Asthenozoospermia, Saat Sperma Kurang Lincah Bergerak

asthenozoospermia

Asthenozoospermia adalah istilah medis untuk berkurangnya pergerakan sperma di dalam sampel cairan sperma.

Sekitar 15 persen pasangan yang mencoba untuk hamil di tahun pertama pernikahan mengalami infertilitas. Faktor pria diperkirakan menyumbangkan sekitar 33-50 persennya dan terbanyak berasal dari kelainan sperma.

Salah satu kelainan sperma yang tersering adalah asthenozoospermia. Akar katanya, yakni ‘astenik’ memiliki arti lemah. Dalam hal ini, sperma mengalami gangguan sehingga motilitasnya (pergerakannya) lemah atau tak selincah sperma yang sehat. Kondisi ini membuat sperma tidak mampu bergerak cepat dan efisien untuk mencapai tujuannya, yakni membuahi sel telur dan menghasilkan kehamilan.

Asthenozoospermia dapat terjadi sebagai kelainan tersendiri, atau yang lebih umum, ditemukan bersamaan dengan gangguan sperma lain yaitu kelainan bentuk (teratozoospermia) atau jumlah sperma yang rendah (oligozoospermia). Bila ketiga kelainan ini muncul bersamaan, secara kolektif disebut sebagai oligoasthenoteratozoospermia.

Cara mendiagnosis astenozoospermia

Sama seperti kelainan sperma lainnya, diagnosis astenozoospermia didasarkan pada paling sedikit hasil dua kali analisis cairan sperma, yang diambil 3-5 hari setelah berhenti berhubungan intim. 

Motilitas sperma dapat dinilai menggunakan skala lima poin berikut:

  1. Tidak ada motilitas (imotil)
  2. Lambat, tidak ada gerakan progresif (non progresif)
  3. Lambat, gerakan berkelok-kelok atau berputar (non progresif)
  4. Bergerak dalam garis lurus dengan kecepatan sedang (progresif)
  5. Bergerak dalam garis lurus dengan kecepatan tinggi (progresif)

Agar mampu mencapai sel telur, sperma harus memiliki pergerakan yang progresif, yakni bergerak secara linear atau lurus, dengan kecepatan minimal 25 mikrometer per detik. Apapun yang kurang dari itu disebut non progresif, yaitu bergerak lambat atau hanya berputar-putar di tempat yang sama dengan kecepatan kurang dari 5 mikrometer per detik.

Menurut manual laboratorium Badan Kesehatan Dunia (WHO) untuk pemeriksaan dan pemrosesan cairan sperma manusia, pria disebut mengalami asthenozoospermia apabila total sperma yang bergerak cepat progresif kurang dari 32 persen.

Pada kasus asthenozoospermia absolut, di mana 100 persen sel sperma tidak bergerak atau imotil, viabilitas sperma harus dinilai untuk membedakannya dengan nekrozoospermia, di mana seluruh sel sperma di dalam sampel cairan sperma mati.

Motalitas Sperma Normal
Motilitas normal >32% sperma bergerak secara progresif
Motalitas Sperma dengan asthenozoospermia
Astenozoospermia <32% sperma bergerak secara progresif (non progresif)

Penyebab asthenozoospermia

Hingga kini, penyebab asthenozoospermia belum dipahami dengan jelas. Akan tetapi, berbagai studi mendapati bahwa kondisi ini sering didapati berhubungan dengan defek struktural pada sel sperma atau akibat kadar radikal bebas yang tinggi di saluran reproduksi pria. Sel sperma diketahui memiliki pertahanan yang terbatas terhadap radikal bebas sehingga rentan mengalami kerusakan. Penyebab tingginya kadar radikal bebas di dalam saluran reproduksi pria antara lain akibat merokok, infeksi pada saluran kemih dan kelamin, serta varikokel.

