Adakah Cara Menghitung Menopause?

cara menghitung menopause

Setiap wanita akan mengalami fase menopause. Kondisi ini terjadi ketika terhentinya siklus menstruasi secara alami pada usia 45 hingga 50-an. Sebelum memasuki fase menopause, mereka akan mengalami periode transisi atau yang disebut sebagai perimenopause. Lantas, bagaimana cara menghitung menopause pada wanita?

Baca Juga: Apa Itu Menopause? Kenali Gejala dan Cara Mengatasinya!

Cara Menghitung Menopause

Menopause merupakan bagian alami dari proses penuaan yang menandakan bahwa masa reproduksi wanita berakhir. Kondisi ini terjadi ketika indung telur (ovarium) berhenti melepaskan sel telur sehingga proses menstruasi terhenti. Pada kondisi menopause seorang wanita tidak dapat hamil lagi.

Fase menopause dapat diketahui ketika seorang wanita tidak mengalami menstruasi selama 12 bulan berturut-turut sementara sebelumnya menstruasi normal dan teratur. Selain itu, masa transisi perimenopause akan terjadi selama 4 tahun hingga 10 tahun sebelum akhirnya mengalami menopause itu sendiri.

Pada masa perimenopause ini, seorang wanita akan mengalami sejumlah gejala dan tanda-tanda berupa gejala fisik hingga perubahan psikologis.

Jelang menopause, frekuensi haid seorang wanita menjadi lebih sedikit hingga akhirnya berhenti secara tiba-tiba. Biasanya, kondisi ini disertai dengan penurunan kadar estrogen dalam tubuh wanita.

Menopause bisa terjadi kapan saja. Pada beberapa kasus, wanita bisa mengalami menopause lebih cepat sebelum usia 40-an atau yang disebut sebagai menopause dini.

Tidak ada rumus cara menghitung menopause, kondisi ini dapat terjadi pada usia 45 hingga 50-an namun kondisi ini tidak dapat diprediksi. Namun, jika Anda menjalani pola hidup sehat maka kondisi ini dapat diperlambat kedatangannya.

Salah satu cara mengetahui penyebab menopause dapat dilakukan melalui pemeriksaan kadar Anti-Mullerian Hormone (AMH). Kadar Anti-Mullerian Hormone menggambarkan jumlah sel telur yang tersisa di dalam ovarium wanita. Kadar AMH di dalam darah akan menurun bahkan tidak lagi terdeteksi pada saat menopause.

Selain itu, pemeriksaan AMH juga bisa dilakukan bagi Anda yang ingin mengevaluasi penyebab tidak terjadinya menstruasi secara berturut-turut.

merokok mempercepat menopause

Faktor yang Meningkatkan Munculnya Menopause

Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko munculnya menopause pada seorang wanita, seperti:

1. Merokok

Seorang wanita yang memiliki kebiasaan merokok akan mengalami risiko menopause lebih cepat. Hal ini lantaran kandungan zat berbahaya yang terkandung di dalamnya. Begitu pula dengan kebiasaan mengonsumsi alkohol atau terpapar zat lainnya, seperti pestisida dan zat kimia berbahaya.

2. Memiliki riwayat pembedahan atau operasi di daerah rahim

Wanita yang memiliki riwayat pernah melakukan pembedahan di daerah rahim dapat mengalami risiko menopause lebih cepat.

3. Terapi kanker

Rangkaian terapi kanker seperti kemoterapi maupun radioterapi dapat menyebabkan menopause dini. Meski begitu, dalam kasus ini menopause bisa bersifat sementara.

4. Faktor genetik

Jika Anda memiliki anggota keluarga dengan riwayat menopause dini maka bukan tidak mungkin kondisi ini juga terjadi pada Anda. Selain itu, kelainan genetic seperti sindrom fragile X dan sindrom Turner dapat meningkatkan peluang ini.

Bagaimana Cara Mengatasi Gejala Menopause?

Menopause tidak dapat diprediksi dan dapat datang secara tiba-tiba. Namun, sebelum memasuki fase ini, wanita terlebih dahulu memasuki fase perimenopause dan mengalami sejumlah gejala atau tanda jelang menopause. Meski begitu, menjalani pola hidup sehat dapat membantu mengatasi gejala tersebut.

1. Asupan Vitamin D dan kalsium yang cukup

Perubahan hormonal merupakan salah satu tanda pada saat menopause. Perubahan ini dapat menyebabkan tulang melemah dan meningkatkan risiko osteoporosis. Mengonsumsi makanan yang mengandung kalsium dan asupan vitamin D yang cukup dapat menjaga kesehatan tulang lebih baik.

