Kehamilan Ektopik Terganggu : Penyebab, Gejala, Pengobatan

Kehamilan Ektopik Terganggu (KET)

Kehamilan ektopik terganggu (KET) bisa menyebabkan kondisi yang berbahaya bagi ibu hamil sehingga perlu penanganan segera.

Salah satu gangguan kehamilan yang bisa dialami oleh ibu hamil adalah kehamilan ektopik yakni kehamilan yang terjadi di luar kandungan. Namun, kehamilan ektopik terganggu bisa mengancam nyawa ibu hamil.

Kehamilan ektopik terganggu adalah kondisi lanjutan dari kehamilan di luar kandungan atau kehamilan ektopik) yang harus mendapat penanganan segera. Kondisi ini terjadi ketika adanya kelainan yang dialami pada saat pembuahan sel telur terjadi.

Kehamilan ektopik bisa terjadi di organ yang berada di luar rahim, seperti tuba falopi, ovarium, leher serviks, dan rongga perut. Kondisi KET bisa diketahui melalui gejala-gejala yang dialami seperti perdarahan pada vagina maupun nyeri panggul.

Jika sel telur yang menempel di luar rahim terus tumbuh makan dapat menyebabkan tuba falopi pecah sehingga terjadi perdarahan hebat. Kondisi ini tentu bisa mengancam jiwa ibu hamil.

Tanya Ferly tentang Promil?

New CTA WA

Penyebab Kehamilan Ektopik Terganggu

Kehamilan ektopik dapat terjadi karena beberapa faktor, seperti ketidakseimbangan hormon, gaya hidup, hingga genetik.

1. Ketidakseimbangan hormon

Ketidakeimbangan hormon bisa menjadi salah satu pemicu KET. Menurut jurnal yang diterbitkan Journal Research in Medical Sciences, hormon reproduksi yang tidak seimbang bisa menjadi pemicu kondisi terjadi kehamilan ektopik terganggu.

Hal ini lantaran bisa membuat sel telur yang telah dibuahi tidak dapat menempel pada dinding rahim jika proses reproduksi terganggu akibat hormon yang tidak seimbang.

2. Penggunaan alat kontrasepsi spiral

Penggunaan alat kontrasepsi intrauterine device (IUD) atau yang biasa disebut KB spiral bisa menimbulkan risiko yang dialami wanita. Hal ini lantaran penggunaan KB spiral langsung dimasukkan ke dalam mulut rahim.

Jika ada pergeseran yang terjadi di dalam mulut rahim maka bisa menyebabkan luka pada dinding rahim dan menimbulkan risiko terjadinya kehamilan ektopik.

3. Faktor genetik

Jika ada anggota keluarga yang memiliki riwayat kehamilan ektopik terganggu maka ada peluang Anda juga mengalaminya. Faktor penyebab ini sulit dihindari maupun dicegah karena sifatnya dari gen tersebut bisa permanen dalam kromosom.

4. Merokok

Rokok merupakan salah satu penyebab dari masalah kesehatan. Zat-zat yang terkandung pada rokok bisa menimbulkan kondisi-kondisi tertentu yang cukup serius termasuk bisa menyebabkan kehamilan ektopik.

Rokok dapat menyebabkan janin tidak berkembang dan kemungkinan terjadinya kehamilan di luar kandungan. Maka dari itu, hindari merokok agar kehamilan dapat berjalan lancar.

Faktor Risiko Kehamilan Ektopik Terganggu

Faktor Risiko Kehamilan Ektopik Terganggu

Wanita hamil bisa mengalami KET apabila ada beberapa faktor risiko yang mungkin memicu kondisi tersebut:

  • Memiliki endometriosis tuba. Endometriosis yang terletak pada tuba bisa menjadi pemicu KET karena dapat meningkatkan risiko luka dan perlengketan pada saluran tuba.
  • Mengidap penyakit radang panggul. Penyakit radang panggul bisa terjadi karena adanya infeksi klamidia yang ditularkan melalui hubungan seksual. Kondisi ini tentu menyebabkan tuba falopi rusak.
  • Hamil di usia yang cukup tua. Hamil pada usia 35 tahun atau lebih dapat meningkatkan risiko terjadinya KET. Meskipun kelainan kehamilan ini bisa terjadi pada wanita dengan usia berapa pun selama ia telah aktif berhubungan suami istri dengan pasangan.

