Kenali HSG, Tujuan, Risiko dan Alternatifnya

gambar HSG

Upaya merealisasikan keinginan pasangan suami istri (pasutri) untuk punya keturunan tidak selalu berjalan mulus. Ada masalah kesuburan, yang bersumber dari sekian banyak faktor, yang perlu ditangani dengan baik untuk meningkatkan peluang bagi pasutri untuk hamil. Salah satu metode untuk mendeteksi sumber ketidaksuburan (infertilitas), khususnya pada istri, adalah histerosalpingografi (HSG). HSG adalah adalah pemeriksaan ketidaksuburan yang dilakukan dengan menggunakan teknologi radiografi terhadap kondisi organ reproduksi istri.

Tujuan Dilakukannya HSG

HSG memiliki fungsi besar dalam pemeriksaan tuba falopi. Di situlah pembeda antara histerosalpingografi dengan ultrasonografi (USG)  dan magnetic resonance imaging (MRI). USG digunakan untuk memeriksa masalah pada endometrium, misalnya perdarahan abnormal pada uterus dan polip. MRI lebih digunakan pada evaluasi miometrium uterus (kontur uterus dan mioma) dan ovarium. HSG, USG, dan MRI merupakan tiga di antara banyak metode lainnya yang kerap dokter lakukan untuk mendiagnosis masalah infertilitas pasien. Pada sisi lain, beberapa studi memperlihatkan bahwa jumlah pemeriksaan yang menerapkan HSG telah meningkat secara tajam selama beberapa tahun terakhir. Peningkatan tersebut, oleh para ilmuwan, dihubungkan dengan kemajuan dalam pengobatan reproduksi yang menghasilkan prosedur fertilisasi in vitro yang lebih berhasil, serta kecenderungan istri menunda kehamilan hingga ke usia yang lebih lanjut.

HSG diterapkan ketika dokter menangkap ada sejumlah indikasi spesifik pada masalah infertilitas istri. Antara lain wanita dengan riwayat aborsi spontan berulang dan penilaian pasien sebelum miomektomi.

Pada pasien yang pernah menjalani ligasi tuba atau pembalikan ligasi tuba, dokter bisa merekomendasikan dilakukannya HSG. Dalam kondisi tersebut, HSG dimaksudkan untuk memeriksa tingkat keberhasilan operasi yang telah pasien lalui tersebut. Konkretnya, pada pasien yang menjalani ligasi tuba (prosedur untuk menutup tuba falopi), dokter menerapkan HSG untuk memastikan bahwa tuba pasien telah ditutup kembali dengan benar. Sedangkan pada pasien yang telah melalui pembalikan ligasi tuba, HSG diselenggarakan untuk membuka kembali tuba falopi. Gangguan tuba sendiri merupakan masalah yang dijumpai pada sekitar dua puluh persen pasien infertilitas. 

Pemeriksaan yang menggunakan HSG memiliki tingkat akurasi sangat tinggi. Yakni 95,5% untuk mendiagnosis kelainan tuba, 95% (rongga air seni), dan 89% (kelainan peritoneal). 

Baca Juga: Sulit Memiliki Anak? Tes Kesuburan Anda Dengan Cara Ini.

Prosedur

Ketika dokter memutuskan untuk melakukan pemeriksaan dengan menggunakan HSG (tentu saja dengan persetujuan pasien), prosedur ini akan dilangsungkan pada paruh pertama siklus menstruasi istri, yakni antara hari pertama dan keempat belas. Dengan kata lain, HSG dilakukan setelah menstruasi sebelumnya dan sebelum ovulasi berikutnya. Dokter akan memastikan bahwa pasien tidak sedang hamil saat menjalani pemeriksaan HSG tersebut.

Saat melaksanakan HSG, dokter akan memasukkan tabung berukuran sangat kecil ke vagina dan leher rahim. Medium yang dikenal sebagai bahan kontras kemudian disuntikkan ke dalam rahim melalui tabung tadi. Medium itu akan mengalir ke rongga panggul, terutama ke organ yang menjadi sasaran pemeriksaan dokter.

Setelah medium tersebut bergerak ke titik yang dituju, dokter akan menyalakan instrumen sinar-x yang disebut fluoroscope. Lalu, di layar monitor dokter akan bisa mengamati kondisi organ dimaksud berkat warna kontras yang dihasilkan oleh medium tadi. Pencitraan di layar monitor, baik berupa foto maupun film, akan disimpan secara elektronik di komputer untuk keperluan diagnosis dan manajemen penyakit lebih lanjut.

