Gejala Kanker Testis, Penyebab, Pengobatan dan Pengaruhnya pada Kesuburan

kanker testis

Kanker testis tergolong kanker yang jarang, namun sebagian besar penderitanya adalah pria muda berusia subur.

Kanker testis bermula pada kelenjar kelamin yang disebut testis (buah zakar). Meski dapat mengenai laki-laki dari usia berapapun, kanker ini paling banyak ditemukan pada pria usia subur, yakni dari kelompok usia 15-45 tahun. 

Kanker testis tergolong jarang dan sangat bisa diobati. Melalui deteksi dini dan pengobatan yang tepat, lebih dari 90 persen kasus kanker ini dapat disembuhkan. Risiko kematian akibat kanker ini pun kecil, dengan angka kesintasan 5 tahun di atas 95 persen.

Apa itu kanker testis?

Testis adalah bagian dari sistem reproduksi pria. Sepasang kelenjar yang berbentuk seperti telur ini terbungkus dalam sebuah kantong kulit yang disebut skrotum. Skrotum tergantung di bawah dasar penis. 

Organ testis memiliki tekstur yang kenyal, walau sedikit “spongy“. Kekenyalan tekstur testis ini harus sama di seluruh bagiannya. Ukuran testis pria dewasa, normalnya hanya sedikit lebih kecil daripada bola golf. Ukuran keduanya kurang lebih sama, meski salah satunya bisa sedikit lebih besar.

Testis memiliki dua fungsi utama, yakni:

  • Menghasilkan hormon pria (androgen), yaitu testosteron. Hormon ini mengendalikan libido atau gairah seksual pada pria. Hormon ini juga yang memicu pertumbuhan otot, tulang, dan rambut-rambut pada tubuh. 
  • Memproduksi sperma, yang diperlukan untuk membuahi sel telur agar terjadi kehamilan.

Kanker testis terjadi ketika sel-sel normal di salah satu atau kedua testis mengalami perubahan sehingga tumbuh tidak terkendali. Meski bisa sembuh dan tidak mematikan, fakta bahwa kondisi ini mengenai pria usia subur membuat kanker ini dan efek samping pengobatannya dapat menjadi masalah serius bagi pasangan yang menginginkan keturunan.

Jenis-jenis kanker testis

Testis terdiri dari berbagai jenis sel, di mana masing-masing dapat berkembang menjadi satu atau lebih macam kanker. Penting untuk mengetahui jenis asal sel kanker testis karena menentukan pilihan pengobatan dan kemungkinan sembuh atau kekambuhannya di masa depan.

Sebanyak 95 persen kanker testis berasal dari sel germinal, yakni sel tempat berlangsungnya spermatogenesis atau proses produksi sperma. Kanker sel germinal pada testis (germ cell tumor/GCT) dibagi menjadi dua tipe utama, yakni seminoma dan non seminoma. Prevalensi kedua tipe kanker ini kurang lebih sama. 

1. Seminoma

Seminoma terjadi pada kurang lebih 40 persen kanker testis. Ciri kanker tipe ini yakni tumbuh lambat dan biasanya tidak menyebar ke organ tubuh lainnya. Kanker seminoma dibagi lagi menjadi dua subtipe utama, yakni:

  • Seminoma klasik, yang terjadi pada lebih dari 95 persen kasus seminoma dan umumnya ditemukan pada pria berusia 25-45 tahun.
  • Seminoma spermatositik, yang tergolong jarang dan cenderung ditemukan pada pria berusia tua (usia rata-rata 65 tahun). 

Penanda tumor utama untuk seminoma adalah keberadaan hormon human chorionic gonadotropin (hCG) di dalam darah, yang seringkali meningkat. Oleh sebab itu pemeriksaan kadar hormon ini diperlukan untuk mendiagnosis sekaligus mengevaluasi respon pengobatan kanker testis. 

2. Non seminoma

Kanker testis non seminoma terjadi pada 60 persen kasus dan cenderung dialami oleh pria yang berusia lebih muda, yakni sekitar usia 15 tahun hingga awal 30-an. Kanker tipe ini lebih cepat berkembang dan karenanya menimbulkan penyakit yang lebih berat. Ada empat subtipe utama dari kanker non seminoma:

