Dampak Obesitas Pada Kesuburan Pria & Wanita

dampak obesitas

Jangan anggap sepele dampak kegemukan atau obesitas. Bila dibiarkan, kesuburan Anda bisa terganggu juga, lho!

Fakta menunjukkan bahwa setiap tahun, semakin banyak jumlah individu dengan obesitas di Indonesia. Data dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) sejak tahun 2007 menunjukkan tren peningkatan angka prevalensi obesitas pada orang dewasa di Indonesia. Di tahun 2007, prevalensi obesitas adalah 10,5 persen. Di tahun 2013 dan 2018, angka ini meningkat menjadi 14,8 dan 21,8 persen. Diperkirakan, angka ini bisa terus meningkat hingga 40 persen pada tahun 2030 bila tidak ada upaya untuk menguranginya.

Dan yang lebih mencengangkan, data menunjukkan kalau tren peningkatan obesitas tak hanya terjadi pada orang dewasa tetapi juga pada anak-anak. Tentunya, ini bukan hal yang diinginkan oleh karena obesitas merupakan akar dari berbagai masalah kesehatan di kemudian hari.

Apa Itu Obesitas?

Secara harfiah, obesitas adalah kondisi terlalu gemuk atau kelebihan berat badan. Untuk bisa menentukan seseorang obes atau tidak perlu diketahui dulu berapa indeks massa tubuhnya (IMT). 

Indeks massa tubuh diukur dengan membagi berat badan (dalam kg) dengan tinggi badan (dalam meter) yang telah dikuadratkan.

IMT = Berat Badan (kg) / [Tinggi Badan (m)]2

Penggolongan IMT sesuai pedoman Badan Kesehatan Dunia (WHO) untuk orang Asia dewasa (>20 tahun) adalah sebagai berikut:

Indeks Massa Tubuh (kg/m2)Status Gizi
<18,5Berat badan kurang
18,5-22,9Normal
23-24,9Overweight/berat badan berlebih
25-29,9Obesitas derajat 1
>30Obesitas derajat 2

Bagi sebagian besar individu, IMT memberi perkiraan yang cukup akurat akan status gizi seseorang. Meski demikian, pengukuran IMT bisa tidak akurat pada individu dengan massa otot yang besar (seperti atlet) karena tidak mengukur kadar lemak tubuh secara langsung. Individu yang seperti ini bisa masuk ke dalam kategori obes meski tidak memiliki kelebihan lemak tubuh.

Hitung IMT anda dengan Kalkulator IMT ini 

Selain dari IMT, obes atau tidaknya seseorang dapat dilihat dari lingkar pinggangnya. Lingkar pinggang normal untuk pria adalah <90 cm, dan untuk wanita adalah <80 cm. Ukuran lingkar pinggang dapat menggambarkan apakah seseorang mengalami obesitas sentral (kelebihan lemak perut) atau tidak.

Penyebab dan Faktor Risiko Obesitas

Dalam jangka panjang, makan lebih banyak dari yang dibakar melalui aktivitas fisik sehari-hari akan menyebabkan obesitas. Seiring dengan waktu, kelebihan kalori akan tertimbun dan menyebabkan penambahan berat badan.

Namun, obesitas tak hanya soal kalori yang masuk dan keluar, atau akibat gaya hidup sedenter. Obesitas biasanya merupakan konsekuensi dari kombinasi berbagai macam faktor yang berperan, seperti:

Faktor genetik dan kebiasaan dalam keluarga

Gen yang diturunkan dalam keluarga dapat memengaruhi cara tubuh dalam mengelola makanan menjadi energi dan bagaimana lemak disimpan. Selain itu, anggota keluarga juga cenderung memiliki kebiasaan makan dan aktivitas yang sama.

Pola makan yang tidak sehat

Kebiasaan mengonsumsi makanan yang tinggi kalori, tinggi gula, garam dan lemak akan memicu peningkatan berat badan yang bermakna.

Kurang atau tidak beraktivitas fisik

Gaya hidup sedenter, seperti lebih banyak duduk ketimbang berdiri, serta tidak berolahraga berhubungan dengan penambahan berat badan.