struktur sperma

1. Defek struktural pada sel sperma

Defek pada ekor sperma menyumbangkan sekitar 70 persen kasus infertilitas pada pria. Defek dapat bersifat nonspesifik (nonspecific flagellar alterations/NFSA) atau akibat kelainan genetik. NFSA merupakan kelainan ekor sperma yang paling sering ditemukan pada asthenozoospermia berat. Perubahan struktur bersifat didapat, yakni disebabkan oleh adanya kelainan lain seperti varikokel atau infeksi pada saluran kemih dan kelamin. Defek struktural jenis ini hanya terjadi pada sebagian sel sperma. Sedangkan defek struktural akibat kelainan genetik jarang ditemukan, dan biasanya menyebabkan asthenozoospermia berat atau absolut. Kelainan tampak pada semua sel sperma. Salah satu kelainan genetik yang sangat memengaruhi pergerakan ekor sperma disebut primary ciliary dyskinesia atau immotile cilia syndrome. Pria dengan kondisi ini menunjukkan gejala sinusitis kronis, bronkiektasis, dekstrokardia (jantung berada di sisi kanan tubuh), dan infertilitas.

2. Keberadaan antibodi antisperma

Antibodi antisperma (ASA) ditemukan pada sekitar 10 persen pria infertil, dibandingkan dengan kurang dari 2 persen pria fertil. Antibodi ini dapat terbentuk akibat adanya kebocoran barrier (pertahanan) darah dengan testis, misalnya setelah vasektomi, cedera, atau adanya infeksi saluran kemih dan kelamin).

3. Varikokel

Varikokel didapat pada kurang lebih 25 persen pria dengan analisis sperma yang abnormal. Sebuah studi pada 7.035 pria muda menemukan bahwa kelainan sperma dalam hal pergerakan, jumlah, dan bentuk dapat terjadi pada varikokel derajat paling ringan (derajat 1)  sekalipun. Bagaimana varikokel menyebabkan asthenozoospermia belum diketahui dengan jelas, namun diperkirakan melalui terbentuknya radikal bebas dan kerusakan DNA.

4. Infeksi saluran kemih dan kelamin

Adanya infeksi akan menimbulkan peradangan dan terbentuknya radikal bebas yang dapat mengganggu fungsi dan bentuk anatomi sperma.

5. Paparan lingkungan

Paparan dari lingkungan berikut dapat menurunkan kualitas sel sperma yang diproduksi tubuh:

  • Paparan panas yang berlebihan, seperti akibat mandi air panas, sauna, atau pakaian dalam yang tidak menyerap keringat maupun ketat 
  • Paparan logam berat, bahan kimia berbahaya atau radiasi 
  • Obat-obatan tertentu seperti steroid anabolik dan narkotika (kanabis dan kokain)

6. Usia

Secara umum, motilitas sperma mulai berkurang sejak pria menginjak usia 45 tahun.

7. Gaya hidup

Faktor-faktor gaya hidup seperti stres psikologis yang berkepanjangan, merokok, dan konsumsi alkohol yang berlebihan juga menentukan kualitas sperma yang diproduksi.

8. Kekurangan zat gizi tertentu

Zat gizi seperti vitamin B3 (niacin), B12 (kobalamin), vitamin C, vitamin D, vitamin E, selenium, asam folat, dan zinc berperan penting dalam pembentukan sel sperma yang sehat.

Cara mengobati asthenozoospermia

Untuk mengobati asthenozoospermia, langkah pertama adalah mendapatkan evaluasi menyeluruh terhadap hasil analisis cairan sperma yang abnormal. Perlu dilihat apakah terdapat penyebab-penyebab yang bisa dikoreksi, seperti varikokel, infeksi maupun kondisi medis lainnya.

Pria perlu pula melakukan perubahan gaya hidup yang dapat membantu memperbaiki kualitas sperma, di antaranya:

  • Mempertahankan berat badan yang ideal oleh karena obesitas berhubungan dengan menurunnya jumlah sperma dan pergerakan sperma.
  • Konsumsi beragam sayur dan buah yang kaya antioksidan.
  • Mencegah infeksi menular seksual dengan setia pada satu pasangan seksual dan menggunakan kondom setiap kali berhubungan seksual.
  • Mengelola stres dengan terapi relaksasi, meditasi, yoga, atau tai chi.
  • Rutin berolahraga, yakni 30 menit per hari atau 150 menit per minggu.
  • Berhenti merokok dan minum alkohol. 
  • Berhenti menggunakan steroid anabolik dan narkotika, terutama golongan kanabis, kokain, amfetamin, dan opiat.
  • Selalu menggunakan pakaian dan alat pelindung apabila harus berkontakan dengan bahan-bahan kimia.
  • Usahakan area kelamin pada suhu yang nyaman dengan menggunakan pakaian dalam yang tidak ketat, kurangi waktu duduk, hindari sauna, serta membatasi paparan testis terhadap benda-benda hangat (seperti laptop).

