Mengenal ICSI dan IMSI dalam Program Bayi Tabung

ICSI dan IMSI

Banyaknya kemajuan di bidang Teknologi Reproduksi Berbantu (TRB) telah melahirkan berbagai inovasi baru dalam teknik program bayi tabung (in vitro fertilization/IVF). Salah satunya, kehadiran teknik injeksi sperma intrasitoplasmik (intracytoplasmic sperm injection/ICSI) dan teknik serupa namun sperma diseleksi secara morfologis (intracytoplasmic morphologically selected sperm injection/IMSI). Tujuan dikembangkannya kedua teknik ini adalah untuk meningkatkan angka kesuksesan kehamilan dari program bayi tabung.

Antara IVF, ICSI dan IMSI, apa bedanya?

Sesuai namanya, pada program bayi tabung atau IVF, fertilisasi (pembuahan) sel telur terjadi secara in vitro, yakni di dalam laboratorium. Prosedur ini dapat dilakukan secara konvensional, melalui teknik ICSI, maupun IMSI. Ketiga cara tersebut memiliki perbedaan dalam hal bagaimana sel sperma dipertemukan dan dimasukkan ke dalam sel telur.

IVF konvensional

Pada teknik ini, beberapa sperma dan satu sel telur ditaruh di dalam cawan petri. Sperma-sperma tersebut dibiarkan “berkompetisi” secara alami untuk mencapai sel telur. Pada akhirnya, hanya akan ada satu sel sperma yang akan membuahi sel telur. Sel sperma ini harus mampu menembus zona pelusida sel telur secara mandiri agar bisa membuahinya

Prosedur IVF Konvensional

ICSI

Melalui teknik ini, ahli embriologi akan terlebih dulu memilih sel sperma melalui mikroskop khusus dengan perbesaran 400x. Setelah itu, sel sperma terpilih akan disuntikkan ke dalam sel telur menggunakan jarum khusus.

Prosedur ICSI

IMSI

Ini merupakan teknik ICSI yang lebih canggih sehingga disebut juga Super-ICSI. IMSI menggunakan mikroskop berlensa khusus, yang memungkinkan perbesaran hingga lebih dari 6000 kali untuk menyeleksi sperma. Teknik ini kemungkinan ahli embriologi untuk menilai struktur sel sperma secara mendetail sehingga bisa dideteksi potensi kelainan atau kecacatan pada bagian-bagian sperma (seperti kepala, bagian tengah, atau ekor). Setelah itu, sperma yang terpilih akan disuntikkan ke dalam sel telur menggunakan jarum khusus.

Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), sel sperma dengan morfologi (bentuk) yang disebut baik, harus memenuhi kriteria berikut:

  • Kepala berbentuk oval
  • Ekor lurus atau tidak melengkung
  • Inti sel tetap
  • Warna transparan
  • Akrosom utuh dan tidak mengandung vakuola (gelembung)
perbandingan bentuk sperma normal dan abnormal

Indikasi dilakukannya ICSI

Ketika ICSI pertama kali diperkenalkan, ini merupakan sebuah revolusi dalam pengobatan infertilitas berat pada pria. Pada kondisi ini, ICSI menjadi opsi pengobatan yang paling efektif.

Saat ini, ICSI diaplikasikan secara luas di berbagai klinik. Faktanya, ini merupakan teknik pilihan pada kurang lebih 80 persen kasus yang dirujuk untuk menjalani program bayi tabung. Ini artinya, ICSI tak hanya digunakan untuk kasus-kasus infertilitas pada pria, tetapi juga untuk gangguan kesuburan lainnya.

Secara umum, ICSI diindikasikan untuk kondisi-kondisi berikut:

1. Azoospermia

Ini merupakan infertilitas pada pria yang terjadi karena tidak ada sel sperma dalam cairan ejakulasi. Ada dua tipe azoospermia, yakni:

  • Azoospermia obstruktif, di mana sperma dapat diproduksi namun salurannya tersumbat sehingga tidak bisa bercampur dengan cairan ejakulasi.
  • Azoospermia non-obstruktif, di mana tidak ada sperma yang diproduksi. 