Sebuah penelitian yang diterbitkan Therapeutic Advances in Endocrinology and Metabolism, menyatakan jika asupan vitamin D yang tercukup selama pascamenopause dipercaya dapat meminimalisir risiko osteoporosis. 

Sumber utama vitamin D alami bisa didapat dari sinar matahari. Selain untuk kulit, sinar matahari pagi dapat mencukupi asupan vitamin D yang juga baik untuk tulang.

Anda juga dapat memenuhi asupan vitamin D melalui makanan atau suplemen. Makanan yang mengandung vitamin D dapat ditemukan pada telur, ikan, minyak ikan kod, dan lain-lain.

Selain itu, makanan yang mengandung kalsium juga dapat meningkatkan kekuatan tulang sehingga dapat meminimalisir osteoporosis. Makanan yang mengandung kalsium, seperti kangkung, bayam, sawi, tahu, dan kacang-kacangan. Adapun makanan yang mengandung kalsium olahan, seperti keju, susu, dan yoghurt.

2. Konsumsi buah dan sayur 

Mengonsumsi banyak buah dan sayur dapat mengatasi gejala menopause. Salah satu manfaatnya adalah dapat membantu mencegah osteoporosis dan mencegah penyakit jantung yang meningkat pasca menopause.

Sebuah penelitian yang diterbitkan European Journal of Clinical Nutrition, mengungkapkan jika mengonsumsi sayur dan buah dapat mengurangi risiko osteoporosis.

3. Hindari makanan manis atau pedas

Makanan pedas, manis, mengandung kafein atau alkohol dipercaya dapat meningkatkan risiko salah satu gejala menopause, hot flashes. Hot flashes adalah salah satu gejala menopause yang merupakan sensasi hangat atau panas secara tiba-tiba muncul di seluruh tubuh.

Dengan menghindari jenis makanan tersebut maka Anda dapat meminimalisir munculnya gejala menopause, hot flashes.

4. Hindari makanan manis dan olahan 

Salah satu gejala menopause adalah perubahan suasana hati. Jika Anda mengonsumsi jenis makanan manis serta makanan olahan maka dapat menyebabkan meningkatnya kadar gula sehingga membuat Anda menjadi lebih cepat lelah dan tersinggung. Kondisi ini justru dapat memperburuk gejala lain menopause yang Anda alami.

Menurut The American Journal of Nutrition menyatakan  jika diet karbohidrat olahan dapat meningkatkan risiko depresi seorang wanita pascamenopause.

Kesimpulan

Menghitung menopause bisa diketahui dari usia kapan kondisi tersebut berlangsung. Meski begitu, bukan tidak mungkin Anda mengalami menopause dini. Pastikan untuk tetap menjaga pola hidup sehat. Jika Anda mengalami beberapa gejala awal menopause, jangan khawatir Anda dapat melaluinya dengan baik.

cheer

Jika Anda tidak mengalami haid selama 12 bulan berturut-turut, kami menyediakan layanan penunjang untuk pemeriksaan. Silakan isi formulir di bawah. Tim kami akan segera menghubungi Anda.

Tidak terjadinya menstruasi bisa menjadi gejala menopause. Penyebabnya bisa diketahui melalui pemeriksaan kadar AMH pada tubuh. Kadar AMH tidak akan terdeteksi ketika fase menopause tiba. Untuk mengetahui kadar AMH Anda, segera lakukan pemeriksaan!

  1. Hardcastle, A. C., et al. (2011). Dietary patterns, bone resorption and bone mineral density in early post-menopausal Scottish women. Eur J Clin Nutr. 2011 Mar;65(3):378-85. 
  2. Gangswich, J. E., et al. (2015). High glycemic index diet as a risk factor for depression: analyses from the Women’s Health Initiative. Am J Clin Nutr. 2015 Aug;102(2):454-63. 
  3. Lopez, F. R. P., Chedraui, P., Pilz Stefan. (2020). Vitamin D supplementation after the menopause. Therapeutic Advances in Endocrinology and Metabolism. 
  4. Wang, X., Ouyang, Y., Liu, J., et al. (2014). Fruit and vegetable consumption and mortality from all causes, cardiovascular disease, and cancer: systematic review and dose-response meta-analysis of prospective cohort studies. BMJ 2014;349: g4490. 
  5. Kahn, David A; Moline, Margaret L; Ross, Ruth W. Depression During the Transition to Menopause: A Guide For Patients And Families.
bocah indonesia green
Share:
  • 176
    Shares

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

doctors

Silahkan isi data berikut untuk mengetahui Paket/Layanan yang cocok untuk Ayah/Bunda.

Cek layanan?
ferly slime