Tingkatkan Keberhasilan Bayi Tabung Dengan Kalsium Ionofor

kalsium ionofor IVF

Ayah Bunda, lewat artikel ini kita akan cari tahu tentang sel telur yang ‘tidur’. Sel telur yang tidak aktif berisiko tidak berkembang. Akibatnya, peluang keberhasilan program bayi tabung akan menurun signifikan. Karena itulah, untuk menopang keberhasilan program bayi tabung itu, dokter kemudian akan ‘membangunkan’ sel telur yang terlelap itu menggunakan zat bernama kalsium ionofor.

Agar lebih mudah bagi anda untuk memahaminya, yuk bayangkan seorang bayi yang sedang bobok nyenyak. Menurut National Sleep Foundation, bayi yang baru lahir bisa tidur selama empat belas hingga tujuh belas jam per harinya. Jadi, ayah bunda bisa menikmati wajah cantiknya berbelas-belas jam setiap hari. Seiring pertambahan usia, jam tidur bayi berkurang. Kadang, ayah bunda juga perlu membangunkannya. Dengan mencium keningnya, mencubit-cubit kecil pahanya, menggelitik telapak kakinya, dan memanggil-manggil namanya. Intinya, bayi perlu terjaga dari tidurnya agar bisa beraktivitas guna menopang proses tumbuh kembangnya secara normal.

Salah satu metode dalam program kehamilan berbantu adalah intracytoplasmic sperm injection (ICSI). ICSI dilangsungkan dengan cara menyuntikkan sperma langsung ke dalam sel telur. Begitulah gambaran umum tentang bagaimana program bayi tabung (in vitro fertilization, IVF) diselenggarakan. 

Meskipun banyak studi menyimpulkan keandalan ICSI, namun para ilmuwan juga menemukan bahwa dari seluruh pasien yang menjalani ICSI, 30 hingga 55% diantaranya berhadapan dengan masalah fertilisasi. Konkretnya, walaupun sel telur dan sperma telah dipertemukan di cawan laboratorium, namun sel telur itu mengalami kegagalan berkembang untuk menjadi embrio. 

Meningkatkan Keberhasilan Bayi Tabung

Untuk meningkatkan peluang keberhasilan pasutri dalam program bayi tabung, sel telur (oocyte) yang telah disatukan dengan sperma harus bisa tumbuh dan berkembang setahap demi setahap. Sel telur itu perlu berada dalam kondisi aktif, dan aktivasi sel telur itu ditentukan oleh sekian banyak faktor yang bersumber baik dari sperma maupun sel telur itu sendiri. Salah satu faktor penting yang mendukung proses aktivasi sel telur adalah kandungan kalsium di dalam sel telur. Apabila sel telur tidak mampu mengalami aktivasi secara mandiri, maka dokter akan mempertimbangkan melakukan aktivasi sel telur secara buatan (artificial oocyte activation, AOA).

Aktivasi artifisial ini menggunakan kalsium ionofor dan biasanya dilakukan untuk mengatasi masalah semisal kegagalan fertilisasi menyeluruh (total fertilization failure) dan globozoospermia. Pasien dengan kasus oligoteratoasthenospermia, istri dengan persediaan sel telur yang minim, dan istri dengan masalah infertilitas yang tidak bisa diketahui penyebabnya juga bisa diresepkan untuk menjalani aktivasi buatan ini. Kalsium ionofor, misalnya ionomycin atau calcimycin, merupakan dua contoh zat yang paling sering digunakan untuk mengaktivasi sel telur yang ‘tidur’. 

Aktivasi buatan terhadap sel telur dapat dilakukan baik secara elektrik, mekanik, maupun dengan cara kimiawi dalam rangka meningkatkan kandungan kalsium di dalam sel. Ketika yang digunakan adalah cara elektrik, kejutan listrik dialirkan untuk menggerakkan protein ke lapisan membran sel telur. Seiring datangnya protein itu, jumlah pori-pori pada lapisan membran akan bertambah, sehingga lebih banyak kalsium yang masuk ke dalam sel telur.

Proses Aplikasi Kalsium Ionofor

Cara mekanik dilakukan dengan memakai ujung pipet. Saat dipakai untuk menyuntikkan sperma ke dalam sel telur, pipet juga dapat meningkatkan kuantitas kalsium yang masuk ke dalam sel telur sekaligus memungkinkan terjadinya kontak yang lebih baik antara sperma dengan tempat penyimpanan kalsium intracellular.

