Book A Visit

Monday - Friday 08:00 - 20:00

Saturday and Sunday - CLOSED

+62 815-8890-611

info@bocahindonesia.com

Histeroskopi dan Laparoskopi

Histeroskopi dan Laparoskopi

Histeroskopi (teropong rahim) & Laparoskopi (teropong rongga perut)

Pembedahan Invasive Minimal

Histeroskopi dan Laparoskopi

Apa itu pembedahan invasive minimal: Histeroskopi (teropong rahim) dan Laparoskopi (teropong rongga perut)?

Laparoskopi (teropong perut) dilakukan untuk melihat organ-organ di panggul (misalnya rahim, tuba falopii (saluran telur), ovarium (indung telur) dan area panggul dalam). Histeroskopi (teropong rahim) dilakukan untuk melihat rongga dalam uterus (rahim). Keduanya dapat digunakan untuk tujuan diagnostik (hanya melihat) atau operatif (melihat dan terapi).1

 

Apa saja alasan dilakukannya histeroskopi?

  • Diagnosis (untuk pemeriksaan)
  • Hasil histerosalpingografi abnormal
  • Perdarahan abnormal
  • Hasil sonografi (USG) abnormal
  • Pengangkatan jaringan bekas luka
  • Pengangkatan septum rahim
  • Polipektomi (pengangkatan polip)
  • Miomektomi (pengangkatan mioma)
  • Pengangkatan benda asing
  • Keguguran berulang
  • Kanulasi tuba (untuk membuka tuba yang tersumbat)

 

Apa saja alasan dilakukannya laparoskopi?

  • Diagnosis (untuk pemeriksaan)
  • Dispareunia (nyeri saat berhubungan seksual)
  • Dismenorrhea (nyeri perut hebat saat menstruasi)
  • Fimbrioplasty (operasi untuk membetulkan tuba falopii abnormal)
  • Tatalaksana endometriosis
  • Neosalfingostomi
  • Miomektomi (pengangkatan mioma)
  • Ovarian drilling
  • Cystectomy ovarium (pengangkatan kista)
  • Nyeri panggul
  • Tatalaksana adhesi panggul
  • Salpingostomi (membuka tuba)
  • Salpingektomi (pengangkatan tuba)
  • Pengangkatan jaringan bekas luka
  • Infertilitas yang tidak bisa dijelaskan

 

Bagaimana prosedur histeroskopi?

Pasien dalam posisi tiduran dengan membuka kedua kaki. Sebuah alat bernama histeroskop akan dimasukan melalui mulut rahim dan diteruskan hingga rongga rahim. Alat ini mirip dengan miniatur teleskop dengan sistem serabut optik yang disertai lampu. Histeroskopi dapat menampilkan gambaran dari kamera tersebut dan diproyeksikan ke layar TV agar dokter bisa melihat gambaran tersebut secara langsung. Prosedur ini juga bisa dilakukan untuk melakukan sampling jaringan, misalnya pada kasus polip. Sampling jaringan dilakukan dengan memasukkan alat sampling di akhir prosedur, biasanya hanya 10-20 detik.3,4

 

Bagaimana prosedur laparoskopi?

Pasien akan dibuat tidur dengan menggunakan anestesi umum. Pada awal prosedur, akan dipasang selang kencing untuk menampung urin. Alat untuk menggerakkan rahim selama operasi akan dipasang di vagina. Karbon dioksida (CO2) dimasukkan ke rongga perut melalui alat khusus yang akan dipasang di bawah pusar untuk mempermudah dokter melihat organ reproduksi dan mencegah cedera. Gas ini akan dikeluarkan kembali setelah prosedur selesai. Laparoskopi biasanya membutuhkan sayatan pada perut sebesar 0,5 cm. Pada prosedur ini digunakan laparoskop adalah alat seukuran pulpen dengan panjang 2x pulpen, yang merupakan miniatur teleskop dengan sistem serabut optik dan disertai dengan lampu. Kemudian dokter bedah akan memasukan laparoskop pada lubang tersebut untuk melihat gambaran rongga perut. Jika dilakukan operasi, maka sayatan lain akan dilakukan untuk memasukan alat operasi lain yang dibutuhkan.

 

 

 

Bagaimana periode penyembuhan pasca histeroskopi dan laparoskopi?

Sebagian besar pasien diperbolehkan pulang beberapa jam setelah prosedur selesai dilakukan, Dokter mungkin memberikan obat untuk nyeri atau mual untuk 24 jam. Dalam 48 jam, pasien diperbolehkan untuk makan dan melakukan aktivitas seperti biasa. Untuk pasien yang mengeluhkan nyeri hebat, perdarahan hebat atau demam tinggi sebaiknya datang kembali ke rumah sakit. Kontrol pasca operasi dilakukan 1 minggu setelah operasi.

 

Apa kelebihan dari laparoskopi?

Proses penyembuhan pasca prosedur laparoskopi lebih cepat. Sayatan yang diperlukan cukup kecil, sehingga mengurangi nyeri, mengurangi risiko infeksi luka, dan lebih baik secara kosmetik.

 

Apa risiko operasi invasive minimal?

Komplikasi dari kedua prosedur ini jarang dan seringkali tidak serius. Salah satu komplikasi yang mungkin terjadi adalah infeksi, namun dapat dicegah dengan pemberian antibiotik sebelum/sesudah operasi. Namun komplikasi lebih serius seperti cedera pada rahim, kandung kemih dan pembuluh darah harus didiskusikan dengan dokter. Jika terjadi cedera tersebut, mungkin perlu dilakukan operasi terbuka (laparoskopi atau laparotomi). Beberapa hal yang dapat meningkatkan risko ini adalah riwayat operasi abdomen berulang (terutama usus), obsesitas dan riwayat adhesi panggul. Karena menggunakan anestesi umum, maka mungkin terjadi komplikasi yang berhubungan dengan anestesi tersebut.

 

Bagaimana saja merencanakan histeroskopi atau laparoskopi?

Jika ini adalah operasi laparoskopi atau histeroskopi pertama yang anda jalani, diskusikanlah prosedur ini secara detail dengan dokter anda. Pemeriksaan di poliklinik sebelum operasi mungkin dibutuhkan untuk melakukan evaluasi pre-operatif dan tanda tangan formulir persetujuan.

No Comments

Leave a Reply