5 Cara Menjaga & Merawat Kesehatan Organ Reproduksi

cara menjaga kesehatan organ reproduksi

Kesehatan organ reproduksi merupakan hal yang penting. Selain untuk mengantisipasi demi kehadiran momongan, menjaga kesehatan reproduksi juga penting untuk menghindari dari penyakit kelamin dan infeksi menular seksual. Cara menjaga kesehatan organ reproduksi pun perlu diperhatikan.

Organ reproduksi wanita terdiri dari vagina, serviks (leher rahim), klitoris, rahim, tuba falopi, dan ovarium (indung telur). Organ reproduksi sangat penting dalam melakukan hubungan seks, menstruasi, pembuahan sel telur, proses kehamilan, hingga proses persalinan. Apa saja cara untuk menjaga kesehatan organ reproduksi?

BACA JUGA: Cara Menentukan Program Hamil Yang Tepat

Cara Menjaga Kesehatan Organ Reproduksi

Organ reproduksi merupakan salah satu bagian penting namun banyak orang tidak menyadari organ reproduksi adalah bagian yang paling mudah rapuh. Cara merawat organ reproduksi pun harus diperhatikan.

Membersihkan organ intim dengan benar

Membersihkan area vagina penting terutama saat selesai buang air, sebelum, dan sesudah melakukan hubungan seksual. Hal ini penting untuk menghindari adanya infeksi bakteri menular ke pasangan. Cara membersihkan area vagina pun harus membasuhnya mulai dari depan ke belakang. Cara membersihkan yang tidak tepat dapat membawa bakteri dari anus ke vagina yang dapat menyebabkan infeksi.

Selain itu, hindari penggunaan produk pembersih vagina yang mengandung pewangi, antiseptik, dan alkohol. Hal ini dapat menyebabkan iritasi dan membunuh bakteri baik di area vagina. Pastikan area organ intim tetap kering dan tidak lembab.

Konsumsi makanan sehat 

Makanan sehat dan bergizi baik untuk menjaga kesehatan organ reproduksi. Makanan sehat yang dikonsumsi kaya akan nutrisi yang mengandung serat, antioksidan, protein, dan mineral.  Konsumsi banyak air putih juga menjadi salah satu solusi untuk merawat organ reproduksi.

Melakukan hubungan seks dengan aman

Melakukan hubungan seks yang aman bertujuan agar melindungi diri dan menghindari terjadinya penyakit menular seksual. Biasanya, melakukan seks dengan aman diartikan sebagai penggunaan alat kontrasepsi untuk mencegah terjadinya kehamilan.

Namun melakukan hubungan seks dengan aman di sini diartikan menjadi berbagai hal, seperti: melakukan hubungan seks dengan menggunakan alat kontrasepsi, tidak bergonta-ganti pasangan, menjaga kebersihan organ intim sebelum dan sesudah berhubungan, cek riwayat penyakit diri dan pasangan. Hal ini berguna untuk mencegah terjadinya infeksi penyakit menular.

Berhenti mengonsumsi alkohol dan rokok

Kandungan alkohol dapat mempengaruhi kesehatan organ reproduksi karena kandungan di dalam alkohol dapat bisa meningkatkan risiko gagalnya ovulasi. Selain alkohol, merokok juga dapat mempengaruhi kesehatan organ reproduksi. Zat-zat yang ada pada rokok dapat mengurangi jumlah dan kualitas sel telur. Rokok juga dapat mempengaruhi kesehatan rahim.

Gaya hidup sehat

Mengubah gaya hidup menjadi lebih sehat juga dapat mempengaruhi kesehatan organ reproduksi. Gaya hidup sehat meliputi olahraga teratur, hindari stres berlebihan, dan tidur yang cukup. Olahraga normal membantu menjaga fungsi vagina semakin baik, seperti berjalan santai jogging yang dapat mengencangkan panggul. Selain itu, olahraga juga membuat tubuh semakin bugar.

