Tingkatkan Keberhasilan Bayi Tabung Dengan Kalsium Ionofor

kalsium ionofor

Dalam teknologi reproduksi berbantu, ada kalanya proses pembuahan perlu dibantu. Salah satunya melalui prosedur kalsium ionofor.

Adanya siklus bayi tabung dengan injeksi sperma intrasitoplasmik (ICSI) memungkinkan terjadinya pembuahan pada pasangan dengan infertilitas pria yang berat. Prosedur ini sendiri menghasilkan angka pembuahan yang tinggi, mencapai 70-80 persen. Meski demikian, sebagian kecil individu, meski telah menjalani ICSI berulang, terus mengalami kegagalan pembuahan. Ini bahkan terjadi pada pasangan dengan parameter sperma yang normal dan respon ovarium yang baik.   

Studi telah menemukan bahwa kegagalan ICSI dalam mencapai pembuahan pada pasangan dengan jumlah sel telur yang cukup (biasanya di atas 3 sel telur), utamanya karena kegagalan pada proses aktivasi oosit (sel telur). Untuk lebih memahaminya, mari simak penjelasan berikut.

Proses aktivasi oosit sebagai awal dari keberhasilan pembuahan

Aktivasi oosit merupakan proses yang dipicu oleh serangkaian osilasi (gerakan maju mundur dalam kecepatan yang teratur) ion kalsium (Ca2+) intraseluler (di dalam sel) selama proses penyatuan (fusi) sel sperma dengan sel telur. Ini adalah proses di mana oosit yang tertahan pada metafase II meiosis distimulasi untuk melanjutkan pembelahan meiosisnya. Di artikel sebelumnya mengenai sel telur dan efeknya pada kehamilan, ini adalah tahapan di mana ootid mengalami proses pematangan akhir untuk menjadi ovum. 

Pada proses pembuahan yang normal, proses aktivasi oosit dipicu oleh fusi kepala sperma pada membran oosit (zona pelusida). Detail mekanisme prosesnya memang belum sepenuhnya jelas, akan tetapi peningkatan sementara ion Ca2+ di dalam oosit diketahui berperan penting terhadap keberhasilan pembuahan dan perkembangan embrio. Hal ini didukung oleh hasil banyak studi yang menemukan bahwa tidak adanya, tidak cukupnya, dan tidak sesuainya pola pelepasan Ca2+ saat aktivasi oosit mendasari banyak kasus infertilitas pria, kegagalan pembuahan, dan perkembangan embrio yang abnormal. 

Dengan demikian, kasus-kasus tersebut dapat dihindari bila kadar Ca2+ intraseluler selama periode ICSI dapat ditingkatkan secara artifisial. Inilah ide yang melatarbelakangi munculnya prosedur assisted oocyte activation (AOA) atau aktivasi oosit berbantu. Prosedur ini telah banyak berkembang dan diterapkan untuk meningkatkan angka kehamilan pada pasangan dengan infertilitas faktor pria, hambatan perkembangan embrio, dan pasangan yang tetap infertil setelah ICSI.

Metode-metode AOA mencakup aktivasi secara elektrik, mekanik, dan kimia, di mana kalsium ionofor dari AOA kimia adalah metode yang paling banyak digunakan dan paling efektif.

Proses aktivasi oosit normal dan buatan

Apa itu kalsium ionofor?

Hingga kini, kalsium ionofor merupakan metode aktivasi oosit buatan yang paling efisien dan karenanya, banyak digunakan dalam praktik klinis. Metode ini memungkinkan Ca2+ dari luar sel berpindah ke dalam sitoplasma (dalam sel), sehingga secara efektif meningkatkan kadar Ca2+ intrasel. Studi menemukan bahwa pada pasien dengan kegagalan pembuahan berulang, proses AOA dengan kalsium ionofor yang dilakukan segera setelah ICSI dapat secara signifikan meningkatkan angka pembuahan dan pembelahan oosit matang. Angka kelahiran hidup setelah transfer embrio juga didapat meningkat.

Dua jenis kalsium ionofor yang banyak digunakan adalah ionomycin dan calcimycin (A23187). Di antara keduanya, yang paling sering digunakan dalam riset dan praktik adalah calcimycin (A23187), antibiotik karboksilik yang berikatan dengan ion-ion divalen seperti Ca2+ dan Mg2+ serta dengan bebas mengangkutnya melintasi semua membran biologis. Sedangkan ionomycin, lebih kuat efeknya dan lebih spesifik untuk Ca2+ ketimbang calcimycin.

Selain kedua zat tersebut, ada pula larutan siap pakai, disebut CultActive, yang serupa dengan A23187. Larutan ini juga telah digunakan pada praktik klinis dan diklaim memiliki angka kesuksesan yang lebih baik. 

Kapan kalsium ionofor diperlukan?

Aktivasi oosit dengan kalsium ionofor biasanya digunakan pada kasus-kasus berikut:

  • Angka pembuahan setelah ICSI kurang dari 50 persen.
  • Kualitas sperma sangat buruk, seperti misalnya hitung sperma rendah, kesehatan sperma buruk, atau kelainan berat pada sperma.
  • Bentuk dan ukuran sperma tidak normal.
  • Motilitas (kemampuan untuk bergerak normal) sperma buruk.