Prosedur HSG berlangsung hanya sekitar lima menit. Agar pasien merasa lebih nyaman saat diperiksa, dokter bisa meresepkan penghilang rasa sakit sekaligus antibiotik guna mengurangi risiko infeksi. Pasien akan dapat meninggalkan klinik setelah selesainya prosedur tersebut. Namun untuk sementara waktu, demi memastikan pasien pulih lebih lekas, kami menyarankan pasien untuk dibantu oleh orang lain saat mengerjakan aktivitas rutinnya sehari-hari.

Keuntungan

Sebagaimana teknologi medis lainnya yang juga digunakan dalam pendeteksian masalah ketidaksuburan, HSG pun memiliki plus dan minus. Keuntungannya antara lain adalah:

  • Pemeriksaan berlangsung sederhana, sehingga terjadinya komplikasi jarang dijumpai.
  • Memberikan informasi visual, sehingga menghasilkan diagnosis lebih akurat, tentang masalah di seputar kehamilan dan kegagalan janin untuk mencapai umur yang seharusnya sebelum dilahirkan.
  • Berpeluang membuka sumbatan pada tuba falopi, sehingga mempertinggi peluang kehamilan pada waktu mendatang.
  • Sangat minimal sisa radiasi yang tertinggal pasca dilakukannya pemeriksaan sinar-x.
  • Penggunaan sinar-x biasanya tidak memunculkan efek samping.

Risiko

Sedangkan kemungkinan negatif yang bisa terjadi pada pasien adalah

  • Risiko minimal terjadinya kanker akibat pasien terekspos pada radiasi sinar-x. Untuk menekan risiko itu, dokter akan melakukan cermatan seteliti mungkin guna menentukan dosis radiasi yang tepat.
  • Terhadap pasien yang memiliki infeksi panggul, masalah pembengkakan, dan menderita penyakit menular seksual, HSG dapat memperburuk kondisi mereka. Itu sebabnya, sangat penting bagi pasien untuk berkomunikasi setransparan mungkin dengan dokter mengenai kondisi-kondisi khusus yang barangkali memerlukan adanya perhatian ekstra.
  • Radiasi sinar-x dapat berefek negatif pada kehamilan. Oleh karena itu, setiap calon ibu perlu menyampaikan perihal kehamilan mereka sebelum menjalani pemeriksaan terutama yang menggunakan teknologi sinar-x.

Alternatif HSG Tanpa Nyeri dan Radiasi

Di samping HSG, Pusat Fertilitas Bocah Indonesia memiliki metode yang lebih aman, hysterosalpingo-foam sonography (HyFoSy). Berdasarkan penelitian, HyFosy disimpulkan sebagai prosedur pemeriksaan tuba dengan sensasi nyeri yang lebih minimal lagi. HyFosy merupakan teknik baru dengan tingkat akurasi sebanding dengan HSG. Dari sisi finansial, HyFoSy juga ekonomis, sehingga meningkatkan kenyamanan pasutri saat menjalani pengobatan infertilitas.

Banyak kalangan merekomendasikan HyFoSy sebagai alternatif HSG. Dokter akan memeriksa kondisi pasien untuk memastikan opsi yang paling tepat, baik HSG maupun HyFoSy, dalam masing-masing program kehamilan. 

 

Referesi:

  1. Simpson, W.L., Beitia, L.G., Mester, J. Hysterosalpingography: A Reemerging Study. Online Journal of Radiological Society of North America. Published: Mar 1, 2006. Source.
  2. Hoffman BL, et al. Techniques used for imaging in gynecology. In: Williams Gynecology. 3rd ed. New York, N.Y.: McGraw-Hill Education; 2016. Source.
  3. Dreyer, K., Out, R., Hompes, P.G.A., Mijatovic, V. Hysterosalpingo-foam sonography, a less painful procedure for tubal patency testing during fertility workup compared with (serial) hysterosalpingography: a randomized controlled trial. Fertility and Sterility. 2014; 102(3): 821-825. doi: Source.
  4. van Rijswijk, J., van Welie, N., Dreyer, K. et al. The FOAM study: is Hysterosalpingo foam sonography (HyFoSy) a cost-effective alternative for hysterosalpingography (HSG) in assessing tubal patency in subfertile women? Study protocol for a randomized controlled trial. BMC Women’s Health 1864 (2018). doi: 10.1186/s12905-018-0556-6
  5. Ahmed, S.A., Abo-taleb, H. The validity of HSG in infertility work up. Egypt J Radiol Nucl Med 5063 (2019). https://doi.org/10.1186/s43055-019-0064-1.
Share:

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Reservasi