Pengaruh Faktor Genetik pada Kesuburan dan Cara Mendeteksinya

faktor genetik dna

“Infertilitas itu diturunkan tidak, Dok?” Pertanyaan ini sering muncul ketika pasangan mendatangi klinik fertilitas. Infertilitas merupakan kondisi kesehatan yang relatif umum ditemukan, dialami oleh sekitar 7 dari 100 pasangan. Kondisi ini disebabkan oleh kombinasi berbagai faktor yang mencakup faktor internal (genetik) dan eksternal (lingkungan dan gaya hidup). Namun demikian, faktor genetik diperkirakan berkontribusi pada hampir 50 persen kasus infertilitas.

Jenis kelainan genetik

Secara garis besar, kelainan genetik dibagi menjadi dua kategori, yakni defek gen tunggal dan kelainan kromosom.

Defek gen tunggal

Defek gen tunggal melibatkan mutasi atau kelainan di dalam DNA, yang memberikan kode untuk gen tertentu. Defek seperti ini dapat menimbulkan gangguan kesehatan yang selanjutnya berdampak pada kesuburan. Contonya yakni, penyakit fibrosis kistik, penyakit Tay Sachs, atrofi otot tulang belakang, penyakit Canavan, anemia sel sabit, dan talasemia.

Kelainan kromosom

Kelainan kromosom melibatkan perubahan pada jumlah atau struktur kromosom yang membawa DNA. Seringkali, kelainan ini melibatkan banyak gen. Normalnya, manusia memiliki 46 kromosom, yang terdiri dari 22 pasang autosom dan sepasang kromosom seks. Dengan demikian, wanita memiliki 22 pasang autosom dan dua kromosom X (46, XX), sedangkan pria memiliki 22 pasang autosom, satu kromosom X dan satu kromosom Y (46, XY). Kondisi-kondisi dengan kelainan kromosom, mencakup:

  • Sindrom Down, di mana terdapat trisomi 21—ekstra kromosom 21.
  • Sindrom Turner, di mana satu kromosom X hilang (46, XO).
  • Sindrom Klinefelter, di mana pria memiliki kelebihan satu kromosom X (47, XXY).

Dampak kelainan faktor genetik pada kesuburan

Adanya kelainan genetik dapat memengaruhi kesuburan baik secara primer maupun sekunder. Secara primer, kelainan genetik berdampak langsung pada perkembangan sel-sel germinal pembentuk sperma dan sel telur. Sedangkan secara sekunder, kelainan genetik menimbulkan gangguan sistemik, seperti pada sistem hormon dan metabolisme, yang selanjutnya memengaruhi kesuburan.

1. Kelainan genetik dan kesuburan pria

Kelainan genetik yang mengganggu kesuburan pria umumnya berkaitan dengan jumlah hitung sperma yang rendah atau tidak ada sama sekali, serta hambatan pada aliran sperma. Beberapa yang tersering, antara lain:

  • Mutasi pada gen fibrosis kistik, yang menyebabkan tidak terbentuknya saluran sperma (vas deferen) sejak lahir. Defek ini mencegah sel sperma bercampur dengan cairan sperma sehingga sebagian besar pria dengan fibrosis kistik mengalami ejakulasi tanpa adanya sperma.
  • Sindrom Klinefelter, di mana pria terlahir dengan kromosom X ekstra (XXY). Kondisi ini membuat rendahnya produksi sel sperma dan hormon testosteron.
  • Delesi atau hilangnya kromosom Y, yang menyebabkan pria tidak bisa mencapai hitung sperma yang normal.

2. Kelainan genetik dan kesuburan wanita

Pada wanita, kelainan genetik berhubungan dengan gangguan ovulasi dan pembuahan, kegagalan implantasi hingga keguguran. Beberapa yang tersering, yakni:

  • Sindrom Fragile X. Kondisi ini adalah penyebab utama menopause dini (primary ovarian insufficiency/POI), di mana ovarium berhenti bekerja sebelum usia 40 tahun. Pada POI, wanita berhenti berovulasi dan menstruasi, sehingga tidak lagi bisa hamil.
  • Polycystic ovary syndrome (PCOS), di mana kelainan genetik memicu gangguan hormonal yang mengganggu perkembangan dan pelepasan sel telur.
  • Endometriosis, yakni pertumbuhan dinding rahim di luar rahim. Kondisi ini dapat memengaruhi kesuburan melalui beberapa cara, yakni perubahan dan peradangan pada struktur rongga panggul, perlengketan organ panggul, terbentuknya jaringan parut pada saluran telur, gangguan implantasi embrio, dan penurunan kualitas sel telur yang terbentuk.
  • Mutasi pada gen fibrosis kistik. Kondisi ini menyebabkan wanita mengalami gizi kurang sehingga produksi hormon reproduksi terganggu. Selanjutnya, ini akan mengganggu proses pematangan sel telur dan ovulasi. 
  • Sindrom Kallmann, di mana infertilitas terjadi karena tubuh tidak memproduksi hormon gonadotropin yang diperlukan untuk perkembangan organ reproduksi.
  • Diskinesia silier primer, yakni kelainan genetik yang menyebabkan infeksi saluran napas kronis. Kondisi ini juga disertai dengan infertilitas pada wanita oleh karena fungsi silia (penggerak sel telur) di saluran telur abnormal. Kondisi ini menyebabkan pembuahan sulit terjadi karena sel telur tidak dapat berpindah ke lokasi yang seharusnya.
kelainan genetik kromosom

Kapan tes genetik harus dilakukan pada kasus infertilitas?

