Blighted Ovum atau Kehamilan Kosong, Apakah Itu?

blighted ovum

Blighted ovum atau kehamilan kosong tergolong keguguran yang terjadi di awal-awal kehamilan.

Blighted ovum adalah istilah untuk kehamilan kosong atau kehamilan anembrionik (anembryonic pregnancy). Kelainan ini terjadi ketika sel telur yang dibuahi menempel pada dinding rahim, membentuk plasenta dan kantong kehamilan, namun tidak ada embrio yang berkembang. 

Adanya plasenta dan kantong kehamilan memicu peningkatan hormon kehamilan sehingga tes kehamilan menunjukkan hasil yang positif. Wanita pun dapat mengalami gejala-gejala kehamilan. 

Blighted ovum seringkali terjadi sebelum seorang wanita menyadari bahwa dirinya hamil, tepatnya pada trimester pertama kehamilan. Sesungguhnya, ini merupakan salah satu jenis keguguran dini yang kerap tidak disadari dan baru ditemukan saat melakukan pemeriksaan ultrasonografi kehamilan di kemudian hari.

Gambar hamil kosong atau blighted ovumGejala Terjadinya Blighted Ovum

Kehamilan pada blighted ovum kadangkala terhenti sebelum seorang wanita menyadari dirinya hamil. Pada kasus ini, perdarahan akibat blighted ovum biasanya dianggap sebagai  haid yang lebih banyak dari biasanya. 

Blighted ovum juga dapat menimbulkan gejala kehamilan dini, seperti:

  • Tes kehamilan yang positif
  • Haid terlambat
  • Nyeri payudara
  • Mual dan muntah

Namun ketika embrio berhenti berkembang dan kadar hormon kehamilan menurun, gejala-gejala tersebut akan menghilang. Pada titik ini, proses kehamilan berhenti dan yang muncul adalah gejala pada keguguran, seperti:

  • Kram ringan pada perut bawah 
  • Perdarahan ringan dari vagina (spotting)
  • Hilangnya nyeri payudara

Blighted ovum umumnya baru terdiagnosis antara usia kehamilan 8-13 minggu. Diagnosis didapat melalui pemeriksaan ultrasonografi (USG) transvaginal yang menunjukkan rahim atau kantong kehamilan yang kosong.

Secara medis, diagnosis blighted ovum dapat dikonfirmasi ketika tidak tampak embrio pada USG transvaginal dengan rata-rata diameter kantong kehamilan ≥25 mm. Atau alternatifnya, bila tidak tampak embrio pada:

  • Pemeriksaan USG transvaginal yang dilakukan 11 hari atau lebih setelah USG sebelumnya menunjukkan kantong kehamilan dengan yolk sac (kantong kuning) namun tanpa embrio, atau
  • Pemeriksaan USG transvaginal yang dilakukan 14 hari atau lebih setelah USG sebelumnya menunjukkan kantong kehamilan tanpa yolk sac maupun embrio

Penyebab Terjadinya Blighted Ovum

Sebanyak 50 persen keguguran di trimester pertama disebabkan oleh blighted ovum. Pada sebagian besar kasus, kondisi ini merupakan konsekuensi dari adanya kelainan kromosom (genetik) pada sel telur yang dibuahi. Tubuh wanita mengenali kromosom yang tidak normal pada janin dan secara alami proses kehamilan tidak dilanjutkan oleh karena janin tidak akan berkembang menjadi bayi yang sehat. Kelainan kromosom ini dapat disebabkan oleh proses pembelahan sel yang tidak normal atau karena kualitas sperma dan/atau sel telur yang kurang baik.

Kemungkinan penyebab lain mencakup:

  • Obesitas dan usia ibu yang tergolong tua/lanjut.
  • Infeksi seperti tuberkulosis atau infeksi saluran reproduksi akibat infeksi menular seksual. Adanya perlengketan pada organ-organ reproduksi akibat infeksi dapat menyulitkan embrio untuk menempel pada dinding rahim (implantasi) dan berkembang. 
  • Kelainan anatomi rahim, yang dapat mencegah proses implantasi embrio. 
  • Gangguan autoimun pada ibu yang membuat sistem kekebalan tubuh menganggap embrio sebagai benda asing dan akhirnya ‘diserang’.
  • Faktor hormonal, seperti rendahnya kadar progesteron dan kelainan hormon tiroid. 
  • Sindrom ovarium polikistik (PCOS).
  • Konsumsi alkohol yang berlebihan.

Secara umum, risiko blighted ovum jauh lebih tinggi bila ayah dan ibu memiliki ikatan biologis (satu garis keturunan). 