Angka keberhasilan aktivasi oosit dengan kalsium ionofor

Sebuah meta-analisis dari 14 studi yang dimuat dalam jurnal Fertility and Sterility tahun 2017 menemukan bahwa AOA dengan kalsium ionofor meningkatkan angka kehamilan klinis secara bermakna hingga 3,5 kali lipat. Prosedur ini juga meningkatkan angka kelahiran hidup bermakna hingga 3,3 kali lipatnya. Kesimpulan dari meta-analisis ini menunjukkan efek yang sangat bermakna dari penggunaan kalsium ionofor, terutama pada pasangan yang mengalami kegagalan pembuahan melalui prosedur ICSI.

Meski demikian, jumlah sampel penelitian yang sedikit mengurangi kredibilitas efektivitas AOA dengan kalsium ionofor. Diperlukan lebih banyak studi dan kasus untuk bisa menghasilkan kesimpulan yang konsisten dan bisa dipercaya.

Bagaimana dengan keamanannya?

Untuk bisa menyebut bahwa AOA dengan kalsium ionofor itu efektif, harus dilihat hasil akhirnya yang diukur dari angka keberhasilan pembuahan, pembelahan, transfer embrio, implantasi, angka kehamilan klinis, serta penilaian kualitas embrio. Tak kalah penting, juga perlu ada kriteria untuk mengevaluasi keamanan prosedur, yang biasanya diukur dari angka keguguran, kelainan bawaan lahir, serta analisis kromosom yang mengindikasikan adanya kelainan genetik. Namun demikian, kriteria keamanan ini sangat variatif dan tidak selalu dilaporkan dalam suatu studi.

Oleh karena AOA umumnya hanya direkomendasikan untuk pasien tertentu, ini akan membatasi jumlah embrio yang dapat dievaluasi efektivitas dan keamanannya. Bagaimanapun, embrio yang dibuahi melalui ICSI standar tidaklah banyak. Begitupun yang tersedia untuk tujuan penelitian. Analisis jangka panjang dari anak-anak yang lahir melalui AOA bahkan lebih jarang lagi ketimbang analisis keamanan AOA pada embrio atau bayi yang baru lahir. Langkanya anak-anak yang lahir melalui AOA dibandingkan populasi umum membuat studi-studi berskala besar sulit dilakukan. Hal ini tentu membatasi kemampuan untuk menarik kesimpulan yang bermakna soal keamanan AOA yang sebenarnya.

Pada prinsipnya, kalau sampai aktivasi oosit dengan kalsium ionofor dapat dilakukan, tentu sudah melalui uji klinis yang tidak sebentar. Bila belum ada data keamanan yang jelas, setidaknya hasil studi bisa menunjukkan bahwa penggunaan kalsium ionofor tidak membahayakan sel telur dan embrio yang akan digunakan dalam siklus bayi tabung.

cheer

Jadwalkan Konsultasi

Jika Anda belum juga hamil setelah berupaya selama dua belas bulan atau lebih (atau enam bulan jika usia perempuan di atas 35 tahun), kami menyarankan Anda untuk melakukan penilaian kesuburan dengan spesialis fertilitas kami.

Jadwalkan konsultasi dengan menghubungi kami di (021) 50200800 atau dengan mengisi formulir melalui tombol dibawah.

  1. Karabulut S, Aksünger Ö, Ata C, Sağıroglu Y, Keskin İ. Artificial oocyte activation with calcium ionophore for frozen sperm cycles. Systems Biology in Reproductive Medicine. 2018 Sep 3;64(5):381-8.
  2. Kashir J, Ganesh D, Jones C, Coward K. Oocyte activation deficiency and assisted oocyte activation: mechanisms, obstacles and prospects for clinical application. Human Reproduction Open. 2022;2022(2):hoac003.
  3. Murugesu S, Saso S, Jones BP, Bracewell-Milnes T, Athanasiou T, Mania A, Serhal P, Ben-Nagi J. Does the use of calcium ionophore during artificial oocyte activation demonstrate an effect on pregnancy rate? A meta-analysis. Fertility and Sterility. 2017 Sep 1;108(3):468-82.
  4. Xi H, Fu Y, Liu C, Lu X, Sui L, Chen Y, Zhao J. Assisted oocyte activation with calcium ionophore 44 hours after intracytoplasmic sperm injection resulting in successful pregnancy. Gynecological Endocrinology. 2020 Nov 1;36(11):1035-7.
  5. Shan Y, Zhao H, Zhao D, Wang J, Cui Y, Bao H. Assisted oocyte activation with calcium ionophore improves pregnancy outcomes and offspring safety in infertile patients: a systematic review and meta-analysis. Frontiers in physiology. 2022:2513.
Share:
  • 176
    Shares

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

doctors

Silahkan isi data berikut untuk mengetahui Paket/Layanan yang cocok untuk Ayah/Bunda.

Cek layanan?
ferly slime