  • Karsinoma embrional. Ini adalah subtipe kanker yang paling sering ditemukan dan sangat agresif. Dalam arti, cenderung tumbuh cepat dan menyebar ke organ lain di luar testis. Di bawah mikroskop, jaringan kanker tampak seperti embrio di awal-awal kehamilan. Penanda tumor untuk kanker ini yakni meningkatnya kadar alpha-fetoprotein (AFP) dan hormon hCG di dalam darah.
  • Yolk sac carcinoma. Ini adalah kanker testis yang paling banyak ditemukan pada anak-anak (khususnya bayi) dan remaja. Bila terjadi pada masa kanak-kanak, umumnya kanker dapat diobati sepenuhnya. Kanker jenis ini juga meningkatkan penanda tumor AFP.
  • Koriokarsinoma. Ini adalah subtipe kanker testis yang sangat jarang namun cepat berkembang dan menyebar ke organ tubuh lain, seperti paru, tulang, dan otak. Penanda tumor utamanya adalah hormon hCG.
  • Teratoma. Ini adalah kanker sel germinal yang jaringannya tampak seperti 3 lapisan embrio, yakni endoderm (bagian terdalam), mesoderm (bagian tengah), dan ektoderm (bagian terluar). Teratoma testis tergolong jarang serta tidak meningkatkan penanda tumor seperti AFP atau hCG.

3. Kanker pada stroma testis

Pada sekitar 5 persen kasus, kanker dapat muncul pada jaringan testis di luar sel germinal. Yakni, di jaringan penyokong dan penghasil hormon pada testis, yang disebut stroma. Kanker jenis ini disebut dengan gonadal stromal tumors. Dua tipe utama kanker ini adalah kanker sel Leydig (penghasil hormon testosteron) dan kanker sel Sertoli (penghasil sperma). 

4. Kanker akibat penyebaran dari organ lain

Ada kalanya kanker pada testis terjadi sekunder, yakni akibat penyebaran dari kanker pada organ lain. Ini disebut sebagai kanker testis sekunder oleh karena tidak bermula pada testis. Kanker yang paling sering menyebar ke testis yakni limfoma, yang utamanya terjadi pada pria berusia 50 tahun ke atas. Pada anak-anak, leukemia kadang menyebar ke testis. Kanker yang berasal dari prostat, paru-paru, kulit, ginjal, dan organ lain juga dapat menyebar ke testis.

Gejala kanker testis

Gejala utama dari kanker testis adalah munculnya benjolan yang tidak nyeri pada testis. Kemunculan gejala ini bisa disertai dengan:

  • Pembengkakan testis (dengan atau tanpa nyeri)
  • Nyeri tumpul atau sensasi penuh/berat di perut bawah, atau di sekitar dubur/skrotum
  • Perubahan pada ukuran, bentuk, dan/atau tekstur testis
  • Nyeri pada perut bawah, punggung, atau lipat paha
  • Rasa tidak nyaman, nyeri atau perubahan pada payudara

Sebagian pria tidak menunjukkan gejala apapun. Pada kasus ini, kanker testis biasanya terdeteksi saat melakukan pemeriksaan medis untuk penyakit lain. Misalnya, saat menjalani ultrasonografi (USG) testis untuk mengevaluasi infertilitas pada pria.

Oleh sebab itu, segeralah menemui dokter bila Anda menemukan adanya benjolan atau area pada testis yang terasa berbeda dari sekitarnya. Khususnya, bila benjolan ini telah dirasakan selama lebih dari dua minggu. Ingat bahwa sangat sedikit pria dengan kanker testis merasakan nyeri pada awalnya.

Penyebab dan faktor risiko kanker testis

Hingga kini, belum diketahui apa penyebab pasti kanker testis. Namun, para ahli telah mengidentifikasi beberapa faktor yang meningkatkan risiko kanker ini.

  • Kriptorkidismus atau testis yang tidak turun. Ini berarti salah satu atau kedua testis tidak bergerak turun dari dalam perut ke dalam skrotum sebelum lahir. Dari hasil studi, ditemukan bahwa pria dengan kriptorkidismus 2-4 kali lipat lebih berisiko mengalami kanker testis ketimbang pria dengan testis yang normal.
  • Riwayat keluarga dengan kanker testis. Memiliki ayah atau saudara kandung pria dengan kanker ini meningkatkan risiko kanker testis individu hingga 6-10 kali lipatnya. Namun, hanya sebagian kecil kasus kanker ini yang diturunkan dalam keluarga. Sebagian besar pria dengan kanker ini tidak memiliki riwayat penyakit tersebut di dalam keluarganya. 
  • Infeksi. Beberapa bukti telah menunjukkan bahwa pria terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV), khususnya yang telah mengalami AIDS, lebih berisiko mengalami kanker testis. Riwayat infeksi lain yang juga meningkatkan risiko kanker ini, yakni Human papillomavirus (HPV), Epstein-Barr virus (EBV), Cytomegalovirus (CMV), dan Parvovirus B-19.
  • Karsinoma in situ pada testis. Kanker sel germinal pada testis pada awalnya belum invasif, dan disebut dengan karsinoma in situ (CIS). Di bawah mikroskop, sel-sel tampak abnormal, namun belum menyebar di luar dinding tubulus seminiferus (tempat sperma dibentuk). Karsinoma in situ tidak selalu berkembang menjadi kanker.
  • Riwayat kanker testis sebelumnya. Sekitar 3-4 persen pria yang telah sembuh dari kanker pada salah satu testis, suatu hari akan mengalami kanker testis pada sisi yang satunya.
  • Berasal dari ras/etnis tertentu. Risiko kanker ini lebih tinggi 4-5 kali lipat pada pria berkulit putih ketimbang pria berkulit hitam atau keturunan Asia. Di dunia, risiko mengalami kanker testis paling tinggi pada pria yang tinggal di Amerika Serikat atau Eropa, dan paling rendah pada pria yang tinggal di Afrika atau Asia.
  • Riwayat cedera atau trauma pada testis.

