Oligoasthenoteratozoospermia, Jenis Kelainan Sperma yang Paling Sering Ditemukan

oligoasthenoteratozoospermia

Sekitar 1 dari 3 kasus infertilitas eksklusif berasal dari faktor pria. Kelainan sperma menjadi penyebab yang tersering. Salah satu kelainan sperma yang banyak ditemukan pada pasangan infertil adalah oligoasthenoteratozoospermia atau disingkat OAT. Secara harfiah, istilah ini merujuk kepada hasil analisis sperma yang menunjukkan jumlah yang sedikit pada hitung sperma (oligozoospermia), sperma yang berbentuk normal (teratozoospermia), dan sperma yang bergerak normal (asthenozoospermia). 

Menurut manual laboratorium Badan Kesehatan Dunia (WHO) untuk pemeriksaan dan pemrosesan cairan sperma manusia tahun 2010, pria disebut mengalami oligoasthenoteratozoospermia apabila hasil analisis cairan sperma menunjukkan:

  • Jumlah hitung sperma kurang dari 15 juta sperma per mL.
  • Jumlah sperma yang bergerak lincah (progresif) kurang dari 32 persen
  • Jumlah sperma dengan bentuk normal kurang dari 4 persen.
kelainan sperma oligozoospermia asthenozoospermia teratozoospermia

Oligozoospermia
Jumlah sperma sedikit

Asthenozoospermia
Sperma yang bergerak normal sedikit

Teratozoospermia
Sperma yang bentuknya normal sedikit

Penyebab oligoasthenoteratozoospermia

Sebagian besar kasus oligoasthenoteratozoospermia berat terjadi akibat kelainan testis yang tidak diketahui penyebabnya (idiopatik). Pemeriksaan genetik ditemukan abnormal pada 7-10 persen pria dengan jumlah sperma kurang dari 5 juta per mL. 

Secara umum, faktor-faktor yang berperan terhadap kemunculan OAT dapat dibagi menjadi empat kelompok.

1. Faktor genetik

Faktor genetik dapat memengaruhi setiap tahapan yang memicu fertilitas pada pria, mulai dari kerusakan DNA pada sel sperma, kelainan genetik pada kromosom Y, dan kelainan genetik lainnya seperti sindrom Klinefelter.

2. Faktor gaya hidup

Faktor gaya hidup mencakup kebiasaan dan kondisi-kondisi yang secara langsung memengaruhi kualitas sperma. Sebagian besar faktor-faktor ini memengaruhi kualitas sperma melalui stres oksidatif, di mana terbentuk radikal bebas yang berlebihan. Oleh sebab itu, koreksi pada faktor-faktor ini dapat sangat memperbaiki peluang pria dalam memberikan keturunan. Faktor-faktor yang dimaksud antara lain:

  • Konsumsi alkohol dan obat-obatan terlarang.
  • Penggunaan obat-obatan tertentu seperti steroid anabolik, cimetidine (obat mag),  sulfasalazine (obat artritis reumatoid), dan nitrofurantoin (antibiotik untuk infeksi kandung kemih).
  • Paparan panas pada testis. Kondisi lingkungan testis yang terlalu hangat atau panas dapat menurunkan jumlah sperma. Ini bisa disebabkan oleh sering mandi air panas, bersauna, atau menggunakan pakaian dalam yang ketat dan tidak menyerap keringat. Bersepeda terlalu lama juga dapat menimbulkan efek yang sama.
  • Merokok. Kebiasaan ini diketahui dapat menurunkan jumlah sperma hingga 17,5 persen dan pergerakan sperma hingga 16,6 persen.
  • Aktivitas fisik yang berlebihan, seperti bersepeda dalam waktu lama atau berkuda dapat memicu pembengkakan testis. 
  • Berat badan berlebih atau obesitas diketahui memicu perubahan hormon yang berdampak pada kesuburan. Terlalu kurus atau indeks massa tubuh di bawah 18,5 juga berdampak negatif.

3. Kelainan pada testis

Kelainan pada testis dapat mengganggu kemampuan testis dalam menghasilkan sperma yang cukup dan berkualitas baik. Sebagian dari kelainan ini dapat dikoreksi, dan sebagian lainnya tidak.

  • Riwayat infeksi di masa lalu, khususnya sifilis, gondongan, malaria, yang diketahui dapat memengaruhi sistem reproduksi pria baik secara langsung maupun tidak langsung.
  • Riwayat kemoterapi dan radioterapi.
  • Varikokel (penyebab ini kerap kali dapat dikoreksi).
  • Kanker atau cedera pada testis.

4. Gangguan ejakulasi

Gangguan ejakulasi dapat disebabkan oleh berbagai kondisi yang mengganggu proses ejakulasi atau tersumbatnya aliran cairan sperma di dalam saluran reproduksi pria. Penyebabnya antara lain:

  • Disfungsi ereksi, yang umumnya dapat dikoreksi dengan obat-obatan
  • Hipospadia, yaitu kelainan bawaan lahir di mana uretra atau tempat keluarnya urin /sperma tidak terletak di kepala penis.
  • Impotensi akibat sebab lain.
  • Sumbatan vas deferens, yakni saluran ejakulasi.
  • Prostatitis atau radang kelenjar prostat.
  • Ejakulasi retrograd, di mana aliran cairan sperma bukan ke luar tubuh melainkan berbalik ke kandung kemih

Dapatkah oligoasthenoteratozoospermia diobati?