Oleh sebab itu, kehamilan alami tidak mungkin terjadi bila seorang pria terdiagnosis azoospermia. ICSI akan menjadi opsi terbaik oleh karena tidak diperlukan sejumlah besar sperma untuk membuahi sel telur, cukup satu sel sperma saja.

2. Oligozoospermia

Oligozoospermia merujuk kepada kurangnya jumlah sperma di dalam cairan ejakulasi. Sesuai dengan rekomendasi WHO, pria disebut oligozoospermia apabila jumlah sel sperma kurang dari 15 juta per mililiter cairan ejakulasi.

3. Asthenozoospermia

Parameter ini mengukur kualitas sperma dari pergerakan atau motilitasnya. Pria disebut mengalami asthenozoospermia apabila jumlah sel sperma yang progresif atau mampu bergerak maju ke depan kurang dari 32 persen. Juga, jumlah total sperma yang bergerak kurang dari 40 persen.

4. Teratozoospermia

Kondisi ini berhubungan dengan masalah pada bentuk atau morfologi sperma. Bila menggunakan kriteria Kruger, pria disebut mengalami teratozoospermia apabila jumlah sperma yang bentuknya abnormal dalam sampel cairan ejakulasi di atas 85 persen. Sedangkan menurut kriteria WHO, pria disebut mengalami teratozoospermia bila lebih dari 96 persen sperma di dalam sampel cairan ejakulasi berbentuk abnormal. 

Keempat kondisi tersebut juga bisa muncul bersamaan dalam satu sampel cairan ejakulasi.

ICSI juga dianjurkan pada beberapa kasus berikut:

  • Pria yang telah menjalani vasektomi atau didiagnosis penyakit infeksi, seperti HIV atau hepatitis.
  • Pria yang cairan spermanya dibekukan (kriopreservasi) sebelum menjalani terapi kanker.
  • Pria yang tidak bisa mengalami ejakulasi secara normal.
  • Terdapat riwayat kegagalan pembuahan dengan IVF konvensional.

Indikasi dilakukannya IMSI

Seperti sudah disebutkan di awal, IMSI merupakan teknik yang lebih canggih ketimbang ICSI. Melalui IMSI, sel sperma hidup dapat dipilih secara real-time dan tidak memerlukan tes pewarnaan—untuk mengecek kualitas sperma—yang dapat merusak sel sperma. Di samping itu, IMSI memungkinkan visualisasi yang akurat dari sel sperma melalui perbesaran mikroskop 6000x. Artinya, ini 15 kali lebih kuat ketimbang mikroskop konvensional yang digunakan pada ICSI sehingga kualitas sperma bisa dinilai secara mendetail. Ada tidaknya kecacatan di bagian kepala, tengah, atau ekor bisa terdeteksi betul, di mana ini berhubungan dengan fragmentasi DNA sperma. Tingginya fragmentasi DNA sperma diketahui berkaitan erat dengan kejadian keguguran.

Oleh sebab itu, teknik ini diindikasikan untuk kasus-kasus yang lebih spesifik, yakni adanya kelainan bentuk sperma atau teratozoospermia. IMSI juga bisa digunakan untuk kasus-kasus berikut:

  • Riwayat kegagalan pembuahan dengan teknik IVF konvensional atau ICSI, khususnya yang berulang.
  • Kualitas embrio buruk sehingga berhenti berkembang.
  • Kegagalan implantasi.
  • Oligoastenoteratozoospermia berat.
  • Fragmentasi DNA sperma yang berat.
  • Infertilitas jangka panjang yang tak bisa dijelaskan sebabnya.

Meski tampak lebih unggul ketimbang ICSI, perlu diketahui bahwa IMSI tidak dilakukan secara rutin di klinik-klinik bayi tabung. Teknik ini tidak meningkatkan angka keberhasilan kehamilan pada semua kasus infertilitas. Di samping itu, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan:

  • Durasi prosedur jauh lebih lama ketimbang IVF konvensional maupun ICSI, kurang lebih bertambah 1,5-5 jam. 
  • Berbiaya tinggi, sehingga tidak tersedia pada kebanyakan laboratorium IVF.