Manfaat menjaga kesehatan organ reproduksi

Menjaga kesehatan organ intim tentunya membuat Anda berada dalam kondisi yang sehat. Manfaat utama menjaga kesehatan organ reproduksi tentu mencegah dan menghindari dari penyakit kelamin dan penyakit menular seksual.

Menurut studi, selain manfaat medis terdapat manfaat yang berpengaruh pada ekonomi. Di seluruh dunia, kondisi terkait kehamilan dan infeksi menular seksual (IMS) menyumbang sepertiga dari beban penyakit global di antara wanita usia reproduksi (15-44) dan seperlima di antara total populasi.

Di antara wanita berusia 15-44 tahun, 13% dari beban penyakit global disebabkan oleh kondisi ibu seperti perdarahan, infeksi atau aborsi yang tidak aman, dan 14% karena HIV/AIDS. Besarnya jumlah kasus infeksi menular seksual membuat komunitas global tidak mampu untuk tidak sepenuhnya mendanai layanan ini untuk mencapai tujuan pembangunan global.

kesehatan reproduksi wanitaPenyakit organ reproduksi wanita 

Kesehatan organ reproduksi yang tidak terjaga dapat menimbulkan risiko penyakit. Beberapa penyakit yang dapat menyerang organ reproduksi di antaranya.

Endometriosis

Endometriosis terjadi ketika jaringan yang mirip dengan lapisan rahim tumbuh di luar rahim yang bukan tempatnya. Seperti lapisan rahim, jaringan ini rusak dan menyebabkan pendarahan akibat respon terhadap perubahan hormon.

Endometriosis dapat menimbulkan nyeri haid pada saat menstruasi dan bisa menjadi penyebab infertilitas sehingga wanita menjadi sulit hamil.

Sindrom ovarium polikistik (PCOS)

Sindrom ovarium polikistik atau PCOS merupakan infeksi pada saluran genital bagian atas wanita termasuk rahim, saluran tuba, dan ovarium. Penyakit radang panggul biasanya disebabkan oleh infeksi bakteri yang menyebar dari vagina atau leher rahim ke organ produksi yang lebih tinggi.

Radang panggul 

Penyakit radang panggul merupakan infeksi pada saluran genital wanita bagian atas, yang meliputi rahim, saluran tuba, dan ovarium. Ini sering disebabkan oleh infeksi menular seksual (IMS).

Penyakit radang panggul juga dapat merusak dan melukai saluran tuba, sehingga hampir tidak mungkin bagi telur untuk turun ke dalam rahim. Jika tidak diobati dengan baik penyakit radang panggul dapat menyebabkan sulit hamil.

Miom

Miom merupakan tumor jinak yang terjadi di dalam atau dinding rahim. Ukuran, bentuk, jumlah, dan lokasi miom bervariasi. Umumnya, lokasi miom berada di dalam rahim, permukaan luar, atau di dalam dinding rahim. Biasanya, penderita miom mengalami nyeri panggul dan pendarahan pada area vagina saat tidak mengalami menstruasi.

Penyakit menular seksual (PMS)

Penyakit menular seksual (PMS) dapat diakibatkan dari kontak langsung saat melakukan hubungan seksual dengan pasangan. Penyakit menular seksual yang biasanya menyerang seperti HIV/AIDS yang disebabkan akibat melakukan hubungan seks dengan berganti-ganti pasangan.

Selain HIV/AIDS, penyakit yang dapat menyerang organ reproduksi lain adalah infeksi vagina, gonore, sifilis, herpes simpleks, dan klamidia.

Kanker pada organ reproduksi

Kanker merupakan salah satu penyakit yang dapat menyerang organ reproduksi. Di antaranya, kanker serviks, kanker rahim, kanker ovarium, kanker ginekologi, hingga kanker vagina.

