toluene, xylene, pestisida, pelarut organik, bahan pengecatan, dan timbal dapat menyebabkan jumlah sperma sedikit.

Testis terlalu panas

Peningkatan suhu pada area testis dapat memengaruhi produksi dan fungsi sperma, salah satunya penggunaan sauna dan bak air panas. Jika melakukannya terlalu sering maka dapat mengganggu jumlah sperma untuk sementara.

Mengenakan celana ketat serta duduk sambil memangku laptop dalam waktu yang lama dapat meningkatkan suhu di skrotum yang dapat mengurangi produksi sperma.

Gejala Oligospermia

Pria yang mengalami jumlah sperma sedikit ditandai dengan gejala-gejala berikut ini:

  • Masalah fungsi seksual seperti, dorongan seks yang rendah dan disfungsi ereksi.
  • Nyeri, dan bengkak pada area testis
  • Berkurangnya rambut pada wajah atau tubuh, yang menandakan adanya kelainan kromosom atau hormon
analisa air mani

Cara Diagnosa Oligospermia

Tes yang dilakukan untuk diagnosa adalah analisis air mani. Nantinya, sampel air mani akan diperiksa oleh androlog menggunakan mikroskop untuk menentukan jumlah sperma serta kualitas sperma. Dua analisis air mani berturut-turut biasanya dilakukan untuk mendiagnosa kondisi oligospermia atau azoospermia.

Cara Pengobatan Oligospermia

Cara mengatasi oligospermia berbeda berdasarkan penyebabnya. Dengan mengetahui faktor penyebabnya, dapat direncanakan terapi atau pengobatan yang sesuai. Penanganan ini bertujuan untuk meningkatkan jumlah dan kualitas sperma agar meningkatkan peluang kehamilan.

Obat-obatan

Obat-obatan yang diberikan seperti antibiotic dapat mengobati infeksi dan peradangan pada testis dan epididimis. Terapi hormon dapat dilakukan jika ditemukan adanya ketidakseimbangan hormon. Meski tidak dapat meningkatkan jumlah sperma namun dapat mencegah penurunan jumlah sperma lebih lanjut.

Tindakan operasi

Salah satu cara yang dapat mengatasi oligospermia melalui tindakan operasi, seperti TESE. Prosedur TESE akan dilakukan jika jumlah sperma terlalu sedikit atau tidak ditemukan sama sekali. Nantinya, sperma yang didapatkan akan digunakan untuk proses bayi tabung.

Gaya hidup sehat

Gaya hidup lebih sehat dapat mengatasi kelainan sperma ini. Mengonsumsi buah dan sayur kaya akan antioksidan dapat menangkal radikal bebas sehingga meningkatkan kualitas sperma. Selain itu, berhenti merokok dan menjaga berat badan ideal dan olahraga secara teratur dapat memberikan manfaat positif bagi kesehatan sperma.

Apakah Penderita Oligospermia Bisa Punya Anak?

Pria yang mengalami kelainan sperma akan lebih sulit dalam memperoleh keturunan, termasuk oligospermia. Pada kondisi oligospermia, pasangan akan mendapatkan kehamilan dengan teknik reproduksi berbantu.

Inseminasi Intrauterine (IUI)

Inseminasi intrauterine (IUI) merupakan salah satu program hamil dengan teknik memasukkan sperma yang telah diseleksi ke dalam rahim untuk memudahkan proses pembuahan secara alami. Prosedur ini dilakukan dengan cara memisahkan sperma dari cairan ejakulat dan memasukannya langsung ke dalam rahim pasangan saat waktu yang optimal.

Prosedur inseminasi intrauterine (IUI) dapat dilakukan bila kondisi kurang optimal namun masih memadai. Tindakan IUI ini memiliki kelebihan prosedur yang lebih sederhana, tidak invansif, dan biaya ekonomis.

Bayi tabung / In Vitro Fertilization (IVF)

Program Bayi Tabung atau In Vitro Fertilization (IVF) merupakan proses perkembangan embrio di laboratorium melalui hasil pembuahan sel telur dan sperma di luar tubuh. Pada hari ketiga atau kelima, embrio yang berkembang dengan baik akan melanjutkan di dalam rahim ibu.

Program hamil bayi tabung memiliki tingkat keberhasilan cukup baik termasuk pada pasangan dengan oligospermia.

  1. World Health Organization (WHO). International Classification of Diseases, 11th Revision (ICD-11) Geneva: WHO 2018.
  2. Castañeda JM, Miyata H, Ikawa M, Matzuk MM. Sperm Defects. Dalam Encyclopedia of Reproduction, 2nd ed. 2018. 276-81. https://doi.org/10.1016/B978-0-12-801238-3.64778-5. URL.
  3. Tammy J. Lindsay, MD. Evaluation and Treatment of Infertility. Am Fam Physician. 2015 Mar 1;91(5):308-314. URL.
  4. Sahar M Stephens, MD, Daniel M Arnett, MS, and Randall B Meacham, MD. The Use of In Vitro Fertilization in the Management of Male Infertility: What the Urologist Needs to Know. Rev Urol. 2013; 15(4): 154–160. URL.
  5. Lavanyah Sivaratnam MPH, Diana Safraa Selimin MPH, Siti Rasidah, Abd Ghani MPH, Haniff Mohd Nawi MComm, Azmawati Mohammed Nawi PhD. Behavior-Related Erectile Dysfunction: A Systematic Review and Meta-Analysis. The Journal of Sexual Medicine. Volume 18, Issue 1, January 2021, Pages 121-143. URL.
  6. Damayanthi Durairajanayagam. Lifestyle causes of male infertility. Arab J Urol. 2018 Mar; 16(1): 10–20. Published online 2018 Feb 13. doi: 10.1016/j.aju.2017.12.004. URL.
  7. Paul R. Brezina, Fahd N. Yunus, Yulian Zhao. Effects of Pharmaceutical Medications on Male Fertility. J Reprod Infertil. 2012 Jan-Mar; 13(1): 3–11. URL.
  8.  
Share:

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Reservasi