Adanya penyakit tertentu

Penyakit seperti polycystic ovary syndrome (PCOS), sindrom Prader-Willi, sindrom Cushing, hipotiroidisme, dan osteoartritis dapat menyebabkan terjadinya obesitas.

Obat-obatan

Beberapa obat antidepresi, antikejang, antidiabetes, antipsikotik, obat golongan steroid dan obat jantung golongan beta-blocker dapat memicu peningkatan berat badan.

Usia

Obesitas dapat terjadi pada usia berapapun, termasuk anak balita. Namun, orang yang lebih tua lebih berisiko obes oleh karena perubahan hormon dan gaya hidup yang lebih pasif. Selain itu, massa otot pun cenderung berkurang dengan bertambahnya usia. Berkurangnya massa otot akan menurunkan laju metabolisme sehingga berat badan lebih mudah naik.

Kurang tidur

Kualitas dan kuantitas tidur yang buruk memicu perubahan hormon yang membuat seseorang lebih merasa lapar dan ingin makan.

Kehamilan

Berat badan yang bertambah selama hamil lebih sulit diturunkan dan pada akhirnya dapat memicu obesitas.

Berhenti merokok

Individu yang berhenti merokok kerap menggunakan makanan untuk mengatasi gejala putus rokok. Dan bagi sebagian orang, cukup banyak sampai menyebabkan peningkatan berat badan yang bermakna. Meski demikian, dalam jangka panjang berhenti merokok tetap jauh lebih bermanfaat ketimbang risiko obesitas akibat melakukannya.

Stres

Sebagian orang mencari makanan berkalori tinggi sebagai cara untuk menyamankan diri dari situasi stres.

Lemak perut berlebih

Komplikasi Obesitas

Obesitas merupakan sebuah penyakit yang kompleks. Kondisi ini tak hanya masalah kosmetik atau penampilan semata melainkan merupakan masalah yang meningkatkan risiko munculnya kondisi lain yang lebih berbahaya. Dampak obesitas di antaranya, yakni penyakit jantung koroner, tekanan darah tinggi, diabetes, kanker tertentu, dan depresi. Di sisi lain, obesitas juga berdampak pada hal-hal khusus, seperti gangguan kesuburan, baik pada pria maupun wanita.

Dampak Obesitas Pada Kesuburan Wanita

American Society for Reproductive Medicine (ASRM) menyebutkan bahwa obesitas menyebabkan gangguan kesuburan pada 6 persen wanita yang belum pernah hamil. Ada 3 cara di mana obesitas dapat mengganggu proses reproduksi pada wanita, diantaranya:

Menghambat proses ovulasi

Wanita dengan berat badan berlebih atau obese memiliki kadar hormon leptin yang lebih tinggi. Hormon yang diproduksi oleh jaringan lemak ini dapat mengganggu keseimbangan hormon-hormon reproduksi sehingga berdampak pada kesuburan. Pada wanita dengan PCOS, obesitas akan memperberat gangguan hormonal yang terjadi.

Meningkatkan risiko komplikasi kehamilan dan persalinan

Didapati bahwa angka kelahiran hidup menurun pada wanita hamil yang obes. Risiko keguguran dan komplikasi kehamilan juga meningkat. Beberapa komplikasi kehamilan yang sering terjadi pada wanita obes, yakni hipertensi, preeklampsia, diabetes gestasional, dan infeksi saluran kemih. Di samping itu, wanita obes lebih berisiko melahirkan janin dengan berat lahir besar (>4 kg), kematian janin di dalam rahim, dan persalinan prematur. Risiko perdarahan dan infeksi akibat proses persalinan itu sendiri juga lebih besar pada wanita hamil yang obes.

Secara statistik, didapati bahwa peluang hamil dengan bayi tabung menurun sekitar 16 persen pada wanita dengan obesitas. Salah satu sebabnya, karena obesitas mengganggu metabolisme zat dan hormon yang berperan dalam pertumbuhan folikel sel telur, perkembangan embrio, dan proses implantasi embrio.

