HyFoSy, HSG Tanpa Nyeri dan Radiasi

HyFoSy alternatif HSG

Usaha untuk merealisasi harapan pasangan suami istri (pasutri) untuk punya keturunan tidak selalu mencapai hasil sesuai harapan. Ada masalah infertilitas, yang datang dari sekian banyak faktor, yang perlu didiagnosis lalu diatasi secara tepat guna meningkatkan peluang bagi pasutri untuk hamil. Salah satu metode untuk mendeteksi sumber ketidaksuburan (infertilitas), khususnya pada istri, adalah hysterosalpingo-foam sonography (HyFoSy). 

Apa Itu HyFoSy?

HyFoSy adalah treatment yang digunakan untuk mengetahui patensi tuba yang dapat menyebabkan kesulitan dalam memperoleh kehamilan. Masalah pada tuba, berdasarkan penelitian, diketahui sebagai penyebab pada dua puluh persen kasus infertilitas. HyFoSy dapat melihat sumbatan pada saluran telur dan membantu membuka jalur yang tersumbat sehingga dapat meningkatkan peluang kehamilan.

Dulu, untuk tujuan pemeriksaan tuba, pusat-pusat fertilitas dunia menggunakan teknologi bernama hysterosalpingography (HSG). Namun dalam perkembangannya, teknologi HSG memiliki sejumlah kelemahan. Antara lain, HSG mengekspos radiasi kepada pasien serta memunculkan perasaan tidak nyaman bahkan nyeri perut selama berlangsungnya pemeriksaan. Dari situlah kemudian dunia medis mengembangkan hysterosalpingo-contrast sonography (HyCoSy). Tidak berhenti sampai di situ; teknologi kehamilan berbantu terus berinovasi menghasilkan hysterosalpingo-foam sonography (HyFoSy). Diperkenalkan pertama kali pada tahun 2010, HyFoSy kini dikenal sebagai tes pemeriksaan tuba yang paling utama.

Pasien perlu berkonsultasi dengan dokter sebelum menjalani HyFoSy. Dokter akan memeriksa kondisi pasien, lalu memberikan beberapa arahan sesuai kondisi spesifik pasien. Secara umum, dokter akan meminta pasien untuk tidak melakukan hubungan intim terhitung sejak hari pertama menstruasi hingga tanggal pelaksanaan HyFoSy. 

Bagaimana prosedurnya?

Pertama, dokter akan memeriksa kondisi abdomen (perut) dan vagina pasien. Langkah ini dilakukan untuk memastikan bahwa pasien tidak memiliki kondisi apa pun yang menjadi halangan bagi dilakukannya HyFoSy. Kedua, menggunakan speculum untuk membuka rongga vagina, dokter akan melakukan smear test sekaligus membersihkan serviks (leher rahim) dengan larutan antiseptik. Ketiga, sebuah kateter (tuba) dimasukkan melalui serviks ke dalam uterus. Kateter itu nantinya digunakan untuk mengalirkan larutan foam (semacam busa). Selanjutnya adalah tahap keempat: speculum dilepas, dan larutan foam yang telah dipersiapkan segera dialirkan ke dalam kateter. 

Saat dilihat di layar monitor, bagian dalam organ reproduksi yang telah dialiri foam tadi akan memperlihatkan warna terang. Sehingga, kondisi di sepanjang serviks, uterus, dan tuba akan bisa diobservasi oleh dokter. Andaikan prosedur HyFoSy memunculkan rasa nyeri, sensasi itu biasanya tidak akan berlangsung lama. Apabila pasien khawatir, dokter dapat memberikan obat penghilang rasa sakit sekitar tiga puluh menit sebelum dimulainya prosedur HyFoSy.

Gambar Tuba FalopiPerbandingan HyFoSy dan HSG

Berdasarkan penelitian, HyFosy disimpulkan sebagai prosedur pemeriksaan tuba dengan sensasi nyeri yang lebih minimal. Apalagi jika dibandingkan dengan prosedur lain yang disebut hysterosalpingography (HSG). Proses yang mudah, cepat, painless, tanpa alergi, dan tanpa radiasi adalah unggulan dari perawatan ini. HyFoSy merupakan metode pemeriksaan yang lebih canggih lagi dan memiliki tingkat akurasi setara dengan HSG. Alokasi waktu yang dibutuhkan pun lebih sedikit, sehingga meningkatkan kenyamanan pasutri saat menjalani pengobatan infertilitas.

Banyak kalangan merekomendasikan HyFoSy sebagai alternatif HSG. Dokter akan memeriksa kondisi pasien untuk memastikan opsi yang paling tepat—baik HSG, HyCoSy maupun HyFoSy—dalam masing-masing program kehamilan.