Baca Juga: Mengenal Hamil Anggur, Ini Gejala yang Harus Kamu Ketahui! 

hasil USG kehamilan kosongPengobatan yang Dilakukan

Blighted ovum pada akhirnya akan berakhir dengan keguguran. Pada prinsipnya, bila kehamilan terhenti, plasenta dan kantong kehamilan harus dikeluarkan dari dalam tubuh. Proses pengeluaran sisa jaringan janin ini dapat terjadi secara alami maupun dengan bantuan medis. Dokter biasanya akan menganjurkan salah satu opsi berikut:

  • Proses keguguran alami dengan melihat dan menunggu. Bila tidak ada kontra indikasi, dokter akan menganjurkan untuk menunggu beberapa minggu hingga plasenta dan kantong kehamilan keluar dengan sendirinya. Untuk memastikan semua sisa jaringan janin telah keluar, diperlukan pemeriksaan USG dan kadar hormon beta-hCG secara serial.
  • Obat-obatan. Obat misoprostol dapat mempercepat proses pengeluaran sisa jaringan janin. Obat ini dapat diberikan secara oral maupun intravaginal (di masukkan ke dalam vagina). Obat lain seperti antinyeri juga diberikan untuk mengurangi kram perut. 
  • Prosedur D&C atau dilatasi dan kuretase. Ini merupakan prosedur bedah minor untuk mengerok sisa jaringan dari dalam rahim. Sebelumnya, akan disuntikkan obat anestesi untuk mengurangi ketegangan dan rasa sakit. 

Setelah mengalami keguguran alami atau menjalani prosedur kuretase, dapat muncul kram perut selama 1-2 hari. Untuk mengatasinya, dapat diberikan antinyeri seperti paracetamol atau ibuprofen. Bila dirasa mampu, wanita dapat langsung melakukan aktivitas rutin sehari-hari namun hindari aktivitas fisik yang berat hingga perdarahan berhenti.

Segera kunjungi dokter apabila mengalami salah satu hal berikut pasca keguguran atau kuretase:

  • Suhu tubuh di atas 37,8oC
  • Kram perut lebih dari 3 hari
  • Terdapat nyeri yang hebat
  • Perdarahan hebat yang lebih banyak dari waktu haid

Selama proses pemulihan, hal-hal berikut perlu diperhatikan: 

  • Gunakan pembalut dan bukan tampon untuk menampung perdarahan.
  • Perdarahan ringan (spotting) dapat berlangsung hingga beberapa minggu. Hindari douching (mencuci vagina) dan hubungan intim hingga perdarahan berhenti.
  • Mengikuti saran dokter untuk melakukan USG serial hingga dinyatakan rahim bersih dari sisa jaringan janin.
  • Bila perlu, cari dukungan emosional dari keluarga terdekat atau konselor mengingat blighted ovum adalah suatu keguguran sehingga dapat memicu kesedihan yang mendalam bagi pasangan.
  • Bila kemudian ingin hamil kembali, disarankan untuk menunggu paling sedikit setelah 1-3 siklus haid yang normal.

Komplikasi yang Bisa Terjadi

Beberapa masalah bisa timbul sebagai akibat dari pengobatan blighted ovum, di antaranya perdarahan berlebihan, infeksi, terbentuknya jaringan parut yang meningkatkan risiko kehamilan ektopik (di luar kandungan), dan robekan rahim.

Pencegahan Terjadinya Blighted Ovum

Pada sebagian besar kasus, blighted ovum atau kehamilan kosong tidak dapat dicegah. Namun, karena kondisi ini berhubungan dengan faktor genetik serta kualitas sel telur dan sperma, pasangan dapat berdiskusi dengan dokter apakah perlu untuk melakukan pemeriksaan-pemeriksaan berikut:

  • Preimplantation genetic screening (PGS), yakni analisis genetik embrio sebelum proses implantasi terjadi (menempelnya embrio pada dinding rahim).
  • Analisis cairan sperma, yang digunakan untuk melihat kualitas sperma.
  • Pemeriksaan kadar follicle-stimulating hormone (FSH) atau anti-mullerian hormone (AMH), yang hasilnya dapat menjadi dasar untuk memperbaiki kualitas sel telur.

Blighted ovum umumnya hanya terjadi satu kali. Statistik menemukan jarang sekali seorang wanita mengalaminya lebih dari satu kali. Sebagian besar wanita yang pernah mengalami blighted ovum dapat menjalani kehamilan yang sukses dan memiliki bayi yang sehat di kesempatan berikut. Namun, bila blighted ovum atau keguguran terjadi berulang—dua kali atau lebih—perlu pemeriksaan lebih lanjut dengan dokter untuk mencari penyebab yang mendasarinya.

cheer

Jadwalkan Konsultasi

Kami dengan senang hati akan mendiskusikan opsi finansial yang ada dan membantu menjawab pertanyaan Anda.

Jadwalkan konsultasi dengan menghubungi kami di (021) 50200800 atau dengan mengisi formulir melalui tombol dibawah.

  1. Chaudhry K, Tafti D, Siccardi MA. Anembryonic Pregnancy. [Updated 2021 Aug 11]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2021 Jan-. Available from: URL 
  2. Prager S, Micks E, Dalton VK. Pregnancy loss (miscarriage): Terminology, risk factors, and etiology. In: UpToDate, Post, TW (Ed), UpToDate, Waltham, MA, 2021.
  3. Failed First Trimester Pregnancy. Editor(s): Aya Kamaya, Jade Wong-You-Cheong, Hee Sun Park, Barton F. Lane, Fauzia Vandermeer, Katherine E. Maturen, Shweta Bhatt, Bryan R. Foster, Sathi A. Sukumar, Ashish P. Wasnik. In Diagnostic Ultrasound, Diagnostic Ultrasound: Abdomen and Pelvis, Elsevier, 2016, Pages 786-791. URL.
Share:
  • 179
    Shares

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

doctors
Reservasi