Beberapa studi menyebutkan bahwa konsumsi antioksidan yang mengandung zinc, asam folat, n-acetylcysteine, co-enzyme Q10, vitamin C, vitamin E, dan karnitin dapat membantu memperbaiki kualitas sperma dengan menurunkan kadar radikal bebas yang terbentuk. Namun sebaiknya berkonsultasi terlebih dulu dengan dokter sebelum mulai menggunakan suplemen-suplemen tersebut.

Bagaimana mencapai kehamilan dengan asthenozoospermia?

Mengalami asthenozoospermia tak berarti pria tidak bisa memiliki keturunan. Bila kelainan tidak berat, peluang untuk mendapatkan kehamilan secara alami setelah kelainan dikoreksi tentu cukup besar. Namun, pada astenozoospermia berat, kerap kali diperlukan fertility treatment khusus untuk mencapai suatu kehamilan. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan, di antaranya:

  • Inseminasi buatan, di mana cairan sperma dimasukkan ke dalam rahim wanita tepat pada saat ovulasi. Tingkat kesuksesan cukup baik bila dilakukan pada pria dengan tingkat motilitas di rentang 30-40 persen dengan parameter sperma lain normal, usia wanita masih di bawah 35 tahun, serta tidak ditemukan penyebab lain dari infertilitas.
  • In-Vitro Fertilization (IVF) atau program bayi tabung, yang memungkinkan terjadinya pembuahan antara sel telur dan sel sperma berkualitas baik sehingga meningkatkan kemungkinan keberhasilan kehamilan. 

In-Vitro Fertilization (IVF) dengan Intracytoplasmic Sperm Microinjection (IVF + ICSI), di mana satu sel sperma disuntikkan langsung ke dalam sitoplasma sel telur matang menggunakan jarum khusus. Teknik ini memberikan tingkat pembuahan tertinggi (70-90 persen) dan merupakan metode yang dipilih untuk pasangan dengan asthenozoospermia berat.

Penutup

Pada astenozoospermia, pergerakan sperma yang kurang lincah menyebabkan pembuahan sulit terjadi. Namun, kehamilan tetap dimungkinkan dengan adanya metode inseminasi buatan atau bayi tabung. Keduanya dapat meningkatkan peluang terjadinya pembuahan dan kehamilan oleh karena sperma tidak perlu ‘berusaha’ sendiri dalam mencapai sel telur.

  1. Lobo, N., & Satchi, M. (2019). The diagnosis and management of men with low sperm motility. Trends in Urology & Men’s Health, 10(5), 24-27.
  2. Shahrokhi, S. Z., Salehi, P., Alyasin, A., Taghiyar, S., & Deemeh, M. R. (2020). Asthenozoospermia: Cellular and molecular contributing factors and treatment strategies. Andrologia, 52(2), e13463.
  3. World Health Organization. WHO Laboratory Manual for the Examination of Human Semen and Sperm-Cervical Mucus Interaction, 5th edn. Cambridge: Cambridge University Press, 2010.
  4. Castañeda, J. M., Miyata, H., Ikawa, M., & Matzuk, M. M. (2018). Sperm defects.
  5. Anawalt BD, Page ST. Approach to the male with infertility. In: UpToDate, Post, TW (Ed), UpToDate, Waltham, MA, 2021.
  6. Anawalt BD, Page ST. Causes of male infertility. In: UpToDate, Post, TW (Ed), UpToDate, Waltham, MA, 2021. 
  7. Hussein, A. (2018). Overview Treatment and Male Reproductive Medicine. Encyclopedia of Reproduction, 307–313. doi:10.1016/b978-0-12-801238-3.64782-7
  8. Centola, G. M. (2018). Understanding Bulk Seminal Parameters. Encyclopedia of Reproduction, 50–53. doi:10.1016/b978-0-12-801238-3.64834-1
Share:

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Reservasi