Dampak Obesitas Pada Kesuburan Pria

Studi-studi melaporkan bahwa dampak obesitas memengaruhi kesuburan pria melalui dua hal:

Penurunan kualitas sperma

Obesitas menyebabkan perubahan pada parameter kualitas sperma, khususnya jumlah total sperma, jumlah sperma yang bergerak progresif, bentuk sperma, dan materi genetik (DNA) sperma).

Disfungsi ereksi

Studi menemukan bahwa kondisi ini jauh lebih banyak ditemukan pada pria dengan berat badan berlebih, khususnya yang memiliki IMT >30 kg/m2.

Cara Mengatasi dan Mencegah Obesitas

Tujuan dari pengobatan obesitas adalah untuk mencapai dan mempertahankan berat badan yang sehat. Penurunan berat badan, meskipun baru sedikit, sudah dapat memperbaiki atau mencegah masalah kesehatan akibat kondisi ini. 

Untuk hasil yang optimal, individu perlu bekerja sama dengan tim medis yang profesional—seperti dokter ahli gizi, konselor, dan dokter ahli obesitas—sehingga individu mampu memahami dan melakukan perubahan dalam pola makan dan aktivitas sehari-hari.

Pada awalnya, target penurunan berat badan adalah 5-10 persen dari berat badan total. Ini berarti, bila berat badan awal 100 kg, hanya perlu mengurangi 5-10 kg agar kesehatan mulai membaik. Namun, semakin besar berat badan yang diturunkan, tentu semakin besar manfaatnya.

Pada dasarnya, semua program penurunan berat badan membutuhkan perubahan pola makan, yang mencakup jenis, jadwal, dan jumlah, serta peningkatan aktivitas fisik. Aktivitas fisik dianjurkan berintensitas sedang sebanyak 30 menit per hari atau 150 menit per minggu. Individu juga dianjurkan untuk selalu memiliki target minimal 10.000 langkah sehari.

Bila diperlukan, cara-cara berikut dapat digunakan untuk membantu menurunkan berat badan:

  • Obat-obatan, seperti bupropion-naltrexone, liraglutide, orlistat, phentermine-topiramate.
  • Endoskopi lambung untuk mengecilkan kapasitas lambung.
  • Bariatric surgery, yakni operasi untuk membatasi jumlah yang bisa dikonsumsi atau menurunkan penyerapan zat gizi dan kalori. Namun, prosedur ini juga dapat memicu kekurangan vitamin atau zat gizi.

Cara mana yang terbaik berbeda-beda untuk tiap individu. Pilihan pengobatan juga bergantung pada derajat obesitas, kondisi kesehatan secara umum dan kemauan untuk berpartisipasi dan konsisten dalam program penurunan berat badan.

Di tingkat individu, dampak obesitas dapat dicegah dengan menjalani gaya hidup yang lebih sehat, seperti:

  • Melakukan aktivitas fisik seperti berjalan, bersepeda, berenang selama 20-30 menit setiap harinya.
  • Membiasakan diri untuk mengonsumsi makanan bergizi, tinggi protein dan tinggi serat.
  • Membatasi konsumsi makanan tinggi kalori, yakni yang tinggi gula, garam, dan lemak.
  1. Patient education: Health risks of obesity (the basics). In: UpToDate, Post, TW (Ed), UpToDate, Waltham, MA, 2021.
  2. Patient education: weight loss treatments (the basics). In: UpToDate, Post, TW (Ed), UpToDate, Waltham, MA, 2021.
  3. Kementerian Kesehatan RI. Fact Sheet Obesitas.
  4. Zain MM, Norman RJ. Impact of obesity on female fertility and fertility treatment. Womens Health (Lond). 2008 Mar;4(2):183-94. doi: 10.2217/17455057.4.2.183. PMID: 19072520.
  5. Pasquali R, Patton L, Gambineri A. Obesity and infertility. Curr Opin Endocrinol Diabetes Obes. 2007 Dec;14(6):482-7. doi: 10.1097/MED.0b013e3282f1d6cb. PMID: 17982356.
  6. Katib A. (2015). Mechanisms linking obesity to male infertility. Central European journal of urology, 68(1), 79–85. https://doi.org/10.5173/ceju.2015.01.435
Share:

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Reservasi