5 Faktor yang Pengaruhi Penempelan Embrio

5 Faktor yang Pengaruhi Penempelan Embrio

Sejumlah faktor berikut bisa memengaruhi proses penempelan embrio di dinding rahim sehingga pengaruhi peluang kehamilan. 

Salah satu tahap yang berperan penting terhadap tingkat keberhasilan sebuah kehamilan adalah implantasi. Implantasi adalah proses menempelnya embrio hingga tertanam di dinding rahim.

Menurut penelitian dalam jurnal Human Reproduction Update, saat mencapai puncak masa subur, wanita hanya berpeluang hamil sekitar 30%. Hal ini ditandai dengan implantasi yang berjalan aman dan adanya detak jantung dari janin.

Namun, para ilmuwan menduga sekitar 30% embrio gagal tertanam pada dinding rahim. Lantas, apa faktor yang memengaruhi penempelan embrio pada dinding rahim? Cari tahu lewat ulasan di bawah ini, yuk Bunda!

Baca Juga: Mengenal Fase Blastula pada Perkembangan Embrio Bunda 

Tanya Ferly tentang Promil?

New CTA WA

Faktor yang Memengaruhi Penempelan Embrio di Dinding Rahim

Biasanya, implantasi terjadi sekitar 6-12 hari setelah ovulasi alias masa subur, yaitu fase ketika ovarium mengeluarkan sel telur matang agar dapat dibuahi oleh sperma. 

Embrio lalu terbentuk dari sel telur yang sudah dibuahi oleh sperma. Kemudian embrio menempel pada dinding rahim secara bertahap hingga akhirnya tertanam di lapisan terdalam dinding rahim alias endometrium.  

Saat fase implantasi berlangsung, ada empat faktor utama yang diduga memengaruhi penempelan embrio di dalam dinding rahim Bunda, antara lain:

1. Kualitas embrio

Kualitas kesehatan embrio berpengaruh terhadap tingkat keberhasilan implantasi. Sayangnya, sangat banyak embrio yang tidak sehat karena memiliki kelainan kromosom.

Kondisi kelainan jumlah dan komposisi kromosom pembawa DNA ini disebut sebagai aneuploidi. Berdasarkan penelitian dalam International Journal of Reproductive BioMedicine, ditemukan sekitar 63% kasus aneuploidi pada wanita berusia di bawah 37 tahun.

Embrio dengan kelainan kromosom biasanya sulit tertanam pada dinding rahim. Kondisi ini jadi penyebab keguguran dini.   

Kelainan kromosom pada embrio juga menyebabkan pasangan muda berusia 20-an rata-rata membutuhkan waktu 3-4 bulan untuk bisa hamil. Sementara, wanita berusia 30-an dan 40-an dengan aneuploidi memiliki rentang waktu lebih lama untuk bisa hamil.

2. Kondisi rahim dan endometrium

Faktor yang memengaruhi proses penempelan embrio selanjutnya, yaitu kesehatan rahim. Rahim setidaknya harus memiliki bentuk fisik yang normal dan terbebas dari kondisi yang dapat mengganggu implantasi.

Tingkat keberhasilan penempelan embrio juga dipengaruhi oleh ketebalan lapisan endometrium. Lapisan terdalam dinding rahim ini idealnya harus memiliki ketebalan minimal 7-8 mm untuk bisa meningkatkan peluang kehamilan Bunda.

Selain itu, reseptivitas endometrium alias kemampuan endometrium dalam menerima embrio jadi faktor yang turut pengaruhi keberhasilan implantasi.

Sebagian besar wanita dapat menerima implantasi hanya dalam kurun 3-6 hari. Selama rentang waktu tersebut, embrio harus bisa masuk ke dalam endometrium hingga tertanam di dalam rahim dan tumbuh menjadi janin.

Apabila endometrium memiliki reseptivitas yang buruk dan ketebalan dinding yang tipis, maka peluang terjadinya implantasi makin kecil.

Baca Juga: Transfer Embrio – Definisi, Prosedur, Waktu dan Risiko

3. Perubahan hormon

Peningkatan kadar hormon reproduksi memudahkan proses penempelan embrio pada dinding rahim hingga terjadinya proses awal kehamilan. Progesteron merupakan hormon yang paling berpengaruh dalam hal ini.

Implantasi biasanya terjadi bertepatan dengan puncak peningkatan kadar progesteron. Peningkatan kadar hormon reproduksi ini bisa mengentalkan endometrium sehingga lebih siap untuk ditempel oleh embrio.