Memiliki riwayat kehamilan ektopik sebelumnya. Wanita yang pernah mengalami kehamilan ektopik bukan tidak mungkin untuk tidak mengalaminya lagi. Bahkan risiko ini yang terjadi pada perempuan meningkat.

Ciri-Ciri Kehamilan Ektopik Terganggu

Umumnya, sangat kecil kemungkinan janin dapat bertahan dalam kasus kehamilan di luar kandungan. Selain itu, banyak wanita yang tidak sadar mengenai kondisi tersebut. Namun, ketika usia kehamilan berkembang menjadi lebih besar maka gejala kehamilan ektopik terganggu ini bisa muncul, seperti:

1. Nyeri pada perut

Jika Anda merasakan nyeri perut pada saat hamil maka harus waspada. Pasalnya, gejala ini bisa menandakan ciri-ciri KET. Wanita hamil yang mengalami KET bisa mengalami nyeri tajam pada saat awal muncul namun perlahan nyerinya akan menyebar ke seluruh bagian perut.

2. Adanya perdarahan pada vagina

Biasanya, perdarahan yang dialami oleh wanita yang mengalami kehamilan di luar kandungan berwarna kecokelatan atau hitam dan teksturnya cair. Pada wanita yang mengalami kehamilan ektopik, kondisi perdarahan terbilang cukup ringan. Sedangkan perdarahan yang berat bisa menunjukkan gejala kehamilan ektopik terganggu.

3. Gangguan pada kandung kemih atau pencernaan

Salah satu ciri wanita hamil yang mengalami kehamilan di luar kandungan maka biasanya mengalami gangguan pencernaan atau kandung kemih. Beberapa gejala yang biasanya dialami, seperti:

  • Nyeri saat buang air kecil
  • Nyeri saat buang air besar
  • Diare
  • Muntah-muntah
  • Vagina terasa sakit yang tajam

Diagnosis Kehamilan Ektopik

Kondisi kehamilan ektopik dapat didiagnosis melalui beberapa pemeriksaan oleh dokter. Dokter melakukan pemeriksaan mulai dari tanya jawab mengenai keluhan yang Anda alami. Setelah itu, dokter akan melakukan beberapa pemeriksaan seperti:

1. Tes kehamilan

Dokter akan melakukan pemeriksaan kehamilan melalui tes darah untuk mengetahui kadar hormon human chorionic gonadotropin (hCG). Hormon ini diproduksi oleh plasenta. Jika kadar hCG terdeteksi pada urine maka menjadi salah satu tanda kehamilan.

2. Ultrasonografi (USG)

Salah satu pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk mendiagnosis kondisi ini adalah ultrasonografi (USG). USG merupakan salah satu pemeriksana yang dapat mengetahui kondisi rahim dan tuba falopi. Selain mendeteksi kehamilan ektopik, USG juga bisa dapat mendeteksi masalah kesehatan lain.

3. Pemeriksaan panggul

Selain USG, dokter juga akan melakukan pemeriksaan dengan melakukan pemeriksaan panggul untuk mendiagnosis apakah terdapat adanya pertumbuhan yang abnormal pada tuba falopi. Selain itu, pemeriksaan panggul juga dilakukan untuk melihat ukuran rahim.

Pada kehamilan yang normal, ukuran rahim akan membesar mengikuti pertumbuhan janin yang kian berkembang. Sementara itu, pada kondisi hamil ektopik, ukuran rahim tidak ikut membesar karena pertumbuhan janin berada di luar rahim.