Dari awal hingga akhir, pelaksanaan HyFoSy membutuhkan waktu sekitar setengah jam saja. Jika tidak ada keluhan, dan biasanya memang tidak ada keluhan, pasien sudah boleh meninggalkan klinik dan langsung beraktivitas seperti biasa setelah seluruh tahapan selesai dilakukan. Hasil pemeriksaan dapat diperoleh pada saat itu juga. Namun pasien diharapkan dapat membuat appointment berikutnya di Bocah Indonesia untuk berkonsultasi dengan dokter ihwal hasil pemeriksaan HyFoSy-nya.

Terkadang pada sebagian kecil pasien akan ada bercak noda sehari atau dua hari setelah prosedur ini diselenggarakan. Sebagai antisipasi, pasien sebaiknya memakai pad, bukan tampon. Ketika pasien menemukan bercak darah, mereka tidak perlu terlalu khawatir. Risiko infeksi pasca prosedur HyFoSy adalah sangat rendah.

HyFoSy tidak hanya merupakan prosedur pemeriksaan tuba paling mutakhir. Efek prosedur perawatan ini terhadap kehamilan juga telah dikaji oleh para peneliti. Misalnya, pasca menjalani HyFoSy, tingkat kehamilan (pregnancy rate) adalah 25 persen dalam kurun tiga bulan, 31 persen (enam bulan) dan 36 persen (dua belas bulan). Prospek menggembirakan itu, menurut peneliti, merupakan bukti pengaruh positif siraman larutan yang digunakan saat HyFoSy terhadap kondisi organ reproduksi istri. Siraman itu meningkatkan peluang tertanamnya embrio di rahim sekaligus mendukung terjadinya kehamilan spontan (spontaneous pregnancy).

Baca Juga : Sulit Memiliki Anak? Tes Kesuburan Anda Dengan Cara Ini

Nah, begitulah sepintas gambaran tentang perkembangan teknologi yang diterapkan dalam program kehamilan berbantu untuk memeriksa kondisi wanita yang terindikasi mengalami masalah infertilitas. Dibandingkan dengan teknologi dari generasi sebelumnya (HyCoSy), HyFoSy terbukti memiliki tingkat akurasi lebih tinggi saat digunakan untuk mendiagnosis masalah di seputar tuba. Ayah Bunda dapat memanfaatkan teknologi modern yang lebih ramah pasien ini di Bocah Indonesia.

  1. Exalto, Niek & Emanuel, Mark. (2019). Clinical Aspects of HyFoSy as Tubal Patency Test in Subfertility Workup. BioMed Research International. 2019.
  2. Khan F, Agdi M, Jaroudi DA, Fayyad IA, Aziz T (2017) Hysterosalpingo-Foam Sonography, Less Painful and More Instructive as Compared with Hysterosalpingography: A Prospective Study. Obstet Gynecol Int J 6(6): 00226.
  3. H. Emanuel & N. Exalto, “Hysterosalpingo-foam sonography (HyFoSy): A new technique to visualize tubal patency,” Ultrasound in Obstetrics & Gynecology, vol. 37, no. 4, pp. 498- 499, 2011.
  4. Piccioni, Mariagrazia & Riganelli, Lucia & Filippi, Valentina & Fuggetta, Eliana & Colagiovanni, Vanessa & Imperiale, Ludovica & Caccetta, Jlenia & Benedetti Panici, Pierluigi & Porpora, Maria Grazia. (2016). Sonohysterosalpingography: Comparison of foam and saline solution: Hyfosy Versus Hycosy. Journal of Clinical Ultrasound. 45(2): 67-71.
  5. van Rijswijk J, van Welie N, Dreyer K, van Hooff MHA, de Bruin JP, Verhoeve HR, Mol F, Kleiman-Broeze KA, Traas MAF, Muijsers GJJM, Manger AP, Gianotten J, de Koning CH, Koning AMH, Bayram N, van der Ham DP, Vrouenraets FPJM, Kalafusova M, van de Laar BIG, Kaijser J, van Oostwaard MF, Meijer WJ, Broekmans FJM, Valkenburg O, van der Voet LF, van Disseldorp J, Lambers MJ, Peters HE, Lier MCI, Lambalk CB, van Wely M, Bossuyt PMM, Stoker J, van der Veen F, Mol BWJ, Mijatovic V. The FOAM study: is Hysterosalpingo foam sonography (HyFoSy) a cost-effective alternative for hysterosalpingography (HSG) in assessing tubal patency in subfertile women? Study protocol for a randomized controlled trial. BMC Womens Health. 2018 May 9;18(1):64.
  6. Tiberio, F., Exacoustos, C., Szabolcs, B., Piancatelli, R., Romanini, E., Romeo, V., & Zupi, E. Hysterosalpingo-foam sonography (HyFoSy) with tubal flushing increase chances of spontaneous pregnancy. Special Issue: Abstracts of the 26th World Congress on Ultrasound in Obstetrics and Gynecology, Rome, Italy, 24–28 September 2016;48(1):124.
Share:

 

One Response

  1. Elok berkata:

    Apakah HYFOSY ini dapat meningkatkan resiko penyebaran cairan hydrosalpinx yang ada di dalam saluran tuba seperti HSG?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Reservasi