Angka kesuksesan ICSI vs IMSI

Sebuah tinjauan sistematis terkini di tahun 2020 membandingkan angka kesuksesan ICSI vs IMSI melalui beberapa parameter berikut:

Parameter

ICSI

IMSI

Angka Kehamilan Klinis (Clinical Pregnancy Rate)

32 persen

35-44 persen

Angka Kelahiran Hidup (Live Birth Rate)

25 persen

20-32 persen

Risiko Keguguran

7 persen

5-10 persen

 

Studi lain, yang meninjau total 3.907 anak hasil IMSI versus 2.627 anak hasil ICSI, menyimpulkan bahwa IMSI tampak lebih efektif dalam menurunkan angka kejadian cacat bawaan lahir dibandingkan dengan ICSI.  Meski demikian, IMSI tidak mengurangi angka kejadian kelainan genetik/kromosom.

Sekilas, memang IMSI tampak lebih unggul. Namun sayangnya, studi-studi ini berkualitas rendah dan jumlah sampelnya sedikit sehingga hasilnya belum konsisten, apalagi untuk disimpulkan menjadi suatu rekomendasi.

Penutup

Pada pria dengan infertilitas, sampai saat ini teknik yang paling banyak digunakan adalah ICSI. Namun demikian, teknik ini cenderung subjektif, tergantung pada kepakaran ahli yang memilih sperma. IMSI dapat menjadi alternatif yang menjanjikan untuk meningkatkan angka keberhasilan kehamilan pada pria dengan infertilitas berat. Tetapi, diperlukan studi lanjut dengan jumlah sampel yang lebih besar dan multisenter, sehingga bisa didapat kesimpulan yang valid soal manfaatnya.

cheer

IMSI merupakan salah satu teknologi canggih dalam program bayi tabung. Proses seleksi sperma dengan pembesaran 6000 kali ini dapat membantu meningkatkan peluang keberhasilan bayi tabung.

Jika Anda ingin memiliki peluang yang tinggi akan keberhasilan bayi tabung, kami menyediakan program hamil bayi tabung yang telah menggunakan metode IMSI tersebut. Silakan isi formulir di bawah, tim kami akan segera menghubungi Anda!

  1. Dieamant F, Petersen CG, Vagnini LD, Renzi A, Petersen B, Massaro F, Zamara C, Nicoletti A, Ricci J, Oliani AH, Oliveira JB. Impact of Intracytoplasmic Morphologically Selected Sperm Injection (IMSI) on Birth Defects: A Systematic Review and Meta-Analysis. JBRA Assisted Reproduction. 2021 Jul;25(3):466.
  2. Duran‐Retamal M, Morris G, Achilli C, Gaunt M, Theodorou E, Saab W, Serhal P, Seshadri S. Live birth and miscarriage rate following intracytoplasmic morphologically selected sperm injection vs intracytoplasmic sperm injection: an updated systematic review and meta‐analysis. Acta Obstetricia et Gynecologica Scandinavica. 2020 Jan;99(1):24-33.
  3. He F, Wang MJ, Li SL, Zhang CY, Hu LN. IMSI versus ICSI for male factor infertility: A meta-analysis. Zhonghua nan ke xue= National Journal of Andrology. 2018 Mar 1;24(3):254-62.
  4. Mangoli E, Khalili MA, Talebi AR, Agha‐Rahimi A, Soleimani M, Faramarzi A, Pourentezari M. IMSI procedure improves clinical outcomes and embryo morphokinetics in patients with different aetiologies of male infertility. Andrologia. 2019 Sep;51(8):e13340.
  5. Teixeira DM, Miyague AH, Barbosa MA, Navarro PA, Raine‐Fenning N, Nastri CO, Martins WP. Regular (ICSI) versus ultra‐high magnification (IMSI) sperm selection for assisted reproduction. Cochrane Database of Systematic Reviews. 2020(2).
Share:
  • 176
    Shares

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

doctors
Reservasi