Pengobatan Kehamilan Ektopik

Salah satu kelainan pada kehamilan ini dapat menyebabkan kondisi yang dapat mengancam jiwa ibu hamil jika tidak mendapat penanganan yang tepat. Penanganan hamil di luar kandungan sesuai dengan perkembangan kehamilan dan lokasi menempelnya sel telur.

1. Obat suntik

Salah satu metode pengobatan untuk mengatasi kehamilan ektopik adalah dengan suntik methotrexate. Penyuntikan methotrexate ditujukan untuk menghentikan kehamilan ektopik pada tahap awal. Dokter akan memantau kadar hormon hCG di dalam darah 2 – 3 hari hingga kadarnya menurun. Sebab jika kadar hCG menurun maka kehamilan tidak lagi berkembang.

2. Operasi laparoskopi

Selain obat suntik, kehamilan ektopik bisa dilakukan melalui laparoskopi. Hal ini dilakukan jika kondisi kelainan ini bisa merusak tuba falopi serta jaringan di sekitarnya. Tindakan laparoskopi akan dilakukan jika salah satu atau kedua tuba falopi rusak sehingga harus diangkat. Namun, jika memungkinkan maka tuba falopi cukup diperbaiki tanpa harus diangkat.

3. Operasi laparotomi

Dalam kasus kehamilan di luar kandungan dengan pendarahan yang berat, dokter akan melakukan tindakan operasi laparotomi. Prosedur ini dilakukan untuk mengangkat janin dan memperbaiki tuba falopi yang rusak.

Cara Mencegah Kehamilan Ektopik

Pada umumnya, kelainan kehamilan ini tidak dapat dicegah namun beberapa cara ini dapat dilakukan untuk mencegah kehamilan ektopik, antara lain:

1. Berhenti merokok

Pastikan untuk berhenti merokok jika ingin kehamilan berjalan lancar. Pasalnya, wanita yang merokok memiliki risiko lebih tinggi mengalami kehamilan ektopik.

2. Menjalani pola hidup sehat

Pola hidup sehat juga bisa memicu kondisi ini. Konsumsi makanan dengan nutrisi seimbang. Jaga kebersihan dan kesehatan organ intim. Serta melakukan olahraga ringan secara teratur.

3. Melakukan hubungan suami istri denga naman

Disarankan untuk berhubungan secara aman agar mengurangi risiko kehamilan yang terjadi di luar kandungan serta penyakit menular seksual.

4. Deteksi kondisi sejak dini

Banyak wanita tidak menyadari jika mengalami kehamilan ektopik. Salah satu cara yang dapat dilakukan dengan memeriksakan kondisi sejak dini untuk mengurangi kemungkinan komplikasi yang terjadi. Jangan ragu konsultasikan dengan dokter untuk mendapat penanganan yang tepat.

cheer

Jadwalkan Konsultasi

Jika Anda belum hamil setelah satu tahun usia pernikahan, kami menyarankan Anda untuk melakukan pemeriksaan kesuburan dengan spesialis fertilitas kami.

Buat janji konsultasi dengan menghubungi kami di (021) 50200800 atau chat melalui Whatsapp melalui tombol di bawah.

  • Moini, A., et al. (2014). Risk factors for ectopic pregnancy: A case–control study. J Res Med Sci. 2014 Sep; 19(9): 844–849.
  • Fylstra, D. L. (2015). Ectopic pregnancy after hysterectomy may not be so uncommon: A case report and review of the literature. Case Rep Womens Health. 2015 Jul; 7: 8–11. 
  • Mummert T, Gnugnoli DM. (2022). Ectopic Pregnancy. StatPearls. 
  • Jurkovic, D., et al. (2011). Diagnosis and management of ectopic pregnancy. BMJ 2011; 342.
Avatar photo
Share:

 

One Response

  1. Bramantia Agustim berkata:

    Kalau nyeri di bagian perut sangat melilit dan keluar flek cuma gak hitam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

doctors
[caldera_form id="CF6195e2bd61123"]
Buat Janji