Tes genetik tentunya tidak dilakukan pada semua yang mengalami infertilitas. Pada pria, tes ini perlu dipertimbangkan pada kasus azoospermia non obstruktif (tidak ada sumbatan), oligospermia (hitung sperma sedikit) berat, atau tidak ditemukan saluran sperma pada pemeriksaan. Tes genetik tidak diperlukan pada pria yang sebelumnya subur namun 

mengalami infertilitas akibat paparan zat tertentu (seperti kemoterapi), atau dicurigai mengalami disfungsi saluran ejakulasi.

Pada wanita, tes genetik umumnya dilakukan pada yang mengalami POI primer maupun sekunder, serta terdapat gejala-gejala yang mengarah pada hiperplasia adrenal kongenital. Kondisi ini ditandai dengan tidak haid atau haid tidak teratur, serta munculnya karakteristik maskulin, seperti rambut pada wajah (kumis), rambut tubuh yang berlebihan, suara yang seperti pria, dan jerawat yang berlebihan.

Tes genetik pada kedua pasangan juga sebaiknya dilakukan bila ditemukan riwayat keguguran berulang.

Cara mendeteksi kelainan genetik

Untuk mengetahui faktor genetik pada pria dengan infertilitas, tes genetik yang paling umum dilakukan adalah karyotyping, skrining mikro delesi kromosom Y, dan tes mutasi gen CFTR.

  • Karyotyping (KA) adalah teknik sitogenetik di mana kromosom manusia divisualisasi menggunakan mikroskop cahaya dan selanjutnya dianalisis untuk dicari kelainan dalam jumlah atau struktur. Ada sekitar 2.000 gen yang diperkirakan berperan dalam proses pembentukan sperma (spermatogenesis), sehingga banyak sekali kelainan kromosom yang dapat menyebabkan infertilitas. Namun, yang paling sering adalah perubahan struktur kromosom, sindrom Klinefelter, dan sindrom pria 46,XX.
  • Skrining mikro delesi kromosom Y. Hingga kini, ada 5 titik mikrodelesi utama yang banyak ditemukan, yakni AZFa, P5-proximal P1 (AZFb), P5-distal P1 (AZFbc), P4-distal P1 (AZFbc) dan b2/b4 (AZFc).
  • Tes mutasi gen CFTR pada pria dengan azoospermia obstruktif (akibat sumbatan). Pria dengan kelainan genetik ini memiliki kelainan bawaan pada saluran dan penyimpanan sperma, seperti vas deferens, epididimis, dan vesikula seminalis.

Untuk mengetahui faktor genetik pada wanita dengan infertilitas, ada dua jenis tes genetik yang tersedia, yaitu:

  • Skrining karier gen tertentu, misalnya gen FMR1 untuk sindrom Fragile X. Tes ini dapat mengidentifikasi wanita dengan kondisi tersebut atau kemungkinannya sebagai karier. Karier atau pembawa kondisi genetik biasanya tidak mengalami penyakit, namun dapat mewariskan gen tersebut kepada keturunannya. 
  • Karyotyping. Pada wanita, tes ini digunakan untuk mendeteksi sindrom Down, sindrom Turner, atau kelainan akibat perubahan susunan pada kromosom. 

Meski tidak akan mengubah rencana terapi secara bermakna, tes genetik perlu dilakukan untuk tiga alasan. Yang pertama, untuk mendapatkan diagnosis atau penyebab yang pasti, untuk menentukan kondisi yang mungkin diwariskan kepada keturunannya, dan mengevaluasi kondisi yang mungkin berdampak pada kesuksesan teknologi reproduksi berbantu, seperti bayi tabung. Diagnosis kelainan genetik penyebab infertilitas juga akan memengaruhi pengelolaan kesehatan individu secara menyeluruh.

cheer

Jadwalkan Konsultasi

Kami dengan senang hati akan mendiskusikan opsi finansial yang ada dan membantu menjawab pertanyaan Anda.

Jadwalkan konsultasi dengan menghubungi kami di (021) 50200800 atau dengan mengisi formulir melalui tombol dibawah.

  1. Zorrilla M, Yatsenko AN. The Genetics of Infertility: Current Status of the Field. Curr Genet Med Rep. 2013;1(4):10.1007/s40142-013-0027-1. doi:10.1007/s40142-013-0027-1.
  2. Yahaya, T.O., Liman, U.U., Abdullahi, H. et al. Genes predisposing to syndromic and nonsyndromic infertility: a narrative review. Egypt J Med Hum Genet 21, 46 (2020). 
  3. Cariati, F., D’Argenio, V. & Tomaiuolo, R. The evolving role of genetic tests in reproductive medicine. J Transl Med 17, 267 (2019).
  4. Pelzman DL, Hwang K. Genetic testing for men with infertility: techniques and indications. Transl Androl Urol. 2021;10(3):1354-1364. doi:10.21037/tau-19-725. 
  5. Kara E, Simoni M. Genetic screening for infertility: When should it be done?. Middle East Fertility Society Journal. 2010 Jul 1;15(3):139-45.
  6. Wyrwoll, Margot J., Rudnik-Schöneborn, Sabine and Tüttelmann, Frank. “Genetic counseling and diagnostic guidelines for couples with infertility and/or recurrent miscarriage” Medizinische Genetik, vol. 33, no. 1, 2021, pp. 3-12.
Share:

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Reservasi