Sama seperti kelainan sperma lainnya, untuk mengobati oligoasthenoteratozoospermia, langkah pertama adalah mendapatkan evaluasi menyeluruh terhadap hasil analisis cairan sperma yang abnormal. Bila ditemukan penyebab seperti varikokel, infeksi maupun kondisi medis lain yang tidak permanen, maka dapat dikoreksi terlebih dulu. Jenis pengobatan tentu bergantung pada masing-masing penyebab.

Modifikasi gaya hidup dapat membantu memperbaiki kelainan yang bersifat ringan hingga sedang, di antaranya:

  • Menjaga berat badan di rentang ideal.
  • Menerapkan pola makan sehat, terutama buah dan sayur yang kaya antioksidan.
  • Mencegah infeksi menular seksual dengan setia pada satu pasangan seksual dan menggunakan kondom setiap kali berhubungan seksual.
  • Mengelola stres dengan terapi relaksasi, meditasi, yoga, atau tai chi.
  • Rutin berolahraga, yakni 30 menit per hari atau 150 menit per minggu.
  • Berhenti merokok, konsumsi alkohol, narkoba, dan obat-obatan yang dapat mengganggu produksi sperma.
  • Menggunakan alat pelindung diri bila pekerjaan berhubungan dengan bahan-bahan kimia beracun dan berbahaya.
  • Jaga area kelamin pada suhu yang nyaman dengam menggunakan pakaian dalam yang tidak ketat dan menyerap keringat, mengurangi waktu duduk atau bersepeda, menghindari sauna, serta membatasi paparan testis terhadap benda-benda hangat (seperti laptop).

Mengonsumsi suplemen yang mengandung zinc, asam folat, n-acetylcysteine, co-enzyme Q10, vitamin C, vitamin E, dan karnitin diklaim dapat membantu memperbaiki kualitas sperma dengan menurunkan kadar radikal bebas yang terbentuk. Namun sebaiknya berkonsultasi terlebih dulu dengan dokter sebelum mulai menggunakan suplemen-suplemen tersebut.

Sebuah studi dari Indonesia menyebutkan bahwa penggunaan akupunktur sebagai pelengkap terapi medis lainnya juga dapat memperbaiki kualitas sperma, khususnya dalam hal pergerakan sperma. 

Namun demikian, kualitas sperma sulit diperbaiki pada kasus-kasus oligoasthenoteratozoospermia berat. Kabar baiknya, pria dengan kondisi ini tetap bisa memiliki keturunan dengan teknologi reproduksi berbantu (TRB).

Bagaimana mencapai kehamilan dengan oligoasthenoteratozoospermia?

Meski tampaknya sulit, pria dengan oligoasthenoteratozoospermia tetap bisa memiliki keturunan. Metode kehamilan yang paling efektif adalah In-Vitro Fertilization (IVF) dengan Intracytoplasmic Sperm Microinjection (IVF + ICSI). Melalui cara ini, satu sel sperma dengan kualitas terbaik dipilih lalu disuntikkan langsung ke dalam sitoplasma sel telur matang menggunakan jarum khusus. Dengan teknik ini, kehamilan umumnya bisa dicapai meski hanya didapat beberapa sel sperma sehat dari cairan sperma.

Penutup

Banyak kasus infertilitas pada pria dapat diobati dan akhirnya bisa hamil secara alami. Pada yang tidak bisa, kehamilan mampu diupayakan melalui teknologi reproduksi berbantu. Yang terpenting, ketika mengalami infertilitas, jangan malu atau segan untuk mencari bantuan medis. Semakin cepat diatasi, semakin baik keluarannnya, semakin tinggi pula peluang untuk hamil. Oleh sebab itu, segera buat janji dengan dokter ahli fertilitas, lakukan evaluasi yang menyeluruh, dan ikuti semua saran dan rencana pengobatan yang dianjurkan.

  1. Magdi Y, Darwish E, Elbashir S, Majzoub A, Agarwal A. Effect of modifiable lifestyle factors and antioxidant treatment on semen parameters of men with severe oligoasthenoteratozoospermia. Andrologia. 2017 Sep;49(7). doi: 10.1111/and.12694. Epub 2016 Nov 10. PMID: 27859525.
  2. Hirsh A. (2003). Male subfertility. BMJ (Clinical research ed.), 327(7416), 669–672. doi.
  3. Nareswari I, Lestari SW, Notonegoro C. Acupuncture Therapy for Severe Oligoasthenoteratozoospermia. Med Acupunct. 2021 Aug 1;33(4):302-305. doi: 
  4. World Health Organization. WHO Laboratory Manual for the Examination of Human Semen and Sperm-Cervical Mucus Interaction, 5th edn. Cambridge: Cambridge University Press, 2010.
  5. Castañeda, J. M., Miyata, H., Ikawa, M., & Matzuk, M. M. (2018). Sperm defects.
  6. Anawalt BD, Page ST. Approach to the male with infertility. In: UpToDate, Post, TW (Ed), UpToDate, Waltham, MA, 2021.
  7. Anawalt BD, Page ST. Causes of male infertility. In: UpToDate, Post, TW (Ed), UpToDate, Waltham, MA, 2021. 
  8. Hussein, A. (2018). Overview Treatment and Male Reproductive Medicine. Encyclopedia of Reproduction, 307–313. doi:10.1016/b978-0-12-801238-3.64782-7
  9. Centola, G. M. (2018). Understanding Bulk Seminal Parameters. Encyclopedia of Reproduction, 50–53. doi:10.1016/b978-0-12-801238-3.64834-1
Share:

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Reservasi