Book A Visit

Monday - Friday 08:00 - 20:00

Saturday and Sunday - CLOSED

+62 815-8890-611

info@bocahindonesia.com

Spesialis Fertilitas di Indonesia  >  Infertility   >  MUSIM TERBAIK UNTUK MENJALANI PROGRAM IVF (PART 2)

MUSIM TERBAIK UNTUK MENJALANI PROGRAM IVF (PART 2)

In Vitro Fertizilation (IVF) merupakan salah satu metode pengobatan dan reproduksi bantuan yang terbaik di seluruh dunia. Pada tahun 1978, bayi pertama lahir melalui proses IVF. Sejak saat itu, metode fertilisasi ini menyebar ke seluruh dunia dan sudah membantu ribuan pasangan infertil dalam menjalani program kehamilan.

IVF merupakan terapi fertilitas yang melibatkan proses pertemuan sel telur dan sperma di laboratorium, dan seluruh prosesnya dilakukan di luar tubuh wanita. Saat sel telur sudah mengalami proses fertilisasi, sel telur kemudian ditanam sekitar 2-6 hari di media tumbuh. Setelah prosedur selesai, sel telur kemudian ditransfer ke dalam rahim.

DAPATKAN TINGKAT KESUBURAN YANG RENDAH DIPERBAIKI?

Dengan meningkatnya jumlah kasus infertilitas di seluruh dunia, penyebab infertilitas juga bertambah. Penyebab paling umum infertilitas adalah endometriosis, jumlah sperma yang sedikit, dan gangguan ovulasi. Selama sekitar 37 tahun hingga saat ini, IVF sudah membantu banyak pasangan dan ribuan bayi telah lahir dengan metode tersebut, meski tingkat kesuksesannya masih cukup rendah. Penelitian di sejumlah negara menunjukan bahwa tingkat fertilisasi berbeda bagi masing-masing wanita yang menjalani metode IVF.

APAKAH MUSIM SEMI ADALAH MUSIM TERBAIK UNTUK IVF?

Peneliti Nathan Rojansky mengemukakan pendapatnya di jurnal Fertilitas dan Sterilisasi, “Penelitian ini menunjukkan keberadaan faktor hereditas melalui kebiasaan seksual primata di musim tertentu”. Rojansky mengemukakan di dalam naskah jurnalnya bahwa musim semi merupakan waktu terbaik untuk proses fertilisasi jika dibandingkan dengan musim-musim lainnya. Embrio yang didapat melalui IVF juga cenderung memiliki kualitas terbaik saat musim semi. Selain itu, ia juga mengemukakan bahwa tingkat fertilisasi umumnya hanya mencapai angka 70%, sementara saat musim semi dapat mengalami peningkatan hingga mencapai angka 75%.

Dalam penelitian lain, Dr. Daniela Braga melakukan studi pada 1932 pasangan infertil. Seluruh subjek wanita yang terlibat dalam survei tersebut melewati prosedur spesifik di mana sperma disuntikkan ke dalam sel telur di luar tubuh. Pasangan kemudian dibagi menjadi beberapa grup yang disesuaikan dengan waktu dimana sel telur yang belum menjalani proses fertilisasi diambil.

Pada akhir survei di Brazil tersebut, dilaporkan bahwa tingkat pembuahan naik hingga 73.5% saat musim semi. Sementara tingkat pembuahan di musim lainnya mencapai 69% saat musim gugur, 68.7% saat musim panas, dan 67.9% saat musim dingin.

KESIMPULAN

Hingga kini peneliti masih berspekulasi apakah suhu dan paparan sinar matahari juga merupakan faktor yang bertanggungjawab terhadap perbedaan tingkat kesuburan. Berbagai penelitian yang dilakukan di seluruh dunia menyimpulkan bahwa musim semi merupakan musim terbaik untuk mulai menjalani program IVF dan memiliki tingkat fertilitas terbaik jika dibandingkan dengan musim lainnya.

No Comments

Leave a Reply