Penyakit organ reproduksi pria 

Sama halnya dengan organ reproduksi wanita, organ reproduksi pria juga berperan penting. Organ reproduksi pada pria memiliki peranan memproduksi dan menyalurkan sel sperma hingga memproduksi hormon seks pada pria. Tidak hanya terjadi pada wanita, penyakit organ reproduksi juga bisa menyerang pria. Beberapa penyakit organ reproduksi pria.

Epididimitis

Penyakit epididimitis terjadi ketika adanya peradangan pada epididimis. Epididimis merupakan saluran di dalam skrotum yang menempel pada testis. Epididimis berperan untuk menyalurkan dan menyimpan sperma yang diprediksi oleh testis.

Gangguan prostat 

Prostat merupakan kelenjar yang membungkus saluran kemih. Prostat berperan untuk memproduksi cairan mani yang dapat menyuburkan dan melindungi sperma. Jika prostat mengalami masalah maka dapat menimbulkan masalah.

Orchitis

Orchitis merupakan penyakit yang terjadi pada testis. Biasanya, penyakit ini disebabkan oleh infeksi bakteri atau virus. Orchitis ini bisa merupakan salah satu penyakit yang sering menyerang organ reproduksi pria. Bila tidak ditangani baik, penyakit ini bisa menyebabkan infertilitas dan penurunan produksi testosteron.

Hipogonadisme

Hipogonadisme merupakan penyakit yang organ yang terjadi ketika tubuh tidak menghasilkan hormon testosteron. Hipogonadisme bisa menyebabkan penurunan libido, gangguan produksi sperma, hingga menyebabkan infertilitas.

  1. Keeping your vagina clean and healthy. NHS UK. URL: Link
  2. Neelima Panth, Adam Gavarkovs, Martha Tamez, Josiemer Mattei. The Influence of Diet on Fertility and the Implications for Public Health Nutrition in the United States. Front Public Health. 2018 Jul 31;6:211. doi: 10.3389/fpubh.2018.00211. eCollection 2018. URL: Link
  3. Susan A. Cohen. The Broad Benefits of Investing in Sexual and Reproductive Health. Volume 7, Issue 1. URL: Link
  4. Niels E Skakkebaek, Ewa Rajpert-De Meyts, Germaine M Buck Louis, Jorma Toppari, Anna-Maria Andersson, Michael L Eisenberg, Tina Kold Jensen, Niels Jørgensen, Shanna H Swan, Katherine J Sapra, Søren Ziebe, Lærke Priskorn, Anders Juul. Male Reproductive Disorders and Fertility Trends: Influences of Environment and Genetic Susceptibility. Physiol Rev. 2016 Jan;96(1):55-97. doi: 10.1152/physrev.00017.2015. URL: Link
  5. Breanne B Das, Jocelyn Ronda, and Maria Trent. Pelvic inflammatory disease: improving awareness, prevention, and treatment. Infect Drug Resist. 2016; 9: 191–197. Published online 2016 Aug 19. doi: 10.2147/IDR.S91260. URL: Link
  6. Prostate Diseases. MedlinePlus. URL: Link
  7. Wendy A March, Vivienne M Moore, Kristyn J Willson, David I W Phillips, Robert J Norman, Michael J Davies. The prevalence of polycystic ovary syndrome in a community sample assessed under contrasting diagnostic criteria. Hum Reprod. 2010 Feb;25(2):544-51. doi: 10.1093/humrep/dep399. Epub 2009 Nov 12. URL: Link
  8. Speca. Napolitano, and G. Tagliaferri. The pathogenetic enigma of polycystic ovary syndrome. J Ultrasound. 2007 Dec; 10(4): 153–160. Published online 2007 Oct 22. doi: 10.1016/j.jus.2007.09.006. URL: Link
  9. The benefits of investing in sexual and reproductive health. Issues Brief (Alan Guttmacher Inst). 2004 Jun;(4):1-4. URL: Link
Share:

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Reservasi