Sebuah penelitian dalam jurnal Fertility and Sterility mengungkapkan bahwa wanita yang kadar progesteronnya tetap tinggi usai masa implantasi, berpeluang lima kali lebih besar untuk melahirkan dibandingkan dengan wanita yang kadar progesteronnya rendah. 

Selain progesteron, hormon Human Chorionic Gonadotropin (hCG) juga memainkan peran kunci dalam proses penempelan embrio di dinding rahim. Hormon ini biasa digunakan untuk deteksi kehamilan dini.

Peningkatan kecil kadar hCG selama proses implantasi memberikan sinyal kepada tubuh untuk menghentikan menstruasi. Hal ini disebabkan adanya proses kehamilan yang sedang berlangsung.

4. Sistem kekebalan tubuh

Sebanyak 50% materi genetik embrio berasal dari ibu. Sementara 50% lainnya berasal dari ayah.

Susunan genetik tersebut menyebabkan sistem kekebalan tubuh Bunda bisa merasa terancam karena mengira embrio adalah zat asing, seperti halnya virus. Untuk mempertahankan dirinya dari bahaya, biasanya sistem kekebalan tubuh akan menyerang zat asing tersebut.

Namun, setelah proses penempelan embrio pada dinding rahim berhasil dilakukan, sistem kekebalan tubuh Bunda akan melakukan sejumlah penyesuaian. Caranya dengan mengubah diri agar dapat menoleransi keberadaan embrio sehingga bakal calon anak Bunda dapat bertahan hidup. Sistem kekebalan tubuh Bunda akan mendukung pertumbuhan bayi sepanjang proses kehamilan hingga persalinan.

Meski begitu, penyesuaian ini juga bikin sistem kekebalan tubuh Bunda jadi berkurang. Karena itu, wanita hamil lebih rentan terinfeksi penyakit.

5. Gaya hidup

Gaya hidup turut menjadi faktor yang memengaruhi tingkat keberhasilan penempelan embrio pada dinding rahim. Kebiasaan sering merokok dan konsumsi alkohol berlebih bisa perkecil peluang keberhasilan implantasi.

Kebanyakan merokok bisa memengaruhi kualitas embrio sehingga mengurangi kemampuannya dalam menempel pada dinding rahim. Sementara, berlebihan konsumsi alkohol bisa meningkatkan stres pada jalur sinyal hormon dan nutrisi. Efeknya bisa mengurangi peluang implantasi normal.

Hal lain yang turut berpengaruh terhadap implantasi, yaitu obesitas. Punya berat badan berlebih bisa berdampak buruk pada kualitas sel telur, ekspresi gen, keseimbangan hormon, dan respons imun Bunda.

Wah, ternyata ada banyak faktor yang bisa pengaruhi penempelan embrio pada dinding rahim sehingga peluang kehamilan jadi terdampak.

Untuk Bunda yang tengah menjalani program hamil, jangan berkecil hati. Tetap fokus pada faktor yang bisa dikendalikan. Miliki gaya hidup sehat sedari dini agar bisa berpengaruh positif pada proses implantasi nantinya, ya Bunda.

Ikuti terus informasi terupdate seputar kehamilan hanya di Bocah Indonesia!

Artikel ini ditinjau secara medis oleh dr. Chitra Fatimah

cheer

Jadwalkan Konsultasi

Jika Anda belum hamil setelah satu tahun usia pernikahan, kami menyarankan Anda untuk melakukan pemeriksaan kesuburan dengan spesialis fertilitas kami.

Buat janji konsultasi dengan menghubungi kami di (021) 50200800 atau chat melalui Whatsapp melalui tombol di bawah.

Referensi
  • Yu Kizawa. Ovaterra by Fertility Neutraceuticals. Embryo Implantation: What Affects Implantation? 2022 
  • N S Macklon, J P M Geraedts, B C J M Fauser. Human Reproduction Update. Conception to ongoing pregnancy: the ‘black box’ of early pregnancy loss. 2002
  • Farzaneh Fesahat, M.Sc., Fatemeh Montazeri, M.Sc., Mohammad Hasan Sheikhha, M.D., Ph.D., Hojjatollah Saeedi, Ph.D., Razieh Dehghani Firouzabadi, M.D., and Seyed Mehdi Kalantar, Ph.D. International Journal of Reproductive BioMedicine. Frequency of chromosomal aneuploidy in high quality embryos from young couples using preimplantation genetic screening. 2017
  • D Bernstein, H B Frishman, S Levin, S Schwartz. Fertility and Sterility. The value of urinary pregnanediol estimation for monitoring early pregnancies. 1978
Avatar photo
Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

doctors
[caldera_form id="CF6195e2bd61123"]
Buat Janji