Diagnosis kanker testis

Pria yang mendeteksi adanya benjolan pada testis harus sesegera mungkin memeriksakan diri ke dokter. Bila dicurigai kanker testis, beberapa tes berikut akan dilakukan:

  • USG testis untuk mengukur ukuran dan karakteristik testis dan benjolannya. Pemeriksaan ini dapat menentukan apakah benjolan berada di dalam atau di luar testis, mengandung cairan atau padat. Kanker ini berciri padat dan bermula di dalam testis. 
  • Orkiektomi. Ini adalah satu-satunya cara untuk mengonfirmasi diagnosis kanker testis melalui pengangkatan testis. Prosedurnya disebut dengan orkiektomi inguinal radikal. 

Selanjutnya, dilakukan penilaian stadium kanker testis berdasarkan lokasi penyebarannya. 

  • Stadium 1 diartikan sebagai kanker yang terbatas pada testis saja.
  • Stadium 2 diartikan sebagai kanker yang telah menyebar ke kelenjar getah bening retroperitoneal (berlokasi di di dalam perut).
  • Stadium 3 diartikan sebagai kanker yang telah menyebar ke organ lain di luar testis.

Untuk menentukan stadium kanker ini, dilakukan pemeriksaan-pemeriksaan berikut:

  • Pemeriksaan darah untuk mencari penanda tumor seperti AFP, beta-hCG, dan laktat dehidrogenase (LDH). Tingginya kadar penanda-penanda tumor ini sugestif kanker testis dan dapat membantu menentukan tipe kanker yang muncul. Pemeriksaan ini juga digunakan untuk memantau respon individu terhadap pengobatan kanker.
  • Pemeriksaan radiologi seperti CT scan. Sebagian besar pria yang dicurigai kanker testis akan menjalani CT scan perut dan panggul. Rontgen atau CT scan dada juga umumnya dilakukan untuk menilai apakah kanker telah menyebar ke luar testis (metastasis). Kanker ini paling sering menyebar ke kelenjar getah bening perut, paru, hati, tulang, dan otak.
testis pria

Pengobatan kanker testis

Pengobatan kanker testis disesuaikan dengan usia, status kesehatan, stadium kanker, dan apakah kanker hanya terjadi pada salah satu atau kedua testis. Pilihan pengobatan mencakup:

Operasi

Ini adalah pilihan pengobatan utama untuk kanker testis. Orkiektomi inguinal radikal diperlukan untuk mendiagnosis kanker dan merupakan langkah pertama pada pengobatan kanker ini. Sesuai namanya “radikal”, artinya seluruh jaringan testis diangkat untuk menghindari penyebaran tumor di dalam skrotum. Jaringan testis lalu dikirim ke laboratorium untuk diperiksa di bawah mikroskop. 

Angka kesembuhan setelah prosedur ini sangat tinggi, meski kadang diperlukan kombinasi dengan kemoterapi atau radioterapi untuk mencegah kekambuhan kanker.

Kadang-kadang, dilakukan pula operasi untuk mengangkat kelenjar getah bening yang berdekatan dengan tujuan mencegah penyebaran kanker ke organ lain di luar testis. Bila diperlukan, dilakukan pula operasi untuk mengangkat kanker yang telah menyebar ke organ tubuh lainnya.

Setelah operasi, diperlukan kunjungan rutin (surveilans) untuk memastikan kanker tidak kambuh kembali. Bila salah satu testis diangkat dan yang satunya normal, kadar hormon testosteron umumnya bisa tetap normal. Namun demikian, sekitar 10-15 persen penyintas kanker ini memiliki kadar hormon testosteron yang rendah. Kondisi ini dapat diobati melalui terapi hormon testosteron.

