Keguguran Berulang - Penyebab & Cara Mencegah | Bocah Indonesia
Keguguran berulang

Penyebab dan Pencegahan Keguguran Berulang

Kenali Penyebab dan Cara Mencegah Keguguran Berulang

Keguguran berulang dialami oleh sekitar 1-2 persen wanita di dunia.

Keguguran adalah terhentinya kehamilan yang telah dikonfirmasi melalui pemeriksaan ultrasonografi sebelum janin mencapai usia 20 minggu. Keguguran dianggap berulang bila seorang wanita telah mengalaminya 2 kali atau lebih. Pada sebagian besar kasus, keguguran terjadi sebelum usia kehamilan mencapai 8 minggu.

Penyebab keguguran berulang

Ada banyak alasan mengapa seorang wanita dapat mengalami keguguran lebih dari satu kali:

Kelainan genetik

Sebagian besar (sekitar 60 persen) kejadian keguguran terjadi secara acak ketika pembuahan menghasilkan embrio dengan jumlah kromosom yang abnormal selama pembuahan. Kelainan genetik ini terjadi secara kebetulan dan tidak disebabkan oleh kondisi medis tertentu. Namun demikian, statistik menunjukkan bahwa peluang terjadinya kelainan genetik ini semakin tinggi dengan semakin meningkatnya usia reproduksi wanita. 

Kelainan anatomi

Beberapa kelainan pada rahim wanita dapat menyebabkan keguguran berulang. Beberapa di antaranya:

  • Rahim bersepta (septate uterus). Pada kondisi ini, rahim terbagi menjadi dua ruang yang dipisahkan oleh dinding jaringan. Akibatnya, rongga rahim menjadi sempit.
  • Sindrom Asherman, di mana terjadi perlengketan dan pembentukan jaringan parut pada rahim. Kondisi ini paling sering disebabkan oleh trauma pada rahim akibat prosedur kuretase (pengikisan dan pembersihan dinding rahim dari jaringan janin) pada keguguran sebelumnya.
  • Adanya mioma atau polip di dalam rahim.
  • Adanya kelemahan pada leher rahim (inkompetensi/insufisiensi serviks).

Faktor lingkungan dan gaya hidup

Beberapa paparan zat tertentu dan gaya hidup diketahui berhubungan dengan keguguran berulang, di antaranya:

  • Merokok lebih dari 10 batang sehari.
  • Memiliki berat badan berlebih atau obes.
  • Konsumsi alkohol 3-5 kali per minggu
  • Konsumsi kafein yang berlebihan (lebih dari 3 cangkir per hari)
  • Penggunaan obat-obatan terlarang seperti kokain.

Mengalami kondisi medis tertentu

Wanita dengan kondisi medis berikut lebih berisiko mengalami keguguran berulang. 

  • Memiliki kelainan hormon tiroid atau diabetes.
  • Mengalami sindrom antifosfolipid (antiphospholipid syndrome/APS) di mana sistem kekebalan wanita mengalami kesalahan dalam membuat antibodi sehingga menyerang zat tertentu yang terlibat dalam proses pembekuan darah normal. APS berkaitan erat dengan kejadian keguguran berulang dan kematian janin.
  • Kelainan pada sistem pembekuan darah (trombofilia).
  • Mengalami sindrom ovarium polikistik (PCOS).

Penyebab yang tidak diketahui

Pada 50 sampai 75 persen wanita dengan keguguran berulang, tidak ditemukan sebab yang jelas. Akan tetapi, kemungkinan besar ini berhubungan dengan adanya kelainan genetik.

Di luar berbagai penyebab di atas, secara umum risiko keguguran akan meningkat bila:

  • Seorang wanita hamil di atas usia 35 tahun.
  • Pernah mengalami keguguran sebelumnya.
  • Mengalami infeksi serius, terpapar obat/radiasi/bahan kimia berbahaya, atau mengalami cedera pada perut. 

mencegah keguguran berulangCara mencegah keguguran berulang

Untuk mencegah keguguran di kehamilan berikutnya, perlu dilakukan evaluasi yang menyeluruh terhadap pasangan suami istri. Tahap-tahapannya mencakup:

Berkonsultasi dengan ahlinya dan lakukan pemeriksaan yang direkomendasikan

Pada wanita yang berulang kali keguguran, dokter akan terlebih dulu menanyakan riwayat kesehatan secara lengkap, termasuk riwayat kehamilan sebelumnya, riwayat haid dan penyakit yang pernah diderita. Pada umumnya, dokter akan menyarankan pemeriksaan-pemeriksaan berikut untuk menentukan penyebab keguguran berulang:

  • Pemeriksaan darah untuk menentukan adanya kondisi medis, gangguan autoimun atau pembekuan darah yang menyebabkan keguguran berulang.
  • Pemeriksaan materi genetik (kromosom) pasangan suami istri melalui pemeriksaan karyotyping. Sebagian individu sehat memiliki perbedaan dalam susunan kromosom yang meningkatkan risiko terjadinya keguguran berulang.
  • Histerosalpingografi atau ultrasonografi kandungan untuk melihat adanya kelainan di dalam rahim.
  • Bila ada, sisa jaringan akibat keguguran diperiksa untuk kelainan genetik.

Menjalani pengobatan untuk penyebab keguguran yang jelas diketahui

Bila hasil pemeriksaan mengarah kepada kelainan tertentu, maka harus ditangani terlebih dulu sebelum berencana untuk hamil kembali. Sebagai contoh:

  • Pembedahan korektif untuk mengangkat septum pada rahim.
  • Mengobati kelainan hormon tiroid atau mengendalikan kadar gula darah pada diabetes.
  • Menjalani pengobatan untuk mengatasi gangguan autoimun dan pembekuan darah.