Selain cara elektrik dan mekanik, aktivasi artifisial terhadap sel telur juga bisa dilakukan secara kimiawi. Prosedurnya dilakukan dengan mencelupkan sel telur yang telah dibuahi ke dalam larutan ionophore pada dua waktu yang berbeda. Sepanjang berlangsungnya tahapan itu, dokter akan meninjau jenis, konsentrasi, dan waktu ekspos larutan ionophore yang paling sesuai dengan kondisi sel telur yang sedang ditangani. Cermatan itu dilakukan karena sekian banyak penelitian menghasilkan rekomendasi beragam tentang mode terbaik untuk melakukan aktivasi artifisial.

Studi tentang aktivasi artifisial terhadap sel telur yang telah dibuahi memang menghasilkan simpulan beragam. Yang menggembirakan, banyak sekali hasil riset yang memperlihatkan bahwa aktivasi sel telur dengan menggunakan calcium ionophores terbukti menaikkan peluang fertilisasi, kualitas embrio, dan peluang kehamilan. Itulah sebabnya di Pusat Fertilitas Bocah Indonesia, dokter merekomendasikan pasutri untuk menjalani aktivasi buatan ketika dijumpai adanya sel telur yang ‘tidur’. Tentu, pada akhirnya, sikap pasutri—baik setuju maupun menolak—akan menjadi penentu bagi dokter untuk melakukan maupun tidak melakukan aktivasi sel telur tersebut.

Baca juga: Sulit Memiliki Keturunan? Tes Kesuburan Anda Dengan Ini.

Dari adanya sel telur yang tidak aktif, kita belajar bahwa alam sesungguhnya memiliki hukumnya sendiri untuk memilih: dari sekian banyak sel telur yang telah dipetik dan dijodohkan dengan sperma, sel telur manakah yang akan berkembang menjadi embrio lalu menjadi bayi yang siap dilahirkan. Dengan dasar pemikiran seperti itu, sebagian kalangan khawatir bahwa aktivasi buatan terhadap sel telur yang ‘tidur’ seolah melawan hukum alam dan bisa berdampak negatif terhadap proses perkembangan embrio. Tentu, sebagaimana pada prosedur-prosedur lain yang juga diterapkan pada program kehamilan berbantu, para ilmuwan dan praktisi juga tanpa henti melakukan riset dalam rangka meningkatkan derajat keamanan prosedur aktivasi artifisial bagi para pasien. Semakin lama, prosedur aktivasi artifisial semakin canggih. Hasil akhir dari prosedur itu pun sangat membesarkan hati. Misalnya, sekelompok ilmuwan membandingkan dua kelompok anak. Kelompok pertama adalah anak-anak yang dihasilkan dari program bayi tabung tanpa aktivasi buatan. Kelompok kedua adalah mereka yang juga berawal dari program bayi tabung namun disertai dengan aktivasi buatan. Ternyata tidak ada perbedaan signifikan di antara kedua kelompok tersebut. Baik berat badan saat lahir, persalinan prematur, masa perawatan di NICU, serta kesehatan fisik dan mental mereka.

 

Referensi:

  1. Deemeh MR, Tavalaee M, Nasr-Esfahani MH. Health of children born through artificial oocyte activation: A pilot study. Reproductive Sciences. 2015;22(3):322-328.
  2. Fawzy M, Emad M, Mahran A, Sabry M, Fetih AN, Abdelghafar H, Rasheed S. Artificial oocyte activation with SrCl2 or calcimycin after ICSI improves clinical and embryological outcomes compared with ICSI alone: results of a randomized clinical trial. Hum Reprod. 2018 Sep 1;33(9):1636-1644.
  3. Nakagawa K, Yamano S, Moride N, Yamashita M, Yoshizawa M, Aono T. Effect of activation with Ca ionophore A23187 and puromycin on the development of human oocytes that failed to fertilize after intracytoplasmic sperm injection. Fertility and Sterility. 2001;76(1):148-152.
  4. Nikiforaki D, Vanden Meerschaut F, De Roo C, Lu Y, Ferrer-Buitrago M, De Sutter P, et al. Effect of two assisted oocyte activation protocols used to overcome fertilization failure on the activation potential and calcium releasing pattern. Fertility and Sterility. 2016;105(3):798-806e2.
  5. Tesarik J, Nagy ZP, Mendoza C, Greco E. Chemically and mechanically induced membrane fusion: Non-activating methods for nuclear transfer in mature human oocytes. Human Reproduction. 2000;15(5):1149-1154.
Share:

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Reservasi