Radioterapi

Terapi radiasi digunakan untuk mematikan sel kanker di dalam testis atau di kelenjar getah bening yang berdekatan. Cara ini sangat efektif untuk kanker testis tipe seminoma dengan angka kesembuhan di atas 95 persen pada stadium dini. Akan tetapi, radioterapi tidak begitu efektif untuk kanker testis tipe non seminoma dan dapat menjadi pilihan bila kanker ini telah menyebar ke organ lain yang ‘jauh’ seperti otak.

Kemoterapi

Kemoterapi digunakan untuk kanker yang telah menyebar ke luar testis, atau bila penanda tumor meningkat setelah operasi. Obat-obatan yang biasa digunakan adalah bleomycin, carboplatin, etoposide atau cisplatin.

Kunjungan rutin aktif (surveilans)

Ini adalah cara untuk memonitor perubahan pada tubuh yang mengarah pada kekambuhan kanker. Selama proses ini, individu akan melakukan kunjungan rutin setiap beberapa bulan sekali untuk menjalani beberapa macam pemeriksaan. Pada umumnya, surveilans dianjurkan pada 3-4 tahun pertama dari waktu kanker terdiagnosis. Setelah itu, frekuensinya dapat dikurangi menjadi dua kali setahun selama beberapa tahun, hingga satu kali setahun sampai paling sedikit 10 tahun setelah terdiagnosis.

Surveilans hanya tepat dilakukan untuk pria yang bersedia dan mampu melakukan kunjungan rutin selama kurun waktu tertentu. Bila tidak, kemungkinan besar individu memerlukan terapi tambahan dengan radioterapi atau kemoterapi pasca operasi.

Efek kanker testis pada kesuburan pria

Kanker testis kerap kali muncul pada pria mudah yang belum pernah atau belum selesai memiliki keturunan. Kanker itu sendiri serta pengobatannya, baik operasi, radioterapi, maupun kemoterapi, menimbulkan dampak negatif pada produksi sperma yang menyebabkan infertilitas.

Oleh sebab itu, pria yang akan menjalani pengobatan kanker testis, perlu mempertimbangkan untuk menyimpan sperma. Proses ini disebut dengan semen cryopreservation, di mana cairan sperma (semen) disimpan pada suhu yang sangat rendah. Bila memungkinkan, pengambilan sampel dilakukan sebelum operasi pengangkatan testis dan sebelum kemoterapi atau radioterapi, sehingga bisa didapat sperma dengan jumlah terbanyak dan paling sehat untuk disimpan.

Pria dengan hitung sperma rendah sebelum pengobatan pun tetap harus disarankan untuk menyimpan spermanya. Dengan berkembangnya ilmu kedokteran, pria seperti ini tetap bisa memiliki keturunan melalui siklus bayi tabung dengan intracytoplasmic sperm injection (ICSI), yang hanya membutuhkan sedikit sel sperma.

Bagaimana bila tidak bisa menyimpan sperma sebelum memulai pengobatan? Apakah pria tetap bisa memiliki keturunan? Tentu saja, peluang itu masih ada, tergantung pada tipe dan dosis pengobatan yang digunakan.

Bisakah kanker testis dicegah?

Sebagian besar pria dengan kanker testis tidak memiliki faktor risiko tertentu. Dan beberapa jenis faktor risiko, seperti testis yang tidak turun, ras kulit putih, dan riwayat keluarga dengan kanker testis, tidak dapat diubah. Atas dasar inilah, sampai sekarang belum ada cara untuk mencegah kanker testis. Yang bisa dilakukan adalah rutin memeriksa testis secara mandiri dan segera menemui dokter bila menemukan sesuatu yang janggal. Pada dasarnya, kanker testis sangat bisa disembuhkan bila terdeteksi dan diobati sejak dini.

cheer

Jadwalkan Konsultasi

Jika Anda belum juga hamil setelah berupaya selama dua belas bulan atau lebih (atau enam bulan jika usia perempuan di atas 35 tahun), kami menyarankan Anda untuk melakukan penilaian kesuburan dengan spesialis fertilitas kami.

Jadwalkan konsultasi dengan menghubungi kami di (021) 50200800 atau dengan mengisi formulir melalui tombol dibawah.

  1. Oh WK. Patient education: testicular cancer (beyond the basics). In: UpToDate, Post, TW (Ed), UpToDate, Waltham, MA, 2021.
  2. Patient education: preserving fertility after cancer treatment in men (the basics). In: UpToDate, Post, TW (Ed), UpToDate, Waltham, MA, 2021.
  3. Komite Penanggulangan Kanker Nasional, Kemenkes RI. Panduan penatalaksanaan kanker prostat. 
  4. Gaddam SJ, Chesnut GT. Testicle Cancer. [Updated 2021 Nov 7]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2022 Jan-. URL
  5. American Cancer Society. Testicular cancer.
  6. Cancer Research UK. (4 Agustus 2021). Testicular cancer.
Share:

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Reservasi