Menerapkan upaya pencegahan berikut

Hingga kini, tidak ada satu cara pun yang dapat benar-benar mencegah keguguran pada kehamilan berikutnya. Akan tetapi, peluang keguguran dapat dikurangi dengan menerapkan hal-hal berikut:

  • Mengonsumsi paling sedikit 400 mcg asam folat setiap hari, yang dimulai sejak 1-2 bulan sebelum hamil. 
  • Rutin berolahraga, yakni 30 menit sehari selama 5 kali dalam seminggu. Namun, hindari yang berisiko tinggi menimbulkan cedera, seperti olahraga yang melibatkan kontak fisik.
  • Mengonsumsi makanan sehat bergizi seimbang dan menjaga berat badan dalam rentang ideal.
  • Membatasi konsumsi kafein 1-2 cangkir sehari.
  • Mengelola stres.
  • Tidak merokok, menghindari konsumsi alkohol dan obat-obatan terlarang.
  • Menghindari paparan infeksi.
  • Memastikan diri bahwa vaksinasi sudah lengkap.
  • Menghindari paparan arsen, timbal, formaldehid, benzena, etilen oksida, dan sinar X.
  • Menjaga perut dari trauma selama hamil. Selalu gunakan sabuk pengaman selama berkendara atau berada di dalam kendaraan.
  • Selalu berkonsultasi dengan dokter sebelum mengonsumsi obat-obatan apapun.

Pilihan program hamil pasca keguguran berulang

Secara statistik, sekalipun telah mengalami 3 kali keguguran, sekitar 65 persen wanita dengan keguguran berulang tetap bisa menjalani kehamilan yang sukses.

Dalam praktik klinis, program hamil dengan metode bayi tabung kerap ditawarkan pada kasus-kasus keguguran berulang meski sebetulnya pasangan dengan masalah ini tergolong subur. Beberapa alasannya berkaitan dengan kualitas sperma dan embrio.

Kualitas sperma

Hasil studi menemukan bahwa sperma pria dengan keguguran berulang secara signifikan kurang viable (layak). Yakni, proporsi materi genetik (DNA) yang rusak lebih banyak dibandingkan dengan sperma pria subur yang tidak mengalami keguguran berulang. 

Melalui program bayi tabung, teknik seleksi sperma dapat meningkatkan kualitas sperma sehingga menurunkan risiko keguguran berulang.

Kualitas embrio

Secara alami, kesuburan wanita menurun secara bertahap mulai usia 32 tahun, dan berkurang lebih cepat setelah usia 37 tahun. Penurunan kesuburan sesuai usia ini juga disertai dengan meningkatnya kelainan genetik dan keguguran spontan. 

Melalui program bayi tabung, embrio yang terbentuk dapat diseleksi melalui skrining genetik preimplantasi (PGS) dan diagnosis genetik preimplantasi (PGD). Prosedur ini memungkinkan dokter hanya mentransfer embrio yang sehat dan normal secara genetik, sehingga menurunkan risiko keguguran.

Namun demikian, program hamil dengan bayi tabung bukan satu-satunya cara untuk bisa mendapatkan keturunan pasca keguguran berulang. Kehamilan alami tetap bisa diupayakan dan sukses selama penyebab keguguran berulang dievaluasi dan ditangani.

Menurut American Society of Reproductive Medicine (ASRM), keguguran berulang terjadi pada 15-25 persen dari seluruh kehamilan. Dengan kata lain, 1 dari 4 wanita hamil akan mengalami keguguran berulang. Melihat peluangnya yang cukup besar, sebaiknya selalu libatkan dokter sejak awal mulai merencanakan kehamilan. Sampaikan selengkap-lengkapnya riwayat kesehatan Anda dan keluarga sehingga dokter tahu faktor risiko apa saja yang dimiliki. Dengan demikian, dokter dapat memberikan saran terbaik untuk mengoptimalkan proses kehamilan yang sehat dan bebas komplikasi.

Referensi
  1. Tulandi T, Al-Fozan HM. Recurrent pregnancy loss: Definition and etiology. In: UpToDate, Post, TW (Ed), UpToDate, Waltham, MA, 2021.
  2. Tulandi T, Al-Fozan HM. Recurrent pregnancy loss: Evaluation. In: UpToDate, Post, TW (Ed), UpToDate, Waltham, MA, 2021.
  3. Tulandi T, Al-Fozan HM. Recurrent pregnancy loss: Management. In: UpToDate, Post, TW (Ed), UpToDate, Waltham, MA, 2021.
  4. Patient education: Repeated miscarriage (the basics). In: UpToDate, Post, TW (Ed), UpToDate, Waltham, MA, 2021.
  5. American College of Obstetrician and Gynecologists. (April 2019). Repeated miscarriages. FAQ100. URL: Link
  6. Pillarisetty LS, Gupta N. Recurrent Pregnancy Loss. [Diperbarui 26 Juli 2021]. Dalam: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2021 Jan-. URL: Link 
  7. American Society of Reproductive Medicine. (2016). What is recurrent pregnancy loss (RPL)? URL: Link 
  8. Kirshenbaum M, Orvieto R. (2019). Should We Offer In Vitro Fertilization to Couples with Unexplained Recurrent Pregnancy Loss?. Journal of clinical medicine, 8(11), 2001. URL Link
No Comments

Leave a Reply